Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Menjelang Hari Pertunangan


__ADS_3

"Ini dia pasangan baru kita sudah datang!" Seru Adit begitu Bela dan Daniel datang menghampirinya.


Daniel menarik kursi mempersilahkan Bela untuk duduk. Disusul dirinya duduk di hadapan Bela.


"Apa kabar Dit?" Tanya Bela, sudah beberpa bulan ini Bela belum bertemu Adit kembali.


"Gw baik Bel, Selamat ya, akhirnya sebentar lagi kalian akan bertunangan!" Ucap Adit memberi selamat kepada Bela dan Daniel.


"Yah...kita keduluan Bela Dit!" Kode dari Maya. hubungan mereka sudah terjalin sangat lama namun Adit belum juga ada keberanian untuk mengajak Maya menikah.


"Sabar donk sayang, kita pastikan mereka naik pelaminan dulu. Baru giliran kita!" Ucapnya menggengam tangan Maya.


"Ayo kita pesen makan, kamu mau makan apa Bel? Daniel memberikan buku menu kepada Bela. Namun Bela tidak menerimanya.


"Sama saja seperti kamu!" Ucap Bela datar.


"Bel, sampai mana persiapan untuk acara nanti?" Tanya Maya. Sebanrnya Maya dan adit tidak tahu kalau pertunangan mereka sudah di atur keluarga Daniel semua. Bahkan masukan dari Bela tidak di terimanya.


"Aku tidak tahu." Bela menggelengkan kepalanya. Sejauh mana Dan persiapannya?" Lalu Bela melemparkan pertanyaan Maya tadi kepada Daniel.


"Kita kurang tahu May. Karena semua sudah di urus WO!" Jawb Daniel


"Iya dong sayang, pasti di serahkan ke WO!" Ucap Adit menimpal. Adit merasa suasana makan malam sangat canggung. Seperti pasangan baru ini sedang menghadapi masalah.


Akhirnya Adit memutuskan untuk mengajak Daniel, menjauh dari Maya dan Bela, Agar mereka bisa saling bercerita antar wanita.


Maya mengerti dengan maksud Adit, diapun langsung menanyai Bela ketika para lelaki sudah pergi.


"Ada apa?" Tanya Maya menggengam tangan Bela. Bela hanya menunduk, ketika sahabtanya menanyakan tentang dirinya.


"Aku tidak tahu May!" Bela menggelengkan kepalanya.


"Bel, apa kamu mencintai Daniel?"l


Bela kembali mengisyaratkan dengan kepalanya tanpa menjawab dengan pasti.


Maya berdiri menghampiri Bela dan memeluknya. Barulah disana Bela mengeluarkan tangisan yang sudah di tahannya sejak tadi.


"Bela, kamu bisa berhenti disini. walaupun aku sangat setuju kamu dengan Daniel, tapi jika tidak bahagia untuk apa? Kamu bisa mengakhiri ini!"


"Aku tidak bisa May!" Tolak Bela.


"Kenapa?"


"Aku tidak ingin merusak kebahgaiaan papa."


Bela menghapus air matanya, Begitu Daniel dan Adit datang.


"Aku ke toilet dulu!" Izin Bela meninggalkan kursinya. Bela tidak ingin mata sembabnya di ketahui Daniel.


Bela bergegas berjalan menuju toilet. Dia membasuh wajahnya agar tidak terlihat bahwa dirinya habis menangis. Setelah dirasa cukup Bela kembali melanjutkan makan malamnya.


Bela berusaha tetap menikmati makan malam itu. Dia tidak boleh lari lagi, dia harus tetap memberi Daniel kesempatan untuk bisa masuk kedalam hatinya. Karena jika ingin tetap dengan rencana perjodohan ini, maka jalan satu-satunya adalah membuka diri untuk Daniel. Meskipun butuh waktu lama.


...※※※※...

__ADS_1


Reyna sedang sibuk menjadi ibu baru, walaupun dia di bantu dua orang babysister, untuk mengurus anaknya. Terkesan berlebihan, namun ini adalah keinginan Reyna dan juga Agam.


Reyna yang bingung untuk mengurus anaknya membuat Agam terpaksa mempekerjakan dua orang babaysister. Dia tidak ingin anaknya terlantar. Karena untuk memberikan ASI saja Reyna enggan. Dengan berbagai alasan Reyna menolak.


Sifat aslinya mulai nampak lagi, Sifat yang di miliki selama mengandungpun hilang begitu saja. Semula Reyna selalu perhatian kepada Agam, membuatkan kopi atau mememaninya makan, namun itu semua lenyap begitu saja.


Sekarang Reyna lebih senang menghabiskan waktunya dengan teman-temannya, berbelanja dan melakukan hal-hal yang dulu sering di lakukannya. Meskipun tidak separah dulu, yang lupa waktu sehingga harus pulang malam.


"Mas, aku jalan sama Naya dulu ya, kamu gak papakan sarapan sendiri?"


"Kamu mau keluar lagi? Ini masih pagi loh, Terus Arka bagaimana? kamu tinggalin dia lagi?"


" Aduh mas, Arka ada babysisiter kok! Lagian aku tuh butuh refreshing mas, semalaman aku harus mendengar Arka nangis. Sudah ya mas, aku gak mau berdebat." Reyna pergi begitu saja meninggalkan Agam yang sedang menikmati sarapannya.


Agam menghembuskan nafasnya menahan kekesalan. Lalu dia menyudahi sarapannya dan pergi masuk ke dalam kamar, untuk menemui Arka.


"Arka, gedong papi yuk!" Agam membawa Bayi mungil itu dari gendongan Babysisternya.


Dia menimang-nimang Bayi yang akan menjadi anak satu-satunya. Karena Reyna pasti tidak akan mau memiliki anak lagi.


"Pak ada tamu!" Ucap pembantu rumah tangganya.


Agampun menyerahkan Arka untuk kembali di gedong Babysister dan menemui tamunya.


"Selamat pagi pak!"


Ternyata yang datang bertamu adalah orang suruhan Agam, Lalu Agam membawanya masuk kedalam ruang kerjanya.


"Apa yang kamu temukan kali ini?"


"Kamu dapat semua ini dari mana?"


"Saya mendaptkan itu semua dari gudang xxx itu adalah milik mertua anda yang terbengkalai." Agam mengingat gudang itu. gudang tempat Bela disekap oleh Reyna. Dia baru tahu kalau gudang itu adalah milik orang tua Reyna.


"Baiklah kamu boleh pergi!"


Agam melihat foto-foto yang sudah sangat kotor. ada beberpa yang masih jelas terlihat dan juga beberpa yang sudah pudar.


"Pak Bram?" Agam mengenali satu foto. disana jelas terlihat Pak Bram yang sedang membuka kap mesin mobil. Agam mencurigai bahwa mobil ini bukan miliknya.


Agam membuka buku catatannya. Dia membuat Garis penghubung lagi di catatannya. jika dugaannya benar berarti mobil itu milik Davinson. Karena Agam pernah mendengar, bahwa Ayah David meninggal karena kecelakaan mobil. Dan kecelakaan yang sama juga menimpa mertuanya.


Saat ini yang menjadi pertanyaan Agam, mengapa Mertuanya membuntuti Bram, pasti ada sesuatu dan yang paling sulit dari ini semua adalah mertuanya sudah tiada.


Satu-satunya orang yang dapat di mintai keterangan adalah papanya sendiri. Agam langsung bergegas keluar dari rumahnya untuk menemui Harun.


...※※※※...


Hari pertunanganpun Tiba, Bela sudah berada di sebuah hotel bersama David. Karena dihotel itu akan berlangsungnya acara tersebut.


Bela masih bersantai memainkan Hpnya. Sedangkan David harus mengurus pekerjaanya dulu. Di sana juga sudah ada beberapa orang yang akan membantu Bela untuk Brsiap.


Sama halnya dengan pihak Daniel. Mereka juga sudah sampai di hotel itu, Tepat di sebelah kamar yang Bela tempati.


Tok...

__ADS_1


tok....


tok....


Daniel datang mengetuk pintu kamar Bela. Dia menyadari selama ini Belum memberikan apapun untuk Bela. jadi sebelum pesta berlangsung Daniel ingin memberi kejutan kecil untuknya.


"Lagi apa?" Tanya Daniel begitu pinti di buka Bela.


"Hanya berbaring!"


"Ikut aku!" Di genggamnya tangan Bela, lalu Daniel membawa Bela memasuki lift. Kemudian dia memijit tombol angka yang akan membawa mereka ke rooftop hotel itu.


"Kita mau kemana?" Tanya Bela bingung yang tiba-tiba di tarik Daniel. bahkan dirinya saat ini tidak dalam keadaan on mode.


Daniel menutup mata Bela dengan kedua tangannya.


"Kamu siap?"


Hati siapa yang tidak berdebar ketika kedua mata harus tertutup, menunggu dan memperkirakan apa yang akan di lihat setelah membuka mata. Terdengar jelas di telinga Bela sura deru mesin dan tiupan angin kencang. Namun Bela masih tidak bisa menebak dan memperkirakannya.


"Waw...!" Bela tersenyum takjub melihat kejutan Dari Daniel.


Sebuah Helikopter dengan bertulisan 'I LOVE YOU BELA' Tepat di depannya.


"Aku akan membawa kamu melihat kota ini Dari atas."


Daniel mengulurkan tangannya mengajak Bela untuk menaiki Helikopter. Ini adalah pengalaman pertama bagi Bela.


Kemudian Daniel mengambil alih helikopter untuk dia terbangkan sendiri.


Bela sangat tegang.Tapi sangat menikmati. Dia bisa melihat semuanya dari atas. Dan juga melihat kearah Daniel yang terlihat keren saat menerbangkan helikopter ini.


"Aku harap kamu senang, sebab beberapa hari menjelang pertunangan kita, kamu selalu murung."


"Aku sangat senang Dan, wah... ini sangat sulit di jelaskan!"


Senyum Bela terus mengembang. Dan itu sangat membuat Daniel senang.


"Terimkasih Dan, untuk hari ini!" Ucap Bela begiti mereka sampai di depan kamar Bela.


"Aku bahagai sekali, melihat kamu yang terus tersenyum." Daniel memeluk Bela. mengusap Rambut panjangnya dengan lembut.


"Aku harus segera bersiap, sampai jumpa malam nanti!" Bela masuk kedalam kamarnya dengan masih memgembangkan senyumnya.


"Hai Bel, loe dari mana?" Ada apa, kayanya loe seneng banget!" Tanya Maya yang melihat Bela masuk kedalam kamar hotel dengan senyum sumuringah.


"Maya....loe tau, gw di ajak Daniel naik helikopter! Bela mulai menceritakan tentang kejutan yang Daniel berikan.


"Loe seseneng itu naik helikopter?"


"Ada sensasi mendebarkan gitu may!" Jawab Bela merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Iya Gw faham, sekarang mending loe mandi dan kita siap-siap."


Maya berusaha membangunkan Bela. karena waktu sudah hampir sore, dan Bela harus segera bersiap. Apalagi durasi di kamar mandi Bela sangat lama.

__ADS_1


"Oke, gw mandi dulu ya!" Bela berdiri menepuk-nepuk pipi Maya, sebelum pergi ke kamar mandi.


__ADS_2