MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 61. Perempuan Masa Lalu


__ADS_3

 


Benar saja....Adrian tidak pulang semalam. Selimut ini masih rapi di tempatnya, bahkan bantal guling ini pun masih tercium aroma wangi lavender dari pewangi laundry.


 


Lyvia meremas bantal yang biasa dipakai suaminya itu. Dia genggam erat didalam dekapannya.


 


'Mas ....aku kangen, aku kangen aroma wangi tubuhmu...'


'Aku kangen canda tawamu....'


'Aku kangen tidur dalam dekapanmu...'


 


Air mata yang tadinya terbendung, gini mulai menggenangi kelopak matanya dan akan segera tumpah karena tak mampu menahan derasnya air mengalir.


 


'Lyvia...bukan saatnya untuk meratapi semua yang terjadi, ingat bayi dalam kandunganmu....dia lebih membutuhkanmu..' nasehat dalam hatiku.


 


Suara adzan subuh menyejukkan hatinya, inilah saatnya untuk mengadu. Apa yang kurasakan semua karna-Mu Tuhanku. Dan akan tetap ku syukuri meskipun berat rasanya bagiku.


 


"Ya Allah....haqul yakin seburuk-buruknya hal yang kurasakan saat ini adalah hal yang terbaik yang Engkau berikan, maka kuatkan aku menghadapinya Ya Robb..." permohonan Lyvia menjelang subuh.


 


***


🎶 Hasbi Rabbi Jalallah


Ma Fi Qalbi Ghairullah


Nur Muhammad Shalallah,


Laa Ila Ha Ilallah


 


Cukuplah Allah yang mencukupi aku,


Tuhan yang agung,


Tak ada dihatiku selain Allah


Cahaya bagi Nabi Muhammad


Rahmat pada sang penunjuk


Tak ada Tuhan selain Allah. 🎶


 


Alunan gema sholawat yang terdengar pagi ini menyejukkan hati Lyvia yang sedang kalut.


 


"Via....apa Adrian tidak pulang tadi malam..?" tanya Mama yang melihat mobilnya tidak berada di garasi.


 


Lyvia hanya menggelengkan kepalanya. Mama mencoba menghubungi putranya berkali-kali, namun tidak ada jawaban.


 


'Kemana dia....?' gumam Mama dalam hati. Bukan kebiasaan Adrian seperti ini. Kalaupun ada tugas luar kota, seharusnya ia berpamitan kepada orang rumah.


 


Mama memandangi wajah menantunya yang masih diam tertegun menjemur tubuhnya di terik matahari pagi.


 

__ADS_1


"Mbak Via....ini, diminum dulu susunya selagi masih hangat" kata Bibi sambil memberikan segelas susu kepada Lyvia.


'Pasti ada masalah antara mereka...' terka Mama dalam hati.


 


Hingga fajar sudah mulai terik, tapi belum ada kabar dari putranya. Lyviapun enggan untuk keluar dari kamarnya.


 


"Bi....saya keluar dulu ya... kalau Mbak Via tanya, bilang saja kalau saya ada keperluan sebentar..." kata Mama berpamitan kepada Bibi.


 


Mama pergi diantar Pak To menuju suatu tempat yang sudah mereka sepakati.


("Hallo Prim... Mama sudah di depan kantor")


Hanya itu saja yang Mama bicarakan pada seseorang yang ada di sambungan selulernya. Sebelum seorang pria menjemputnya dan membawanya ke dalam ruang kantornya.


Pria itu adalah Prima, sahabat sekaligus rekan kerja Adrian. Mama telah menghubungi Prima sebelumnya. Dimata Mama, Prima bukan hanya sahabat Adrian, tapi juga sudah seperti anak kandung Mama sendiri.


*Flash back onn


Prima : "Hallo Ma....ada apa Ma...?"


Mama : "Prima... Mama ingin ketemu sama


kamu, ada hal yang ingin Mama


tanyakan..."


Prima : "Iya Ma....nanti pulang kantor Prima


kerumah Mama..."


Mama : "Sebaiknya jangan di rumah, apa


kamu repot hari ini...?"


Prima. : "Tidak Ma..."


Mama : "Kalau begitu, biar Mama susul


Prima : " Baik Ma... Prima tunggu."


*Flas back off


 


"Silahkan Ma....?" kata Prima ketika mereka sudah berada di dalam ruangannya.


"Prima...kemana Adrian...?" tanya Mama to the point, tanpa basa basi.


"Apa Adrian tidak memohon izin sama Mama...?"


"Semalam dia tidak pulang Nak...Mama juga sudah berusaha menghubungi handphonenya, tadi masih sempat aktif...namun tidak ada jawaban." kata Mama yang mulai resah.


 


Prima masih terdiam, dia tidak tau harus mulai dari mana. Sebenarnya dia tidak mau ikut campur lagi, sejak Adrian tidak mendengarkan nasehatnya.


Tapi tidak mungkin dia tega dengan perempuan yang ada di depannya ini. Disamping itu, Prima yang terlihat acuh tapi tetap memperhatikan sikap sahabatnya itu.


 


"Prima.... Mama mohon, Mama berharap tidak ada yang kamu tutupi dari Mama..."


"Ma....Prima bingung harus mulai dari mana..."


"Katakan sama Mama...apa yang telah diperbuat Adrian, lalu dimana dia sekarang...?" tanya Mama memberondong.


"Baiklah Ma... tapi Mama harus janji sama Prima, Mama tidak boleh emosi dan Mama harus tenang...karena Prima sendiri belum begitu paham apa yang sebenarnya terjadi..."


"Katakan Nak....?" mata Mama mulai berkaca-kaca. Tangannya dingin memegang tanganku.


"Ma.... Adrian tadi pagi, mengajukan cuti satu bulan, dia pergi ke Palembang karena ada yang akan dia selesaikan...."


 

__ADS_1


Prima menghela nafas panjang, rasanya tidak tega aku menceritakan hal ini.


 


"Palembang.....maksud kamu.....?" komentar Mama mulai paham arah bicaraku.


 


Mendengar kata Palembang, Mama jadi teringat dengan kisah lama Adrian dengan Sofia.


Adrian pernah mengenalkan Sofia kepada Mama, dulu ketika mereka masih SMA. Mamapun paham betul bagaimana kisah kasih putranya, dan sekarang memory itu terulang lagi.


 


"Ya Ma....Sofia ada di kota ini..." ucapnya menjawab kecurigaan Mama


"Astagfirullah....." tangan yang sudah mulai berkerut itu membungkam mulutnya sendiri


"Beberapa bulan yang lalu, dia sempat beberapa kali menemui Adrian, bahkan Adrian membantu biaya persalinan Sofia karena dia sebatang kara tinggal disini..."


"Apa Lyvia tahu tentang hal ini....?"


"Prima rasa belum...tapi lambat laun pasti dia akan tanyakan hal yang sama kepada Prima, apalagi dia pergi tanpa seizin Mama dan Lyvia."


 


Tangis Mama pecah, orang tua mana yang bisa menahan amarahnya saat putra kesayangannya melakukan kesalahan besar.


Dia pergi tanpa izin meninggalkan Ibu dan istrinya dalam kondisi hamil hanya demi perempuan masa lalunya.


 


"Apa yang akan dilakukan Adrian Prima...?"


"Mama yang sabar ya...Prima belum paham betul apa misi dia kali ini, yang harus kita lakukan adalah menjaga hati Lyvia Ma...karena dia sedang mengandung..."


"Ya Allah....ujian apa lagi ini, Adrian...tega sekali kamu Nak, apa yang harus Mama katakan kepada Lyvia..?"


"Mama....Prima yakin, Lyvia wanita yang tangguh, dia pasti bisa menjalani hari-harinya."


"Tapi sampai kapan ini akan berlalu Prim...?"


 


Prima sendiri tidak bisa menjawab hal itu.


 


"Prima... kandungan Lyvia sudah berusia 8 bulan, dia butuh support dari orang-orang yang dia sayangi...Mama tidak mau ada kebencian diantara mereka..."


"Iya Ma.... Prima paham, tapi apa yang bisa kita lakukan selain menguatkan hatinya."


"Prima.... Mama mohon, cari saudaramu...bawa dia pulang sebelum dia menyesali perbuatannya...."


 


Prima menahan sesak di dadanya. Tidak tega rasanya harus menolak permintaan Mama. Tapi Prima sendiri sedang ilfil dengan keegoisan Adrian.


 


"Mama... Mama yang sabar ya, Prima yakin Adrian tidak seperti yang kita pikirkan. Apalagi Adrian sangat mencintai Lyvia dan putra yang ada dalam kandungannya..."


 


Mama hanya mengangguk pasrah, Mamapun menyadari situasi kali ini. Tidak mungkin Prima meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengurusi hal yang menguras waktu dan pikirannya.


 


"Ya sudah Nak... Mama pulang dulu, jika ada kabar tentang dia, hubungi Mama ya Nak...?"


"Iya Ma.... Prima akan berusaha mencari informasi tentangnya..."


 


Prima mengantarkan kepergiannya sampai tempat dimana Pak To memarkirkan kendaraannya.


Dia berpikir, pasti akan terlibat dalam situasi yang rumit ini. Prima mencoba menghubungi rekan-rekannya yang berada di Palembang. Siapa tahu ada yang mengetahui keberadaan Adrian disana.


~ --------------------------------------

__ADS_1


~ --------------------------------------


~ --------------------------------------


__ADS_2