Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Perasaan Ini Lagi


__ADS_3

Agam sedang berada dikantornya, dia termenung memikirkan bagaimna caranya membongkar kejahatan Bram. Agam sangat yakin Bram bukan orang baik. Dan dia tidak ingin sahabatnya dan juga wanita yang di cintainya, harus berakhir dengan orang selicik Bram.


Agam sangat mengenal David, dia adalah pribadi yang baik. intuisinya selalu tepat, Tapi terhadap Bram David tidak menanam rasa curiga, mungkin karena dia selalu tulus terhadap siapapun.


Agam mengeluarkan spidol dan menarik garis, menghubungkan hancurnya perusahaan papanya dengan penghargaan itu. Diantara semua pembisnis Harun adalah kemungkinan terbesar untuk mendaptkan penghargaan itu, karena perusahaannya sedang dalam masa kejayaan. Tak hanya Harun banyak pembisnis yang lainnya juga termasuk Bram dan ayahnya Reyna.


Prihal Harun yang menuduh Davinson yang melakukan itu semua didasari dari konflik yang memang sudah berkepanjangan sebagai saingan bisnis. Di kuatkan lagi karena Davinson merupakan bagian dari acara malam penghargaan itu. Harun semakin mencurigai bahwa Davinsonlah dalang dari semuanya.


Semua itu adalah spekulasi Agam dari data penyelidikannya. Agam sama sekali tidak mempunyai bukti apapun untuk menguatkan semua dugaannya.


"Arrgghhh.... kenapa semua ini tidak berujung?"


Agam merogoh Hp di sakunya. Dia menghubungi orang suruhannya untuk menyelidiki sesorang lagi. Seseorang yang belum pernah Agam selidiki karena memang orang itu sudah tidak ada lagi di dunia.


"Selidiki mendiang ayah mertuaku!"


...※※※※...


Hari ini Bela sedang di kampus untuk menyerahkan skripsinya yang sudah selesai. Tinggal satu tahap lagi maka Bela akan wisuda.


Saat Bela melewati koridor kampus semua para mahsiswi saling berbisik dan menatap dirinya. Bela merasa risih dengan semua tatapan tajam mereka.


"Ada apa ini, kenapa mereka semua menatap aneh kearah aku, apa ada yang salah?" Ucapnya dalam hati.


"Hai Bel!" Bela terkejut dengan panggilan Rangga.


"Ngga, apa ada yang aneh dariku?" Tanya Bela begitu Rangga ada di sampingnya.


"Aneh bagaimna? kamu seperti biasa terlihat cantik!" Rangga menatap sekeliling Bela, namun tidak menemukan sesuatu yang aneh.


"Apa sih Rangga! Itu tadi mereka menatap dan berbisik saat aku lewat!" Jelasnya kepada Rangga.


"Sudahlah jangan difikirkan, Kamu lapar gak? aku traktir ya!"


"Boleh, di cafe biasa ya. kamu bawa motor kan, kita ketemu disana!"


"Kebetulan motorku di bengkel, aku ikut mobil kamu ya?"


Hari ini motor rangga harus masuk Bengkel, karena memang sudah waktunya servis rutin.


"Boleh. Kamu bisa nyetir kan?" Tanya Bela menoleh menghadap Rangga.


"Bisa dong!" Jawab Rangga yakin. memang dia selalu membawa motor tapi bukan berarti dia tidak bisa menyetir mobil.


"Ini..." Bela melemparkan kunci mobil ke arah Rangga, dengan sigap Rangga menangkapnya.


Mereka sampai di cafe yang biasa mereka datangi, memesan makanan dengan menu sama. dan juga segelas kopi.


"Ngga, kamu masih ngisi seminar di kampus?" Tanya Bela yang sudah sering bertemu Rangga di kampusnya.


"Aku dosen disana! Baru dua minggu yang lalu Rangga menjadi dosen di kampus Bela.


"Dosen?" Tanya Bela tidak percaya.


"Kenapa kamu jadi dosen saat aku sudah akan lulus Ngga, jadi kan aku gak bisa ikut kelas kamu!"


"Hahaha...kamu bisa aja Bel!"


"Setelah lulus apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Rangga sambil membuka tas ranselnya.

__ADS_1


"Aku masih belum tahu Ngga!"


"Aku punya ini, kamu bisa lihat-lihat dulu!" Rangga memberikan secarik kertas.


"Rekrutmen persahan xxx singapur?" Bela membaca kertas yang di berikan Rangga.


"Ya, kalau kamu berminat, Ini akan membantu kamu mencari pengalaman. Walaupun kamu bisa saja bekerja di perusahaan papa kamu!"


"Thanks Ngga, aku coba diskusikan denga papa, walau bagaimanapun aku tetap harus meminta izin papa!" Bela memasukan kertas tersebut kedalam tasnya.


"Satu hal lagi Bel, aku mendaptkan undangan pertunangan, selamat ya!" Ucapan selamat Rangga terkesan legowo. Padahal saat melihat kartu undangan dengan nama Bela terletak di meja kerjanya sudah membuat Rangga menelan kekecewaan.


"Pertunangan siapa?" Bela yang tidak tahu apapun balik bertanya keoada Rangga.


"Kamu dan Daniel, aku tidak tahu kalau kalian selama ini memiliki hubungan!"


"Ah, rupanya mereka sudah menyebarkannya!" Ucap Bela menurunkan kedua alisnya.


"Ada apa?" Tanya Rangga yang melihat Bela nampak sedih.


"Ngga, sebenarnya aku belum yakin dengan itu semua!" Bela mengangkat kedua bahunya. saat ini memang Bela tengah di landa rasa bingung dan bimbang.


"Maksud kamu Bel?"


"Aku tidak mencintai Daniel, sekeras apapun aku mencobanya. Daniel baik, dia juga perhatian. Tapi itu semua gak cukup Ngga."


"Apa lagi yang kamu cari?"


"Aku tidak tahu, yang jelas saat bersama Daniel, aku tidak merasakan perasaan apapun!"


"Jika denganku, Bagaimana?" Rangga mendekatkan wajah tepat di depan wajah Bela. jarak mereka hanya beberapa centi senti saja. Deru nafas dari keduanya sangat terasa di kulit mereka masing-masing.


Bela mengedipkan matanya berulang, berusaha tetap bernafas dan tetap fokus.


"Jangan bercanda ya Rangga!" Bela memukul bahu Rangga karena keisengannya.


"Aaww... ini nih, kebiasaan mukul kamu tuh harus di hilangin. Sakit tau!"


Bela hanya tertawa melihat Rangga yang mengeluh kesakitan. Kesedihannya telah berganti dengan kelucuan tingkah Rangga.


Selesai makan Bela mengantarkan Rangga mengambil motornya di bengkel. Kali ini Bela yang membawa mobilnya sendiri.


"Ngga kamu mau tahu keahlianku membawa mobil?" Tanya Bela sambil mengencangkan tangannya menggengam erat stir mobil.


"Aku tahu pasti kamu sangat ahli!"


"Bukan itu Ngga, kencangkan sabuk pengaman kamu!" Perintah Bela, dia mulai menginjak gasnya sampai jarum di kilometernya terus begerak naik.


Sontak saja Rangga memegang kuat pegangan yang ada di seblah kirinya.


Rangga hanya bisa berteriak dalam hatinya, dia tidak mungkin menujukan ketakutannya. sebagai seorang pria dia ingin tetap terlihat kuat, apa lagi di sampingnya ada Bela. Wanita yang mampu mengalihkan perhatian Rangga.


"Hahaha.... Seru kan Ngga?" Tanya Bela mulai menurunkan kecepatannya dan berkendara secara normal lagi.


"Apa ini aksi balas dendam?" Tanya Rangga sambil menghembusakn nafas yang selama ini di tahannya.


"Bisa di bilang begitu, Bagaimana mau lagi?"Tawar Bela mengediokan sebelah matanya.


"Jangan...! Jangan...!" Cegah Rangga menepuk-nepuk tangan Bela.

__ADS_1


"Oke, baiklah. Untuk hari ini cukup, Padahal aku bisa lebih kencang lagi loh!" Ucap Bela menginjak rem, karena Mereka sudah sampai tepat di depan bengkel yang Rangga maksud.


"Tidak usah ya Bel, terimakasih atas tumpangannya!" Ucap Rangga sebelum turun dari mobil. Lutut Ranga bergetar begitu menyentuh tanah, Baru kali ini dia merasakan naik kobil dengan kecepatan yang sangat cepat. Hari ini dia benar-benar merasakan apa yang dulu Bela rasakan.


...※※※※...


Setelah mengantar Rangga, bela langsung pulang kerumahnya. Tubuhnya sangat lelah. Bela langsung masuk kamar mandi dan mengisi air untuknya berendam.


Bela merendamkan tubuhnya di air hangat, taklupa dia menyalakan lilin aromaterapi. Terasa nyaman saat ai hangat menyentuh setiap kulitnya. seketika tubuh lelahnya menjadi lebih segar lagi. Bela memainkan busa yang menutupi tubuhnya,mengusapkannya ketangan kanan dan kirinya. Ingatannya kembali berputar pada saat di cafe bersama Rangga. memejamkan mata mencoba lebih mengingat sensasi yang di rasakannya saat itu.


Menatap kedua bola mata Rangga yang memantulkan gambaran wajahnya, dengan jarak yang sangat dekat begitu menyesakan dada. Suplay oksigen yang kurang membuat jantung Bela berdebar kencang. Perasaan yang sama seperti malam itu, saat sepasang bibir mereka saling beradu untuk pertama kalinya.


"Ada apa dengan hatiku ini? Ada apa dengan reaksi tubuh ini?"


Bela menenggelamkan dirinya,mencoba mengusir semua bayangan Rangga dan perasaan yang ada.


Hhuhh...hhuhh....huuhhh.... Suara nafas Bela saat mengeluarkan kepalanya dari dalam air.


"Kenapa perasaan in harus muncul saat bersama Rangga, Harusnya aku merasakan ini saat bersama Daniel."


Bela kembali menenggelamkan tubuhnya sampai kepalanya benarbenar tidak terlihat di permukaan air.


Hhuhh...hhuhh....huuhhh....


Bela benar-benar sudah kehabisan naffasnya, namun bayangan Rangga belum juga pergi dari kepalanya.


Bela meraih handuknya. menyudahi sesi berendamnya.


Bela keluar dari kamar mandi dan bergegas memakai pakaiannya. Entah kapan bayangan tentang Rangga akan pergi. Yang jelas Bela harus bergegas karena sebentar lagi akan ada Daniel akan menjemputnya.


Malam ini Bela akan dinner dengan Maya dan juga Adit. Double date Ini sudah di rencanakan dari jauh-jauh hari. Namun mereka baru bisa meluangkan waktu di malam ini.


Bela sudah siap dengan dress polos dan juga sepatunya. Dia menunggu kedatangan Daniel di ruang keluarga bersama papanya.


"Sudah rapi, mau kemana?" Tanya David yang melihat anaknya sudah rapi dan siap pergi.


"Dinner pah!" Jawab Bela, duduk di samping papanya.


"Bel, papa ingin kamu bahagia, semoga Daniel adalah pilihan yang tepat yang bisa selalu membuat kamu bahagia!" David memebelai lembut rambut anaknya. David masih tidak menyangka bahwa putrinya sekarang sudah mempunyai seseorang sebagai ganti dirinya.


"Aku juga ingin papa bahagia, jika papa bahagai maka akupun akan bahagia." Ucap Bela memeluk David.


Bela melepaskan pelukannya, saat mendengar deru suara mesin mobil memasuki pekarangan rumah.


"Sepertinya suara mobil Daniel, aku berangkat dulu pah!" Bela berdiri merapikan dress yang di pakainya.


"Kamu gak ajak Daniel masuk dulu?" Tanya David. Menyarankan Daniel untuk masuk dan mengobrol sedikit.


"Gak usah pah, Bela takut telat." Namun Bela menolaknya, Dia tidak ingin Daniel berlama-lama di rumah Bela. Yang ada dia akan di ajak papa bermain catur sampai lupa waktu.


"Baiklah hati-hati ya sayang!"


Bela berlari keluar rumahnya. Dan betul saja, Daniel sudah keluar dari mobil, hendak masuk kedalam rumah dan pamitan kepada David.


"Kita langsung berangkat saja!" Ucap Bela membuka pintu mobil Daniel.


"Tapi aku harus menghadap papa kamu dulu!" Bukannya masuk kembali kedalam mobil, Daniel justru melanjutkan langkahnya sampai benar-benar berdekatan dengan pintu rumah Bela.


"Gak usah.Tadi aku sudah pamitan dan papa juga tahu aku pergi dengan kamu!" Bela menarik tangan Daniel dan masuk kedalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2