
"Bunda....dek Al boleh bawa mainan...?" tanya Albiansyah, di tengah sela-sela kesibukan Lyvia menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa.
"Iya sayang...." jawabnya lembut. Alpun tidak mau kalah, dia ikut sibuk menyiapkan mainan yang akan dia bawa.
"Yang ini ya Bun...?"
"Iya sayang..."
"Ini juga boleh ya Bun...?"
"Iya sayang..."
"Kalau yang ini... boleh gak Bun ..?"
Lyvia menghentikan sejenak aktivitasnya. Dia raih tubuh mungil putranya, dia peluk dengan gemas.
Al yang merasa geli hanya bisa tertawa dan berusaha melepaskan diri dari pelukan bundanya.
"Ini gak dibawa sekalian....?" tanya bunda manunjuk sebuah kolam balon kesukaan nya.
"Memang boleh Bun...?" tanyanya polos.
Sesaat Al terdiam saat mendengar bunyi klakson dari mobil Ayahnya. Selagi lyvia menyiapkan pakaian dan bekal, Adrian pergi menjemput Ibunya tadi.
"Ayah....! Ayah pulang Bun...."
Dia tarik tangan Bundanya menuju lantai bawah.
"Pelan-pelan sayang...." pintanya.
"Buluan Bun....kebulu ayah pelgi lagi..."
"Enggak sayang...kita kan perginya sama-sama dengan Ayah juga.."
Al masih menarik tangan Bundanya.
"Ayah....!" teriaknya sembari melompat ke pelukan Ayahnya.
"Aduh....jagoan Ayah sudah siap...?"
"Dek Al udah ciapin mainan buanyak yah .."
"Kok mainan ...?"
"Iya...bial gak bosen..." jawabnya menggemaskan.
"Ibu mana Mas....?"
"Ada di depan, lagi ngobrol sama Mama.."
Lyvia menyusul dua srikandi yang sedang berbincang di depan rumah.
"Ibu bawa apa ini...?"
"Ibu tadi bikin ayam kampung panggang, buat bekal kita di jalan..."
"Iya...biar komplit, tadi bibik juga masak komplit..." kata Mama menambahkan.
Semua keperluan sudah masuk ke dalam mobil. Adrian mengajak serta Pak To, yang akan menggantikannya nanti di perjalanan.
"Ayah...kita mau kemana...?" tanya Al yang sedang duduk di pangkuan Ayahnya di bangku depan sebelah sopir.
"Kita mau ke Tawangmangu sayang...." jawabnya.
"Kita gak jadi ke sarangan Mas...?"
"Enggak...kita menginap di Tawangmangu dulu saja, baru pulangnya mampir ke Sarangan, bagaimana....?"
"Terserah Mas saja...."
"Kok terserah Mas....voting terbanyak dong, kita kemana dulu ini Ibu, Mama, Bibi....?"
"Ibu mah ngikut saja..." komentar Ibu.
"Iya Adrian... terserah kamu saja..." kata Mama menambahkan.
Akhirnya mereka kembali ke rencana awal Adrian. Lagi pula, Adrian sudah menghubungi Pak Amat untuk menyiapkan villanya yang ada di Tawangmangu.
__ADS_1
Kasihan kalau harus membatalkan dan kembali menyiapkan villa yang ada di Sarangan.
Hampir 4 jam perjalanan mereka menuju lokasi. Al begitu menikmati perjalanannya. Hingga dia sama sekali tidak tidur dalam perjalanan, tapi lebih banyak melihat rimbunnya pohon Pinus.
Udara sudah mulai terasa dingin ketika jalan mulai menanjak. Namun sesering apapun mereka datang ke tempat ini, tidak akan pernah ada rasa bosan, yang ada hanya keinginan untuk kembali lagi.
"Mas.... sebaiknya kita berhenti dulu di pinggir taman setelah tanjakan ini....?"
"Buat apa...?"
"Sudah waktunya makan siang Mas...kita nikmati makan siang seperti pesta kebun.."
Betul juga ide Lyvia, jarang-jarang mereka melakukan outbound.
"Oke....Pak To, parkir sebelah sana ya..."
"Iya Mas...."
Ternyata tidak hanya dia dan keluarganya yang menikmati pemandangan di sekitar sini. Banyak rombongan keluarga yang juga beristirahat untuk sekedar makan siang sambil menghirup udara segar.
"Ramai sekali Mas....masih ada tempat gak...?"
"Masih..., kita parkir depan Pak...dekat Mushola biar sekalian sholat dhuhur ....."
Lyvia dan Bibi menyiapkan bekal yang tadi sudah dimasak oleh Bibi dan Ibunya.
"Waaooo.... komplit sekali..." komentar Adrian yang menghampiri istrinya setelah sholat dhuhur.
"Mari Ma.... Ibu, sudah siap ini..." panggil Lyvia.
"Dek Al mau dicuapin Bunda .."
"Iya sayang..."
Dalam sekejap suasana kekeluargaan begitu terasa, apalagi sejak kelahiran Al. Jalinan dua keluarga ini semakin rukun dan damai.
Usai makan dan membereskan kembali makanan yang masih ada, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Enggak, sudah dekat sayang..."
"Adek kepingin pipis...."
"Tahan bentar lagi ya sayang, itu sudah kelihatan...." jawab Ayahnya menenangkan putranya.
"Assalamu'alaikum...." sapa Adrian yang turun terlebih dahulu, ketika Pak To sudah mulai memarkirkan mobilnya di halaman villa.
"Wa'alaikumsalam....wahh, keluarga besar... selamat datang kembali Mas Adrian.... silahkan Nyonya, Mbak Via...." sapa Pak Amat.
"Apa kabar Pak....? lama tidak bertemu ya...?" tanya Mama.
"Alhamdulillah...sehat Nyah...tapi ya gini, makin tua makin kurang pendengarannya..."
Sementara mereka masih berbincang, Lyvia segera membawa putranya ke kamar kecil.
"Kita istirahat dulu...baru besok pagi kita turun ke grojogan sewu..." kata Adrian.
"Enggak ah... Mama disini saja, gak kuat nanjaknya Rian..." kata Mama.
"Iya... Ibu juga disini saja nemenin Mama."
"Atau....gini saja, aku sama Lyvia turun, sementara Ibu, Bibi dan Mama diantar pak To ke pasar wisata..." saran Adrian.
"Begitu juga lebih baik, kalau disuruh naik turun tangga, Mama nyerah....maklum faktor U...." komentar Mama yang di iyakan oleh Ibu dan Bibi.
Seperti yang sudah Adrian bayangkan, mereka memang butuh quality time. Ketika Al sudah terlelap di kamar bersama Mama dan Ibunya.
"Sayang....."
"Apa....?"
"Dingin...." Itu kata pengantar Adrian sebagai kode agar keinginannya dipenuhi.
*****
Pagi itu... setelah subuh, Lyvia kembali lagi di atas ranjangnya. Dia tidak kuat dengan udara dingin yang menusuk persendiannya.
"Gak jadi turun sayang ...." tanya Adrian.
__ADS_1
"Sebentar lagi Mas... uufffff, dingin banget."
Sedangkan diluar sana sudah banyak kendaraan yang berlalu lalang. Juga terdengar suara canda tawa seorang yang membuka harinya pagi ini.
"Diluar sudah ramai loo..." kata Adrian yang makin beringsut mendekatkan tubuhnya kepadaku.
"Na Mas...ngapain masih disini...?"
"Ya aku menunggumu lah...kita joging dulu sebentar, sambil cari sarapan mungkin..?"
"Bentar lagi Mas....aku masih PW ini..." masih sama pada posisiku semula, melingkar di dalam bedcover dan tetap memejamkan mataku.
Memang udara disini lebih dingin dibanding dengan di Sarangan. Hawa yang pas untuk pengantin baru.
"Tapi aku lapar..."
"Gak perlu jajan, bibi hari ini masak Mas..."
Semakin lama semakin tak terdengar suara Lyvia.
Hhhhmmmm....benar saja, sudah tercium aroma wangi masakan dari dapur.
"Masak apa Bi...jadi bikin laper..."
"Ya Allah.... Mas Adrian bikin kaget saja, ini Bibi bikin capjay." jawabnya masih dengan mata fokus di depan kompor.
"Ya sudah...Adrian joging dulu ya bi, biar pas laper pas mateng...."
Dia keluar sekedar untuk melemaskan otot-otot kaki dan tangannya. Meninggalkan Lyvia yang masih meringkuk di ranjang.
Cukup waktu 20 menit untuk bisa menghangatkan tubuhnya, sebelum dia duduk di teras depan villa.
"Lyvia mana....?" tanya Ibu mengagetkan.
"Masih tidur Bu...."
"Jam segini masih tidur, tidak subuh dia...?"
"Sudah Bu....tadi habis subuh tidur lagi, gak tahan dengan dingin..."
Adrian segera beranjak dari tempat duduknya untuk membersihkan diri.
"Sayang....beneran nih, gak mau bangun...?
"Bentar Mas....masih pagi..." jawabnya malas.
"Pagi menjelang siang, udah jam 11 juga..."
"Apa....yang bener Mas...!" tanyanya sambil berjingkat turun dari ranjang.
Dia teringat akan janjinya kepada Al yang mau mengajak nya berenang pagi ini.
"Lo...kok sarapan sendiri, Lyvia mana...?"
"Lagi mandi Ma..."
"Selamat pagi Ma, Bu... Mas, pagi kesayangan Bunda...emmuaachhh..."
"Pagi Bunda.....ayo belangkat belenang..."
"Iya ..kita sarapan dulu ya, biar kuat berenangnya..."
Tak membuang waktu lama, mereka berangkat menuju air mancur 'grojokan sewu'.
Banyak keindahan alam yang disuguhkan disana. Semua tak luput dari campur tangan terampil Ciptaan Tuhan.
Seperti janjinya kepada Al, Via mengajaknya untuk bermain air. Ada kolam renang yang di buka khusus untuk anak-anak.
Sementara itu.... Mama, Ibu dan Bibi pergi ke pasar wisata untuk berbelanja oleh-oleh.
Tentunya buah dan sayur segar, karena hasil bumi masyarakat sekitar lereng Lawu memang tumbuh subur.
~ ------------------------------------
__ADS_1
~ ------------------------------------
~ ------------------------------------