Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Tertidur di sampingmu


__ADS_3

"Maaf Dan, membuat kamu bingung." Ucap Bela merasa tak enak hati atas sikap Agam.


"Bukankah laki-laki itu yang ada di pesta semalam, Dia sahabat om David kan?" Tanya Daniel memberanikan dirinya dengan harapan Bela akan menceritakan kisahnya.


"Iya, Dia adalah sahabat papa, kami dalam hubungan yang rumit." Jawab Bela menundukan kepalanya.


"Kamu bisa ceritakan semuanya kepadaku Bel."


"Kami saling mencintai Dan. tapi, Dia sudah mempunyai istri dan rumah tangganya di ujung perceraian, bahkan sebelum dia bertemu denganku."


"Jadi kamu saat ini sedang menunggu mereka bercerai?"


"Iya kurang lebih seperti itu. Tapi sebenarnya banyak yang harus dia korbankan agar bisa bersamaku Dan, salah satunya persahabatnnya bersama papa, juga perusahaannya."


Bela menceritakan semuanya kepada Daniel.


"Kenapa sangat sulit sekali bersama dengannya Dan?" Tak terasa air mata Bela berjatuhan.


"Apa kamu sudah mengutarkan semua yang kamu rasakan kepadanya?" Daniel memberikan tisue untuk menghapus air mata Bela.


"Belum Dan, aku tidak ingin menambah fikirannya. Saat ini dia sedang mempersiapkan perceraiannya dan juga Bisnis barunya."


"Bela, kamu juga penting, lebih baik kamu bicarakan semuanya dengannya. merencanakan apa yang akan kalian lakukan setelah perceraiannya, dan berterus terang kepada om David. Bukan kah kamu ingin hubungan kamu di setujui oleh om David?"


"Iya, aku akan sangat bahagia jika papa juga menyetujuinya. Tapi jujur aku takut Dan, Bagaimana jika papa menolaknya. aku tidak mau berpisah dengan Agam."


Bela menangis di samping Daniel, hanya kepada Daniel Bela bisa mengeluarkan semua isi hatinya.


...※※※※...


Setelah kepergian Bela, Agam marah tak karuan, sampai-sampai dirinya tidak fokus bekerja. Berkali-kali Agam menelphon Bela tapi nomor Bela tidak aktif.


"Kenapa nomor kamu tidak aktif Bela? apa kamu semarah itu, atau kamu masih bersama Daniel?"


Agam bingung harus melakukan apa agar bisa bertemu dan meminta maaf kepada Bela atas sikapnya yang tidak dewasa.


Agam yang merasa frustasi tidak bisa menghubungi Bela, pergi ke klub malam bersama teman-temannya untuk menenangkan fikiran.


Sedangkan Bela yang tengah tertidur pulas setelah lelah menangis mencurahkan isi hatinya kepada Daniel terbangun oleh mimpi buruk.


Bela bermimpi dirinya harus berpisah dengan Agam. Agam yang tiba-tiba meninggalkannya seolah tidak mengenal dirinya. Pergi begitu saja tanpa memberi tahu kemana dia akan pergi.


Dengan berkeringat Bela bangun dari tidurnya, mengingat kembali mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bela tidak tahu bagaimana keadaan dirinya jika berpisah dari Agam.


Bela mencari HPnya untuk menghubungi Agam. Dan ternyata HPnya dalam keadaan mati.


"Shiiitttt.... HPku mati lagi." Umpatnya.Bela bangun dari kasurnya untuk mencharger HPnya, lalu menekan tombol on.


"20 Panggilan dari Agam, apa terjadi sesuatu?" Bela panik, dia khawatir terjadi sesuatu kepada Agam.


Bela mencoba menelphon Agam kembali.Tapi Agam tidak mengangkatnya. Kemudian Bela mencoba kembali menghubungi Agam.


"Hallo Gam, apa kamu baik-baik saja? Kamu lagi di mana?" Suara musik yang sangat keras membuat Bela harus berteriak.


"Kamu siapa, Agam lagi di klub xxx, Jemput dia sekarang, dia mabuk berat." Ucap laki-laki di sebrang telphon.


Setelah mengetahui keberadaan Agam, Bela mengambil kunci mobilnya dan membawa kencang mobilnya menuju klub xxx.


Setelah sampai di depan klub,Bela masuk mencari keberadaan Agam. Tak lama Bela melihat sekumpulan laki-laki dan di sana ada Agam yang sudah tumbang. Tidak biasanya Agam semabuk ini bahkan sampai tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Apa kamu yang menelphon tadi?"


"Iya."


"Kalau Boleh tahu kamu siapanya Agam, sepertinya kamu bukan istrinya?"


"Aku keponakannya." Ucap Bela berbohong, Bela sendiri pun bingung harus meperkenalkan dirinya sebagai siapa. karena memang hubungannya dengan Agam tanpa setatus yang jelas.


"Bisa bantu aku membawa Agam masuk kedalam mobilku!"


Bela di bantu kedua teman Agam membawa Agam kedalam mobilnya.


"Terimkasih sudah membantu!"


Setelah kedua teman Agam kembali kedalam klub, Bela pun masuk kedalam mobilnya.


"Gam bangun, bagaimana kamu sampai semabuk ini?" Bela menepuk-nepuk pipi Agam, tapi Agam tak juga sadar.


"Aku harus bawa kamu kemana Gam? Gak mungkin aku mengatarkan kamu pulang, bisa-bisa aku dihajar Reyna lagi."


Bela bingung harus membawa Agam kemana Akhirnya Bela memutuskan untuk membawa Agam pulang ke rumahnya. Kebetulan papanya akan pulang larut malam sehingga papanya tidak akan tahu kalah Bela membawa Agam masuk ke rumahnya.


Sesampainya Di depan rumahnya, Bela kembali bingung, mengingat tubuhnya yang kecil harus membawa tubuh kekar Agam masuk kedalam rumah itu hal yang tidak mungkin.


"Gam kenapa kamu belum juga sadar, kamu habis minum berapa banyak sampai seperti ini?" Bela merutuki Agam yang tak kunjung sadar.


"Hallo Daniel, kamu dimana?"


"Hallo Bel,ada apa? Aku baru saja keluar rumah menuju bandara."


"Ooh.. kamu sudah berangkat!" Suara Bela melemah.


"Hhhmmn.... Kamu bisa ke rumahku sebentar, Aku butuh bantuan, itu juga kalau kamu tidak keberatan!"


"Aku akan kesana, ada waktu 2 jam sebelum pesawat berangkat."


"Aku tunggu!"


Daniel memang akan melewati daerah tempat tinggal Bela. Jadi jaraknya cukup dekat dengan rumah Bela. Belum sampai 20 menit Bela menunggu, mobil Daniel sudah masuk ke pekarangan rumahnya.


Daniel keluar mobilnya dengan sudah berseragam rapi, Seragam pilotnya. Daniel seperti sosok yang berbeda dia terlihat sangat gagah dan tampan.


Bela yang melihat Daniel keluar dari mobilnya terkesima dengan penampilan Daniel. Dia tidak menyangka Daniel akan sekeren ini.


"Apa yang terjadi Bel?"


"A-agam ada di dalam, maksudku Agam mabuk, dia tidak sadarkan diri, aku terpaksa membawa dia kesini, karena aku bingung harus membawa dia kemana, dan aku butuh bantuan kamu untuk membawa Agam masuk sebelum papa datang."


Bela sedikit gugup menjelaskan kepada Daniel, Bela mencoba kembali sadar, memfokuskan dirinya kepada Agam.


"Tunjukan jalannya, aku akan membawa Agam masuk." Daniel membawa Agam di punggungnya. Beban berat Agam sudah bukan lagi masalah baginya, karena Daniel sudah terlatih.


Bela menunjukan jalan menuju kamarnya.Di ikuti Daniel dari belakang dan membaringkan Agam di atas kasur milik Bela.


"Terimakasih Dan, kalau tidak ada kamu aku tidak tahu harus bagaimana. Pasti punggung kamu sakit?"


"Aku baik-baik saja. Kalau kamu butuh bantuan apapun, hubungi aku. Aku akan ada untuk kamu."


"Aku harus segera berangkat Bel." Danie melirik jam di tangannya.

__ADS_1


"Aku antar sampai Depan."


Bela dan Daniel berjalan berdampingan keluar rumah, Rupanya David melihat kedekatan antara keduanya. Sampai-sampai mereka tidak melihat kedatangan David.


"Eh... Ada nak Daneil....!" Sapa David kepada kedua anak muda yang nampak fokus membicarakan sesuatu.


"Malam om!"


"Papa, kapan Datang?" Tanya Bela yang terkejut dengan sapaan David.


"Kamu tidak lihat, papa sedari tadi melihat kalian dari sini! kalian mau kemana? Tanya David yang melihat Bela dan Daniel berpakaian rapih.


"Bela di rumah aja pah, malam ini Daniel harus kembali bekerja, jadi dia kesini untuk berpamitan." Bela tidak mungkin mengatakan bahwa di dalam saat ini ada Agam.


"Iya om, saya ingin melihat Bela sebelum saya terbang."


"Iya pah, Daniel gak bisa lama-lama di sini, dia harus segera berangkat."


"Iya om saya permisi dulu." melambaikan tangannya berpamitan kepada David dan Bela.


"Iya, hati-hati nak Daniel."


Daniel masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan rumah Bela.


"Dddhheemm... Sepertinya papa ketinggalan berita!" David mulai menggoda Bela. David mengira anaknya memiliki hubungan dengan Daniel.


"Berita apa pah?" Tanya Bela heran dengan pertanyaan papanya.


"Sejak kapan kalian bisa sedekat ini, bukankah kalian baru bertemu dua hari yang lalu?"


"Maksud papa, Aku dan Daniel?"


"Iya, kalian seperti menyembunyikan sesuatu!"


"Hahaha... papa, kami tidak menyembunyikan apapun." Bela tertawa, dia merasa David terlalu cepat mengambil kesimpulan.


"Ya sudahlah, kalau kamu belum mau menceritakan kepada papa. Yang jelas papa yakin Daniel adalah anak yang baik."


"Ini tidak seperti yang papa fikirkan. papa istirahat saja sana!" Bela mendorong David Agar segera masuk kedalam kamarnya.


"Iya, iya sayang. Apapun itu papa tunggu kabar baiknya."


"Iiiihh... papa." Bela menutup pintu kamar David.


"Bagaiman bisa papa menyimpulkan secepat itu. Semoga papa tidak melakukan hal aneh kepada Daniel di belakangku. Shhitttt.... Aku hampir melupakan Agam."


Bela hampir saja melupakan Agam yang sedang tidur di kamarnya. ini semua karena David yang terus saja menggoda Bela.


Bela berlari menaiki tangga dan masuk kedalam kamarnya, tak lupa dia mengunci pintu. khawatir jika David tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.


Bela yang melihat Agam masih lengkap dengan pakaian kerja juga sepatu mencoba melepaskannya. Melepaskan jas juga sepatunya, melonggarkan kemejanya dengan membuka beberapa kancing di dadanya. Melihat dada Bidang Agam yang ditumbuhi sedikit Bulu halus, membuat Bela ingin menyentuh juga membelainya.


"Loe harus sadar Bela, buang fikiran kotor loe."


Bela memenjamkan matanya membuang semua fikiran yang tidak berguna di otaknya.


Tidak ada tempat kosong lagi untuk Bela tidur selain di samping Agam. Belapun membaringkan Tubuhnya di sebelah Agam. Tapi, sebelum tidur dia kembali menatap wajah Agam.


"Kamu tertidur seperti bayi Gam, sangat manis.Selamat tidur dear" Bela mengecup pipi Agam sebelum dia menutup matanya untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2