Mencintai Sahabat Papa

Mencintai Sahabat Papa
Bersama Rangga


__ADS_3

Rangga melihat perdebatan antara Bela dan Agam, kini dirinya mengerti, mengapa Agam ada datang menanyakan hubunganya dengan Bela. Menurutnya hubungan Bela sangat tidak sehat, berada di antara suami dan istri itu bukan hal yang baik.


Rangga mencari Bela yang tadi berlari entah kemana. Mencari ke semua tempat. Kemudian langkahnya terhenti, saat melihat Bela yang duduk berjongkok, membenamkan wajah di kedua lututnya. Suasana disana sangat gelap, jika saja tidak ada kilauan dari gaun yang Bela kenakan, pasti Rangga tidak akan melihat Bela berada di sana.


Dengan langkah perlahan Rangga mendekati Bela, udara dingin malam hari, pasti tidak lagi bela rasakan, karena hatinya sedang memanas. Tapi tetap saja jika di biarkan, pasti Bela masuk angin.


Kemudian Rangga membuka jasnya, untuk ia berikan kepada Bela. Agar tubuh Bela menjadi hangat. Ingin sekali dia memberikan hangat tubuhnya untuk bisa menjadi sandaran wanita rapuh di hadapannya ini.


"Ternyata kamu di sini!" Rangga menutupi bahu Bela yang terbuka dengan jasnya.


"Rangga!" Ucap Bela saat mnoleh kearah Rangga yang duduk di sampingnya, Kemudian Bela memeluk Rangga dan menangis di pelukannya.


Rangga sempat kaget dengan apa yang di lakukan Bela. Jantungnya di buat seperti sedang maraton. Dia tidak menyangka Bela akan seberani ini, karena selama ini mereka selalu bertengkar.


"Izinkan aku seperti ini untuk beberapa saat!" Ucapnya Lirih.


Dengan senang hati Rangga menuruti apa yang Bela inginkan. jangankan untuk sesaat, untuk selamanyapun Rangga siap.


"Silahkan, asal jangan terlalu lama, bisa-bisa aku mati karena kram!"


"Rangga, ini bukan waktunya untuk bercanda!" Dipukulnya bahu Rangga, kemudian melepas pelukannya, wajahnya yang semula menangis berubah menjadi kesal.


tiba-tiba Bela tertawa. Mengingat dirinya yang sedang sedih berubah menjadi rasa kesal dan melupakan kesedihan yang sejak tadi di rasakannya. Ini semua berkat Rangga.


"Kenapa kamu tertawa?" Rangga heran dengan perubahan drastis mood Bela.


"Aku merasa lucu saja. cuma kamu Ngga, yang bisa membuat aku lupa masalahku." Ucap Bela tersenyum manis. ini adalah senyuman tulus pertama Bela yang di tunjukan kepada Rangga.


Rangga pun Berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Bela.


"Ayo ikut, Kita keliling naik motor, aku janji gak akan seperti sebelumnya." Ajak Rangga, dan juga meyakinkan Bela jika dia tidak akan mengulangi kejadian sebelumnya, yang membuat Bela ketakutan.


Rupanya Bela setuju, dan menyambut uluran tangan Rangga. Lalu Rangga membawanya ke tempat motornya di parkirkan.


"Ini lebih tinggi dari yang sebelumnya, bagaimana cara aku naik?" Tanya polos Bela saat melihat motor sport milik Rangga.


Kemudian Rangga tertawa dengan kepolosan Bela. Dan mulai menjelaskan cara-cara untuk naik ke atas motornya.


"Kaki kiri kamu injak bagian ini, kemudian kedua tangan kamu pegang kedua bahuku untuk menahan ketika kamu naik. Mengerti?" Tanya Rangga menatap Bela yang masih sedikit kebingungan.


"Aku rasa mengerti!" Bela menanggukan kepalanya.


"Oke kita coba!"


"Apa ini aman?" Tanyanya lagi saat sudah siap untuk naik.


"Ayo coba, percaya padaku!" Rangga terus meyakinkan Bela.

__ADS_1


Kemudian Bela mulai mengikuti dengan semua intruksi Rangga. Dan akhirnya Bela sudah berada di atas motor.


"Cukup mudah! tapi apa tidak terlalu tinggi!" Tanyanya lagi, Bela merasa jarknya dengan tanah cukup jauh.


"Tidak Bela. Ini bagian keduanya, sebelum aku menjalankan motor ini."


Rangga menarik kedua tangan Bela untuk memeluk pinggangnya erat.


"Posisikan tangan seperti ini selama perjalanan!"


"Apa harus seperti ini, kalau tidak?"


"Ini untuk menjaga keseimbangan, bayangkan kalau kamu tidak seimbang, kira-kira apa yang akan terjadi?"


"Jatuh?"


"Tepat sekali. Tapi jangan khawatir, aku akan membawnya dengan pelan, dan hanya di kawasan ini. karena kmau tidak memakai helm. itu standar keselamatan jika naik motor."


Setelah paham dengan yang di jelaskan Rangga Bela pun sudah siap untuk menaiki motor lagi.


"Oke Baiklah. Aku siap!"


"Siap,


peluk yang erat!" Bela pun mengeratkan pelukannya.


Rangga melirik kearah Bela melalui sepionnya. dia melihat Bela memejamkan matanya. Rupanya Bela masih sangat ketakutan, terasa dari tangan yang memeluk pinggangnya.


"Buka matamu, coba lebih releks, karena kamu sangat tegang sekali. Rasakan setiap angin yang datang menyentuh kulitmu. Pasti sangat nyaman!"


Teriak Rangga kepada Bela.


Kemudian perlahan Bela membuka matanya, dan seperti yang Rangga katakan, angin malam membuatnya merasa nyaman.


...※※※※...


Setelah meninggalkan Bela bersama Rangga Daniel kembali ke dalam dan berkumpul bersama yang lainnya.


"Bela mana Dan? Bukannya kalian tadi pergi bersama?" Tanya David, yang melihat Daniel datang sendiri.


"Bela bersama Rangga." Jawab Daniel


"Kenapa kamu biarkan Bela bersama pria asing, yang baru di kenalnya." Sela Agam, ikut berkomentar.


"Mereka pasangan muda mas, tidak ada salahnya mereka saling mengenal." Timpal Reyna yang tidak setuju dengan Agam. Reyna sedikit kesal karena Agam masih mengkhawatirkan Bela.


"Rupanya Pak Agam bereaksi berlebihan! seperti tidak pernah merasakan masa muda saja."

__ADS_1


Bram pun ikut menanggapi Agam, dengan senyum simriknya, melirik kearah Agam tajam.


"Bukan begitu pak Bram, pak Agam memang selalu khawatir tentang Bela. mungkin karena Dia sudah menganggap Bela sebagai keponakannya sendiri." David mencoba mencairkan suasana yang menurutnya terasa tegang.


"Pak Bram, bisa bicara sebentar!" Ajak Agam kepada Bram, dia tidak ingin Bram membongkar semua yang di ketahuinya.


Brampun mengikuti kemana Agam akan membawanya.


"Ada apa pak Agam?" Tanya Bram santai, Bram sudah menduga Agam akan bereaksi dengan pancingannya tadi.


"Saya mohon anda melupakan apa yang anda lihat saat di bandara waktu itu." Agam langsung ke inti pembicaraanya.


"Pak Agam tidak perlu khawatir saya belum berniat untuk memberitahu David!"


"Apa maksud anda dengan belum berniat?"


Agam merasa terintimidasi oleh Bram.


"Kita bisa bicarakan lain waktu. Datanglah ke kantor saya jika anda senggang!" Bram meninggalkan Agam, dengan segudang pertanyaan.


Agam merasa bingung, selama ini dia tidak pernah mempunyai masalah apapun dengan Bram tapi, yang Agam rasakan berbeda. Agam merasa Bram menyimpan seauatu selain rahasia hubungannya dengan Bela.


"Ada apa mas?" Tanya Reyna setelah agam dan pak Bram selsai berdiskusi.


"Tidak ada apa-apa. Kamu tenang saja!" Jawab Agam singkat.


Tak berapa lama Bela datang dengan Rangga. dan kembali bergabung bersama yang lainnya. Bela masih mengenakan jas yang Rangga berikan. Dan itu menjadi perhatian banyak orang di meja tersebut.


...※※※※...


Saat di acara tadi Reyna sangat resah, karena pertemuan kembali Agam dan Bela. terlebih lagi menurutnya Bela mencari perhatian suaminya dan Agam yang masih belum melupakan Bela.


"Mas, apa kamu tidak memikirkan bayi dalam kandunganku? Tanyanya ketika sudah sampai di dalam kamar.


"Apa maksud kamu Rey? Aku sangat peduli dengan Bayi ini!" Jawab Agam mencium perut Reyna.


"Kalau kamu peduli, kenapa kamu selalu menatap Bela, bukankah kamu sudah janji akan melupakan dia?"


"Itu hanya perasaanmu saja Rey, aku menatap semua orang yang ada di sana!" Agam Berkilah, yang sebnarnya memang Agam tidak bisa melihat kelain tempat.


"Kamu masih saja mengelak. Dan lagi kamu sempat menghilang beberapa saat. Pasti kamu menemui Bela kan? karena saat itu juga Bela tidak ada di tempatnya!" Reyna kembali mengutarakan semua kecurigaannya.


"Buanglah fikiran jelekmu itu, ingat saat ini kamu sedang mengandung. lagi pula aku hanya ke toilet, bukan kah kita semua tahu kalau Bela pergi dengan Rangga." Agam memeluk Reyna, di belainya lembut rambut Reyna, agar merasa lebih tenang.


Agam merasa bersalah dengan apa yang di lakukannya di belakang Reyna. terlebih lagi dia sudah berjanji akan melupakan Bela dan membahagiakan Reyna juga anak yang di kandungnya. Namun saat bertemu kembali dengan Bela, Agam melupakan semua janji itu.


Ternyata dia belum sepenuhnya melupakan Bela. Bahakan dia semakin merindukan Bela.

__ADS_1


Reyna tidak bisa tenang, Dia yakin tadi Agam dan Bela pasti sempat bertemu. Reyna memiliki rencana yang akan membuat Bela benar-benar berhenti mengejar Agam. Dia yakin setelah Bela mengetahui ini semua Dia tidak akan pernah mau bertemu Agam.


__ADS_2