Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Sebatas Teman


__ADS_3

"Ha..ha...ha... kamu lucu Dan." Bela tertawa terbahak- bahak mendengarkan cerita lucu dari Daniel.


Daniel yang melihat Bela tertawa sangat lepas, menarik ujung bibirnya tersenyum. Memperhatikan mata Bela yang menutup saat tertawa, tawanya yang terlihat manis, walupun tertutup tangan.


"Ayo masuk!" Daniel membukakan pintu apartmennya


"Makasih ya Dan untuk hari ini." Bela membungkukkan badannya.


"Ya, Kamu istirahat sana!" Ucap Daniel membalikan badan Bela masuk kedalam kamarnya. Lalu Diapun menutup pintu kamar Bela.


Daniel yang biasa mengisi libur kerja hanya bermalas-malasan di apartmennya, merasakan juga seperti kebanyakan teman-temannya yang mengisi liburan bersama kekasih mereka.


Daniel sempat memiliki kekasih, namun kisah cintanya harus berakhir karena banyak pertengkaran yang terjadi. ketidak cocokan menjadi alasan putusnya hubungan Daniel. padahal mereka adalah pasangan yang sangat cocok di bidang pekerjaannya. seorang pilot dan pramugari. Namun tidak dengan hubungan mereka.


Daniel masuk kedalam kamarnya, menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, sambil melihat kearah langit-langit kamaranya.kembali membayangkan Bela saat di merlion park. Dalam hatinya ada ketertarikan kepada Bela, bahkan sejak pertama mereka bertemu. Namun saat melihat Agam dan Bela yang saling mencintai, Daniel mengurungkan niatnya untuk mendekati Bela. Dan hanya menganggap Bela sebatas teman saja.


Daniel yang terbiasa jika tidur harus dalam keaadaan bersih, dia pun lekas mandi dan mengganti pakaiannya.


Meski tubuhnya sudah dalam keadaan siap untuk tidur, namun kantuknya tak kunjung datang. Lalu Daniel meraih Hpnya, dan membuka Galeri di Hpnya. Daniel melihat kembali foto saat dirinya dan Bela di Merlion park. Daniel sengaja mengambil beberapa fhoto Bela tanpa sepengetahuannya.


tok...tok...tok...


Suara pintu kamar Daniel di ketuk.


"Dan, kamu udah tidur?" tanya Bela dari balik pintu.


Daniel lekas bangun dan memakai kaosnya sebelum membukakan pintu untuk Bela.


"Belum, Ada apa?"


"Hhmm... Apa kamu tidak punya kopi? Tanya Bela sambil menggaruk kepalnya yang tidak gatal.


"Ada." Daniel berjalan menuju Dapur untuk mengambil kopi di tempat biasa Daniel menyimpannya.


"Padahal aku sudah mencarinya di sana, tapi tidak ada." Ucap Bela sedikit malu, karena kopi yang sedari tadi dicarinya kini di temukan Daniel.


"Kamu tunggu ya, aku yang bikin."


"Gak usah Dan." Bela mencoba merebut kopi yang ada di tangan Daniel.Tangannya yang menyentuh tangan Daniel membuat Daniel gugup seketika. Kemudian Daniel melepaskan kopi yang di pegangnya, membiarkan Bela yang membuat kopi untuk mereka.


"Hanya sebuah sentuhan, tapi mengapa aku jadi gugup Begini?" Tanyanya dalam hati, sambil melangkah menuju Balkon Apartmennya.


Bela mencari Daniel dengan memegang dua gelas kopi panas. Dan ternyata Dia melihat Daniel sedang berdiri di Balkon.


"Ini Dan." Daniel menoleh dan memegang gelas kopi yang Bela berikan.


"Makasih."


"Sorry ya, aku ganggu kamu malam-malam." Bela mensejajarkan dirinya, berdiri di sebelah Daniel. Memandang lurus ke arah gedung-gedung yang berjajar.


"Gak ganggu kok, kebetulan aku juga belum tidur.Kalau kamu kenapa jam segini belum tidur?"

__ADS_1


"Aku gak bisa tidur Dan, Perasaan ku gak enak!"


"Tentang apa?" Tanya Daniel merubah posisi menghadap Bela.


"Aku gak tahu Dan, tapi aku merasa hubunganku dengan Agam tidak akan berhasil, Walaupun memang belum ada kemajuan apapun, tapi aku merasakan seperti itu."


"Mungkin karena saat ini kamu berada jauh dari dia, jadi kamu memikirkan hal yang tidak- tidak. Fikirkan lah hal yang baik-baik. mungkin itu sedikit membantu. Apa hari ini kamu sudah menghubungi Agam?"


"Belum Dan, Tapi dia ada menghubungiku tadi pagi."


"Saranku telphon dia, agar perasaan kamu lebih tenang."


"Makasih ya Dan." Bela memeluk Daniel, sebagai rasa terimakasih karena sudah memberikan saran untuknya.


Daniel terkejut mendapatkan pelukan dari Bela. Dia tidak pernah menyangka akan sedekat ini dengan Bela.


...※※※※...


"Pagi Dan...!" Teriak Maya saat dibukakan pintu oleh Daniel.


"Kalian ngapain kesini?" Tanya Daniel dengan heran.


"Kita mau ngajak Bela jalan kali ini, kemarin gw udah kasih kesempatan loe jalan sama Bela, hari ini kita doubel date."


"Terserah kalian aja." Jawab Daniel pasrah.


"Bela mana?" Maya melihat di sekeliling Apartmen, tidak menemukan sosok Bela.


"Dia belum keluar kamar." Jawab Daniel yang meneruskan lagi menonton kartun kesukaannya.


"Gak tega gw, semalam Bela tidur lewat tengah malam!"


"Kalian habis apa?" Tanya Adit menatap dengan curiga.


"Apa sih, kita cuma ngobrok kok." Daniel kesal dengan kedua pasangan yang sangat menyebalkan.


"Gw bangunin Bela dulu."


Maya pergi ke kamar Bela untuk membangunkannya, dan kebetulan pintunya tidak terkunci, jadi Maya bisa langsung masuk dan mengganggu tidurnya.


"Bangun beb..." Maya membuak gorden jendela lebar-lebar. yang membuat semua cahayanya masuk dan menusuk mata Bela yang masih terpejam.


"Silau Maya." Bela melemparkan bantal kepada Maya, dan menarik selimutnya untuk berlindung.


"Ini udah siang Bela, kita harus segera pergi!" Maya menarik selimut yang menutupi tubuh Bela.


"Gw masih ngantuk May." Bela ingin menarik lagi selimutnya, namun sudah lebih dulu di singkirkan Maya.


"Apa loe mau Daniel yang masuk dan ngbangunin loe?"


"Aarrgghhh... Bawel banget si loe may." Akhirnya Bela bangun dan duduk di atas kasur untuk memulihkan dirinya dahulu, sebelum beranjak pergi ke kamar mandi.

__ADS_1


"Cepet mandi, gw tunggu di depan. kita semua sudah siap, tinggal nunggu kamu aja."


"He...emmm." Bela menganggukan kepalanya.


Setelah Maya meninggalkan kamar Bela. Bela langsung bersiap untuk mandi. dan memakai pakaiannya. Hari ini Bela memakai long dress selutut berwarna kuning, dengan lengan panjang. juga tak lupa memakai sepatu sneakers kesukaannya.


"Ayo berangkat...!" Dengan semangat Bela keluar kamarnya. Namun dia mendapatkan reaksi sahabatnya hanya Diam, menatap kearahnya.


"Kenapa, apa ada yang salah?" Tanya Bela heran.


"Haahh... ya sudah lah, ayo kita berangkat!"Adit dan Maya bangun dan berjalan keluar Apartmen. Di susul Bela dan Daniel di belakangnya.


"Mereka kenapa Dan?" Bisik Bela menanyakan sikap Adit Dan Maya.


"Kamu tanya aja sendiri Bel." Daniel menjawab dengan berbisik juga.


"Kalian kenapa sih?" Tanya Bela dari belakang.


Maya pun berbalik dan merangkul Bela.


"Gini ya Bela sayang, Kita itu udah nunggu loe hampir 2 jam. Kenapa gak loe skip aja acara berendam dengan mandi biasa?Gak enak sama Daniel." Suara Maya sedikit pelan.


"Ooohh karena itu, harusnya loe datang 2 jam lebih awal Maya. Loe kan tau kebiasaan gw." Jawab Bela yang tak mau di salahkan.


"Iya gw salah. Kalau loe gimana Dan rasanya nunggu cewe segitu lamanya?" Maya balik menanyakan pendapat Daniel tentang Bela yang sangat lama di kamar mandi.


"Gak masalah May, bahkan kalaupun 3 jam gw siap nunggu." Daniel menjawab sambil tersenyum, membela Bela.


"Tuh May, Daniel aja santai." Ucap Bela dengan tersenyum mengejek ke arah Maya.


...※※※※...


Reyna turun dari kamarnya menemui Agam yang sedang sarapan dengan membawa surat cerai yang sudah ia tandatangani untuk di serahkan kepada Agam.


"Ini mas, aku sudah tanda tangan disana."


Merasa tak percaya, Agam segera membuka amplop coklat itu. Dan ternyata Benar sudah ada tandatangan Reyna di atasnya.


"Oke." Tapi Agam merasa curiga, karena Reyna yang semula bersikukuh tak ingin bercerai sekarang menyerahkan surat cerai begitu saja.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Agam yang melihat Reyna hanya diam. sambil menikmati sarapan paginya.


"Itu kan yang kamu mau selama ini, aku sudah memenuhi keinginan kamu. Selamat, sekarang kamu bisa bebas bersama Bela."


Drrt....drrt...drrt...


Suara Hp Agam berbunyi, ternyata dia mendapatkan panggilan dari seseorang yang di tugaskan untuk menyelidik hubungan antara papanya dan David.


"Bagaimana ada kabar terbaru?"


"Ada Pak. Sepertinya kita harus bertemu!" Ucap orang suruhan Agam.

__ADS_1


Setelah mematikan telphonnya Agam langsung meninggalkan meja makan dan segera berangkat, tanpa berpamitan kepada Reyna. Bahkan obrolanya dengan Reyna belum selesai.


Reyna hanya bisa mendengus kesal, karena sudah kehilangan Agam sepenuhnya. walaupun Agam pasti akan kembali lagi kepadanya, seperti yang papa mertuanya bilang.


__ADS_2