Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Keputusan Bela


__ADS_3

Bela merasa sangat nyaman dan hangat, di tariknya selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Bela masih belum menyadari keberadaan dirinya saat ini.


Bela menciun aroma wangi khas laki-laki dari selimut yang di gunakannya. Masih dengan mata yang tertutup Bela mengndus-ndus bantal dan selimut yang di gunakannya.


"Ini bukan kamar aku. Berarti aku masih di rumah Rangga. Ini kamar rangga!" Triaknya dalam hati.


Begitu menyadari keadaanya Bela langsung bangun dan memastikan keadaan di sekelilingnya.


Dia juga melihat kearah dirinya sendiri, dan bersyukur dia masih lengkap berbusana. Dia sudah berfikiran negatif kepada Rangga.


"Ugh... Aku masih aman!" Dihembuskan nafasnya kasar.


Bela benar-benar sudah berfikiran jelek tentang Rangga.Dia mengira Rangga sudah melakukan hal-hal yang akan merugikan dirinya. Tapi Ternyata tidak ada yang terjadi dengan Bela, selain tertidur pulas di atas tempat tidur Rangga.


Sebelum keluar kamar, Bela sempat melihat sekeliling kamar Rangga. Tidak ada yang spesial, selain beberapa lukisan dan juga beberapa patung. Bisa di bilang vintage. inilah gaya Rangga.


"Kamu lagi bikin apa?" Tanya Bela yang melihat Rangga sedang memasak.


"Kamu sudah bangun, duduklah kita makan malam." Ucap Rangga yang membawa dua porsi maskannya.


Bela yang sudah sangat lapar langsung memakan masakan Rangga.


"Gimana, enak?"Tanyanya,ketika suapan pertama lolos di mulut Bela.


"Enak banget, Kamu bisa masak juga?" Pujinya setelah merasa masakan Rangga yang sangat lezat.


"Juga? Sepertinya kamu banyak teman laki-laki yang bisa masak!" Singgung Rangga, yang merasa aneh dengan kata yang terlontar dari mulut Bela.


Memang bukan hanya Rangga, ada Daniel dan juga Agam yang sama-sama mahir memasak.


"Iya. Agam juga....Aduh kenapa bahas dia lagi!" Bela tidak meneruskan ceitanya, Karena dia Sadar yang akan di ceritakan adalah agam.


"Agam, sepertinya dia bisa segalanya!"


"Kamu Betul, Bahkan bisa menuding aku tanpa adanya bukti."


"Oh ya Bel, tentang besok, jadikan?" Rangga mengalihkan pembicaraannya, karena Bela mulai bad mood dengan pembicaraan tentang Agam.


"Jadi dong, justru aku sangat menantikannya."


"Sebelum itu, aku ada sesuatu. Ini!" Rangga memberikan satu buah kotak untuk Bela.


"Apa ini?" Bela langsung membuka isi dari kotak tersebut. sambil tersenyum mengira-ngira hadiah apa yang Rangga berikan.


"Helm, Lucu banget!" Ternya sebuah helm yang memang sudah Rangga janjikan untuk Bela.

__ADS_1


"Kemarinkan kepala kamu sakit karena helm yang kebesaran. Dan helm ini gak akan bikin kepala kamu sakit."


"Aku coba ya!" Bela memaki helm dengan bantuan Rangga.


"Sangat cocok!" Ucap rangga dengan mengacungkan dua ibu jarinya.


"dan juga**Sangat cantik." Ucapnya dalam hati.


...※※※※...


Bela masuk kedalam rumah dan melihat David sedang menikmati kopi dan menonton acara kesukaanya. Bela hanya melewatinya tanpa menyapa.


"Sayang, sini sebentar. Papa mau ngomong!" Panggil David yang melihat Bela akan naik menuju kamarnya.


Dengan berat hati bela berbelok menghampiri David. Nampak wajah cemberut Bela tunjukan kepada papanya.


"Apa lagi pah?perjodohan lagi? Terserah papa deh, Bela ikut maunya papa aja! Kata-kata keluar begitu saja dari mulut Bela, Bahkan David belum memulai pertanyaannya.


"Kamu serius, pernikahan gak main-main loh Bel!" David sangat terkejut dengan keputusan Bela.


"Aduh... pah, sebnarnya apa yang papa mau? Bela sudah sangat lelah hari ini!"


Masalah yang Bela hadapi sudah menggunung, dari tugas skripsi yang belum juga selesai, percintanya dengan Agam, sampai datang ke rumah, David masih saja membahas tentang perjodohannya.


"Baik pah, Bela akan fikirkan lagi."


Benar yang David katakan, Bela harus memikirkan ulang jawabannya, bukan dengan hati panas tapi dengan hati yang dingin. Tadi Bela hanya ingin obrolan tentang perjodohan itu cepat selesai, itu sebabnya dia langsung mengiyakan perjodohan itu.


Semalaman Bela memkirkan tentang rencana perjodohannya. Menikahi seorang Daniel tidak ada salahnya, secara fisik sangat menawan, Daniel juga sangat Baik. Bahkan Belapun nyaman berada di dekat Daniel, tapi untuk menikah dengan Daniel, yang sama sekali tidak ada rasa cinta, Apakah Bela bisa?


"Aku harus coba jalani dulu, siapa tahu Daniel bisa membuat aku melupakan Agam."


Akhirnya Bela sudah menetapkan hatinya. Dan sudah bisa memejamkan mata, melepas semua fkiran yang sedari tadi terus mengganggu tidurnya.


Hari ini Bela tidak lupa dengan janjinya. Dia langsung memulai aktivitas pagi hari seperti biasanya. memakai jeans dan kaos di padukan dengan jaket kulitnya, sepasang sepatu sneakers dan tak lupa mencari tas ransel yang sudah lama tidak pernah di pakainya.


Bela mlihat pantulan dirinya. Berdiri dengan menenteng helm di tangannya. Hari ini dirinya jauh dari kata feminime.


David teperangah melihat anaknya menuruni tangga dengan membawa helm di tangannya.


"Kamu gakakan naik mobil pakai helm kan?" Tanya David menahan tawanya.


"Gak lah pah, aku ini di ajak Rangga naik motor!" Jawab Bela, sambil memulai sarapannya.


"Sepertinya jadi hobi baru kamu?"

__ADS_1


"Untuk saat ini Belum pah, karena aku belum bisa mengendarainya."


"Oh ya pah aku sudah memikirkan tentang perjodohan itu." Ucap Bela yang membuat David menghentikan sarapannya dan menyimak yang akan bela sampaikan.


"Apa keputusan kamu?"


"Aku menerimanya!" Ucap Bela dengan masih melanjutkan sarapannya. Dia sama sekali tidak melihat David yang sudah serius mendengarkannya.


"Serisu Bel, kamu sudah yakin?" David senang dengan jawaban Bela, tapi di satu sisi anaknya terlihat sangat santai, seperti menganggap perjodohan ini hanya main-main. tidak terlihat keseriusan bela di dalamnya.


"Iya pah, papa atur aja semuanya."


"Terimakasih ya sayang, jadi papa tidak perlu merangkai kata untuk menolak pak Bram." David bangun dan memeluk anaknya.


Suara motor Rangga sudah terdengar di halaman rumah Bela. Lalu bela menyudahi sarapannya dengan di antar David, Bela berjalan keluar rumah menemui Rangga.


"Hati-hati ya sayang!" Ucap David yang melihat Bela naik keatas motor.


"Pak Rangga, tolong jaga anak saya!" Tak lupa David juga berpesan kepada Rangga. Karena ini kali pertama dirinya melihat Bela naik motor jadi ada kekhawatiran tersendiri.


"Siap Pak David." Ucap Rangga mengangkat tangannya, memberi tanda hormat kepada David.


...※※※※...


Setelah mendengar keputusan Bela, David langsung menelphon Bram untuk membicarakan kelanjutan rencana perjodohan ini.


Bram menginginkan anak-anaknya segera di pertemukan, dan membicrakan tentang pertunangan mereka. Bram tidak ingin menunda-nunda hal baik ini, dia khawatir jika tidak segera meresmikannya Bela akan berubah fikiran.


Bram sangat mengetahui perasaan Bela kepada Agam begitupun sebaliknya. dengan perjodohan yang di terima Bela dengan waktu yang singkat,itu menandakan bahwa hubungan Agam dan Bela renggang atau mungkin sudah berakhir. Jadi Bram menggunakan kesempatan ini untuk mengikat Bela segera mungkin sebelum Agam atau pun Bela kembali bersama.


Bram menghampiri anaknya, yang sedang bersantai di ruang keluarga. Setelah mendapt telphon dari David, Bram sangat bahagia, semua yang di inginkannya sudah terwujud. dan keinginan terakhirnya yang sebentar lagi akan terwujud juga.Setelah semuanya Bram Capai. dia akan beristirahat dan menyerahkan semua bisnisnya untuk Daniel.


"Dan, Nanti malam kita akan bertemu keluarga Davinson!" Ucap Bram duduk di samping Daniel.


"Apa Bela menyetujuinya?" Daniel langsung menegakna duduknya. Dia masih tidak percaya dengan yang di dengarnya, Bagaimna Bela bisa mengiyakan dengan cepat, setelah kemarin dia dengan keras menentangnya.


"Iya, ternyata sangat mudah meyakinkan anak gadis itu. Selamat Nak, ini kan yang kamu inginkan!" Bram meneluk Daniel.


"Iya pah. Selamat juga untuk papa, keinginan papa akan segera terwujud!"


Daniel sangat Bahagia mendengar berita itu, karena yang diinginkannya hanya Bela. Daniel sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama. Namun saat itu Bela sedang bahagia dengan Agam, dan Daniel tidak ingin merusak kebahgiaan Bela. Jadi dia memposiskan dirinya sebagai teman yang menerima semua curhatan Bela tentang Agam.


Daniel masuk kedalam kamarnya, dia mulai repot memilih stelan yang akan di pakainya malam nanti, Dia ingin terlihat berbeda dan membuat Bela terpesona akan dirinya.


Dan dia jatuhkan pilihanya pada kemeja putih polos dan jenas biru gelap. hampir serupa dengan seragam pilotnya. Sebab dia ingat, Bela pernah terpesona ketika melihat dirinya memakai seragam pilot untuk pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2