Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Konflik Berkepanjangan


__ADS_3

"Pah, mobil Bela mana?" Bela kembali masuk kedalam rumah, saat dia tak melihat mobilnya di garasi.


"Ah, papa lupa mobil kamu sedang di bengkel!" Jawab David, yang tentu saja membuat Beka kesal.


"Di bengkel? papa pakai mobil aku?" Tanyanya lagi, sebab bela tidak suka jika mobiknya di pakai tanpa seizinnya, walaupun yang membelikannya adalah David.


"Gak sayang, kemarin papa lihat ada goresan sedikt, jadi papa bawa ke bengkel. Kamu mau kemana? biar papa antar!"


"Ke kampus pah, ada yang harus Bela ambil."


Akhirnya dengan terpaksa Bela di antar David. Bela merasa seperti anak kecil yang di antar papanya berangkat sekolah. Sebenarnya Bela sedikit malas jika satu mobil dengan papanya, pasti David nanti akan menanyakn semua hal yang ingin di ketahuinya. Dan itu membuat Bela tak nyaman karena tidak semua hal harus papanya ketahui. Mungkin dulu ia selalu memberitahu David, berbeda dengan sekarang, selain Bela sudah dewasa, dia juga ada rahasia yang saat ini, David tidak boleh tahu.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Daniel?"


Seperti dugaanya, David mulai menanyakan tentang hubungan percintaanya. Jika saja Agam bukan sahabatnya mungkin dengan senang hati Bela menceritakan semuanya.


"Pah, berhenti bahas Daniel. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. just friend pah."


"Kenapa? sepertinya Daniel menyukai kamu."


"Gak pah, kita hanya teman. Lagian aku sudah punya pacar pah."


David langsung melirik kearah Bela, karena dia tidak tahu berita satu ini.


"Siapa? kok papa baru tahu?"


"Eemmm... Ada deh, pokonya sekarang papa jangan sangkut pautkan aku dengan Daniel lagi."


"Hhhmmm.... ya sudah. Padahal papa menyukai Daniel."


Ternyata papanya sudah tidak lagi membahas Daniel, Dan Bela lega akan hal itu. Tapi, papanya pasti akan menanyakan tentang pacar barunya, dan Bela harus segera mencari jawabannya.


"Oke, pah, makaih ya." Bela melepas sabuk pengamannya. Dan memeluk papanya.


"Kalau sudah selesai, kamu telphone papa, nanti papa jemput!"


"Gak usah pah, Bela akan pulang bareng Maya."


"Ya sudah, papa berangkat."


David menginjak lagi gasnya melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.


Sesampai di kantor David langsung masuk ke rungan rapat, karena hari ini dia akan rapat bersama pak Bram dan rekan yang lainnya.


Butuh dua jam sampai rapat selesai. dan semua orang keluar dari ruangan.


"Pak Bram, Mari keruang saya!" David memanggil Bram untuk keruangannya sebelum kembali ke kantornya.


"Apa ada informasi terbaru?" Tanya Bram, saat mendaratkan tubuhnya duduk di kursi.


"Ini silahkan di lihat. foto dari lima tahun lalu. Apa pak Bram mengenalinya?" David memberikan foto seorang laki-laki, tapi tidak terlihat jelas wajahnya, karena posisinya sedang menghadap samping.


"Sepertinya tidak asing." Jawab Bram sambil menggaruk-garuk dagunya, dan matanya masih menyipit memandang foto itu.


"Benar, saya juga berfikir demikian. Saya seperti pernah melihat orang ini sebelumnya?" Rupanya David pun merasakan hal yang sama seperti Bram.


"Tapi menurut Davinson, Harun di balik semua itu!" Bram pernah di beritahu Davinson agar lebih hati-hati kepada Harun.sama halnya dengan David, ayahnya memberitahukan hal yang sama.


"Iya, tapi aku tidak yakin. mungkin Harun juga sama seperti kita. Hanya saja dia belum menyadarinya."


"Iya mungkin saja benar. Karena, yang dia tahu Davinsonlah yang membuat perusahaanya hancur dalam satu hari. itu sebabnya dia juga sangat membenci anda. Tapi anda tidak pernah membenci Harun, bahkan bersahabta dengan anaknya. anda terlalu baik."

__ADS_1


"Karena yang saya yakini bukan pak Harun orangnya!"


"Ini yang saya tidak mengerti dari anda, bagaimana anda bisa seyakin itu, bisa saja persahabtan anda adalah cara Harun untuk mendekati anda melalui anaknya."


"Yang saya tahu Agam tidak seperti itu. saya sudah mengenalnya lama, bahkan dari sebelum saya mengetahu konflik antara Ayah dan pak Harun. saya merasa ada yang mengadu domba mereka. Pak Bram mungkin sangat mengetahu bagaimana kedekatan Ayah dengan pak Harun sebelum terjadinya konflik yang berkepanjangan ini."


"Baiklah, kita bicarakan lagi nanti, jika ada bukti baru. saya akan tetap ikut menyelidiki ini semua. setidaknya ini yang bisa saya lakukan untuk membalas semua kebaikan Davinson." Bram berdiri dan menjabat tangan David.


"Terimakasih atas perhatian pak Bram kepada ayah."


...※※※※...


Bela berdiri di depan kampusnya, menunggu Agam. menghentak-hentakan kaki kanannya mulai kesal menunggu, di tambah lagi teriknya matahari yang membuat keringat di dahinya bercucuran.


Tak lama berhentilah mobil putih Agam tepat di sampingnya, tanpa menunggu lagi Bela langsung membuka pintu mobil dan duduk di samping Agam. Hawa sejuk Ac mobil mampu menghilangkan semua kepansan ya dirasakannya tadi.


"Maaf ya, rapatnya berlangsung lama Kita pergi kemana?" Tanya Agam, sambil memegang tisue dan dilapnya keringat Bela.


"Ada sesuatu yang harus aku beli. Jadi kita ke mall." Jawab Bela. Agampun langsung mengendarai mobilnya kesalah satu mall, yang biasa mereka kunjungi.


"Gam, kenapa sidang terakhirnya lama sekali?" Bela menanyakan tentang perceraian Agam, Bela merasa sudah lama proses perceraian mereka, dan belum juga ketuk palu.


"Minggu depan sayang." Agam menggengam tangan Bela, dan menyetir dengan tangan yang lain.


"Tadi aku gak sengaja bilang ke papa, kalau aku sudah punya pacar!"


"Terus kamu bilang kalau orangnya adalah aku?"


"Hampir saja aku mengatakannya. Ini semua karena papa selalu saja membicarakan Daniel."


"Belum saatnya Bel, aku harap kamu lebih sabar lagi." Perkataan Agam ada benarnya, tapi kenapa di dalam hati Bela merasakan sakit, setiap Agam memintanya untuk bersabar.apakah sabar itu menyakitkan? terlepas apapun masalahnya.


Agam berjalan dengan membelitkan tangannya di pinggang Bela, seakan menandakan Bahwa Bela adalah mikiknya.


Kaki Bela berhenti saat melewati store baju pria. kemudian Bela berbelok masuk ke dalamnya.


"Kenapa kesini?" Tanya Agam menarik tangan Bela mencegahnya masuk.


"Ayo, kita cari sesuatu yang cocok untuk kamu." Bela menarik tangan Agam agar mengikutinya masuk.


Dengan melihat wajah manja yang memaksa untuk masuk, dengan senyum yang dipaksa, Agampun mengalah dan menuruti keinginan Bela.


Bela memilih setiap jenis pakaian, dari mulai kaos, kemeja, sampai stelan jas yang kira-kira cocok di kenakan agam.


"Kamu coba yang ini!" Bela memberikan tiga buah kemeja, untuk Agam coba di ruang ganti.


Tak lama Agampun keluar dengan sudah memakai kemeja pilihan Bela.


Bela memutarkan telunjuknya. "Coba berputar Gam?" Agampun langsug mengikuti intruksi dari Bela.


"Oke. kita ambil yang ini."


Baru kali ini Agam berbelanja bersama seorang wanita, dan itu sangat membingungkan. Harus memiliki kesabaran yang lebih untuk menunggu, sampai menemukan yang cocok dengan hatinya wanita. Tapi Agam senang mendapatkan perhatian seperti ini.


Tibalah di kasir, Agam sudah mengeluarkan kartu untuk membayar pakaiannya. Tapi Bela mengambil kembali kartu itu dan memberikannya kembali kepada Agam.


"Kali ini aku yang akan bayar."


"Tapi Bela...."


"Ayo lah sayang, anggap ini hadiah dari aku." Kembali menujukan eksprei manjanya. yang selalu membuat Agam harus mengalah.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi sebagai gantinya, aku yang akan bayar yang kamu butuhkan."


"Oke."


Merekapun melanjtkan berbelanja, mencari yang Bela butuhkan untuk kepergiannya ke bandung.


...※※※※...


"Dan, papa ingin tanya sesuatu, Apakah kamu sudah mengetahui semua tentang Bela?" Tanya Bram saat menelphon anaknya.


"Maksud papa bagaimana, Daniel tidak mengerti?"


"Kalian tidak ada hubungan apapun kan?"


"Aku dan Bela maksud papa, kita hanya teman pah."


"Syukurlah, papa kira kalian sedang dalam suatu hubungan." Bram menghembuskan nafasnya,lega.


"Pah, ini maksudnya apa? Kenapa papa tiba-tiba menanyakan hal ini?"


"Karena papa melihat Bela berpelukan dengan pria lain, papa kira Bela berselingkuh dari kamu!" Bram menceritakan apa yang dilihatnya di bandra kepada Danie, tanpa menyebutkan nama si prianya.


"Hahaha... papa Ada-ada aja." Daniel tertawa mendengar kekhawatiran papanya yang berlebihan.


"Tunggu dulu pah!" Daniel baru sadar dengan apa yang papanya bicarakan.


Apa papa melihat Bela bersama Agam?" Tanyanya lagi, untuk memastikan yang di dengarnya tidak salah.


"Kamu sudah tahu itu nak, Bukan kah Agam sudah memili istri?"


"Pokoknya rumit. Pah, Daniel mohon, papa jangan pernah mengatak yang papa lihat kepada om David. Mereka saling mencintai pah."


"Tidak mungkin, pasti ada motif di balik ini semua." Hati kecil Bram ikut berkomentar.


"Jangan Khawatir, papa tidak suka mencampuri urusan orang lain."


"Ya sudah pah, aku harus siap-siap terbang."


"Safe flight ya nak."


Setelah menutup telphonnya dengan Daniel, Bram masih memikirkan tentang hubungan Agam dan Bela. Dia merasa pasti ada maksud tertentu, karena tidak mungkin Agam menghianati Istrinya, yang jelas-jelas dewi penolong saat dirinya jatuh.


Saat ini Bram menghadapi Dilema, apakah dia tetap diam atau memberitahukan David.


Karena kejadiannya tepat di tahun ini, tahun David mengenalkan putrinya kepada semua rekan Bisnisnya.


"aku sangat yakin, Agam mempunyai maksud tertentu kepada David, melalui putrinya."


...※※※※...


"Gam, ada yang harus aku katakan. ini sangat penting."


"Ada apa?"


"Aku tidak tahu harus mengatakannya seperti apa, karena yang terjadi padaku adalah suatu anugrah, dan tidak mungkin aku menyimpan ini sendiri, tanpa memberitahu kamu. Mungkin ini adalah berkah dari tuhan atas kesabaran kamu."


Reyna sedemikian rupa merangkai kata-katanya agar mendapatkan simpati dan perhatain lebih dari Agam.


"Katakan saja, Apa yang terjadi?" Agam menyimak apa yang Reyna akan katakan, karena saat ini Reyna sangat serius dengan pembicaraannya.


"Agam, Aku hamil. aku tengah hamil anak kamu."

__ADS_1


__ADS_2