Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Rumah Sakit


__ADS_3

"Kalian dari mana saja? itu sudah banyak tamu yang cari kalian loh!" Tanya Pak Bram saat daniel dan Bela kembali ke tengah-tengah pesta.


"Maaf pah, tadi Daniel antar Bela ke toilet." Jawab Daniel berbohong, nyatanya mereka sudah memperdebatkan masalah spele.


"Aduh sweet banget putramu ini Pak Barm!" Timpal tamu wanita yang akan memebri selamat kepada Daniel dan juga Bela.


Sebagian tamu sudah pulang, sebagiannya lagi masih menikmati hidangan sambil mendengarkan live musik yang sudah di siapkan. Ada beberapa yang sedang mengbrol ringan maupun masalah pekerjaan.


Maya yang bersama Adit dan banyak rekan -rekan seprofesi Daniel sedang berjoget dan bernyanyi menyumbangkan beberapa lagu. Bela sangat terhibur dengan tingkah lucu mereka.


"May, tas gw mana?" Bela meminta tas tangannya yang di titipkan kepada Maya.


"Ini Bel. oh ya tadi gw sekilas lihat digta. Loe udah ketemu dia?"


"Gak ada May, gw gak lihat dia!"


"Syukurlah, lebih baik loe jangan ketemu dia!"


"Kalian lagi apa? ayo ikut kita nyanyi di sini!" Ajak Adit kepada Maya dan Bela.


Tiba-tiba suara Hp Bela berbunyi. Dia langsung membuka tasnya untuk mengambil Hpnya.


"Rangga, Ada apa dia menelphon?"


Belapun mengusap gagang telphone yang berwarna hijau.


"Hallo, Maaf saya menggangu. Karena nomor anda ada di urutan paling atas, apa anda mengenal pemilik Hp ini?" Suara seorang wanita di sebrang telphone sana.


"Iya saya mengenalnya!" Jawab Bela tegang.


"Kami dari rumah sakit, ingin mengabarkan bahwa telah terjadi kecelakaan, pasien sedang di UGD rumah sakit xxx"


"Baik saya akan segera kesana!" Tangan dan kaki Bela terasa lemas setelah mendaptkan kabar buruk itu.


Bela Tidak bisa berfikir jernih, yang jelas dia harus segera pergi ke rumah sakit. Diapun bergegas meninggalkan acara pertunangannya yang belum selesai.


"Mau pergi kemana?" Tanya Daniel mencekal tangan Bela


"Aku harus ke rumah sakit Dan, Rangga kecelakaan!" Ucapnya Panik.


"Kamu tidak bisa pergi Bela, lihat di sana masih banyak tamu, nanti apa kata mereka jika kamu tidak ada?" Daniel mencegah Bela untuk pergi. Karena saat ini tidak tepat untuk bela meninggalkan acara penting ini.


"Aku mohon Dan, Rangga membutuhkanku!" Bela berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Daniel.


"Tidak Bela, yang Rangga butuhkan adalah dokter. Dan dia sudah ada di tempat yang tepat!" Daniel tetap dengan pendaptanya. Dia tidak melepaskan genggamannya justru Daniel lebih erat lagi menggenggam tangan Bela.


"Maaf Dan, aku harus pergi. Di sini Rangga tidak punya siapapun selain aku. Aku mohon kamu mengerti." Dengan sekuat tenanga bela menarik tangannya hingga terlepas dari gengaman Daniel.


Dengan gaun sempitnya Bela berlari. Butuh tenaga lebih bagi Bela berlari menuju tempat di mana mobilnya terparkir.


Daniel mengejar bela. Dia tidak ingin Bela pergi memilih Rangga dari pada pesta pertunangannya. Daniel merasa terhinakan oleh sikap Bela.


"Bela kamu tidak bisa pergi sekarang!" Daniel berhasil meraih tangan Bela kembali.Di tariknya Bela agar kembali masuk kedalam, untuk melanjutkan acaranya.


"Dan, untuk kali ini saja. aku mohon. lagi pula aku sudah menerima lamaran kamu. aku tidak akan mengingkari itu!" Ucapan Bela menjawab semua kekhawatiran yang Daniel rasakan. Daniel hanya takut Bela akan pergi darinya membatalkan rencana pernikahaan yang telah disusunnya. dan pergi bersama lelaki yang diinginkannya. Karena Daniel menyadari bahwa sampai saat ini dia belum bisa membuat Bela jatuh cinta kepada dirinya..


Daniel menghentikan langkahnya dan melepas gengaman tangannya. Membiarkan Bela pergi dengaan kehendaknya sendiri.

__ADS_1


"Terima kasih Dan!" Ucap Bela berlari menuju mobilnya.


Setelah mendapti daniel melepaskan tanggannya,Bela segera masuk kedalam mobil, di tarik keatas sedikt gaunnya agar leluasa kakinya untuk menginjak Gas.


Mobil Bela melaju kencang, dia tidak memikirkan apapun selain ingin segera sampai di rumah sakit.


...※※※※...


"Bela mana? bukannya kamu tadi mengejar Bela?" Tanya Maya yang melihat Daniel kembali seorang diri.


"Bela pergi May, Rangga mengalami kecelakaan!" Jawab Daniel dengan pasrah.


"Terus bagaimana dengan acara ini? bagaimana kalau mereka menanyakan kehadiran Bela?"


"Aku juga menanyakan hal yang sama kepada Bela, tapi dia tidak mau mendengarkan. May, bantu aku mencari alasan agar semua orang percaya!" Pinta Daniel kepada Maya. karena hanya maya yang bisa membantunya.


"Kamu tenang saja, aku akan bantu kamu!"


Maya berusaha menelphon Bela. menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. namun Bela sama sekali tidak menjawabnya. Dia hanya mengirim pesan agar Maya memberskan masalah yang dia buat.


Bukan Bela namanya jika tidak melakukan hal yang mengkhawatirkan banyak orang. Maya sudah terbiasa membuat alasan-alasan untuk Bela. apalagi selama hubungannya dulu dengan Agam.


Benar saja David menanyakan keberadaan Bela. karena semua tamu sudah akan pulang. Namun Daniel memberi alasan bahwa Bela kelelahan dan sudah kembali kedalam kamar hotel.


Nampaknya semua orang percaya. kini hanya giliran Maya yang harus memberi alasan jika David menemui Bela di kamarnya.


"Om, Bela berpesan agar om langsung pulang kerumah saja. Karena Bela akan mengadakan pesta kecil-kecilan bersama teman-temannya di kamarnya!" Maya membuat alasan agar David percaya.


"Bukankah teman bela hanya kamu saja?" Tanya David. memang selama ini David hanya tahu teman Bela hanya maya seorang.


"Hahaha om bisa aja. Masih banyak yang lainnya om, teman kampus." Jawab Maya. sambil berkomat-kamit dalam hati.


Barulah Maya bisa bernafas lega. semuanya telah selesai. untung saja David percaya dengan apa yang di ucapkannya.


Semua orang sudah pulang, hanya tersisa Maya, Adit dan Daniel. Namun Sedari Tadi Daniel hanya diam saja.


"Ada apa?" Tanya Adit yang melihat Daniel duduk tertunduk


"Apa aku terlalu memaksakan?" Tanya Daniel dengan suara pelan.


"Bela? aku sangat mengenal Bela Dan. Dia tidak akan memutuskan untuk bertunangan jika dia tidak siap dengan semua ini!" Sebagai sahabat Maya tetap membela sahabatnya sendiri.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian?" Tanya Adit yang masih tidak mengerti dengan inti permasalahannya.


"Sepertinya Bela mencintai orang lain!"


"Siapa? Agam!" Adit kaget mendengar pernyataan dari Daniel.


"Bukan, Tapi Rangga!"


"Apa kamu tahu semua ini May?" Tanya Adit melirik kearah kekasihnya. karena Adit sama sekali tidak tahu berita ini.


"Tidak. Jawab Maya.


Kamu gak usah kahwatir Dan, Bela sudah menetapkan pilihannya di kamu. dia tidak mungkin mengkhianati kamu."


"Aku juga yakin seperti itu. Bela tidak mungkin mengkhianati kamu Dan. Kamu hanya perlu bersabar menghadapi Bela." Adit setuju dengan Maya. karena dirinyapun sudah lama mengenal Bela.

__ADS_1


"Ya. Diapun mengatakan hal yang sama sebelum pergi menemui Rangga."


"Apa lagi sekarang? kamu hanya tinggal percaya perkataan Bela.Jika kepercayaan sudah tidak ada untuk apa lagi bersama. Itu yang harus kamu pelajari jika tidak ingin berakhir seperti hubungan Bela dan Agam!" Adit memperingati sahabatnya untuk belajar dari kesalahan orang lain.


"Apa berakhirnya hubungan mereka, karena Agam tidak percaya lagi dengan Bela?" Tanya Daniel membelakan mata.


"Kamu belum tahu? Bela tidak memberitahu kamu?" Adit merasa bersalah karena ucapannya, dia tidak tahu bahwa Daniel belum mengetahu semua itu.


Daniel hanya menggelangkan kepalanya, dia benar- benar tidak tahu.


"Mungkin Bela tidak ingin mengingat lagi tentang Agam, makanya dia tidak memberitahu kamu. yang jelas hubungan mereka berakhir karena Agam sudah tidak percaya dengan Bela." Ucap Maya mencoba meluruskan.


...※※※※...


Bela Berlari memasuki UGD, dia yang masih memakai gaun menjadi perhatian orang-orang yang melihatnya.


"Sus, tadi saya menerima telphon untuk segera datang kesini!"


"Maaf, bisa tenang dulu, anda mencari pasien atas namas siapa?" Ucap suster menenangkan Bela.


Bela manarik napasnya mencoba tenang.


"Rangga, bagaimana keadaannya sekarang?"


"Silahkan sebelah sana!"


Bela berjalan sesuai arahan dari suster. Dia perlahan membuka gordeng pembatas yang menutupi ranjang Rangga.


Dengan selang infus yang terpasang di tangannya, Dan tangan kanan dan kaki kanannya yang terbalut perban.


Bela duduk di kursi dan menggengam tangan Rangga, memintanya untuk segera tersadar.


Hari sudah berganti.Bela berada di rumah sakit sampai pagi hari, Rupanya semalaman dia tertidur di kursi sebelah ranjang Rangga.


"Bela...!" Rangga mengusap rambut Bela, Rupanya Bela tertidur dengan memegang tangan Rangga.


"Kamu sudah sadar, Bagaimana keadaan kamu Ngga?" Bela melepaskan tangannya yang menyetuh tangan Rangga.


"Aku baik-baik saja, Ini hanya kecelakaan biasa. Maaf merepotkan!" Jawab Rangga berusaha terlihat kuat. Tapi dia justru mendaptkan omelan dari Bela.


"Kecelakaan biasa apanya? lihat tangan dan kaki kamu di perban begini!"


"Kenapa kamu ada disini? kamu pergi di tengah-tengah acara?" Rangga tidak menyangka Bela bisa berada di sampingnya.


"Iya, aku sangat panik mendengar kamu kecelakaan, Tapi syukurlah kamu baik-baik saja!" Ucap Bela lega.


"Selmat pagi pak Rangga!" Sapa seorang dokter yang akan memeriksa kondisi Rangga.


"Pagi Dok!"


Melihat Dokter masuk Bela langsung berdiri dan bergeser, memberi ruang kepada dokter agar leluasa memeriksa Rangga.


"Permisi saya coba periksa dulu!" Dokter memeriksa semua luka yang ada di tubuh Rangga.


"Baik pak Rangga, anda sudah boleh pulang, tapi anda tidak boleh banyak bergerak. untuk sementara anda belum bisa menggunakan tangan dan kaki anda sampai lukanya mengering dengan sempurna."


"Baik dok!" Jawab Rangga tersenyum ramah.

__ADS_1


"Saya permisi dulu!" Dokterpun pergi disusul para suster yang ikut bersamanya.


Hari ini Rangga sudah boleh pulang, Bela sudah membereskan semua Administrasi kepulangan Rangga. Diapun yang membantu Rangga duduk di kursi roda. Dan untuk sementar Rangga hanya boleh duduk di kursi Roda, sampai lukanya benar- benar sembuh.


__ADS_2