
Matahari sudah menampakan sinarnya, menembus setiap celah gordeng kamar Bela. Bela yang sedari tadi sudah membuka matanya enggan untuk beranjak dari atas kasurnya, Namun dia harus segera bersiap-siap karena hari ini Bela akan menemui Daniel. Bela akan menanyakan langsung prihal perjodohan itu. Dan berharap Daniel sepemikiran dengan dirinya.
"Sarapan dulu!" Ucap David yang melihat Bela melewatinya. Saat ini Bela masih kesal kepada David, karena Bela sama sekali tidak menyapanya seperti biasa.
"Gak selera!" Jawabnya sambil berlalu.
David harus bersabar dengan anak gadisnya. walaupun usianya hampir menginjak angka 21, tapi belum ada kedewasaan yang muncul dari anak sematawayangnya itu. David jadi berfikir menikahkannya mungkin akan membuat Bela menjadi dewasa. Tapi David tidak akan memaksa, hanya akan berdiskusi lebih dalam lagi bersama Bela.
Bela menghentikan mobilnya di sebuah cafe. Sambil menunggu kedatangan Daniel, Bela memesan segelas kopi dan dan roti untuk sarapannya.
"Hai Bel, sorry telat. Jalanan macet!" Sapa Daniel memghampiri Bela.
"Baru landing?" Tanya Bela yang melihat Daniel masih menggunakan seragam pilotnya.
"Ya, aku langsung kesini, jadi belum sempat ganti baju."
"Dan, om Bram ada bicara sesuatu?" Tanya Bela hati-hati.
"Tentang apa?" Daniel mengerutkan keningnya.
"Jadi kamu belum tahu?" Tanyanya lagi, yang membuat daniel semakin penasaran.
"Apa Bela? Belum tahu apa?"
"perjodohan kita!"
Daniel sebenarnya sudah mengetahui keinginan papanya untuk dia menikah dengan Bela, dari jauh hari sebelum hari ini. Namun saat itu Daniel menolak karena Bela sudah memiliki kekasih. Daniel mengira papanya akan berhenti, tapi rupanya Bram melanjutkan sesuai keinginannya.Dan itu membuat Daniel terkejut.
"Maksud kamu?"
"Om Bram melamar aku untuk jadi istri kamu!"
"Papa melamar kamu untuk aku?" Tanyanya lagi seakan tidak percaya dengan yang di dengarnya.
"Iya Dan. Kamu kan tahu, aku masih mencintai Agam. walaupun kami sudah memutuskan berpisah, tapi aku maih berharap suatu saat bisa bersamanya."
Daniel sangat mengetahui bagaimana besar cintanya bela untuk Agam. Karena Daniel adalah tempat Bela berkeluh kesah.
"Iya aku tahu hati kamu hanya untuk Agam. Tapi aku benar-benar baru tahu tentang ini. Sungguh aku tidak tahu, kalau papa melamar kamu untuk aku." Daniel terus meyakinkan Bela bahwa dia tidak tahu rencana papanya.
"Ya aku juga berfikran begitu, aku tahu kamu belum mengetahui ini semua." Bela percaya bahwa Daniel tidak ikut dengan rencana om Bram.
"Kamu tenang saja, aku akan bilang ke papa untuk membantalkan pejodohan ini."
"Terimakasih ya Dan. Kalaupun di paksakan ini tidak akan baik. Aku gak mau menikah tanpa cinta, kamu juga gak mau kan Dan?"
"A-aku juga sama." Jawbnya terbata.
Menikah tanpa cinta. Tapi memang Daniel sudah terlanjur jatuh cinta.
...※※※※...
"Rey, apa yang sebenarnya terjadi kemarin?" Tanya Agam perlahan.
__ADS_1
"Bela mas, Bela sengaja melakukan itu. Mungkin dia marah karena melihat kita di sana." Jawabnya sambil menyeka air matanya.
"Apa yang Bela lakukan?"
"Aku gak ngerti mas, dia tiba-tiba mendorongku. Dia hampir membuat kita kehilangan anak kita mas." Reyna benar-benar mendaptkan simpati dari Agam.
Mendengar itu semua, wajah Agam langsung memerah. Matanya menyala, siap membakar apapun yang di lihatnya. Selama ini Dia sudah tertipu dengan wajah polos Bela.
"Apa benar bela yang melakukannya? Rasanya tidak mungkin Bela melakukan itu, padahal dia tahu kalau aku sangat mengharapkan anakku itu."
Tapi Agam tepis semua bisikan di hatinya. Reyna tidak mungkin berbohong, karena dia yang di rugikan.
Tak berapa lama orang tua Agam datang, untuk menggantikannya menjaga Reyna. Lalu Agam berpamitan karena akan pergi bekerja.
Sebelum pergi menuju kantornya Agam mengirim pesan kepada Bela bahwa dia ingin bertemu dengan Bela.
Sebnarnya Agam ingin menanyakan alasan Bela melakukan itu semua kepada Reyna, meskipun Reyna melarang Agam untuk bertemu Bela. karena di khawatrikan Agam akan berbuat sesuatu kepada Bela.
Agam berhenti di sebuah taman. Dan di sana sudah ada Bela yang sedang menunggunya. Lalu dia menghampiri Bela. Dia meyakinkan dirinya untuk tidak kembali luluh di hadapan Bela. Agam harus beraikap tegas karena yang Bela lakukan sudah di luar batas kewajaran.
"Agam, Bagaimana keadaan tante Reyna?" Tanya Bela saat Agam datang.
"Dia baik-baik saja!" Jawab Agam Datar.
"Syukurlah!" Bela sangat lega mendengarnya.
"Berhanti bersandiwara Bela. Apa alasan kamu melakukan ini semua? Agam kesal melihat wajah Bela yang biasa saja, seolah-olah tidak berbuat kesalahan.
"Reyna sudah menjelaskan semaunya. Dia bilang kamu sengaja mendorongnya, kenapa kamu melakukan itu Bel?"
"Dia bialang begitu? dan kamu percaya? Aku sama sekali tidak melakukan apapun Aku pun tidak melihat bagaiman Reyna jatuh, aku hanya mendengar suara teriakannya!" Bela sangat terkejut, Reyna memutar balikan fakta. Rupanya dia jadikan kejadian ini sebagai kesempatan agar Agam membenci Bela.
"Berhentilah berpura-pura, Tidak mungkin Reyna berbohong, karean dia yang sangat di rugikan!"
"Aku tidak berpura-pura Gam. Aku mengatakan yang sejujurnya. untuk apa aku melakukan itu semua. yang ada tujuan Reyna datang ke toilet untuk mengejek aku." Bela masih mencoba menjelaskan kebenarannya kepada Agam. Namun Agam masih tidak percaya semua penjelasan Bela.
Huuhh... Bela membuang Nafasnya kasar,
Percuama Gam, bagaimanapun aku menjelaskannya kamu tidak akan percaya. silahkan yakini saja apa yang kamu ingin percayai." Ucap Bela yang sudah lelah menjelaskan semuanya tapi tidak di anggap sama sekali.
"Bela tunggu. aku belum selesai"Agam menarik kasar tangan Bela, saat Bela akan berbalik meninggalkan agam.
Aaaww...
Teriak Bela, mencoba melepaskan genggaman erat tangan Agam.
"Sakit, Agam." Ucapnya merintih.
" Bela, aku tidak akan semarah ini jika kamu hanya menyakiti Reyna. Tapi yang kamu lakukan justru membahayakan anak aku."
"Sudah aku bilang, aku tidak melakukan apapun kepada Reyna. kenapa kamu harus memaksa aku untuk mengakui kesalah yang tidak pernah aku perbuat!" Sudah habis kesabaran Bela. Dia tidak bisa lagi menjelaskan secara halus kepada Agam.
"Karena kamu memang yang melakukannya!" Agam tetap bersikukuh dengan tuduhannya.
__ADS_1
"Aku capek Gam. aku tidak tahu lagi bagaimana menjelaskannya. Terserah kamu saja. Anggap saja aku sengaja melakukannya. Mulai detik ini, jangan pernah menemuiku lagi. walapun kita bertemu kembali, Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Karena memang aku sudah tidak mengenal dirimu. Semoga kamu bahagia!"
Bela menghempaskan tangan agam dan berlari memegangi dadanya yang terasa sesak. Suara tangisanya memenuhi seisi mobil. Dia menginjak gas mobilnya dengan airmata yang terus mengalir. Hatinya sakit karena Agam tidak mepercayai semua ucapannya. sorot mata Agam yang memandangnya penuh kebencian, sangat melukai dirinya.
Bela berteriak melepas semua kekesalan yang dirasakannya. Berkali-kali Bela memukul setir mobinya. Dia berharap semua kemarahan dan kekesalannya segera mereda.
tok...tok...tok...
Bela mengetuk pintu Rumah Rangga. Tak berapa lama Rangga datang membukakan pintu.
Bela menjatuhkan dirinya kedalam pelukan Rangga.
"Ada apa Bel?" Tanya Rangga membalas pelukan Bela.
Rangga Merangkul Bela, membawanya masuk kedalam rumah.
"Agam, dia datang dan kembali menuduh aku. Dia masih berfikir aku sengaja melakukan itu semua. Aku sudah menjelaskan sampai aku bingung harus menjelaskan bagaimana lagi. Dia sama sekali tidak percaya." Ucapnya bercampur tangisan.
"Untuk apa kamu menjelaskan itu semua Bela. jika sedari awal dia percaya, tidak mungkin dia akan menuduh kamu."
"Aku tidak ingin Agam memandang buruk diriku, Tapi kenyataanya dia memang sudah sangat membenciku Ngga."
"Karena kamu masih mencintainya?" Tanya Agam sambil menghapus airmata di pipi Bela.
"Ngga kamu sudah tahu, sejak kapan?" Bela terkejut, karena Rangga sudah mengetahui bahwa laki-laki yang selalu bela ceritakan adalah Agam.
"Sejak makan malam waktu itu. Aku hanya tahu sebagian." Jawab Rangga yang terus menghapus air mata bela dengan tisue.
"Dan kamu tetap diam pura-pura tidak mengetahuinya."
"Itu privasi kamu, aku tidak ada hak untuk menanyakannya!"
"Ya kamu benar. Hubungan kami memang sudah berakhir, tapi kami masih menyimpan perasaan masing-masing. Sampai pada hari ini, aku tidak melihat tatapan cinta itu lagi di matanya."
"Dia tidak pantas mendaptkan cinta tulus kamu Bel. selama ini yang dia berikan bukan cinta. kamu harus tahu arti dari cinta yang sebnarnya. bukan hanya tentang perasaan bahagia tapi lebih kepada Bagaimana cara dia memperlakukan kamu. Memperjuangkan kamu. Aku tanya, apa selama ini kamu merasa bebas berada dekat dia. atau kamu pernah dia ajak menemui keluarganya atau teman-temannya?"
Bela menggelengkan kepalanya, Karena memang Agam tidak pernah melakukan yang Rangga sebutkan tadi.
"Karena dia hanya memanfaatkan cintankamu Bel. mungkin benar dia juga mencintai kamu, tapi cintanya semu. Kalau dia benar-benar mencintai kamu tidak akan terjadi hal seperti ini. dan sampai kapanpun prioritasnya hanya kamu."
Bela mendengarkan semua yang Rangga katakan. Rangga seperti sangat paham sekali tentang rasa cinta dan sebagainya. Dia seperti pakarnya percintaan.
Lalu Bela menceritakan kepada Rangga, semua yang telah di katakannya kepada Agam.
"Keputusan kamu sudah benar Bel, seharusnya kamu lakukan itu dari dulu. Sebelum...." Rangga tidak meneruskan ucapanya, karena dia melihat Bela yang sudah terlelap.
Rangga menyibakan Rambut Bela yang menutupi sebagian wajah cantiknya.
"Kamu terlihat sangat tenang saat tidur"
Rangga tidak tega membiarkan Bela tertidur di kursi ruang tamu. Namun Rangga ragu untuk memindahkan Bela ke dalam kamarnya. Setelah mempertimbangkannya, akhirnya Rangga menggendong Bela, Di bawanya dengan hati-hati menuju ke kamarnya. Rangga pin sangat lembut ketika menidurkannya di atas kasur.
"Selamat beristirahat!"
__ADS_1