
Agam sedang membuat kopi di pantry, dia sedang ingin meracik kopi sendiri. Sebab kopi itu yang mengingatkan kepada wanita yang di cintainya.
Suara hentakan kaki terdengar dari arah luar pantry, suara itu semakin dekat. Agam menoleh melihat siapa di antara karyawannya yang sedang kesal.terdengar dari cara berjalannya orang itu menunjukan kekesalan.
Agam menatap pintu pantry yang perlahan di buka oleh seoarng wanita. matanya membuka lebar, deru nafasnya tidak beraturan, sangat terasa desiran darah mengalir memusat di jantungnya. wanita yang selama ini di carinya ternyata sangat dekat dengan dirinya.
"Ternyata Benar itu kamu, kamu selalu ada di jangkauanku!"
Ingin sekali Agam memangil namanya, memanggil namanya lansung di depan sang pemilik nama. Namun wajah sendu yang di perlihatkannya, megurungkan keinginan kuat Agam. Agam merasa saat ini dia tidak dalam keadaan baik-baik saja.
"Tapi ada apa dengan wajah itu, apa selama ini kamu tidak bahagia? apa ada masalah dengan pernikahan kamu? Kenapa aku harus melihat kesedihan di wajah kamu Bela?"
Agam tidak ingin gegabah, dengan mengetahui keberadaan Bela, sementara cukup baginya. Dia ingin memastikan terlebih dahulu keadaan Bela sebenarnya, dia taku kehilangan Bela lagi. Jika Bela tahu kehadirannya, ada kemungkinan Bela akan menghindarinya lagi. dan mungkin pergi lebih jauh lagi. Agam tidak ingin itu terjadi.
Agampun bergegas pergi keluar dari Pantry meninggalkan secangkir kopi yang masih belum tersentuh bibirnya.
Bela mengangkat kepalanya, mencium aroma kopi, aroma kopi kesukaannya. diliriknya kekanan dan kekiri, namun tidak ada orang selain dirinya di sana, Dia hanya melihat secangkir kopi yang masih panas tertinggal disana.
"Kopi ini, apa kamu memang ada disini?"
Bela kembali menengokan kepalanya kekiri dan kekanan, mencari jejak seseorang yang baru saja meninggalkan pantry, dia yakin pasti tadi ada seseorang bersamanya di dalam pantry.
"Hey, cari siapa?" Bela di kagetkan dengan masuknya Julie yang tiba-tiba.
"Kak Julie,
"Bukankah kamu tidak minum kopi?" Tanya Julie yang melihat Bela sedang memegang secangkir kopi.
"Ini bukan punya aku!" Bela meletakannya kembali.
"Oh ya Bel, bantu aku pilih tempat untuk makan malam nanti!"Julie menujukan beberapa restoran kepada Bela.
"Bagaimana kalau di reto xxx, disana tempatnya luas, ada indoor dan juga outdoornya." Bela menujuk satu resto yang menurutnya cocok untuk makan malam nanti.
"Boleh, tidak terlalu jauh juga dari sini!" Julie setuju dengan pilihan Bela.
"Tapi kak, sepertinya aku tidak bisa ikut, nanti malam aku harus menata barang-barangku!" Dengan berat hati Bela mengatkannya, dia tidak belum siap untuk bertemu bos pemilik perusahaanya, dia masih mengira itu adalah Agam, apa lagi cangkir kopi tadi seolah menujukan keberadaannya.
"Menata barang bisa besok lagi." Julie membujuk Bela agar ikut, karena malam nanti Bela di pastikan Akan bertemu Agam.
"Besok aku ada jam kuliah." Jawab Bela penuh penyesala.
__ADS_1
"Baiklah!" Jawab Julie, mengiyakan, apa yang bisa dia lakukan, Bela sudah menentukan keputusannya.
Begitulah takdir, sebagaimanapun kita merancangnya jika takdir tidak berpihak, rencana hanya tinggal rencana.
...※※※※...
Semua karyawan berkumpul untuk makan malam bersma, tak hanya tim pemasaran tapi seluruh tim ikut makan malam bersama. sebagai terimkasih atas kerja kerasnya selama satu tahun ini.
Berbagai makanan sudah tersaji, obrolan, candaan, terdengar memenuhi restoran yang sudah di booking Agam.
"Bela mana?" Tanya Jery yang tidak melihat adanya Bela didekat julie.
"Dia gak bisa datang!" Jawab julie menggelengkan kepalanya.
"Bukannya kamu datang dengan pak Agam?" Julie balik bertanya, karena seharusnya Jery datang dengan bosnya, karena dia yang mengadakan acara ini.
"Dia juga gak bisa datang, aku di minta menggantikannya, padahal dia mengadakn ini semua agar bisa bertemu Bela!"
"Apa agam sudah tahu wanita yang di carinya ada disini?"
"Sepertinya dia sudah tahu, instingnya sangat tajam, dengan hanya melihat Bela dari belakang dia langsung mencari tahu kebenarannya."
"Aku juga bingung, dia tiba-tiba memberi kabar bahwa dia tidak bisa datang malam ini!" Jery menunjukan isi pesan yang di terimanya dari Agam.
...※※※※...
Di tempat lain Agam sedang mengunjungi Apartmen barunya, dia ingin melihat sejauh mana perkembangan renovasi apartemennya. Sebab Agam tidak tahu apa yang akan dia lakukan karena semula Agam akan menghandiri acara kantornya.
Agam sengaja tidak datang ke acara makan malam itu, karena dia tidak ingin menampakan dirinya di depan Bela. Mungkin sulit untuk menghindari Bela saat ada di tempat yang sama, tapi Agam akan berusaha tidak terlihat oleh Bela.
Rupanya tak hanya Agam, tetangga depan unitnya juga rupanya tengah sibuk pindahan, terlihat beberapa barang masuk kedalam unit tersebut.
Brak...
Tiba-tiba Agam mendengar suara barang terjatuh. Agam menoleh dan dia melihat seorang wanita sedang memasukan kembali buku- buku yang berserakan di lantai.
Merasa tak tega melihatnya, Agampun menghampiri dan membantu memasukan buku yang berserakan kedalam dus.
"Biar saya bantu!" Ucapnya meminta izin.
Agam tidak menyadari bahwa wanita yang sedang di tolongnya adalah wanita yang selama ini dicarinya.
__ADS_1
Karena mendengar suara yang tidak asing di telinga, Bela mendongkakan kepalanya untuk melihat siapa yang datang membantunya.
Bela terkejut melihat Agam berada di depannya, tangannya bergetar, tubuhnya terasa panas, detak jantungnya pun ikut berdetak cepat, membuat keringat membasahi keningnya. dengan cepat Bela merapikan bukunya kembali, Bela memalingkan wajahnya, dia tidak ingin Agam melihat kearahnya. Meskipun pertemuan ini tidak mungkin ia hindari. setidaknya dia berusaha agar Agam tidak mengenalinya.
"Terimaksih!" Ucapnya segera berdiri dan melangkah, membawa kembali beban buku yang berat dengan kedua tangannya.
Agam tertegun, "Suara itu, Apa mungkin itu kamu? tapi seharusnya kamu sedang makan malam bersama yang lainnya!" dia menyadari kesalahanya, seharusnya dia tidak datang untuk membatu. dan pertemuan ini pasti tidak akan terjadi.
Agam kurang yakin jika tidak melihat wajahnya langsung.
"Tunggu dulu!" Langkahnya berhenti ketika Agam kembali memanggilnya.
"Ini sangat berat, izinkan aku yang membawanya!" Agam mengambil alih dus berat yang berisi buku-buku itu dari tangan Bela. Agam tahu bahwa Bela saat ini sedang menghindari tatapannya.
Bela mengikutinya dari belakang, dengan wajah yang masih menghadap kebawah. dia masih berharap bahwa Agam tidak mengenalinya.
Agam masuk kedalam unit Bela, untuk menyimpan dus yang di bawanya. ketika hendak berbalik, Agam terperangah ketika melihat photo besar yang berada tepat di depannya. Itu photo Bela bersama Rangga.
"Kenapa diam saja? Sesulit itukah menatap kearahku?" Tanya Agam. sedari tadi Agam menunggu Bela yang menyapanya terlebih dahulu, namun Bela hanya menganggapnya orang asing.
"Aku pikir kamu tidak mengenaliku!" Jawabnya datar.
"Kenapa membawa barang seberat ini sendiri? suami kamu tidak membantu?" tanyanya lagi. pertanyaan yang begitu saja terlontar. pertanyaan yang menyakitinya.
Bela bingung harus menjawab Apa. Agam menanyakan seorang suami yang tidak pernah Ada. Akhirnya dia menjawab pertanyaan Agam dengan gelagapan.
"Dia..., dia ada. Terima kasih atas bantuannya!" Bela segera menutup pintu.
Bela tak kuasa menahan tangisannya, dia duduk bersimpuh, mendengar Agam menanyakan tentang suaminya, membuat hati Bela sakit. Bela berusaha menahan isakan tangisnya, dia takut Agam mendengarnya. Sebab dia tahu Agam masih ada di depan apartmenya.
Flashback,
Bela menangis histeris di depan gundukan tanah yang berbunga, setelah semua orang pulang mengantarkan Rangga ke peristirahatan terakhirnya.
"Ngga, kenapa kamu ninggalin aku? Maafin aku Ngga, ini semua salahku, jika saja aku tidak pernah memaksa kamu untuk mengendarai mobil, mungkin hari ini kamu masih ada didunia ini." Bela menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi kepada Rangga. Sebab rangga mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil. dan mobil itu yang dipilihkan Bela.Mobil yang menurut Bela aman, namun justru membahayakannya.
"Tidak sayang, ini bukan salah kamu!" David memeluk Bela, mencoba menenangkan Bela, dia tidak ingin Bela kembali mengalami deprsei seperti dulu.
"ini salah aku pah!" Ucapnya di sela-sela isakan tangisnya.
Flashback end.
__ADS_1