
Reyna sedang bersiap untuk menghadiri pesta Aniversary pernikahan rekan bisnis Agam. Dia sempat membaca undangan yang terletak di meja kerja Agam. Walaupun Agam tidak mengajaknya ke pesta tersebut, tapi dia akan tetap datang sebagai istri Agam.
Reyna mendengar suara mobil Agam meninggalkan rumah, diapun Bergegas mengikuti Agam dari Belakang, Agam bahkan tidak menyadari saat ini dirnya tengah di ikuti oleh istrinya.
Sampailah di tempat pesta di selenggarakan. Reyna tetap memgikiti Agam yang mulai masuk kedalam pesta.
"Selamat pak, bu. langeng terus sampai maut yang memisahkan!" Agam menjabat tangan kedua pasangan yang nampak berbahagia di perayan pernikahan yang ke 30 tahun.
"Terimakasih pak Agam. Datang sendiri, istri tidak ikut?" Tanya pak Bram yang melihat Agam hanya datang seorang diri.
"Kebetulan istri saya...." Ucap Agam terpotong Saat ada sebuah tangan melingkar di lengan agam. Rupanya dia adalah Reyna. tanpa sepengetahuan Agam Reyna menghadiri pesta itu.
"Selamat pak, bu. Saya harus menerima telphon penting dulu tadi." Ucap Reyna menyela ucapan Agam.
"Kenapa kamu ada disini?" Bisik Agam
"Jangan sekarang, mereka sedang memperhatikan kita." Ucap Reyna menyadarkan suaminya, bahwa saat ini mereka tidak sedang berdua. Ada pasang mata yang tengah memperhatikan dirinya.
...※※※※...
"Sayang, kamu tidak lupakan malam ini harus menemani papa ke pesta ulang tahun pernikahaan pak Bram?" Tanya David di depan pintu kamar putrinya yang terkunci.
"Iya papa, Bela tidak lupa, Bela sedang siap-siap nih!" Teriak Bela dari dalam Biasa bagi David yang menunggu bagaimana lamanya anak gadisnya dandan. David dengan senang hati akan menunggu tanpa mengeluh.
"Kamu harus cari suami seperti papa, yang rela menunggu kamu dandan tanpa mengeluh." Canda David saat melihat Bela turun dari kamarnya.
"Siap pah, Bela akan cari yang persis seperti papa!" Jawab Bela bersikap imut di depan David.
Tak lama sampailah mereka di pesta pak Bram, Rekan bisnisnya yang sudah lama David kenal.
David masuk dengan digandeng oleh anak yang selalu dia banggakan. Kemudian David melihat pak Bram yang sedang asik mengobrol dengan Agam, kemudian David menghampiri mereka.
Bela hanya melirik tak suka melihat Reyna yang bergelayut manja di lengan Agam. Bela tidak tahu bahwa Agam akan detang bersama istrinya.
"Selamat malam pak Agam, Bu Reyna." Sapa David kepada Agam juga istrinya. David bersikap formal.
"Malam pak David. Agam dan David saling berjabat tangan.
"Pak Bram, Selamat, saya doakan semoga kalian selalu bahagia. Jika mendiang istri saya masih ada pasti kami selalu merayakan hari pernikahan kami seperti pak Bram." David terharu melihat kebahgaian oak bram berserta istri, mengingatkan David kepada Mamanya Bela yang lama telah tiada.
"Saya sangat kagum melihat pak David yang masih setia sampai hari ini."
"Selamat om atas ulang tahun pernikahannya!" Bela pun ikut mengucapkan selamat kepada pak Bram.
"Terimakasih, kamu memang cantik, sesuai dengan yang selama ini Pak David selalu ceritakan."
__ADS_1
Puji Barm kepada Bela yang di tanggpai dengan cibiran pelan Reyna.
"Kalian belum tahu saja sifat asli wanita satu ini."
Reyna tersenyum mengejek saat Bela mendaptkan pujian dari Pak Bram.
Beda halnya dengan Reyna, justru Agam tersenyum melihat pak Bram yang memuji Bela. Apa yang pak bram katakan sama dengan apa yang Agam rasakan tentang Bela.
Tak lama istri pak Bram datang dengan menggandeng seorang pria muda. yang sudah pasti dia adalah anaknya.
"Nak Bela, perkenalkan anak om, Dia adalah seorang pilot dan memang jarang sekali mengambil libur, tapi kebetulan hari ini dia menyempatkan waktunya dan sengaja om kenalkan kepada kamu dengan harapan kalian bisa lebih dekat." Ucap Bram jujur dengan niatannya.
"Hai Bela, saya Daniel Wijaya." Daniel Mengulurkan tangan menanti sambutan tangan dari Bela.
"Bela Davinson." Bela tersenyum lembut mengucapkan nama lengkapnya.
Agam merasa cemburu melihat perkenalan Daniel dan Bela tepat di depan matanya.
"Saingan kamu seorang pilot mas, masih muda pula." Ejek Reyna berbisk di telinga Agam.
Daniel mengajak Bela mengobrol, menjauh dari kerumunan para orang tua yang mulai membicarakan bisnis mereka.
Agam yang melihat Bela pergi dengan Daniel tidak bisa berbuat apapun selain hanya menatap kepergian Bela. Sedangkan dia harua berkumpul bersama rekan bisnis yang seusia dengannya.
"Masih kuliah...?" Tanya Daniel mencoba akrab dengan Bela.
"Iya, penerbangan internasional. Untuk saat ini jadwal penerbangan Indonesia - Singapura - AbuDabi."
"Aku juga punya teman seorang pilot, dia adalah kekasih sahabatku!"
"Oh ya... Siapa? mungkin saja aku mengenalnya!"
"Namanya Adit."
"Adit? sepertinya aku mengenalnya, apa ada fhotonya untuk memastikan bahwa kita sedang membicarakan orang yang sama."
"Sebentar, aku cari dulu." Bela membuka hpnya mencari foto Adit dan Maya.
"Ini dia orangnya, kamu kenal?" Bela menunjukan sebuah foto.
Saat Daniel akan menjawab pertanyaan Bela dia kalah cepat dengan Agam yang datang tiba-tiba menggangu obrolan mereka.
"Ddheemm.... maaf ganggu, bisa pinjam Bela sebentar?" Agam berkata dengan nada sedikit sinis. Agam sudah menganggap Danie adalah saingan Dia yakin bahwa Daniel pun suka dengan Bela.
"Silahkan." Danie menjawab dengan alis yang di kerutkan. dia curiga dengan sikap pria yang mengajak Bela tadi, yang dia ketahui sebagai rekan bisnis papanya.
__ADS_1
"Agam, apa yang kamu lakukan." Tanya Bela Bingung saat Agam membawanya menjauhi pesta.
"Maafkan aku Bela." Agam melepaskan genggaman tangannya dan menuduk menyesali perbuatan nekatnya.
"Apa yang kamu fikirkan Agam?"
"Aku hanya tidak suka melihat kamu dekat dengan dia. Aku cembru Bela."
"Kami hanya mengobrol Gam, tidak melakukan apapun. Harusnya aku disini yang marah, karena aku fikir kamu tidak akan membawa Reyna." Akhirnya Bela mengungkapkan kekesalannya juga.
"Sungguh Bela aku sama sekali tida datang dengannya. Dia yang datang sendiri tanpa sepengetahuanku."
"Sudahlah Gam, kamu kembali kesana, Tidak enak jika ada yang melihat kita berdua."
Bela menjauh dari Agam dan menghampiri Daniel kembali, Agam hanya bisa menatap nanar kepergian Bela. Agam ingin membawa Bela keluar meninggalkan pesta ini, situsai seperti ini yang membuatnya ingin segera bercerai dari Reyna.
"Maaf Dan." Bela merasa tidak enak telah membuat Daniel menunggu dirinya.
"Santai aja Bel, kalau boleh tahu, dia siapa?" Daniel penasaran dengan Agam. Sebab dia melihat tatapan tajam Agam menatap dirinya.
"Dia sahabat papaku. Kamu sudah makan?" Bela mengalihakn pembicaraannya. Dia tidak ingi Daniel mengetahui tentang hubungannya dengan Agam.
"Belum, kamu lapar? Maaf seharusnya kita tadi makan dulu. Tapi kita keasyikan mengobrol."
"Aku baru lapar sekarang kok, ayo!"
...※※※※...
"Kenapa sih mas kamu ngajak pulang cepat, padahal pesta belum selesai loh." Tanya Reyna kesal, Agam mengajaknya pulang sedangkan dirinya masih ingin berada di pesta teraebut.
"Bukannya kamu tidak suka berlama-lama dengan teman-temanku!" Agam beralasan.
"Hahaha, Aku tahu kamu mas. sepertinya bukan itu alasannya. Kamu jengah kan melihat Bela dekat dengan Daniel? menurutku mereka pasangan yang cocok, bahkan David dan pak Bram sepemikiran. Sadar mas, kamu itu terlalu memaksakan diri."
"Tahu apa kamu Rey."
"Agam kamu dan Bela tidak akan bisa bersama. karena kamu tidak bisa bercerai denganku. Kamu terlalu cinta dengan perusahan kamu, apa kamu rela memberikan semua yang kamu miliki. jerih payah kamu selama ini, kamu tukar dengan seorang gadis, itu pun jika David langsung menyetujuinya. Jika tidak, kamu pasti akan kehilangan perusahaan dan juga wanitamu.
"Kalau kamu tidak diam, lebih baik kamu turun dari mobil sekarang!" Agam menginjak rem, membuat mobil yang di kendarainya berhenti.
"Oke Agam, aku akan diam!" Reyna yang tak ingin diturunkan di tengah jalan, memilih untuk diam berhenti mengolok-olok Agam.
Sesampainya Di rumah, Agam memikirkan kembali kata-kata dari Reyna yang mengsuik dirinya. Belum lagi kehadiran pria baru di kehidupan Bela membuatnya terusik.
Hasrat laki-lakinya keluar. Dia harus segera memperjelas hubungannya dengan Bela sebelum terlambat. Dia tidak ingin kehilangan Bela. jelas dia lihat dari tatapan Daniel yang langsung tertarik kepada bela di pandangan pertama. Sebab Agam pun pernah merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Banyak yang harus Agam korbankan jika ingin Bersama Bela. Persahabatannya, Perusahaannya, dan keluarganya.
"Apa aku sanggup jika kehilangan semua itu demi satu orang yang sangat aku cintai? Bagai mana jika aku menyerah di tengah jalan. maka aku akan kehilangan semuanya. Seperti yang Reyna katakan. tapi, jika aku tidak berani melangkah maka aku tidak punya harapan lagi."