
Agam melangkah memasuki kantornya dengan tergesa-gesa.
"Apa yang kamu temukan?" Tanya Agam begitu memasuki kantornya.
"Ternyata Pak Harun dulu pernah berkonflik dengan keluarga Davinson, lebih tepatnya orang tua pak David. Ini silahkan."
Agam membaca laporan tentang konflik papanya dengan keluarga Davinson. Ada beberapa yang di rilis di surat kabar 30 tahun silam.
"Rupanya konflik yang berkepanjangan." Agam menyimpulkan.
Agam masih perlu bukti lain, dia masih belum menemukan titik terang masalah yang di sembunyikan papanya.
"Apa ada yang lain lagi?"
"Sepertinya kecelakan orang tua istri anda dan juga krisis perusahaan 5 tahun lalu juga berkaitan!"
"Itu baru dugaanmu saja. yang saya inginkan bukti konkritnya."
"Baik pak, saya akan menggali lebih dalam lagi."
"Baiklah, hubungi saya jika kamu menemukan sesuatu, bahkan jika hanya hal kecil."
"Baik pak, saya permisi."
Agam memutar kursinya memandang ke arah jendela. semakin dia menggali masa lalu semakin dia merasa takut. Dia takut ini semua menyangkut keselamatan Bela.
Agam meraih gagang telphone yang berbunyi.
"Pak, 30 menit lagi jadwal meeting dengan pak David." Rupanya skeretrisnya mengingatkan jadwal meeting Agam hari ini.
"Baik, saya akan segera berangkat." Agam menutup telphonnya. kemudian mengambil beberapa berkas untuk di diskusikan dengan David.
"Selamat siang pak David!" Sapanya saat bertemu dengan David. Agam persikap formal karena saat ini dia sedang bekerja.
Setelah mendiskusikan tentang pekerjaannya, barulah mereka mengobrol santai layaknya seorang sahabat.
"Apa kabar Reyna?" David menanyakan istri Agam. sambil menyeruput kopi hitam yang di pesannya.
"Dia baik. Kami akan bercerai."
Uhuk...uhuk... David terbatuk, dia terkejut dengan kabar yang Agam berikan.
"Apa kali ini loe akan menyerah? Bukankah dia setuju untuk memiliki anak? Atau hubungan loe dengan gadis muda yang loe temui itu masih berlanjut?" Agam di serang beberapa pertanyaan dari David.
"Ingat, loe pernah bilang gw untuk lebih memperhatikan Reyna. Dan ternyata selama ini dia berbohong Vid. Dan pernikahan gw memang harus di akhiri. kami tidak saling cinta."
"Loe yakin bukan karena gadis itu? Apapun alasannya gw benci perceraian Gam. jadi sebagai sahabat loe gw menentangnya. tapi ini semua keputusan loe. gw hanya bisa mendoakan yang terbaik."
Kalau saja David tahu, salah satu alasan dia ingin bercerai adalah karena dia mencintai Bela.
"Thanks bro." Agam menepuk-nempuk pundak David.
"Gam, loe sempet lihat anaknya pak Bram di pesta aniversari Pak Bram kemarin?" Tanya David mulai seruis.
"Iya gw lihat,kenapa Vid?" Perasaan Agam mulai resah.
"Sepertinya dia calon yang sempurna untuk mendampingi Bela." Agam terkejut dengan rencana David. Hatinya memanas. Dengan mudahnya Daniel mendapat restu David. sedangkan Agam masih sangat jauh dari itu.
"Gw perhatiin akhir-akhir ini mereka menjadi dekat. Bahkan liburan Bela kesingapura untuk menemui Daniel."
"Maksud loe saat ini Bela di singapura bersama Daniel?" Agam membelakan Matanya tidak percaya dengan yang ia dengar.
__ADS_1
"Iya, gw izinin Bela tinggal di tempat Daniel."
"Loe biarin anak gadis loe berduaan dengan laki-laki yang baru dia kenal? Loe gak khawatir vid? Daniel orang asing vid, loe baru tau dia kemarin!" Agam langsung manaikan nada bicaranya. saat ini Agam benar-benar sangat marah. terlebih lagi dia mengetahui dari David. Bahkan Bela sendiri menyembunyikan ini semua.
"Santai bro, kenapa loe jadi lebih khawatir dari gw yang orang tuanya.Gw yakin Daniel anak yang baik. lagi pula Apartmennya sering kosong, loe tau dia seorang pilot, jadi jarang sekali ada di rumahnya." David tetap saja membela Daniel.
"Vid sorry, gw lupa ada meeting lagi stelah ini."
David mengerutkan keningnya bingung melihat Agam yang tiba-tiba langsung pergi.
Setelah mengetahui bahwa Bela sedang bersama Daniel, Agam langsung memesan tiket penerbangannya ke singapura. Tanpa persiapan apapun, Agam melajukan mobilnya menuju bandara. Agam sangat marah, hatinya pun memanas. dia tidak percaya Bela menyembunyikan keberadaannya dari Agam.
"Aargghhh.... Bela kenapa kamu seperti ini?" yang Agam fikirkan saat ini adalah dirinya harus segera kesingapura dan membawa Bela jauh dari Daniel, apalagi David sudah sangat tertarik menjodohkan Daniel dan Bela.
...※※※※...
Hari keduanya di negara ini adalah menghabiskan waktu bersama para sahabatnya. Saat ini mereka ber empat sedang mengunjungi universal studios.
Banyak berbagai aktifitas yang bisa mereka lakukan, dari menaiki wahana permainan sampai menonton pertunjukan.
"Bel, aku dan Adit kesana dulu, kita kumpul lagi di sini ya."
Tinggalah Bela dan Daniel, mereka pun bingung harus kemana, karena saking banyaknya yang bisa di lakukan.
"Mau naik itu?" tanya Daniel menunjuk kepada wahana roller coaster
"Ayo."
Karena susana yang tegang dan menakutkan Bela menggengam erat tangan Daniel. serta berteriak melepaskan semua ketakutan dan ketegangan yang dirasakan.
Daniel sangat menikmati momentum seperti ini. Andai saja Bela kekasihnya. pasti Daniel akan lebih releks tidak canggung seperti yang ia rasakan saat ini.
"Hhuuhh.... takut banget. tapi seru juga." Ucap bela begitu turun dari roller coaster.
"Makasih ya Dan, pasti tangan kamu kesakitan, tadi aku mencengkramnya terlalu kuat."
"Tenang aja tanganku sangat kokoh." Ucap Daniel memandngi tangan kanannya yang tadi di cengkram Bela.
"Hahaha... kamu bisa aja Dan."
"Ayo kita kemana lagi?" Ajak Daniel kepada Bela.
"Aku lapar Dan." Bela memegangi perutnya yang lapar.
"Sepertinya aku juga mendengar sura perut lapar kamu"
"Aaaaa... Daniel." Bela memukul bahu Daniel pelan.
Bela dan Daniel memesan makanan, mereka memesan burger untuk makan siangnya.
"Kayanya seru ya Dan, setiap hari ke sini?" Ucap Bela setelah menikmati keseruan di sana.
"Jujur Bel, walaupun aku lumayan lama di sini, ini kali pertamaku ke tempat ini!"
"Serius ini pertama kalinya? Dengaku?" Bela tersenyum, dia merasa senang menjadi yang pertama bagi Daniel.
"Iya ini pertama kalinya. dan beruntungnya aku di temenin kamu Bel."
Bela dan Daniel menikmati makan siangnya dengan candaan-candaan yang Daniel berikan. Daniel adalah tipikal laki-laki humoris. sudah sering Bela di buat tertawa oleh Daniel.
"Aku sudah selesai. ayo kita temui Adit dan Maya." Ajak Bela menuju tempat yang mereka buat untuk berkumpul kembali.
__ADS_1
"Hai, kalian sudah di sini?" Tanya Bela yang begitu sampai, melihat Adit dan Maya sedang menunggunya di sana.
"Kita baru sampai kok Bel." Jawab adit.
Setelah mereka semua berkumpul mereka langsung memutuskan untuk pulang, karena nanti malam Adit dan Daniel akan ada penerbangan. mereka harus bersiap-siap dan istirahat sebelum mulai bekerja.
Sesampainya Di apartmen Daniel, Bela langsung menyalakan tv. sedangkan Daniel masuk ke kamarnya.
"Aku masuk ke kamar dulu ya." pamit Daniel kepada Bela.
Bela hanya memindah-minda chanel tv karena semua acara yang di tontonnya tidak menarik,kemudian Bela mematikan tvnya dan dia bingung harus melakukan apa lagi.
tok...tok...tok...
"Dan, boleh aku masuk?" Bela akhirnya memutuskan untuk menemui Daniel di kamarnya.
"Buka aja!" Bela melihat Daniel yang sedang merapihkan kopernya.
"Jadi seperti ini, kebiasaan pilot sebelum berangkat."
"Iya koper ini wajib di bawa Bel."
Daniel banyak menceritakan tentang pekerjaannya sebagai pilot. Bela mendengarkan sambil mengelilingi kamar David.
"Indah sekali!" Ucapnya pada sebuah foto
"Itu saat di swiss, saat itu memang aku ada penerbangan ke swiss. Di sana pemandangannya sangat indah, Nanti aku ajak kamu kesana." Janji Daniel terucap begitu saja kepada Bela.
"Sepertinya memang kamu suka traveling."
Daniel tersenyum, karena Bela menebak dengan Benar. "Iya, itu salah satu alasan aku menjadi pilot."
Tiba-tiba suara Hp Bela berdering. Belapun segera mengangkatnya dan menepelkan telujuk di bibirnya, kearah Daniel, agar Daniel tidak mengelurkan suara.
"Hollo Gam..."
"Kamu dimana sekarang? aku tahu kamu saat ini ada di apartmen Daniel! tunggu aku di sana, aku akan membawa kamu keluar dari sana!"
"Tapi Gam...." Agam memutuskan telephonnya sepihak.
"Arrgghhhh sial." Umpat Bela kepada Hp yang di genggamnya.
Daniel menoleh kearah Bela yang sedang kesal.
"Ada apa?" Tanya Daniel khawatir.
"Entahlah Dan, sepertinya Agam sangat marah."
"Apa kamu belum memberitahunya kamu disini."
Bela menggelengkan kepalanya. Sambil menunduk memikirkan apa yang akan Agam lakukan kepada dirinya.
"Kamu tenang aja, Agam sangat mencintai kamu, dia tidak akan meluapkan kemarahnya ke kamu Bel."
"Iya mungkin Agam tidak akan memarahiku. tapi dia bisa melampiaskannya ke kamu Dan."
"Kamu tidak usah khawatir, aku akan menghadapi kemarahan Agam." Ucap Daniel dengan gentle.
"Tapi itu tidak adil Dan, kamu gak bersalah. justru aku yang gak jujur terhadap Agam."
"Kamu tanang saja ya. percaya, tidak akan terjadi apapun." Daniel memeluk menenangkan Bela. Daniel sangat tahu perasaan Bela saat ini.
__ADS_1
"Maaf Dan, aku kekamar dulu." Bela melepaskan pelukan Daniel dan berlari meninggalkan Kamar Daniel.