
Bela turun dari kamarnya sudah dengan pakaian rapi, hari ini Bela akan menemui dosen pembimbingnya di kampus.
"Pagi pah!" mencium pipi kanan David. Seperti biasa Bela akan duduk di meja makan untuk bisa sarapan bersama papanya. Hari-harinya kembali normal seperti dulu lagi.
"Nanti malam temani papa datang ke acara Pak Bram!" Pinta David di sela sarapannya.
"Om Bram mengadakan acara apa lagi?" Tanya Bela, karena seringnya Bram mengadakan acara.
"Peluncuran produk baru. Perusahaan kita yang mengadakan acaranya, sayang!"
"Baik pah. Bela berangkat dulua ya!" Bela memeluk David sebelum meninggalkannya.
Sepanjang perjalanan Bela memikirkan acara nanti malam, yang di perkirakan pasti ada Agam disana. Apakah Dia sanggup untuk bertemu Agam. Walaupun akhir-akhir ini dia sudah tidak memikirkan Agam.Tapi, untuk bertemu langsung, apa tidak akan membuka luka lamanya.
Sampai juga bela diparkiran kamupusnya. tak lupa ia membawa beberapa buku untuk bahan diskusi bersama dosen.
"Bela!" Suara dari arah belakangnya memanggil.
Bela sangat hafal suara ini, walaupun sudah lama ia tidak mendengarnya. Jantungnya berdetak kencang, suara agam menusuk hatinya. hanya satu kata yang di ucapkanya mampu membuat Bela kehilangan kendalinya. Namun dia enggan untuk berbalik, bahkan menolehpun tidak.
Bela mempercepat langkahnya meninggalakan suara yang terus memanggilnya dari belakang.
"Bela aku mohon, kita bicara sebentar saja!" Bujuknya terus mengikuti Bela.
Bruk!
Suara dari buku-buku Bela yang berjatuhan.
Bela membelakan matanya ketika dia melihat orang yang bertebrakan dengannya. lagi-lagi orang yang sama yang selalu menabrak dia.
Tapi Bela jadikan ini kesempatan untuk bisa lepas dari Agam.
Rangga mengumpulkan buku Bela yang berantakan di bawah, begitu juga Bela yang ikut mengumpulkan bukunya.
"Apa kamu baik-baik saja Bel?" Tanya Agam berlari Menghampiri.
Bukannya menjawab pertanyaan Agam, justru Bela melingkarkan tanganya di lengan Rangga. yang membuat Rangga menatap mata Bela dalam, menyatukan kedua alisnya, sehingga kerutan-kerutan di dahinya terlihat.
Namun Bela memberi kedipan mata sebagai isyarat, tentu saja Rangga paham dengan maksud Bela. kemudian mereka melanjutkan langkahnya meninggalkan Agam, yang terus memandangi Bela.Tangannya di kepalkan keras, memusatkan semua emosinya. kini dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap dengan ketidak relaan.
Ketika dirasa sudah jauh meninggalkan Agam, Bela menarik tangannya dari lengan Rangga.
"Sorry, gw terpaksa." Ucapnya, alih-alih berterimakasih
"Punya masalah apa, sampai kamu di kejar om-om itu?"
"Jangan ikut campur ya!" Ucapnya dengan nada mengancam.
"Oke. jelas -jelas disini aku baru saja menyelamatkan kamu. Tapi rupanya aku di manfaatkan."
Merasa dirnya yang sudah bersikap keterlaluan kepada Rangga, yang jelas-jelas sudah membantunya. Bela pun memanggil Rangga kembali.
"Rangga tunggu!"
"Makasih" Ucapnya pelan.
"Apa? gw gak denger! sengaja Rangga mengerjai Bela, padahal kata maaf pertama Bela sudah di dengarnya.
"Makasih Rangga!" Ucap Bela kembali dengan penuh penekanan. wajahnya yang semula menyesal. berubah menjadi kekesalan.
Rangga menahan tawanya. Dia sangat senang membuat Bela kesal. entah mengapa Rangga menyukai wajah cemberut Bela.
__ADS_1
Mungkin hanya ekspresi itu yang hanya di berikan kepada Rangga sejak pertama pertemuan mereka. anehnya Rangga sangat terkesan.
Setelah bertemu dosen pembimbingnya, Bela akan bertemu Maya di kantin kampus, sebab Maya dengan hebohnya, tadi menelphon dirinya, bahwa dia punya berita yang menarik.
Bela melambaikan tangannya saat melihat Maya yang sudah menunggunya.
"Ada apa?" Tanya Bela saat mendaratkan tubuhnya duduk di kursi depan Maya."
"Gw punya berita, dan pasti loe kaget dengernya." Maya sangat antusias.
"Berita apa sih yang bikin gw kaget?" Tanya Bela sambil memesan makanannya.
"Gw tadi ketemu sama laki-laki yang kemarin nabrak loe di mall!"
"Terus?" Tanya Bela datar.
"Lo gak kaget Bel?" Maya heran dengan wajah Datar Bela seilah sudah mengetahuinya.
"Gak. gw udah tahu dia datang ke kampus kita, tapi gw gak tau ada perlu apa dia kesini."
"Ah... gak asyik ni."
"Loe tau dari mana? apa jangan jangan kalian pacaran?"
"Hhuss... ngaco deh, ogah gw pacaran sama dia. yang ada kita berantem setiap hari." Tolak bela mentah- mentah
"Terus, loe tau dari mana?" Tanyanya lagi,
"Tadi gw tabrakan lagi sama dia!" Jawab Bela Datar.
"Ya ampun, itu namanya jodoh Bel."
Uhuk..uhuk...
"Loe tau dia ngapain kesini?" Tanya Bela yang juga penasaran dengan Rangga.
"Dia ngisi seminar Bel. kayanya dia pengusaha muda. makanya jadi narasumber di seminar tahun ini."
Bela hanya mengangguk-angukan kepalanya mendengar cerita Maya.
...※※※※...
"Permisi!" Sapa Agam kepada Rangga.
Agam sengaja menunggu Rangga di parkiran kampus.
"Anda yang tadi pagi kan?" Tanya Rangga mengingat kejadian tadi pagi.
"Bisa kita bicara?" Ajak Agam. sebarnya Agam ingin melayangkan tinjunya kepada laki-laki yang berani bersentuhan dengan Bela. Jika saja dia pria tidak bermoral, pasti sudah di lakukannya.
"Boleh." Rangga menyimpan kembali helm yang hendak di pakainya.
Mereka pun mencari tempat duduk di sekitar kampus, untuk sekedar berbicara.
"Langsung aja, sepertinya saya harus menanyakan ini. Ada hubungan apa anda dengan Bela?"
Rangga tersenyum simpul saat mendengar pertanyaan Agam yang menurutnya lucu.
"Siapa anda, menanyakan hal pribadi seperti itu?" Rangga balik bertanya.
"Jangan memancing emosi saya! bukankah pertanyaan saya sederhana!" Agam menaikan nada bicaranya. sebenarnya emosinya sudah sangat memuncak.
__ADS_1
"Maaf, tapi menurut saya, anda sudah menanykan hal pribadi. Dan saya tidak ada kewajiban untuk menjelaskannya." Rangga berusaha tetap tenang. Dia mengerti tatapan pria di depannya. seperti pria ini merasa tersaingi dengannya.
"Apa kalian pacaran?" Tanya Agam menebak-nebak.
"Anggaplah seperti itu!" Rangga berdiri dan meninggalkan Agam.
"Aarrgghhhh... sial!" Agam mengumpat.
Rangga kembali menuju parkiran, waktunya terpotong dengan meladeni orang yang tidak jelas.
"Loe masih di sini?" Tanya Bela saat melihat rangga memarkirkan motornya.
"Ya seperti yang kamu lihat.
Bela menatap kearah motor Rangga. motor yang berbeda, lebih terlihat gagah.
Kenapa? kamu mau naik motor lagi?"
"Hahaha... terimaksih. aku bawa mobil, yang lebih nyaman dan aman dari pada motor itu." Bukan maksud merendahkan, Tapi Bela tarauma naik motor bersama Rangga.
Rangga pun tancap Gas meninggalkan Bela di parkiran kampus.
Bela harus bergegas pulang, karena pasti papanya sudah menunggu di rumah.
...※※※※...
Bela turun dari mobilnya bersama David, dan melingkarkan tangannya di lengan David.
Harusnya Bela sudah terbiasa menghadiri acara seperti ini. Namun Hari ini perasaannya sangat gugup. Mungkin karena dia khawatir jika bertemu dengan Agam.
Bela berharap ada Daniel yang akan menemaninya melewati malam ini. Matanya mencari - cari Daniel. Sedikit membingungkan, karena acara malam ini semua orang memakai drescode yaitu Black. Dimata Bela semua pria nampak sama, jadi benar - benar harus fokus untuk mencari Daniel.
David mengajak Bela menuju tempat yang sudah di sediakan. Ada beberapa meja bundar yang di atasnya sudah tersedia bebrbagai makanan. Setiap Meja di isi dengan 8 kursi. Bela sangat Berharap tidak akan mendaptkan meja yang sama dengan Agam, meskipun itu sangat mustahil.
"Bela, Apa kabar?" Sapa Bram kepada Bela.
"Baik om. Selamat atas peluncuran produk barunya." Bela menjabat tangan Bram memberi selamat.
"Terimaksaih, silahkan duduk." Bram mempersilahkan Bela duduk, sedangkan David dan bram harus menyambut tamu yang datang.
Bela dan David sudah pasti akan berada di meja paling depan, bersama Bram beserta istrinya, Dan juga Daniel.
"Bela, you look so amazing!" Sapa Daniel saat Bela akan duduk di tempatnya.
"Tahank you!"
Ada tiga kursi kosong yang belum terisi, semoga saja bukan milik Agam. Tapi jika itu memang tempat Agam, apa yang akan Bela lakukan. tentu Bela akan berusaha senormal mungkin.
"Ada apa?" Tanya Daniel yang melihat Bela melamun.
"Aku, belum siap jika bertemu Agam disini." Bisiknya di telinga Daniel.
"Kamu tenang saja, ada aku di sini!" Daniel sebagai sahabat tetap menyemangati Bela.
"Akhirnya, calon ayah datang juga!" Sapa David memeluk sahabatnya.
Bela melirik kearah papanya yang sedang memeluk Agam. Bela meremas gaun yang digunakannya, serta memalingkan wajahnya. Bela tidak ingin melihat Agam, apalagi ada Reyna yang menemaninya.
Daniel yang melihat Bela tertunduk,menggenggam tangan Bela Agar lebih relexs.
"Jangan khawatir. kamu akan baik-baik saja." Ucapnya pelan.
__ADS_1
"Thanks Dan."
Bela tidak yakin apakah bisa melewati malam ini. Rasanya ingin sekali Bela berdiri meninggalkan acara malam ini. Tapi, jika terus menghindar bukankah tidak baik. bukankah terlihat seperti seorang pengecut. Malam ini harus segera berakhir.