MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 52. Jaimnya Suamiku


__ADS_3

 


"Mas....."


"Iya....."


"Aku lupa tadi mau cerita..."


"Apa....?"


"Tadi waktu Mas keluar beli air mineral, ada perempuan yang ngedeketin aku Mas..."


"Siapa...?" tanyanya heran.


"Na itu dia Mas....aku lupa tanyakan namanya..."


"Memang apa yang dia katakan...?" tanya Adrian yang jadi penasaran.


"Ya sekedar obrolan biasa sih...tapi yang bikin nyesek dia bilang kalau aku beruntung punya suami seperti Mas..."


"Hahahhahahah.....itu mah wajar sayang, nyeseknya dimana...?" tanya Adrian.


"Dari cara bicaranya dan raut wajahnya, seolah-olah dia bilang kalau suamiku tidak seperti itu..." ucap Lyvia tertahan.


 


Matanya berkaca-kaca, hingga akhirnya cairan bening itu keluar tak terbendung.


"Sayang....kamu nangis..." komentarnya sambil mengusap air mata di pipi Lyvia.


 


"Ini tangis bahagia Mas.... maafkan aku ya Mas, selama ini aku kurang bersyukur, bahkan kadang aku masih curiga sama Mas..."


 


Adrian mengusap lembut kepala Lyvia.


"Udah ahh....jadi cengeng gitu..." katanya lagi.


Sesampainya dirumah, Mama menyambut kedatangannya.


"Bagaimana hasil periksanya...?"


 


"Alhamdulillah....semua bagus Ma, sehat..."


"Alhamdulillah.....ayo kita makan dulu..." kata Mama yang sudah menyiapkan makan malam.


"Ayo Via....makan yang banyak..."


"Iya Ma...."


 


Adrian dan Mamanya senang melihat Lyvia sudah bisa makan dengan lahap.


***


 


"Ayo tidur.... sudah malam...." ajaknya ketika Lyvia masih menghayati film layar lebar yang ditayangkan pada salah satu stasiun televisi.


"Bentar Mas....tanggung, ini lagi seru-serunya..." jawabnya tanpa menengok suaminya.


 


Adrian ikut duduk kembali di sampingnya, diapun ikut menikmati apa yang dilihat Lyvia.


 


"Hik hik hik hik...." Adrian menajamkan pendengarannya, ketika terdengar suara seorang wanita menangis.


"Eiittttssssss....kenapa menangis..."


"Menghayati Mas....kasihan banget, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, sakitnya tuh di sini mas...." katanya sambil menunjukkan dadanya dengan telunjuknya.


"Ahhahahahaha.....malah jadi korban sinetron..." komentarnya .


 


Adrian mengacak rambut Lyvia yang masih berlinangan air mata, dengan mulut penuh dan camilan di tangannya.


 


"Maass...." gerutunya.


 


Tidak sampai disitu, adrian mulai mengelitik Lyvia yang masih tegang dengan layar kaca.


 


"Aaaauuuuu....Mas, udah dong...bikin kram perut Via...." protesnya.

__ADS_1


"Habisnya...Mas dicuekin dari tadi...." ucap Adrian sambil berlalu pergi ke kamarnya.


"Yah....kok jadi dia yang marah..." gumam Lyvia sendiri.


 


Lyvia masih asyik menghabiskan detik-detik terakhir layar lebar yang dia tonton.


'sayang tinggal 10 menit lagi...' fikirnya.


Menyadari suaminya sedang bad mood, dia matikan televisinya usai acara dan segera menyusul suaminya ke kamar.


Ceklekkk....


Lyvia melangkahkan kakinya perlahan memasuki kamarnya. Dia menuju kamar mandi dan berganti pakaian sebelum naik ke atas ranjang.


Di bawah lampu tidur yang remang-remang, terlihat suaminya berbaring memiringkan tubuhnya menghadap ke tembok.


Lyvia memeluknya dari belakang. Sengaja dia tarik lengan Adrian untuk menghadap kepadanya.


Tapi semakin dia tarik, semakin berat Adrian menahannya.


"Mas.....Mas belum tidurkan...?" bisiknya.


Adrian tetap diam tanpa suara. Lyvia memainkan rambutnya, dia pencet hidung mancung adrian.


Bahkan dia cium leher suaminya yang tadinya hanya berupa kecupan-kecupan kecil berubah menjadi gigitan yang meninggalkan bekas disana.


Sebenarnya Adrian sedang menahan tawa. Tapi tetap dibiarkan Lyvia berbuat sesuka hatinya.


"Ya sudah....bobok aja ach..." ocehnya putus asa.


sayangnya.... Lyvia tidak bisa memejamkan matanya. Dia coba berbagai posisi tidur, tapi hasilnya tetap sama. Dia terbiasa tidur dalam dekapan Adrian.


Alternatif terakhir...dia lihat langit-langit dan mencoba menghitung bintang dalam angan-angan.


Baru hitungan ke tiga, Lyvia merasakan ada gerakan dari Adrian. Dia membalikkan tubuhnya ke arah Lyvia.


Adrian memandangi wajah istrinya yang selalu cantik saat terpejam. Kali ini Adrian yang memainkan wajah Lyvia.


Dia sibak rambut Lyvia menyingkir dari pipinya. Dia belai lembut wajah cantiknya. Adrian mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir istrinya.


Lyvia merasakan hembusan nafas Adrian. Dia yang tak tahan merasakan geli, akhirnya perlahan membuka matanya.


 


"Hai...." sapanya....yang mengejutkan dan membuat Adrian jadi salah tingkah.


 


Tapi ternyata diluar prediksi, Lyvia lebih bisa menahan nafsunya. Adrian tidak mau menyia-nyiakan lagi kesempatan kali ini.


Tanpa ragu lagi dia lancarkan misinya yang sempat tertunda.


Eng...ing...eng...apa yang terjadi...?? hanya mereka dan Tuhan yang tahu...🤫🤭


***


Lyvia terbangun setelah merasa ada yang mengganjal di perutnya.


"Mas....maaf, tanganmu aku tindih..."


"Aacchhh...."


"Sakit ya....??" tanyanya ketika melihat Adrian meringis kesakitan.


 


"Gakpapa sayang, cuma sedikit nyeri..."


"Kalau Mas terasa, kenapa Mas gak mengangkatnya semalam...?"


"Aku gak mau membangunkanmu sayangku...." jawabnya sembari mencium mesra kening Lyvia.


"Mandi yuk...kita sholat subuh..."


"Bentar lagi...belum subuh..." komentarnya sambil mendekap erat tubuh Lyvia.


 


Tak berapa lama, terdengar suara adzan yang mengharuskan mereka beranjak dari ranjangnya.


Lyvia keluar dari kamarnya dan sudah mendapati Mama dan Bibi berada di dapur.


"Pagi sayang....udah seger saja pagi-pagi..."


"Pagi Ma...iya ini Ma gerah, bikin Via ingin berendam terus di air." jawabnya asal.


Mama hanya tersenyum mendengar komentarnya.


'Dia fikir Mama gak pernah muda...?'


 


'Nah...itu dia biangnya yang bikin aku merah padam pagi ini...' protesnya dalam hati.

__ADS_1


 


Adrian menghampiri istrinya yang sedang membantu Mama menyiapkan sarapan di meja makan.


 


"Eemmuuaacchhh....wangi amat..." komentarnya seraya mencium pipi Lyvia.


"Yang wangi apanya...? masakannya apa orangnya nich...?"


"Masakannyalah... orangnya acem..." jawabnya menggoda.


"Sudah....sarapan dulu, Via minum susumu selagi hangat Nak..." kata Mama menyodorkan segelas susu untuk Lyvia.


"Mama....Viakan bisa bikin sendiri..."


"Gakpapa...ayo habiskan, setelah itu makan yang banyak..."


"Mama tumben rapi gitu, mau kemana...?" tanya Adrian.


"Iya ... Mama lupa semalam belum bilang, hari ini Mama akan pergi ke rumah pamanmu. Sinta sepupumu akan dilamar."


"Mama mau Adrian antar...?"


"Gak usah...biar Mama diantar Pak To saja, mungkin Mama menginap. Lusa baru pulang" terangnya kemudian.


"Apa Mama perlu Via temani...?"


"Jangan sayang... Mama gak mau kamu kecapekan nanti, besok saja kalau pas acara lamaran, kamu nyusul sama Adrian ya...?" pinta mama.


 


Bersamaan dengan berangkatnya Adrian ke kantor, Mama ikut berpamitan untuk berangkat ke rumah paman.


 


"Yahhhh....kita tinggal sendiri Bi..." katanya kepada Bibi.


"Tenang aja Mbak...nanti Bibi bikinkan rujak..."


"Asyik...."


 


Belum sempat bibi memenuhi keinginan Lyvia, seseorang datang mencarinya.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...."


Bibi segera ke depan, untuk memastikan siapa yang datang.


"Loo...Ari, ada apa cah bagus...?" tanya Bibi kepada pemuda yang dipanggilnya Ari.


 


"Ini Bude...disuruh Ibu, buat jemput Bude. Mbah Kung sakitnya kambuh, panggil-panggil Bude terus..."


"Aduh...gimana ya le..., Pakdemu lagi nganter majikan Bude ke luar kota." jawabnya, karena memang kebetulan Pak To suami Bibi sedang antar Mama ke rumah paman.


"Bude bisa bareng saya sekalian..."


"Gimana ya le..." katanya bingung.


"Siapa yang datang Bi....?" tanya Lyvia yang tiba-tiba muncul dari belakang.


"Ini Mbak....ponakan Bibi, mau jemput Bibi katanya Mbah Kung sakitnya kambuh dan ngigo terus nyari Bibi..." jelasnya.


"Ya sudah Bibi turut dulu aja....nanti biar Via sampaikan ke Mama..."


"Tapi... Mbak Via sendirian di rumah."


"Gakpapa Bi....Viakan sudah biasa dirumah sendiri..."


 


Lyvia mempersilahkan sepupu Bibi untuk masuk terlebih dahulu sambil menunggu Bibi bersiap-siap.


 


"Bibi pergi dulu ya Mbak..."


"Iya Bi.... hati-hati di jalan, semoga Mbah Kung lekas sembuh ya Bi..."


"Aamiin... terimakasih doanya Mbak..."


 


Lyvia menikmati kesendiriannya setelah kepergian Bibi. Dia kembali berkutat dengan hiburan yang disuguhkan salah satu stasiun televisi swasta.


~ --------------------------------


~ --------------------------------


~ --------------------------------

__ADS_1


__ADS_2