MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 42. Rindu yang Terobati


__ADS_3

 


Lyvia kembali ke ranjangnya setelah menunaikan sholat subuh.


"Masih mau tidur lagi...." tanya Adrian


"Enggak Mas...cuma tiduran saja..."


 


Matahari hampir menampakkan sinarnya. Di saat itulah cahaya yang menyehatkan bagi tubuh.


"Kita turun berjemur yuk...." ajaknya seraya memainkan anak rambut Lyvia.


 


"Sebentar lagi....masih terlalu pagi..." jawabnya sembari bergeser meringkuk di dalam dekapan dada Adrian.


"Jangan ajarkan anak kita untuk malas..." bisiknya di telinga Lyvia.


"Enggak Yah...anak kita pasti rajin seperti Ayahnya."


 


Adrian semakin memeluknya erat. Tidak pernah dia merasakan kebahagiaan yang sedemikian besarnya.


Hidup yang nyaris sempurna....istri yang sholehah dan anak-anak yang sholeh dan sholehah pula.


 


"Sudah pagi...jangan tidur..." bisik Adrian.


 


Lyvia menggelengkan kepalanya tapi dengan mata yang masih terpejam.


Dalam keadaaan kusut saja Lyvia terlihat cantik. Adrian mulai tergoda untuk mengganggunya.


Dia kecup kening istrinya, dimainkannya ujung hidung Lyvia yang mancung. Hingga bermain di bibirnya yang ranum tanpa lipstik.


Lyvia mengeluh lirih ketika Adrian menggigitnya.


"Mas...." elaknya


"Habisnya kamu merem...."


"Merem tapi gak tidur...." protesnya.


"Ya sama saja...."


Lyvia membuka matanya ketika Adrian semakin jail menggodanya.


"Iya ...iya...ini sudah melek...." gerutunya


 


"Sayang.....aku lupa kemaren ada yang belum aku tanyakan ke dokter..."


"Apa....?" tanya Lyvia


"Apa...dengan kondisimu seperti ini, kita tidak boleh melakukan Sunnah Rasul...?" Lyvia mengernyitkan dahinya.


"Enggak...." jawabnya menggoda.


"Masak sich....? sampai kapan...?"


"Sampai aku habis melahirkan...."


"What...! it is impossible...?"


 


Lyvia tertawa mendengar komentar Adrian. Suaminya ini benar-benar lugu apa cuma ingin menggoda istrinya.


 


"Kenapa Mas.... Mas pengen...?" tanya Lyvia dengan mengerlingkan sebelah matanya.


"Memangnya boleh ....?"


"Ya bolehlah...aku kan istrimu..." jawaban Lyvia melegakan hati Adrian.


 


'puasa begitu lama, apa aku bisa..?' gumamnya dalam hati.

__ADS_1


 


"Mau kemana sayang....."


"Apa Mas.... katanya suruh bangun..." jawabnya yang kini mulai turun dari ranjang untuk berganti pakaian.


"Mas gak ngantor hari ini...?"


"Ngantor sayang..."


"Mas janji mau antar aku ke kantor pusat, kapan ada waktu...?"


"Lusa ya..." jawabnya


 


Mereka menuruni tangga dengan bergandengan tangan menuju taman belakang.


Haaakciii.... Hoooeekk....Haakcii...


Lyvia bersin-bersin sekaligus muntah mencium aroma bawang putih yang dimasak.


 


"Aaahhhh....Mas, dibawah malah bikin aku mual..." protesnya


"Gak boleh gitu ach...kalau bau makanan aja kamu muntah, bagaimana dengan asupan gizi anak kita sayang..."


"Ayo sini...arahkan tubuhmu ke sinar matahari..."


"Iya Mas..."


 


Lyvia duduk bersila di atas matras, berjemur di bawah sinar matahari pagi. Baru lima belas menit saja, badannya sudah mulai basah dengan keringat sehatnya.


 


"Selamat pagi sayang....jangan lupa minum susumu Nak..." sapa seseorang yang sepertinya tidak asing di telinga Lyvia.


 


Dia menoleh ke belakang, hanya ada Mama dan Adrian. Tapi dia yakin itu bukan suara Mama ataupun Bibi. Tapi seseorang yang ada di balik tubuh kekar Adrian.


 


 


Semua tertawa melihat ekspresi dan tingkahnya.


"Semalam Ibu datang dijemput suamimu..."


katanya menjelaskan.


 


"Hhhaaa....semalam, kenapa Mas Adrian gak cerita..." gerutunya.


"Kalau Mas cerita namanya bukan surprise dong....." jawabnya lagi.


"Mama yang minta Adrian untuk menjemput Ibu, biar kangen kamu terobati."


 


Lyvia langsung memeluk Mamanya.


"Makasih Mama...Via Sayang Mama..."


"Mama juga...jaga cucu Mama, makan yang banyak agar nutrisi tubuhmu terpenuhi."


Lyvia meminum susu yang dibuatkan Ibu untuknya. Hari ini dia sangat bahagia bisa berkumpul dengan orang-orang yang dia sayangi.


 


"Kania gak ikut Bu....?"


"Enggak Nak...nanti sepulang sekolah dia mampir kesini." terang ibunya.


 


Lyvia mengeringkan tubuhnya, dia menyusul Suaminya ke kamar. Seperti biasa, ia siapkan perlengkapan dan seragam kerja suaminya.


***


Hari ini Lyvia sangat bahagia bisa bercengkrama dengan Mama dan Ibunya. Mereka bertiga duduk di ruang tengah menikmati acara yang disuguhkan salah satu stasiun televisi.

__ADS_1


 


"Ni...rujak made in Bibi sudah siap..." kata Bibi yang membawa 3 mangkok rujak ice cream di nampan.


"Waaaooo.... Bibi yang buat...?" tanya Lyvia.


"Iyalah.... kebetulan ada ice cream di kulkas dan buah-buahan kampung ini Bibi dapat di sekitar rumah Bibi..."


"Alhamdulillah....enak sekali Bi..." puji Ibunya Lyvia.


"Kalau Bibi mah...jangan ditanya lagi..." sambung Mamanya Adrian.


 


Via lahap menikmati rujak buatan bibi. Baru kali ini ibu melihat Lyvia makan begitu lahap.


"Via mau nambah punya Ibu...?"


"Enggak Bu...Via udah kenyang..."


"Tapi kamu juga gak boleh mengurangi makan nasi Nak..." pinta Ibunya.


 


"Apa Via ingin dibikinkan sesuatu....? lontong atau bubur misalnya...?" tawar Mama menyambung pembicaraan mereka.


"Iya Mbak Via...Bibi juga bisa bikin nasi uduk atau nasi liwet...?" kata bibi yang juga ikut nimbrung.


 


Lyvia belum menjawabnya, tapi malah menitikkan air mata. Betapa sempurnanya hidupnya. Dikelilingi orang-orang yang sayang padanya.


'Nak... lihatlah, disini ada Eyang, Oma dan Uti yang sayang padamu....tumbuhlah sehat karena mereka menunggu kehadiranmu...?' bisiknya dalam hati.


 


"Sayang....kenapa menangis...? jangan suka bersedih, itu akan berpengaruh terhadap kandunganmu..." kata Mama yang sudah membawaku dalam pelukannya.


"Gakpapa Ma....Via bahagia, punya Mama, Ibu dan Bibi yang sayang dan perhatian sama Via..." jawabnya lirih.


 


Dihapusnya air mata di pipi Lyvia. Dalam hati dia berjanji akan berusaha untuk kembali menikmati nasi, agar mereka yang dia sayangi tidak merasa khawatir lagi. Karena memang sudah hampir sebulan ini dia tidak doyan nasi.


 


"Bibi....mungkin Via mau dibikinkan nasi liwet...tapi jangan banyak-banyak, dikit saja..." katanya meminta pada bibi.


"Kalau begitu, menu makan malam hari ini nasi liwet komplit..." komentar Mama menanggapi permintaan Lyvia.


"Siap...segera Bibi buatkan special buat calon cucu Bibi....hehhehe...." jawab Bibi sambil bergurau.


"Oya Bi...apa masih ada bahan-bahannya di kulkas...?" tanya Mama memastikan.


"Masih ada daging ayam kampung, telur... kebetulan tadi Bibi habis beli manisa Bu... alhamdulillah rezekinya jabang bayi, gak susah-susah nyari bahannya..." kata Bibi yang membuat Lyvia kembali tersenyum.


 


Terdengar suara deru motor memasuki halaman rumah Adrian. Lyvia mengenali motor itu.


 


"Itu pasti Kania Bu...."


"Kelihatannya benar..." jawab ibu sambil berdiri memastikan keluar.


"Assalamu'alaikum....." sapanya kepada kami. Dia menjabat tangan semua orang yang ada di ruangan itu.


"Kakakku yang cantik... selamat ya kak, bentar lagi dipanggil Aunty dong...." katanya sambil memeluk dan menciumi Lyvia.


"Ehhhmmmm...bau acem, mandi sana..." candanya menggoda Kania.


"Kania...baru pulang sekolah Nak, makan dulu...Bibi masak enak hari ini, sayangya keponakanmu lagi gak doyan makan nasi..." kata Mama bercanda dan membuat semua orang tertawa.


"Iya.... terimakasih Ma, Kania masih kenyang...tadi ada teman Kania yang ulang tahun. jadi sepulang sekolah kami semua ditraktir...." terangnya.


 


Lengkap sudah formasi kali ini. Dihadapannya sudah ada Tiga Srikandi yang paling dia sayangi. Kerinduan yang sempat tertunda kini sudah terobati.


~ -------------------------------------


~ -------------------------------------


~ -------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2