
Mama bersiap kembali untuk pergi kerumah sakit. Beliau pulang membawa pakaian kotor Lyvia dan menggantinya dengan yang bersih.
"Bi....minta tolong, bereskan kamar Lyvia ya, ganti sepreinya dengan yang baru, agar besok Lyvia pulang, kamarnya sudah nyaman untuk ditempati." ucap Mama yang berharap rumah ini segera ramai dengan tangisan seorang bayi.
Bibi bisa merasakan kesedihan majikannya. Dia turuti permintaannya untuk membereskan kamar Lyvia.
"Pak To...ayo kita ke rumah sakit lagi..."
"Baik Bu...." jawab Pak To sembari mengambil tas pakaian dari tangan majikannya.
Mama terlonjak kaget, melihat kedatangan Prima bersama Adrian putranya.
Dari kejauhan sudah terlihat kemarahan Mama yang kian memuncak.
"Mama...." panggilnya sembari bersujud di kaki Mamanya.
"Kenapa kau kembali..." tanya Mama datar.
"Maafkan Adrian Ma..." ucapnya.
Dia peluk erat kaki Mamanya.
"Lepaskan Adrian, apa sudah puas kamu siksa anak dan istrimu seperti itu...?"
"Ma...Adrian tidak bermaksud begitu."
Dia mulai mendongakkan wajahnya mencoba untuk menjelaskan kebenaran.
Plaakkkk....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
"Tampar Ma...pukul Adrian, jika itu bisa menebus kesalahan Adrian..."
"Kesalahanmu terlalu fatal untuk bisa Mama maafkan..." ucap Mama menahan emosi.
"Mama tidak pernah mengajarkanmu untuk jadi laki-laki pengecut dan tidak bertanggung jawab..." tambahnya lagi.
Adrian terisak, tidak disangka Mama akan semarah ini kepadanya.
"Mama....maaf jika Prima ikut campur dalam masalah ini, tapi Prima mohon...demi cucu Mama, maafkanlah Adrian..."
Mama yang tadinya keras gini mulai melunak, terbukti air mata beliau menetes begitu deras di pipinya.
"Mama akan memaafkannya jika Lyvia tersadar dari tidur panjangnya Prima... Mama tidak sanggup melihatnya terluka lagi..."
Adrian memeluk Mamanya yang sedang menumpahkan air mata kekesalan.
"Adrian janji...tidak akan membuat Mama dan Lyvia menangis lagi..."
Tidak ada induk yang tega memakan anaknya di dunia ini. Begitupun juga dengan Mama, sebesar apapun kesalahan Adrian, semoga ini akan menjadi pelajaran berharga baginya untuk lebih baik kedepannya.
"Pak To...biar Mama berangkat bersama saya, sebentar lagi saya berganti pakaian dulu."
"Baik Mas...."
__ADS_1
Adrian pergi ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Sedangkan Prima masih berbincang dengan Mamanya di ruang tamu.
"Mas Adrian....." panggil Bi Inah yang keluar dari kamarnya setelah mengganti sprei.
"Bi....maafkan Adrian ya...." ucapnya memohon.
"Sama-sama Mas....tapi Bibi mohon, jangan seperti ini lagi, kasihan Mama dan Mbak Via...minimal Mas Adrian jujur kepada mereka."
Adrian menganggukkan kepala, dan segera membersihkan diri dari kepenatan yang menggelayut di tubuhnya.
*****
"Rian....aku pamit dulu ya, kabari aku tentang perkembangan Lyvia." kata Prima ketika Adrian sudah kembali bersama mereka.
"Iya Prim.... terimakasih atas semuanya."
"Ingat....kamu masih berhutang penjelasan kepadaku..." bisiknya kepada Adrian.
Bersamaan dengan kepergian prima, Mama dan Adrian segera kembali ke rumah sakit.
"Sayang....bangunlah, lihat suamimu telah kembali, Mama ingin kalian berkumpul dan meramaikan rumah bersama" bisik Mama di telinga Lyvia.
Lagi-lagi Lyvia merespon nya dengan tetesan air mata.
Hampir satu minggu Lyvia tidak sadarkan diri. Baik ibu ataupun Mama bergantian menunggunya.Badannya kian kurus, wajahnya terlihat pucat pasi.
Siang itu...detak jantungnya mulai melemah, dan seperti biasa air matanya mengalir deras.
"Dokter....dokter...." panggil Adrian.
Dokter dan beberapa suster segera menangani keadaan Lyvia. Mereka menggunakan alat bantu untuk memicu kembali detak jantungnya.
Ibu dan Kania yang baru datang ikut panik, Mama tak henti-hentinya menitikkan air mata. Begitupun dengan Prima dan Lia yang ikut menunggu di depan pintu kamar perawatan.
"Alhamdulillah....sudah mulai stabil lagi, support terus ya Pak, biar perkembangan nya semakin baik..."
Kami semua dipersilahkan untuk kembali ke kamar Lyvia. Lia pergi ke ruang rawat bayi untuk melihat kondisi putra Lyvia.
"Sus....apa saya boleh menggendongnya untuk saya bawa ke Ibunya...?"
"Sebentar Ibu...saya konsultasi dokter dulu"
'Nak...semoga dengan hadirmu bisa menjadi obat untuk kesembuhan Ibumu...' bisiknya dalam hati
"Ibu... silahkan, adek bayi sudah mulai tumbuh sehat, dokter mengizinkan untuk dipindahkan ke kamar perawatan bersama Ibunya..."
Lia membawa masuk Adrian junior. Dia sandingkan di sebelah Lyvia.
"Sayang ...buka matamu, lihat lah betapa tampan putra kita...dia kangen ingin merasakan gendonganmu..." Bisik adrian di telinga Lyvia.
"Via....kamu harus kuat demi putramu..." Imbuh Lia yang ikut meneteskan air mata.
Ooeeekkk..... ooeeekkk.... ooeeekkk....
'Suara itu.... benarkah itu suara putraku, Ya Allah...izinkan aku untuk bisa menggendongnya, izinkan aku memberikan air susu ini kepadanya...' ungkapan hati Lyvia.
__ADS_1
Kerasnya tangisan bayinya membuat Lyvia tersadar dan bangun dari tidur panjangnya.
"Via....sayang...." bisik Adrian yang melihat pergerakan di jari istrinya.
"Dokter...panggilkan Dokter Prim..."
Lyvia tersadar, dia mulai membuka mata.
'Perjalanan panjangmu telah usai Lyvia, saatnya kamu curahkan perhatianmu untuk putramu...' bisiknya dalam hati.
Dokter memeriksanya kembali.
"Alhamdulillah...ibu Lyvia sudah siuman, tapi jangan diajak bicara terlalu lama, biarkan dia istirahat terlebih dahulu."
"Terimakasih Dok..."
Lyvia mulai memperhatikan sekitar, satu - persatu dia lihat orang yang ada di situ. Mulai dari Mama, Ibu, Kania...ada Prima dan istrinya.
'Adrian...jadi apa yang aku dengar itu bukan halusinasiku, Adrian benar-benar sudah pulang...?'
'Kenapa kamu kembali Adrian...? Apa kamu mulai dicampakkan oleh perempuan itu...?' gerutunya dalam hati.
"Via....maafkan Mas..." bisiknya.
Lyvia hanya terdiam, belum ada sepatah katapun keluar dari bibirnya.
Dia beralih kepada putranya, air matanya kembali menetes.
"Ibu...Mama..." suaranya terdengar begitu lirih.
"Iya sayang....jangan banyak bicara dulu.." kata Mama mendekat.
Ibunya tak kuasa membendung air mata.
Lyvia cantik dengan senyum di bibirnya, meskipun ada perasaan hampa tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum demi Ibu dan Mamanya.
"Maafkan Via Bu...Ma..."
"Sayang...semua akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dimaafkan." ucap Ibu dan Mamanya menenangkan hati Lyvia.
Pandangannya beralih kepada suami istri yang sedang berdiri di dekatnya.
"Prim... Mbak Lia, terimakasih..."
"Sudah Lyvia....semua sudah berakhir, tinggal kebahagiaan yang menantimu..."
Tangis Lia memecahkan suasana, Prima memeluk istrinya agar lebih tenang.
Lyvia masih tersenyum manis, ketika dia melihat seorang bayi dalam gendongan Lia.
"Apakah itu putraku...?" tanyanya kemudian.
"Iya sayang...ini putra kalian." Lia membantunya meletakkan bayinya di atas dekapannya.
'Lihatlah Mas...betapa tampan putra kita, dia yang akan mengangkat derajat orang tuanya kelak, semoga menjadi putra yang Sholeh...' doanya dalam hati.
Hampir dua Minggu Lyvia koma, dan baru merasakan betapa bahagianya menjadi seorang Ibu. Dia menikmati hal itu, sampai-sampai tidak menghiraukan keberadaan Adrian. Masih ada kebencian yang dia pendam dalam hati.
~ -----------------------------------
__ADS_1
~ -----------------------------------
~ -----------------------------------