
Hampir satu jam Lyvia tidak sadarkan diri. Semua orang cemas menunggu disana. Terutama Adrian, dia tidak bergerak sama sekali dari samping istrinya.
"Dokter ... bagaimana keadaan istri saya dan bayi yang ada dalam kandungannya...?" tanyanya begitu khawatir.
"Alhamdulillah....Bu Lyvia dan bayinya sehat, Bu Lyvia hanya shock... Insha Allah sebentar lagi siuman, tapi kalau dalam waktu setengah jam lagi belum ada tanda-tanda siuman, segera hubungi kami di ruangan sebelah."
"Baik Dok... terimakasih banyak..."
"Bagaimana keadaannya....?" tanya Anton, suami Rifkah.
"Belum sadarkan diri Mas...tapi alhamdulillah, kata dokter dia dan bayinya baik-baik saja." terangnya.
'apa....jadi ternyata Lyvia hamil...?' bisik Rifkah dalam hati. Rifkah dan suaminya kembali ke rumah sakit, setelah dia antar anaknya pulang kerumah.
"Ya Allah....jadi Lyvia hamil, pantas saja dia pingsan karena shock...Mbak tau bagaimana sifat Lyvia, dia kuat dan berani...makanya tadi mbak sempat bingung dengan keadaannya.."
"Iya Mbak....dia memang sedikit lemah, sejak mengandung anak kami."
"Untungnya tadi ada Vina yang mengetahui tindakan Feryan."
"Oya Mbak... bagaimana kejadiannya, sampai Mbak tau apa yang terjadi...." tanya Adrian dan Anton yang juga penasaran.
Jadi gini...tadi kan waktu kalian asyik ngobrol, Lyvia pamit ke toilet. Aku sempat khawatir, kok Lyvia lama sekali di toilet dan bermaksud ingin menyusulnya.
*Flash back on
"Mbak Rifkah mau kemana....?" tanya diva yang melihatnya terburu-buru.
"Aku mau nyusul Via ke toilet, soalnya lama dia gak balik-balik." jawabnya.
Tapi belum lagi dia melanjutkan langkah kakinya, seseorang datang dengan nafas terengah-engah.
"Mbak Rifkah...tolong, aku melihat Mbak Lyvia di ancam-ancam dan diperlakukan kasar sama mas Feryan..." katanya terbata-bata.
"Apa....! Feryan.... dimana...?" tanya Rifkah cemas.
"Di lorong pojok kanan arah ke toilet..." terangnya.
"Vina... tolong laporkan apa yang barusan kamu lihat kepada scurity, Diva tolong temani Vina ya...? aku akan ajak Mas Anton dan Adrian ke tempat yang kamu tunjukkan..." pintanya waktu itu.
*Flash back off
"Dan saat itulah aku berlari mengajak kalian ke lorong dekat toilet..."
Adrian mendengarkan penuturan Rifkah, tangannya mengepal, amarahnya terpendam saat itu.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Lyvia dan anakku, aku tidak akan memaafkan nya." ungkapnya geram.
"Adrian.... Lyvia sudah sadar...." teriak Rifkah.
"Aku panggil okter dulu ya...?" kata Anton beranjak dari duduknya.
"Via....sayang...." panggilnya setengah berbisik.
"Mas....dimana ini...?"
"Kamu di rumah sakit sayang...jangan terlalu banyak bicara dulu, dokter akan memeriksamu."
__ADS_1
Anton datang bersama dokter dan seorang perawat. Mereka memeriksa ulang keadaan Lyvia.
"Alhamdulillah....detak jantungnya sudah kembali stabil lagi...karena kandungannya masih lemah, jadi usahakan hal serupa jangan sampai terjadi lagi." kata dokter menerangkan kepada Adrian.
"Apa yang terjadi Mas...kenapa aku sampai dibawa kesini...?"
"Sudah ...jangan difikirkan lagi, kamu istirahat ya...." kata Rifkah menenangkan.
Adrian mencium kening istrinya dan memintanya untuk beristirahat sebelum Anton memanggilku untuk keluar ruangan.
"Adrian... tuntutan apa yang akan kamu berikan padanya...?" tanya Anton.
"Aku akan mengurusnya besok Mas... aku sudah serahkan semua perkara itu kepada teman serse yang bertugas di polres sini."
"Baguslah....biarkan hukum yang mengadilinya.." kata Anton kembali.
***
"Pagi sayang....kamu sudah bangun..."
"Mbak Rifkah...Mas Adrian mana...?" tanyanya ketika mendapati Rifkah yang menemaninya.
"Tenang saja....Adrian dan Mas Anton ke polres mengurus kejadian semalam." terangnya.
"Tapi semua baik-baik saja kan Mbak...?"
"Jangan khawatir... serahkan semua kepada suamimu..."
"Aarrggghhh....." rintihnya.
"Eehhhh....mau kemana...? kamu masih lemas..." cegahnya.
"Aku mau ke kamar mandi Mbak..."
"Sini Mbak bantu.... pelan-pelan ya..."
Lyvia mengguyur tubuhnya dengan air hangat dan sudah berganti pakaian yang diberikan oleh Rifkah.
Rifkah membantu menyisir rambutnya, dia duduk di tepi ranjang menghadap ke jendela ke arah matahari terbit.
"Mau Mbak ambilkan sarapan...?"
"Nanti saja Mbak... terimakasih."
"Kalau begitu...minum dulu susumu, mumpung masih hangat..." katanya sedikit memaksa kali ini.
"Terimakasih Mbak...maaf sudah merepotkan Mbak Rifkah..."
"Jangan dipikirkan ...."
Rifkah membuka WA group dari kantor pusat. Dia mendapatkan informasi kalau Feryan sudah dipecat dengan tidak hormat.
"Eeee....Via...apa Mbak boleh tanya sesuatu....?"
"Iya Mbak...."
"Tentang kejadian semalam...Apa sebenarnya yang kalian ributkan....?"
"Aku juga tidak tau mbak... tiba-tiba dia menghadangku, awalnya bersikap sopan sebelum dia ungkapkan perasaannya..."
__ADS_1
"Apa dia berbuat kasar kepadamu....?"
"Dia bersikap kasar setelah aku bilang kalau semua sudah berlalu dan akupun juga tidak tau dengan perasaannya Mbak..."
Lyvia menitikkan air mata mengingat kejadian semalam.
"Sudahlah...jangan difikirkan lagi..." kata Rifkah.
"Mas Adrian...." Lyvia menangis kembali dipelukan suaminya.
"Tenanglah...semua sudah selesai."
"Kalian sudah kembali, bagaimana urusannya...?" tanya Rifkah.
"Sudah...jangan dibicarakan lagi, semua sudah selesai, kasiha Lyvia..." kata Anton kepada istrinya.
"Oya Mbak....aku ingin bertemu dengan Vina, karena aku belum sempat mengucapkan terimakasih kepadanya." kata Adrian.
"Iya...siang ini mereka mau mampir kesini buat besuk Lyvia."
"Vina...kenapa mas...?" tanya Lyvia kaget.
"Atas bantuan Vina, kamu terbebas dari masalah semalam sayang..."
Tak berapa lama... rombongan anak-anak dari kantor pusat menjenguk Lyvia. Namun tidak ditemukan adanya Vina disana.
"Vina tidak bareng dengan kalian...?" tanya Rifkah
"Iya Mbak....Vina titip ini buat Mbak Lyvia, dia tidak bisa besuk, karena harus pergi ke kota S, kabarnya neneknya meninggal."
Diva memberikan 1 buket bunga dari Vina yang tertulis ucapan semoga lekas sembuh.
***
Siang itu dokter memeriksa kondisi kesehatan Lyvia. Karena semua sudah dalam kondisi stabil, dokter mengizinkan Lyvia untuk pulang.
"Alhamdulillah....sudah boleh pulang Via, kalau mau menginap lebih lama, menginap di rumah Mbak saja..." kata Rifkah.
"Ehehhehe....iya Mbak...Via sudah banyak merepotkan Mbak Rifkah..."
"Gak ada yang direpotkan Via... kalau perlu sesuatu jangan sungkan bilang sama Mbak ya...." katanya kemudian.
Lyvia memang dekat dengan Rifkah sejak lama. Bahkan mereka seperti saudara selama ini.
"Sudah selesai Mas...?" tanya Lyvia.
"Sudah sayang..." jawab Adrian setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit.
"Mbak Rifkah....Via pamit ya... terimakasih sudah menjaga Via selama di sini...Mas Anton terimakasih banyak..." kata Lyvia berpamitan, begitu juga dengan Adrian.
"Oya Mbak... Adrian mau menitipkan ini, tolong kasihkan ke Vina ya... sampaikan rasa terimakasih kami kepadanya." kata Adrian sambil menyerahkan satu amplop coklat kepada Rifkah.
"Baiklah....nanti kalau Vina sudah kembali, akan Mbak sampaikan."
Akhirnya....mereka pulang kembali kerumah. Semua kejadian pasti ada hikmahnya. Dan kita tidak perlu mengeluh dengan apa yang telah terjadi.
Karena semua perkara itu datangnya dari Allah SWT. Itulah yang Lyvia fikirkan saat ini.
~ -------------------------------
~ -------------------------------
~ -------------------------------
__ADS_1