
Setelah mendapatkan persetujuan Bela untuk Bertemu, akhirnya Agam pamit kepada Reyna yang kebetulan ada di sebelahnya. Hari ini Reyna dan Agam kompak menemani anaknya yang masih terbaring di rumah sakit. Meskipun Reyna sempat pergi meninggalkan Arka kemarin, karena perdebatannya dengan Agam, namun Reyna sadar bahwa bagaimnapaun ia adalah seorang ibu, dan saat ini anaknya sedang terbring di rumah sakit karena ulahnya, yang lalai menjaga buah hatinya.
"Rey, kamu jaga Arka dulu, aku harus ke suatu tempat!"
"Kemana? Tanya Reyna menatap curiga, sebab Agam patut dicurigi karena sikapnya yang akhir-akhir ini berubah.
"Aku akan bertemu orang yang sudah mendonorkan darahnya untuk Arka, setidaknya kita harus mengucapkan terimakasih!"
"Dia ngajak bertemu. Apa dia minta imbalan karena sudah memberikan darahnya?"
Agam terkejut mendengar tuduhan Reyna, apa lagi yang dia tuduh adalah orang yang telah menyelamtkan anaknya.
"No. Kamu jangan berfikiran buruk tentang dia. dia tidak meminta apapun. Jika dia meminta imbalanpun kita seharusnya memberikannya bahkan lebih dari permintaannya. Karena dia telah menyelamatkan Arka. Anak kita!" Ucap Agam menaikan nada bicaranya.
"Terserah kamu mas. Aku juga tidak meminta dia memberikan darahnya. Jadi aku merasa tidak berhutang apapun." Lagi-lagi agam harus menelan kepahitan dari kata-kata yang keluar dari mulut Reyna.
"Wanita macam apa yang aku nikahi ini!" Ucap Agam dalam hati, dia sudah tidak mau mendengarkan ataupun menanggapi lagi istrinya.
Agampun keluar dan pergi begitu saja, dia tidak mau mendengar Reyna menjelek-jelekan orang yang sudah menyelamatkan anaknya. terlebih lagi orang itu adalah Bela, tidak ada kejelekan sekecil apapun pada diri Bela. Agam mengetahui itu.
Agam sudah menunggu Bela di tempat biasa. bahkan tempat ini juga merupakan saksi bisu perpisahan terakhirnya. Sebelumnya Agam berfikir tidak mungkin datang lagi ketempat ini jika itu tanpa Bela. Namun akhirnya dia bisa kembali duduk di tempat ini menunggu kehadiran wanita yang selalu hidup di dalam hatinya.
Sorot mata Agam menajam ketika seorang wanita dengan langkah pasti mendekat kearahnya. Tidak ada perubahan dari Bela, selain semakin cantik dan bersinar.
Agampun Berdiri menggeser tempat duduk di depannya dan mempersilahkan Bela duduk.
"Thank you!" Jawab Bela duduk di kursi tepat di depan Agam.
Duduk berhadapan kembali di tempat yang sama, setelah kata perpisahan terucap. Mengingatkan kembali kepada momen-momen saat bersama Agam. semua momen menyenangkan maupun menyakitkan kembali berputar di kepala Bela.
"Bela..!" Panggil Agam yang melihat Bela hanya diam.
"Sorry!" Ucap Bela segera menyadarkan kembali dirinya.
"Aku selama dua bulan ini mencari kamu, tapi tidak ada satu kabarpun yang aku dengar tentang kamu Bel. Tapi sekarang, kamu ada disini tepat di depan mataku!" Agam merasa seperti bermimpi melihat Bela saat ini berada di dekatnya.
"Kenapa kamu masih saja mencari aku Gam? lanjutkan saja hidup kamu, aku pun melanjutkan hidupku." Namun jawaban Bela terasa dingin di telinga dan hati Agam, rupanya Bela memang sudah bertekad ingin melupakannya, sedangkan dirinya masih terjebak bersama Bela dan masalalunya.
"Aku hanya khawatir setelah kemarahan David. aku selalu merasa bersalah. Tapi aku senang kamu baik-baik saja!"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Dan aku bahagia dengan hidupku sekarang!"
"Syukurlah." Agam senang mendengar bahwa Bela menjalani hidupnya dengan bahagia.
__ADS_1
" Bel, aku tidak tahu harus mengatkannya bagaimna, yang jelas aku ingin berterimakasih karena kamu sudah menyelamatkan anakku!"
"Aku tidak bisa diam saja, disaat ada anak yang membutuhkan pertolongan. Aku menolong anak kamu atas dasar kemanusiaan, sekalipun itu orang lain, jika aku melihatnya di depan mataku, aku pasti akan menolongnya." Bela tidak ingin Agam beranggapan jika Bela menolong Arka karena tahu bahwa arka itu anaknya.
"Arka beruntung bertemu dengan kamu.Dan menerima darah kamu." Ucap Agam pilu.
"Itu hanya kebetulan saja. Karena saat itu Reyna bingung harus mencari golongan darah yang cocok untuk anaknya, sedangkan kamu sedang di luar kota." Bela menceritakan apa yang diketahuinya saat di rumah sakit pada waktu itu.
"Aku di luar kota? Apa Reyna mengatakan itu?" Agam terkejut mendengar kebenaran yang Bela ucapkan, bagimana Reyna bisa mengatakan bahwa Agam di luar kota sedangkan Agam berada di kantornya dan sangat dekat jaraknya dengan rumah sakit tempat Arka di rawat.
"Suster yang mengataknya, Suster itu menyarankan Reyna menghubungi suaminya, karena kemungkinan darah Arka sama dengan papanya. Tapi itu tidak di lakukan Reyna karena kamu sedang di luar kota."
"Ada apa gam?" Bela mendapati raut wajah Agam berubah. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tidak, hanya saja aku kecewa terhadap dirku sendiri karena tidak bisa menjaga Arka dengan baik."
"Kalian bisa mengambil hikmahnya dari musibah ini, untuk menjaga Arka lebih intens lagi."
"Terimakasih Bel, aku merasa berhutang budi kepada kamu, ucapan terimaksih mungkin hanya ungkapan kecil dari kebaikan besar kamu."
"Ada satu orang lagi, yang harus menerima ucapan terimkasih dari kamu. Dia juga sudah membantu aku menyelamtkan Arka, jika dia tidak ada mungkin aku akan telat membawa Arka ke rumah sakit."
"Siapa orang itu?"
Bela pun beranjak pergi keluar menunju parkiran mobil, Karena diasana ada Rangga yang sedang menunggunya.
"Sudah selesai?" Tanya Rangga yang melihat Bela menghampiri dirinya.
"Belum, ikut aku masuk kedalam. Bela menggeleng, dan menarik tangan Rangga agar keluar dari dalam mobil.
"Ngapain?"
"Kamu juga berhak mendengar ucapan terimakasih dari Agam." Ucap Bela menggenggam tangan Rangga, di tariknya masuk kedalam, untuk menemui Agam.
Agam melihat Bela datang dengan seseorang pria, pandangannya turun melihat tangan Bela yang menggenggam erat pria tersebut.
"Ada apa dengan mereka?" Ucapnya dalam hati, Mencoba mengontrol hatinya agar tidak terlihat emosi.
"Gam, kamu mungkin sudah lupa, dia adalah Rangga, Dia ada bersamaku pada hari itu, dan dia juga menyelamatkan Arka!"
"Bagaimana aku bisa lupa, pria yang mencium kamu tepat di depanku" Mencoba meredam emosinya saat mengingat pertemuan dengan Rangga.
"Aku masih ingat. Dan terimaksih sudah menolong anak saya!"
__ADS_1
"Sama-sama. Kebetulan pada waktu itu,kami sedang ada tempat kejadian!" Rangga menatap tajam Agam, nada bicaranya tak terdengar akrab.
"Ya... Arka sangat beruntung bertemu dengan kalian." Ucap Agam gugup. Karena Agam bingun akan mengatakan apa lagi, setelah kehadiran Rangga di tengah-tengah pertemuannya dengan Bela membuat Agam tidak bisa leluasa berbicara lebih banyak lagi dengan Bela.
Bela melihat Agam tidak nyaman dengan kehadiran Rangga. Dan itu membuat Bela mengakhiri pertemuannya dengan Agam.
"Sepertinya pembicaraan kita sudah selesai, kami permisi dulu!"
Melihat Rangga merangkul Bela sepanjang perjalanan mereka membuat Agam mengepalkan tangannya. Hatinya mendidih melihat pemandangan yang menyakitkan itu.
"Apa mereka dalam suatu hubungan? Tidak mungkin! Baru saja Bela mengakhiri pernikhannya. dan dia sudah mendaptkan pengganti. Atau yang di maksud dengan ucapan Maya waktu itu adalah Rangga. Bukan Daniel yang bela suka, tapi Rangga. Brengsek...!"
Rupanya Agam melupakan janjinya sendiri.Bahwa Agam akan merelakan Bela jika menemukan lelaki yang tepat, bukan laki-laki seperti Daniel. Tapi melihat Bela bersama Rangga pun, Agam tidak rela. Memang sejak awal Agam tidak rela siapapun bersanding dengan Bela, jika itu bukan dirinya.
...※※※※...
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Tanya Rangga yang melihat Bela terus melebarkan senyumnya setelah keluar dari resto.
"Kamu lucu Ngga, saat tadi kamu bicara dengan Agam, mengingatkan aku pada Rangga si pemarah!"
"Seperti ini?" Rangga kembali mengubah ekspresi wajahnya seperti yang dimaksud Bela.
"Iya, Ranggaku si pemarah!" Ejek Bela sambil tertawa.
"Kita pergi kemana lagi?" Tanya Rangga mengusap rambut Bela.
"Hhmmm... Belanja. Aku harus beli pakaian untuk kerja Ngga!"
"Oke, kita pergi sekarang!"
Rangga membawa Bela kesebuah Mall, mereka akan mencari pakaian untuk Bela.
Bela melihat-lihat beberapa atasan dan juga bawahan yang cocok di kenakannya. Namun ternyata tidak semudah membeli pakaian biasa. Nayatanya pakaian yang Bela pilih ternyata di tolak Rangga, dengan alasan kurang pas, terlalu terbuka dan alasan-alasan yang lainnya.
Setelah menemukan beberapa yang cocok dan diterima Rangga. Merekapun pergi menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
"Aku yang bayar donk, Kamu kan calon istri aku, sudah sehrusnya aku membayar ini semua, dan ini sebagai ucapan selamat atas diterimanya kamu bekerja di perusahaan xyz." Cegah Rangga saat Bela akan membayar sendiri belanjaannya.
"Oke, aku terima hadiah kamu, sebagai gantinya terima hadiah dari aku!" Bela sudah menyiapkan hadiah untuk Rangga, tanpa sepengetahuannya, tadi Bela sempat menyelinap pergi membeli sesuatu untuk calon suaminya itu.
"Apa ini?" Tanya Rangga penasaran.
"Kamu bisa membukanya nanti di rumah."
__ADS_1
"Baiklah, thank you sayang!" Rangga mencium kening Bela, sebagai rasa terimakasih, karena baru kali ini Rangga menerima hadiah, apalagi dari seorang wanita.