MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 71. Luluhnya Hati Lyvia


__ADS_3

 


Hari-hari terasa begitu cepat berlalu. Pagi ini sinar mentari pagi merekah mengintip melalui sela-sela tirai dan membiaskan warna merah keemasan memenuhi luas jendela ruangan di lantai dua yang Lyvia tempati saat ini.


Sejak kepulangannya dari rumah Ibu, Adrian memboyongnya kembali ke lantai atas, dimana dia pernah merangkai masa-masa indah berdua.


Meskipun hubungan mereka masih terasa dingin, namun Lyvia tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Kecuali.... tugasnya di ranjang.


Baby Al sudah tidak ada di ranjangnya, mungkin sedang bersama Oma di lantai bawah.


"Selamat pagi Bunda...." bisik Adrian yang melihatku berdiri di depan jendela kamar dengan tirai terbuka.


 


Aroma ini wangi segar minyak telon khas baby Al. Lyvia menoleh membalikkan badannya. Benar dugaannya, Al sudah rapi dan wangi berada dalam gendongan Adrian.


 


"Ma..ma..pa..pa..pa...."


 


Di usianya sekarang, dia sudah mulai berceloteh menyebut satu dua patah kata. Dia juga sudah mulai belajar tengkurap dan telentang lagi.


Lyvia tersenyum mendengar celoteh putranya.


"Sini...Bunda gendong..." ucapnya sambil meraih Al dari gendongan Adrian.


'Ya Allah...kuatkan aku, senyum itu...aku kangen dengan senyum dan canda tawamu Lyvia...sampai kapan kamu akan membiarkan hubungan kita seperti ini...' rengek Adrian dalam hati.


Adrian memperhatikan Lyvia turun membawa baby Al ke taman belakang.


"Ohh...cucu Oma, sini sayang...biar Oma gendong, kita jalan-jalan ya... menikmati udara pagi..." pinta Oma.


 


"Pakai stroller aja Ma...biar gak capek, dedek Al sudah nambah berat badan loo..." Kata Adrian yang tiba-tiba nongol dari belakang membawakan stroller baby yang dulu Mama belikan.


"Iya...betul kata Ayah...ayo sayang, kita jalan-jalan..." ajak Oma.


"Jangan nakal ya... Bunda mandi dulu..."


"Siap Bunda...."


"Da da...."


 


Adrian mengikuti langkah Mamanya keluar rumah, sedangkan Lyvia sendiri kembali ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.


Lyvia yang sudah nampak segar dengan rambut basahnya, kembali berdiri di balik tirai melihat kebawah.


Matanya tertuju pada kerumunan ibu-ibu kompleks yang sedang menyapa Mama dan putranya.


'Adrian...kemana dia, kok tidak bersama Mama...? atau mungkin dia sudah berangkat kerja, ini kan sudah lewat dari jam 7...' gumamnya dalam hati.


 


"Lyvia...."


 


Lyvia sontak terkejut ketika Adrian mengunci tubuhnya ke dalam pelukannya dari belakang.


 


"Aku kangen sayang....maafkan kesalahan ku, jangan siksa aku seperti ini..." bisiknya lembut di telinga Lyvia.

__ADS_1


"Lepasin Mas...."


"Tidak....aku akan tetap disini seperti ini, sebelum kamu katakan sesuatu..." Adrian semakin kuat mendekapnya.


"Apa yang harus aku katakan....?" ucapnya masih dengan membuang muka.


"Apa saja... akan aku lakukan untuk bisa meraih hatimu kembali..." rengeknya memohon.


 


Adrian semakin menyusupkan kepalanya di leher Lyvia. Dia mencoba untuk menggeser kepalanya menjauh ke samping, tapi semakin dia menghindar semakin banyak ruang bagi Adrian untuk lebih menyusupkan kepalanya.


 


"Aku...aku tidak tahu harus berbuat apa, jujur aku belum bisa menata hatiku sendiri..." ucapnya lirih.


"Sayang.... Mas tahu, Mas salah...tapi perlu kamu tahu sayang, Mas tidak pernah menghianatimu..." jelasnya.


"Entahlah....hanya kamu dan Allah yang tahu..."


"Terserah kamu mau berfikir seperti apa, tapi biarkan aku tetap disini, aku kangen banget sama kamu." ucapnya masih dengan posisi yang sama.


 


'Jujur...aku juga kangen Mas, tapi entah kenapa hati kecilku masih berat untuk mengakuinya...' ungkapan hati Lyvia.


Adrianpun bisa merasakan detak jantung Lyvia yang semakin kencang berdegup, nafasnya mulai tak beraturan. Bahkan bulu kuduknya mulai merinding.


'Aku tahu sayang...kamu juga menahan hasrat yang sama, tapi egomu mengalahkan rasa di hatimu...' kata hati Adrian.


Tak terasa air matanya mengalir hangat di pipinya, bersamaan dengan basah yang dia rasakan di pundak dan lehernya.


'Adrian....kau menangis, untuk apa tangisan itu...?'


"Mas....sudah siang, apa Mas tidak ke kantor...?" tanya Lyvia mengalihkan perhatian.


 


 


Memang sengaja Adrian minta izin untuk di rumah hari ini, karena tanpa Lyvia ketahui akan ada tamu yang datang kerumahnya nanti.


 


"Mas....jangan lebay ah..." Lyvia mencoba berontak ketika dirasakannya pertahanan Adrian mulai mengendor.


 


Tapi diluar perkiraan, adrian malah terduduk, bersujud di kakinya memohon ketulusan hati Lyvia.


Tidak ada yang bisa dia katakan, kecuali hanya derasnya tangisan.


"Mas .... aku, aku hanya minta satu hal... bersihkan aku jika memang Mas sudah tidak menginginkanku lagi..."


 


"Kamu ini berkata apa...?? aku tidak pernah menghianatimu Lyvia, Demi Allah...di hatiku hanya ada dirimu...jangan lagi kau ucapkan kata-kata itu..."


 


Tidak ada jawaban dari bibir Lyvia.


Adrian mulai berdiri dan meraih wajah Lyvia.


"Lihat aku Lyvia...tatap mataku, katakan dari lubuk hatimu yang paling dalam...apakah kau masih mencintaiku...?"


Lyvia menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Katakan dengan benar Lyvia...aku ingin mendengar langsung dari bibirmu..."


 


"Seharusnya aku yang tanyakan itu kepadamu Mas...kenapa kamu pergi meninggalkanku di saat aku membutuhkan perhatianmu, apa benar kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi...!" nada Lyvia terdengar meninggi.


"Tidak sayang...aku tidak pernah pergi darimu, dan aku tetap mencintaimu..."


"Lalu kemana kamu selama ini...?"


"Semua masih sulit aku jelaskan, aku bingung harus mulai dari mana...? yang jelas tidak ada penghianatan disini..."


 


Adrian menghapus air mata yang mengalir di pipi Lyvia. Dia raih dagu Lyvia, wajah mereka gini berdekatan.


"Percayalah...." bisiknya.


Lyvia merasakan hembusan nafas Adrian. Adrianpun menangkap bibir yang merah merekah itu dengan bibirnya.


Tak disangka, Lyvia membalas ciuman hangat Adrian. Tidak ada wanita di dunia ini yang menolak kelembutan sikapnya.


 


"Bunda..... dede' pulang...." terdengar suara Mama memanggil.


"Uuugghhh.....maaf" ucapnya lirih sembari mendorong dada Adrian hingga mundur kebelakang.


"Mama ......!" gerutu Adrian.


 


Tanpa sadar Adrian melihat sekilas bibir Lyvia yang tersenyum melihat tingkah aneh suaminya.


Dan ketika Adrian membungkukkan badannya ingin memperjelas pandangannya melihat senyuman itu, Lyvia segera pergi dengan meninggalkan pipi yang membekas merah merona karena malu.


 


"Iya sayang... Bunda datang..." teriaknya sambil berlari kecil ke lantai bawah.


"Adek lapar Bun...mau ***** dulu..." kata Mama.


 


Oooeekkk.... oooeekkk....


 


"Sini sayang....lapar ya...?" kata Lyvia menggendong putranya.


"Anak Ayah kenapa nangis...?" sambung Adrian.


 


Adrian yang dari tadi mengikutinya, gini mendaratkan tangannya di pinggang Lyvia.


Lyvia yang sedang menenangkan putranya, tidak bisa berkutik dengan perlakuan Adrian yang ikut menimang putranya dari belakang tubuh Lyvia.


Mama merasa bahagia melihat kemesraan mereka berdua.


'Alhamdulillah Ya Allah....semoga dengan kelahiran Al, membuat rumah tangga mereka utuh kembali' ucap syukur Mama dalam hati.


~ -----------------------------------


~ -----------------------------------


~ -----------------------------------

__ADS_1


__ADS_2