MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 75. Aunty Kania


__ADS_3

 


"Sayang.... hari ini aku bahagia sekali..." katanya sambil mengelus rambut Lyvia, ketika mereka masih sama-sama di depan televisi yang ada di ruang tengah.


 


Lyvia hanya tersenyum manis. Dia menimang-nimang putranya yang masih asyik bermain.


 


"Via... bagaimana tadi konsultasi dokter nya...?" tanya Mama yang ikut nimbrung obrolan kami.


"Alhamdulillah....sudah selesai Ma, Via memilih salah satu program yang bukan hormon..." jelasnya kemudian.


 


"Iya...sesuaikan dengan kondisi tubuh saja Nak..." Nasehat Mama yang sudah merasakan asam garamnya kehidupan.


Adrian hanya tolah toleh mendengar percakapan mereka.


"Ma...ini yang dibicarakan apa sih...?" tanyanya belum nyambung mendengar obrolan mamanya.


 


"Mama tanya tentang program KB yang aku ambil Mas...."


"Oh iya...Mas sampai lupa tanyakan itu sayang, terus tadi dikasih obat gitu....?" tanyanya kepo.


"Enggak Mas...Via pake IUD, yang lebih aman untuk badan... karena sifatnya bukan hormon, jadi jarang sekali bikin gemuk..." jelasnya lagi.


 


Lyvia menjelaskan panjang lebar tentang pemakaian dan manfaat program yang dia ambil.


 


"Sayang...sakit gak...?" tanyanya setengah berbisik, ingin memastikan kalau istrinya benar-benar baik-baik saja.


"Itulah resiko perempuan yang ingin menyenangkan hati suaminya Adrian...." kata mama.


 


Lyvia mendengarkan nasehatkan Mama sambil menimang Al hingga tertidur di pangkuannya. Begitupun dengan Adrian, dia begitu antusias mendengar apa yang Mama bicarakan.


 


"Apapun akan dia lakukan untuk kebahagiaan keluarganya, jadi.... Mama harap kamu bisa menghormati dan menghargai perempuan, jangan pernah sakiti dia...apalagi membuatnya menangis..."


 


Adrian meraih tangan Mamanya, diciumnya punggung tangan yang sudah mulai lusuh dimakan usia.


Dia peluk orang yang telah melahirkan dan membesarkannya itu dengan penuh kasih sayang.


Adrian Kembali melayangkan pandangannya kepada istrinya.


"Aku juga akan selalu membahagiakan dan mencegahnya untuk tidak meneteskan air mata..." ucapnya lembut.


 


"Sayang...apa tidak sakit kalau kita....." ucapannya terhenti ketika Lyvia melototkan mata ke arahnya.


 


Dia alihkan lagi pandangannya ke arah baby Al, memastikan putranya benar-benar terlelap dalam tidurnya.


 


"Apa...? yadi Mas mau bilang apa...?"


 


Lyvia menghampiri suaminya yang masih duduk di sofa dengan handphone di tangannya.


 


"Sudah boleh dilanjutkan nih...?"


"Apanya...?"


"Pertanyaanku..."


"Iya...Mas mau tanya apa...?"


 


Lyvia duduk bersila mengahadap ke arah suaminya, dia kepalkan tangannya untuk menopang dagunya dan siap mendengarkan pertanyaan suaminya.


 


"Apa.... tidak terasa sakit, jika Mas menginginkannya...?" tanyanya memelas.


 


Lyvia tersenyum gemas mendengar pertanyaan suaminya.


 


"Kalau mas menginginkannya malam ini, mungkin masih terasa sakit..." jawabnya pelan.


"Terus...."


"Mas harus bersabar, tiga hari lagi...setelah Via kontrol, baru boleh dipakai" jelasnya, sebagaimana dokter menjelaskan kemaren.


"Oooo......" hanya itu saja yang keluar dari bibir Adrian.

__ADS_1


"Kenapa Ooo...."


"Gakpapa....aku cuma akan menambah PRmu saja..." komentarnya sedikit kecewa.


"Mas sudah sholat...?"


"Sudah..."


 


Lyvia menarik tangan suaminya ke atas ranjang.


"Aku mau tidur seperti biasa di pelukan Mas..." bisiknya manja.


Adrianpun mengabulkan permintaan istrinya. Malam ini seperti malam-malam kemarin yang penuh dengan kebahagiaan.


'Aku janji... tidak akan ada kebohongan lagi yang aku sembunyikan...' ucapnya dalam hati.


*****


Hari-hari berlalu terasa begitu cepat, usia Al yang akan memasuki angka 2, sudah mulai menunjuk apa yang dia mau.


 


"Ayah...dek Al, mau main ail sepelti ini..." katanya menunjukkan gambar yang dia pegang.


"Iya...nanti kita main air sama-sama ya...?" jawab adrian.


"Ma..... bagaimana kalau kita pergi berlibur...?" tanya Adrian kepada Mamanya ketika mereka sarapan pagi.


"Kok tanyanya ke Mama...?"


"Iya kan kita berangkat semua, Mama, Bibi dan Ibu juga..."


 


Mereka akan pergi tanpa Kania, karena sejak lulus sekolah Kania melanjutkan kuliahnya di luar kota. Dan saat ini dia sedang menjalankan skripsinya.


 


"Kalau Mama sih ikut apa kata kalian saja..." jawab Mama.


"Baiklah kalau begitu, biar nanti Adrian atur waktunya..."


"Mas.... sebaiknya saat hari libur Sabtu dan Minggu saja, karena Mas sudah terlalu banyak minta izin...." pinta Lyvia.


"Iya sayang...." ucapnya sambil mencium kening istrinya sebelum berangkat kerja.


"Mas berangkat ya.... assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya Mas..."


 


Lyvia kembali masuk ke dalam rumah setelah mobil suaminya sudah tak terlihat dari pandangan matanya.


 


"Kania...."


 


Ucap Lyvia setelah melihat Kania dan Dani kekasihnya, turun dari dalam mobilnya.


Lyvia tersenyum menyambut kedatangan adiknya. Mereka berhubungan sejak SMA dan Alhamdulillah langgeng sampai sekarang.


Dani memang pria yang baik, dia bisa menjaga hati meskipun mereka melanjutkan ke sekolah tinggi di tempat dan kota yang berbeda.


 


"Assalamu'alaikum.... Kakak...."


"Wa'alaikumsalam sayang...."


 


Mereka saling berpelukan dan melepas rasa rindu.


 


"Apa kabar Kak....?" sapa Dani kepada Lyvia.


"Alhamdulillah ...sehat, kamu sendiri...?"


"Alhamdulillah sehat Kak..."


"Oya....mana keponakan Tante...?" tanya Kania yang belum sempat mengikuti perkembangan keponakannya tumbuh dengan sehat.


"Ayo...masuk dulu, biar kakak panggil nanti...."


 


Mereka mengikuti Kakaknya ke taman belakang dimana Mama dan Al bermain disana.


 


"Mama....ada tamu...?"


"Siapa Nak...?" tanya Mama.


"Assalamu'alaikum Mam...." sapa mereka.


 


Mama memperhatikan dengan seksama siapa tamunya ini.

__ADS_1


"Ya Allah....Kania, makin cantik saja..." puji Mama yang memang mengatakan hal yang sebenarnya.


Mama asyik menyambut tamunya dengan sedikit basa-basi, entah apa yang mereka bicarakan.


Sedangkan Lyvia membersihkan Al yang dari tadi bermain air ditemani Omanya di taman belakang.


 


"Hallo...aunty, apa kabal.....?"


 


Suara lembut dan terdengar centil itu keluar dari bibir mungilnya.


 


"Subhanallah.....hallo juga sayang, aunty sehat, dedek Al apa kabar...?"


"Sehat aunty...ini siapa Bun....?" tanya Al, tangannya menunjuk kepada Dani yang juga belum pernah dia lihat sebelumnya.


"Ini namanya Om Dani sayang....ayo kasih salam kepada Om Dani..." jawab Lyvia.


"Ikum Om..." sapanya.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Dani sambil melambaikan tangannya.


 


Al dengan lincah menyambut tangan itu.


"Toossss...." katanya girang.


 


"Ayo...kita kedepan...." ajak Mama.


"Silahkan Mbak Nia... Mas..." kata Bibi menyuguhkan minun untuk mereka.


"Terimakasih Bi...."


 


Mereka ngobrol dengan santai di ruang tengah, tempat favorit Al untuk mengacak-acak mainannya.


 


"Kania kapan pulang ke kota ini Nak...?" tanya Mama.


"Baru kemaren Ma..."


"Bagaimana dengan kuliahmu Nak... lancar kan...?"


"Alhamdulillah lancar Ma... sebentar lagi Nia wisuda, sebenarnya Nia kesini ingin minta doa restu Mama dan berembuk dengan kak Via dan kak Rian..."


"Ada apa Nia...?" tanya Lyvia yang juga belum mengetahui hal apa yang akan mereka bicarakan.


"Keluarga Dani akan silaturahmi ke rumah Kak...mereka bermaksud mau melamar Nia."


"Alhamdulillah....kalau kalian sudah ada rencana seperti itu, berati memang kalian sudah serius menjalani hubungan." Komentar Lyvia.


"Mama juga hanya bisa mendoakan semoga semua lancar sampai ke jenjang pernikahan..." sambung Mama.


"Aamiin...." jawab mereka bersamaan.


"Jadi...kapan keluarga Dani mau ke rumah...?" tanya Lyvia kemudian.


"Ibu meminta kakak untuk kerumah, dan berembug terlebih dahulu Kak...nanti atau besok, kalau kakak ada waktu senggang ..."


"Iya...nanti Kakak sampaikan ke Mas Adrian ya..."


"Mbunda...adek boleh ikut...?"


"Tentu saja sayang...kita akan maen kerumah Yang Ti... dek Al mau...?"


"Iya...mau mau..."


 


Celotehnya yang menggemaskan selalu menarik perhatian, begitu pula dengan Kania yang geli melihat tingkahnya.


 


"Sudah siang...kalau begitu kami pamit dulu ya Kak...."


"Loo....kok buru-buru, biar Bibi selesaikan masaknya, kita makan siang dulu..." jawab Mama.


"Iya Nia...kita makan dulu, baru setelah itu kalian lanjutkan acara kalian."


 


Mereka turut apa kata kakaknya, sebelum berpamitan untuk kembali pulang.


 


"Kalian hati-hati di jalan ya...nanti biar kakak telfone Ibu...."


"Iya Kak....kami pamit dulu ya Kak, Ma..."


"Hati-hati sayang...salam buat Ibu ya Nak..." ucap Mama menghantarkan kepulangan mereka.


 


~ ----------------------------------


~ ----------------------------------

__ADS_1


~ ----------------------------------


__ADS_2