Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Tubuh Tak Berjiwa


__ADS_3

Bela menginjak gas mobilnya, melanju dengan kencang meninggalkan restoran tempat mereka makan. Berkali-kali dia meremas dadanya, merasakan sesak, oksigen yang dihirupnya tak mampu menembus kerongkongannya. Di biarkanya airmata tetap mengalir membasahi wajahnya. Jika saja dirinya menunggu sampai Agam selesai menjelaskan, mungkin Agam mempunyai alasan yang akan diterimanya. Namun Bela tidak sanggup mendengar lebih jauh lagi. Apapun alasannya, itu tidak bisa merubah kenyataan yang ada.


Aarrghhh.....


Bela menyapu semua yang ada di meja riasnya dengan kedua tangannya, terdengar suara pecahan-pecahan saling bersautan. Memandang pantulan dirinya di cermin. Keadaannya sudah sangat berantakan. Aura cerahnya berubah menjadi cahaya gelap, kini hanya tersiasa tubuh tanpa jiwa. jiwanya sudah ikut tenggelam bersama semua angan-angan masa depan yang sudah sedemikian rupa di rangkainya.


Prang....


Dilemparnya cermin yang memantulkan dirinya. Cerimin yang dulu utuh, sekrang hanya tinggal potongan-potongan yang memantulkan pantulan dirinya yang sudah tak berbentuk. Sama dengan hatinya yang sudah menjdi serpihan-serpihan yang tidak mungkin untuk di rangkai kembali.


Bela membaringkan dirinya memeluk segala kesedihan, amarah dan juga keputusasaan. Bela masih tidak percaya Dirinya dibuang Agam. Bela mengartikan perpisahan ini, sebagai hari dimana dirinya dibuang, karena sudah tak lagi berarti dan tak layak untuk di perjuangkan. Dan, Agam memilih untuk menyimpan sampah yang harusnya di buang alih-alih dirinya.


David berlari saat mendengar ada suara benda pecah di kamar Bela.


tokk...


tokk...


tokk...


David memegang handel pintu yang tidak terkunci


"Bela papa masuk ya!" Ucapnya saat tak mendengar apapun dari dalam kamar Bela.


Kemudian David mendorong handel pintu itu, dan


David terperangah, melihat kamar Bela yang sudah berantakan. Semua benda yang semula berdiri tegak, kini sudah berceceran di lantai, Matanya berbelok mencari sosok anaknya. Dan ternyata David Melihat Bela sedang tidur miring memeluk lututnya sendiri.


David menghampiri Bela, seketika Lututnya ambruk di samping tempat tidur Bela. David mengusap putrinya yang sedang menatap kosong ke satu arah.


"Bela, kenapa kamu seperti ini sayang?" Teriak David. memeluk tubuh lemah Bela.


"Siapa yang membuatmu sampai seperti ini?"


Wajah yang semula ceria kini muram bagai bunga layu. Kecerian dan kehangatannya lenyap begitu saja.


......※※※※......


Maya yang mendapatkan Kabar dari David langsung membawa mobilnya ke rumah Bela.


"Bela kenapa om." Tanyanya begitu masuk kedalam rumah.


"May, om mohon kamu temani Bela untuk saat ini. Dokter mengatakan kalau saat ini Bela sedang Depresi, menurutnya Bela baru saja mengalami kejadian yang tidak bisa di tanggung dirinya. Kamu tahu sesuatu May?Apa Bela sedang dekat dengan seseorang?"


Maya tidak bisa menjawab apapun, dirinya takut jika salah bicara.


"Aku kurang tahu om. Kenapa Bisa seperti ini? bukankah kemarin dia baik-baik saja?"


"Ya, Om juga tidak tahu pasti, kemarin om datang Bela sudah seperti sekarang. Makanya, jika kamu tahu sesuatu, atau apapun itu om perlu tahu itu semua!"


"Maya tidak tahu om, bela belum sempat becerita." Maya tetap bungkam, dia tidak ingin mengatakan apapun tanpa persetujuan Bela.


"Baiklah, kamu temui Bela!"


Maya perlahan membuka pintu kamar Bela. Kamar yang gelap, semua gordeng ditutupnya, kalau saja tidak ada lampu yang menerangi ruangan ini, tentu saja ruangan ini akan berwarna hitam pekat.

__ADS_1


Maya perlahan melangkah mendekati Bela dilihatnya tatapan kosong Bela, Maya seperti merasakan apa yang saat ini dirasakannya.


"Bel..." Maya mengusap lengan Bela lembut.


Bela hanya diam, tidak merespon Maya.


Maya yakin ini perbuatan Agam. Karena Agam yang terakihir bersama Bela. Agamlah yang menjemput Bela di kampus kemarin. Maya mengepalkan tangannya, ingin sekali dia melayangkan tinjunya kepada agam.


"Bela, apa kamu tidak akan menceritakan apa yang terjadi denganmu. Apa yang telah Agam lakukan?"


Bela kembali menangis mendengar Maya mengucapkan nama Agam.


"Jangan di pendam sendiri, Aku ada disini untuk mendengarkan semuanya, berbagilah rasa sakit kamu denganku Bel, Seperti yang biasa kita lakukan!"


Hanya air mata yang sedari tadi terus mengalir mengiringi setiap kata yang keluar dari bibir Maya. Tanpa ada tanggapan apapun dari Bela.


Kemudian Maya berdiri mengepalkan tangannya, sambil mengatakan kalimat gretakan agar sahabatnya merespon semua ucapannya.


"Apa aku harus menanyakan ini semua kepada Agam?!"


"Jangan May!" Cegah Bela dengan suara yang serak, Mungkin karena Bela banyak menangis.


Maya yang mendengar Bela berbicara langsung berbalik dan memghampirinya.


"Bela," Ucapnya takjub karena bela sudah dapat berbicara.


Ditariknya tangan Bela dan membawanya kedalam pelukanya.


"Aku sedih liat kamu seperti ini!" Ucap Maya berbisik di telinga Bela.


"May aku butuh sendiri! ada saatnya nanti aku menceritakan semuanya!"


Kemudian Bela menarik dirinya agar tidur kembali.


Maya sedikit lega karena Bela sudah mau berbicara dengannya, hanya masalah waktu saja. Maya yakin waktu yang akan menyembuhkan Bela dari depresinya.


...※※※※...


Beberapa hari lagi adalah hari dimana Bram akan mengadakan pesta perayaan produk barunya. Dan saat ini dia sedang mendiskusikannya bersama David.


"Apa anda baik-baik saja?" Bram menyentuh tangan David, menyadarkannya dari lamunan, saat dirinya merasa David tidak memperhatikan penjelasanya.


Tatapannya yang semula kosong, kini kembali menatap rekan bicaranya.


"Maaf Pak, saya sedikit teralihkan. Kita tadi sampai mana? Tanya David kembali ke topik pekerjaanya.


"Sementara kita tunda saja pembahasan ini! sebagai gantinya, ceritakan apa yang membuat seorang David tidak fokus bekerja!" Bram menggeser berkas pekerjaannya, dan siap mendengarkan cerita David.


"Saya sedang mengkhawatirkan Bela. saat ini dia sedang labil, senyumannya menghilang, keceriannya menghilang. Sudah beberapa hari ini dia hanya berbaring di tempat tidurnya. sampai saat ini saya tidak tahu penyebabnya apa, dan siapa?"


"Anda harus segera membawanya ke dokter!"


"Sudah. dokter hanya mengatakan, Bela Depresi. Menurutnya Bela telah menglami peristiwa berat yang tidak bisa di atasi oleh Bela."


"Apa anda mencurigai sesuatu atau mungkin seseorang?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Itu yang membuat saya frustasi. Saya tidak mencurigai siapapun."


"Musuh Anda mungkin?" Bram kembali menanyakan kemungkinan-kemungkinan yang ada.


"Tidak. Saya tidak berani berspekulasi. Saya tidak ada bukti apapun."


"Bukan tidak. Hanya saja Belum menemukannya."


Bram berdiri setelah dirasa selesai dengan penbicaraannya.


"Semoga Bela segera kembali dengan semua keceriaanya. Saya akan memberitahu Daniel, supaya dia datang menemani Bela di waktu liburnya."


"Terimakasih pak Bram atas perhatiannya."


David mengantarkan Bram keluar dari ruangannya.


David kembali masuk kedalam kantornya, dan berdiri menatap lukisan warisan dari ayahnya.


David mengingat saat ayahnya memindahkan lukisan kesayangnya ke ruang kerja David saat pengangkatan dirinya di perusahaan ini, Dengan harapan David tetap selalu waspada terhadap siapapun.


"Apa aku masih bersama dengan harapan ayah?"


David tetaplah David. Dia hanya akan meyakini sesuatu yang sudah pasti. Dia tidak ingin hidupnya penuh kecurigaan yang nantinya akan membuat hidupnya tertekan penuh kekhawatiran.


Drrt...Drrrt...


"Hallo, apa terjadi sesuatu kepada Bela?" Tanyanya Begitu mengangkat telphone dari art dirumahnya.


"Tidak Pak, saya hanya mau memebritahukan bahwa non Bela sudah turun dari kamarnya."


"Maksud kamu, Bela sudah kembali seperti sebelumnya?"


"Eeemmm.... tidak pak, Wajahnya tetap murung. tapi tadi....


"Oke saya mengerti. Saya akan pulang sekarang."


David merasa sebagaian udara masuk melalui celah-celah yang sudah terbuka, mengalir keseluruh tubuhnya. Sehingga tubuhnya tak lagi merasakan panas yang membuatnya melonct-loncat mencari kesegaran.


"Bela sayang, akhirnya kamu kembali."


Bela hanya mengangkat sedikit kedua ujung bibirnya.


"Ada yang kamu inginkan sayang Apa perlu papa menjemput Maya?"


Bela menganggukan kepalanya, tanpa menolehkan wajahnya ke arah David.


Bagi David tidak masalah, dengan keluarnya Bela dari kamarnya saja sudah sangat membuatnya bahagia.


"Kamu tunggu, Maya akan di jemput."


"Apa kamu belum mau menceritakannya kepada papa?"


Bela kembali menggunakan isyarat kepalanya sebagai jawaban atas semua pertanyaan David.


"Tidak masalah, kamu bisa meneritakannya kalau kamu sudah siap.

__ADS_1


Bela, asal kamu tahu, papa selalu mendukung kamu, apapu itu, papa akan selalu ada untuk kamu. hanya kamu yang papa miliki di dunia ini. Melihat kamu seperti ini sangat menyakitkan. Papa kehilangan semangat."


"Maafkan Bela pa...." Dipeluknya David.Bela tak tahan melihat David menangis. Air mata yang semula ditahanya, kembali menetes karena ucapan papanya. Namun tetap saja, tidak mungkin untuk Bela mengatakan kebenarnya kepada David.


__ADS_2