MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 10 Telaga Sarangan Part 2


__ADS_3

 


Adrian dan Lyvia berjalan menikmati udara sore di area wisata Telaga Sarangan. Tangan Lyvia tak lepas dari genggaman Adrian.


 


Banyak sekali menu khas yang menggugah selera disini.


"Kamu pingin beli sesuatu ?" tanya Adrian menawarkan


"Aku hanya pingin beli baju ganti lengkap dengan dalemnya." bisik Lyvia.


Adrian hanya tertawa dan mereka melangkah menuju sebuah pertokoan. Dibelinya 1 stel baju tidur buat ganti dan 2 set nra dan cd.


 


"Cuma itu ?" Adrian membayar belanjaan Lyvia ke kasir.


"Ini sudah cukup...memang mau berapa lama kita menginap ?" gerutuku.


"Sesuka ku." godanya setengah berbisik sambil berlalu dari pertokoan itu.


"Aauuuuu !" Lyvia mencubit pinggang Adrian lagi.


 


Hampir magrib, mereka kembali ke villa. Setelah selesai membersihkan diri. Lyvia berjalan menuju Mushola yang ada di dekat villa. Disana sudah disediakan alat sholat komplit. Ternyata Adrian sudah menunggu nya dari tadi.


 


"Jama'ah yuk." ajak Adrian.


 


Lyvia segera mengambil air wudhu. Tak terbayangkan olehnya, hari-hari seperti inilah yang akan mengisi kehidupannya nanti.


Punggung itu... dipunggung itulah tempat dia bersandar dan berkeluh kesah nantinya. Dibalik sikapnya yang tegas dia mempunyai hati yang lembut, sabar dan penyayang.


Lyvia menengadah kan tangan, mengamini semua do'a - do'a yang diucapkan. Hatinya yang lembut tidak bisa membendung air matanya untuk keluar.


Adrian yang sudah menyelesaikan do'anya, memutar duduknya menghadap Lyvia. Masih pada posisi duduk bersila.


Dihapus air mata Lyvia dengan ibu jari Adrian. Belum ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya. Adrian membantu Lyvia untuk bangkit dari duduk.


Sambil menunggu waktu Isya, mereka berjalan menuju resto untuk makan malam.


 


"Mau makan apa sayang ?" tanya Adrian yang masih membolak-balikkan daftar menu ditangannya.


"Apa aja mas.... yang penting kenyang."


 


Adrian memesan 1 porsi gurami asam manis, 1 porsi cah kangkung, 1 porsi capcay dan juga 2 gelas lemon tea hangat.


Selesai santap malam, mereka berjalan menyisir pinggir telaga. Banyak pasangan muda-mudi sedang duduk berdua.


 


"Mau berhenti dulu ?" tawar Adrian.


"Enggak ahhh....dingin, kita pulang aja yuk." ajakny manja.


 


Dalam perjalanan kembali ke Villa, tidak lupa sekantong makanan ringan Via beli untuk cemilan di Villa.

__ADS_1


Mereka menuju ruang sholat untuk menyelesaikan kewajiban lima waktunya. Adrian memilih chanel yang akan mereka tonton. Sedangkan Lyvia menyiapkan cemilan sebagai teman malamnya.


*Kring...kring...kring...


 


("Halloo....iya, saya sudah di Villa.")


("Pasti...saya akan datang tepat waktu.")


("Iya...tenang aja, doakan segera menyusul ya.")


 


Adrian menyudahi sambungan teleponnya. Dari pembicaraan mereka, kelihatannya yang telfon rekan kerja Adrian yang akan menikah.


Disaat Adrian sibuk dengan telfonnya, Lyvia juga menyempatkan waktu untuk mengirim kan pesan WhatsApp kepada stafnya.


Ia izin untuk beberapa hari dan meminta Pak Hari untuk handle Dealer selama kepergiannya.


Dia juga mengirimkan pesan ke handphone Kania, meminta Kania untuk memberitahukan ke ibu bahwa dia sudah sampai di tempat tujuan.


"Siap kak.... jangan lupa oleh-olehnya."


balas Kania.


Pandangan mata Lyvia fokus pada acara televisi, sedangkan tangannya asyik dengan snack yang dia pegang.


Adrian meliriknya, ia merapatkan tubuhnya dan merangkul gadis yang ada disebelahnya.


Karena merasa tidak mendapat respon, Adrian menurunkan tangannya yang tadinya di pundak gini sudah mendarat dipinggang Lyvia. Dicubit nya pelan pinggang Lyvia.


Masih pada pendiriannya, Lyvia mencoba menghindar dengan berpindah tempat duduk. Namun baru setengah berdiri, tangan Adrian menarik tubuh Lyvia dan gini terduduk di pangkuannya.


Snack yang tadinya dipegang Lyvia terjatuh berserakan di lantai. Lyvia hanya diam, kepalanya mengikuti gerak tangan Adrian.


 


"Kalau udah gemas...terus mau apa ?" jawabnya menggoda, kali ini Lyvia merangkulkan kedua tangannya di leher Adrian.


 


Tak melewatkan kesempatan itu, Adrian meraih dagu Lyvia. Wajah mereka benar-benar dekat. Mereka merasakan hembusan nafas masing-masing.


Keadaan itu membuat otak mereka tidak bisa berfikir dengan sempurna. Adrian semakin kehilangan akal, dikecupnya mata, bibir, dagu dan turun ke leher Lyvia.


Ada gairah yang dirasakan mulai membakar keduanya. Jantung Lyvia berdegup kencang, Nadinya seakan berhenti berdetak. Tanpa sadar ia ekspresi kan dengan erangan lembut yang keluar dari bibirnya.


Udara disitu sangat dingin. Tapi mendengar erangan Lyvia, tubuh Adrian semakin panas. Tangan Adrian mengelus rambut dan punggung Lyvia.


Suaranya terdengar serak. Nafasnya kian memburu.


"Aku...aku...benar - benar tidak bisa menghentikannya."


Lyvia pun larut dalam suasana. Mereka saling mengecup, saling membelai dan saling memagut. Sesekali terdengar suara Adrian membisikkan namanya.


Namun....ketika tangan Adrian mulai menyusup menuju belahan dadanya, kesadaran yang tadi hilang, perlahan mulai pulih kembali.


Segera didorongnya dada Adrian dan ia lepaskan tubuhnya dari pelukan laki - laki itu.


 


"Jangan."


 


Suaranya sedikit bergetar menahan perasaan gemuruh di dadanya.

__ADS_1


Lyvia takut gairah itu datang lagi dan membuat mereka lupa diri. Mendengar itu, Adrian tersadar. Dia raih tangan Lyvia, diciumnya punggung tangan itu. Senyum mengembang di bibir manisnya.


 


"Maafkan aku....aku hampir saja khilaf."


 


Bisik Adrian.


"Aku tidak akan membuat mu takut dan aku akan memintanya setelah kau SAH menjadi Nyonya Adrian nanti." lanjutnya, ketika terlihat rasa takut di wajah Lyvia.


Lyvia merasa lega dengan pernyataan Adrian. Dia merapikan bajunya dan membereskan snack yang tadi berserakan di lantai.


 


"Lyvia." panggil Adrian sebelum Lyvia memasuki kamarnya.


"Hheemm." Lyvia menoleh kearah suara.


"Terimakasih sudah mengingatkan..."


 


Lyvia tersenyum dan akhirnya masuk ke dalam kamarnya.


Entah berapa lama dia termenung dipinggir tempat tidur itu. Sudah hampir tengah malam, namun matanya tidak juga dapat terpejam.


Tenggorokan nya terasa kering, ia keluar menuju ruang tengah, mencari sesuatu untuk membasahi kerongkongannya.


Ketika akan kembali ke kamarnya, terlihat pintu depan tidak tertutup sempurna. Lyvia mencoba untuk menutupnya rapat. Tapi dia terkejut dengan sesosok yang dia kenal masih berdiri diluar.


 


"Mas." yang di panggil segera menoleh.


"Kamu belum tidur ?" Lyvia tidak menjawab, tapi berlari mendekat dan memeluk tubuh Adrian.


 


Disandarkan kepalanya di dada bidang Adrian.


"Aku...tidak bisa tidur." bisiknya lirih.


Sudah menjadi kebiasaan Adrian, jika sedang memikirkan sesuatu dan tidak bisa tidur, dia akan gunakan waktunya untuk menikmati angin malam.


Adrian memeluk dan mencium ujung rambut Lyvia. Ia menuntun gadis itu untuk memasuki kamarnya.


"Ayo....lekas pejamkan matamu, aku akan menemanimu disini." pintanya.


Kurebahkan tubuhku, begitupun adrian....


"Tidurlah, Aku tidak akan macam-macam."


Sepanjang malam Lyvia berada dalam pelukan Adrian. Mereka terlelap pada dinginnya malam.


~ --------------------------------


~ --------------------------------


"Cinta...


Bukanlah bertahan seberapa lama,


tapi seberapa jelas kearah mana"


~ LYVIA MAHARANI ~

__ADS_1


__ADS_2