Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Saran Harun


__ADS_3

Mobil yang Bela naiki sudah sampai di pekarangan rumahnya, rumah yang sangat dirindukannya. Meski matahari belum muncul untuk melaksanakan tugasnya, Namun Bela merasakan kehangatan bisa kembali pulang kerumah yang penuh kenangan.


Dilirknya jam di pergelangan tangannya, jarum jam menunjukan pukul 3 dini hari. Dia harus segera melanjutkan tidurnya, sebelum besok ia menghabiskan waktu bersama David.


"Jangan bilang papa tentang pertemuanku dengan Agam!" Ucap Bela sedikit mengancam.


Bela harus memastikan asisten papanya tetap tutup mulut, meskipun dia sudah berjanji tidak akan mengatakan apapun, tapi Bela tetap risau.


Bela membuka pintu kamarnya, setelah hampir satu tahun dia tidak pulang. Beberapa photo Rangga masih tersimpan rapi di tempatnya. Rupanya David tidak menyentuh apapun yang ada di dalam kamaranya.


Bela meraih photo saat dirinya bersama Rangga, di usapnya dengan lembut, sebelum dia menyimpannya kembali.


Rasa kantuk yang tadi dirasakannya, kini menghilang. Bela pergi ke gudang mencari kardus yang sudah tidak terpakai. dibawanya kardus tersebut kedalam kamarnya.


"Maaf Ngga, ini sudah waktunya.Tapi, kamu akan selalu ada dihatiku!"


Bela menyimpan semua photo-photo rangga dengan dirinya, barang-barang yang di berikan sebagai hadiah untuknya. Semua hal yang berkaitan dengan Rangga disimpannya dalam sebuah dus besar. Entah akan di apakan semua barang itu, yang pasti sementara Bela akan menyimpannya dengan baik.


Tak terasa matahari pun muncul, itu tandanya Bela harus bergegas menjalankan aktivitas paginya, sebelum David memanggilnya untuk sarapan.


Bela duduk rapi di meja makan menunggu David turun. Meskipun asisten papanya sudah berjanji, tapi hati Bela tidak tenang sampai dia melihat sendiri bagaimana reaksi papanya.


"Akhirnya, kamu pulang juga kerumah." Ucap papanya mengahmpiri dan mencium pucuk kepala anaknya.


"Bagaimana acara kemarin?" Tanya David antusia.


"Lancar pah, Maya dan Nenek titip salam untuk papa."


"Kalau saja papa tidak ada pekerjaan penting, papa pasti akan hadir."


"Untung saja papa tidak bisa hadir. aku gak tahu bagaimana jika papa juga ada disana."


"Kenapa bel, kok melamun?"


"T-tidak pah, Bela hanya memikirkan tempat yang akan kita kunjungi hari ini."


"Kita temui Rangga dulu, bagiaman? Setelah itu kamu juga harus menyapa orang tua Rangga."


"Aku ikut papa aja!"


...※※※※...


Agam menemui kediaman orang tuanya, setelah perceraian dengan Reyna, dia tidak pernah berkunjung kerumah orang tuanya, karena papa dan mamanya tidak memihak dirinya, mereka justru membela Reyna yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya dengan banyak kebohongan, Termasuk membohongi kedua orangtuanya.

__ADS_1


Harun mengatakan semua yang terjadi kepada Reyna adalah ulah Agam sendiri, yang tidak memberi perhatian dan kasih sayangnya, sehingga Reyna bisa berbuat hal seperti itu.


Walau bagaimnapun Agam tetaplah seorang anak, dia bermaksud untuk menyapa kedua orang tuanya sebelum dirinya kembali lagi ke singapura.


Agam turun dari mobilnya, dia melihat anak laki-laki tengah mengejar Bola yang menggelinding kearahnya. Aganpun berjongkok mensejajarkan dirinya dengan tinggi sang anak.


"Ini bola kamu" Ucap Agam memberi bola yang di pegangnya.


"Iya om" Jawab Anak laki-laki itu polos.


Agam tersenyum, dia mengingat bagaimana dulu dia sangat menyayangi anak itu, namun kebohongan Reyna membuat dirinya hilang kasih sayangnya terhadap Arka. Tak lama Terdengar teriakan memanggil nama anak kecil itu.


"Arka... rupanya kamu disini!" Ucap mamanya memeluk sang anak.


"Mah, kenapa Arka ada di sini?" Tanya Agam bingung dengan kehadiran Arka di rumah orang tuanya.


"Kamu yang membuat Reyna harus bekerja dan kehilangan waktu untuk mengurus anaknya sendiri!"


"Mamakan tahu, Reyna yang selama ini membohongi kita semua."


"Iya mama tahu, itu kesalahan besar Reyna, Tapi tetap saja mama sangat prihatin."


Mamanya sebagai seorang sahabat dari orang tua Reyna merasa bertanggung jawab, setelah perceraian dengan Agam, Reyna tidak mempunyai siapaun lagi.


Tok...tok...tok...


Agam mengetuk pintu ruangan Harun.


"Masuk"


Agampun membuka pintu dan masuk menemui papanya.


"Pah kenapa ada Arka di sini?" Tanyanya begitu masuk.


"Itu mama kamu yang mau. katanya kasihan Reyna, dia tidak ada punya siapa-siapa lagi. menjadi orang tua tunggal dan mencari nafkah itu sulit. Bagaimana bisnis kamu disana?" Tanya Harun kemudian.


"Lancar pah, semuamya sesuai dengan target."


"Gam papa ingin kamu menikah lagi, jika kamu belum mempunyai kekasih, kembali saja bersama Reyna. Maafkan dia. Anggaplah Arka sebagai anak kamu sendiri. Papa merasa bersalah kepada orang tua Reyna."


"Papa mau aku kembali lagi, setelah semua kebohongan yang Reyna ciptakan, dan di juga memiliki anak ketika kami masih dalam ikatan pernikahan. Aku tidak akan melakukan itu."


"Bukankah kamu juga sama, kamu juga selingkuh dengan anaknya David!"

__ADS_1


Mata Agam memerah, telinganyapun panas, mendengar papanya sendiri membela orang lain.


"Ini yang membuat aku enggan untuk datang kerumah ini. satu hal lagi. buang jauh keinginan papa untuk aku bisa kembali dengan Reyna. itu tidak akan pernah terjadi."


Dengan emosi yang masih tertahan, Agam meninggalkan Harun. Dia tidak menyangka papanya lebih memilih Reyna dari pada kebahagiaan anaknya sendiri.


Dengan kesal Agam membawa mobilnya menjauh dari rumah Harun, tanpa berpamitan dia pergi dengan membawa kekecewaan kepada orang tuanya.


...※※※※...


Bela duduk termenung dengan tangan memegang tiket pesawat pemberian Agam. Jatah cutinya masih tersisa empat hari lagi, jika ia menerima Ajakan Agam dia bisa menghabiskannya di paris. Namun jika dia menolak, Dia akan kembali kesingapura.


"Apa yang harus aku pilih?"


Bela merenung, menyelam kedasar hatinya, untuk mencari jawaban dari semua kebimbangan yang dirasakan.


"Bel, papa masuk ya?"


Suara papanya di depan pintu menyadarkan Bela dari lamunannya.


"Iya pah, masuk aja!" Jawab Bela bergegas menyembunyikan tiket pesawat yang sedari tadi di pegangnya.


"Kamu yakin akan berangkat hari ini?" Tanya David memastikan, dia masih ingin berlama-lama dengan anaknya, rumahnya yang sepi, kembali hangat setelah kepulangan Bela.


"Iya pah, Bela tahun baru disana, teman-teman kampus Bela sudah menyiapkan acara." Jawab Bela berbohong, karena dia sama sekali tidak mempunyai teman di kampusnya. karena Bela menghabiskan waktunya untuk bekerja.


"Jam berapa kamu berangkat? papa akan antar kamu!" Tanya David kemudian.


"Sore pah, tapi bukannya sore nanti papa ada meeting ya?" Tanya Bela, karena dia sempat mendengar papanya menerima telphon saat tadi sedang mengunjungi Rangga.


"Iya juga ya, apa papa batalkan saja?"


Setelah kesediahan Bela karena kehilangan Rangga, David selalu khawatir terhadap anaknya. tanpa dia tahu Bela sudah menjadi dewasa dan kuat.


"Jangan pa, Bela bisa naik taksi."


"Ya sudah, asisten papa yang akan antar kamu."


"Iya pa, Bela siap-siap dulu."


Setelah David meninggalkan kamar Bela, Belapun memulai menyiapkan barang yang akan di bawanya.


Tak lupa dia juga membawa tiket yang tadi dia sembunyikan. Bela masih mempertimbangkan, jika dia menerima ajakan Agam, sudah pasti di sudah siap untuk kembali bersama Agam, menjalin cinta seperti dulu lagi. Berjuang untuk mendapatkan restu dari papanya, yang mungkin akan sangat sulit untuk mereka berdua hadapi.

__ADS_1


__ADS_2