
Satu Minggu sudah perjalanan panjang mereka lalui berdua. Kini saatnya kembali pada aktivitas seperti biasa.
Inilah hari-hari Lyvia yang sesungguhnya. Dia tidak hanya berbagi fikiran untuk pekerjaannya tapi juga berbagai hati untuk keluarga barunya.
Sebagai istri yang baik, dia harus menyiapkan sendiri kebutuhan suaminya. Lyvia yang terbiasa dengan aktivitas dapur setiap pagi, bukan hal yang sulit untuknya berada di dapur.
Selesai menyiapkan seragam lengkap suaminya, dia menuju ke dapur membantu bibi menyiapkan sarapan.
Adrian tersenyum saat melihat semua perlengkapan kerjanya sudah siap di dekat meja rias.
"Selamat pagi sayang....wangi sekali, masak apa hari ini...?" tanya Adrian yang sudah siap dengan seragam lengkapnya.
"Ada nasi opor sama urap...Mas mau saya ambilkan sekarang...?"
"Boleh....." jawabnya singkat.
Segelas teh hangat dan menu komplit sarapan pagi mereka santap. Lyvia pergi ke kamar Mamanya.
"Mama...."
"Iya sayang..." jawab Mamanya dari dalam kamar.
Lyvia mendekat, dipeluknya Mama yang sedang merapikan bajunya sehabis mandi.
"Kenapa....?" tanya Mama sambil mencium pipiku.
"Mas Adrian sudah siap, kita sarapan yuk.."
Kami keluar menuju meja makan.
"Via...kamu sudah minum susu...?" tanya Adrian yang belum melihat istrinya minum susu pagi ini.
"Sudah mas...tadi selagi perut kosong, Via minum."
"Bi.... ingatkan Mbak Via kalau pagi buat minum susu ya...." kata Adrian kepada Bibinya.
"Siap Mas...." jawabnya.
"Oya Mas....aku hari ini sudah bisa mulai kerja lagi kan...?" tanya Lyvia yang sedikit takut untuk menyampaikan maksudnya.
Adrian masih diam, belum terdengar ada jawaban darinya.
"Untuk sementara kamu boleh masuk, tapi sekedar membereskan pekerjaanmu. Setelah itu cukup di rumah saja." jawab Adrian tegas.
"Sebaiknya begitu Via... nanti kalau jenuh di rumah, kan bisa main kerumah Ibu." Kata Mama memberikan nasehat.
Lyvia menurut apa kata Suaminya, apalagi kalau dia sudah aktif di bhayangkari, pasti waktunya sudah habis disana.
"Sayang....aku berangkat dulu ya..." Adrian mencium kening Lyvia dan seperti kebanyakan suami istri lainnya, Lyvia pun mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati sayang....nanti aku juga pamit berangkat ya...?" pamitnya pada Adrian.
"Oya....jingga sudah siap, kamaren baru selesai aku servis karena lama gak dipakai takutnya ngadat."
"Terimakasih sayang...." jawab Lyvia. Diciumnya pipi suaminya tanda terimakasih.
Adrian sudah berangkat terlebih dahulu. Dia harus berangkat lebih awal karena harus memimpin apel pagi ini.
***
Gini giliran Lyvia yang bersiap untuk berangkat kerja. Dia masih dikamar, memutar-mutar tubuhnya di depan kaca. Dia merasa bajunya agak kurang nyaman.
'Apa aku tambah gendut ya...?' tanyanya sendiri.
'Biarin ach... mungkin karena lama gak di pakai...' gumamnya sendiri.
__ADS_1
"Mama... Lyvia berangkat dulu ya...?"
Pamitnya kepada Mama yang sedang duduk di ruang tengah.
"Iya sayang.... hati-hati dijalan ya..."
Kucium punggung tangan Mama dan beliau membalas dengan mencium keningku.
Lyvia berjalan ke garasi dan menemukan apa yang dia cari.
'Ohh...jingga, aku kangen....! lama sekali rasanya aku tidak mengendarai mobil ini...' teriaknya sendiri di dalam mobil.
"Bismillah....kita berangkat ya..." celotehnya sendiri.
Sesampainya di dealer, semua menyambut kedatangannya.
"Selamat datang kembali Mbak Via..." sapa mereka.
"Terimakasih....jadi kangen kalian." kupeluk staf cewekku satu persatu.
"Mbak Via...ini kado dari kami semua..." kata Diana memberikan sesuatu.
"Apa ini...kok repot-repot segala..."
Lyvia menerima satu buket bunga dan satu kotak kado.
"Boleh saya buka....?" kataku meminta izin.
"Silahkan Mbak...." jawab mereka.
Mulai kubuka sampul luar dari kotak tersebut. Ada sebuah sprei lengkap dengan bedcover dan satu pasang piyama untuk pria dan wanita.
"Alhamdulillah....terimakasih banyak, semoga berkah..." kupeluk kembali mereka semua membentuk lingkaran kekeluargaan.
"Oya Mbak Via...banyak yang akan kami laporkan." kata Diana.
"Iya Din....bawa ke ruanganku ya..."
Diana masuk dengan setumpuk file yang harus saya ketahui. Mulai dari laporan penjualan sampai laporan keuangan.
Seharian ini Lyvia disibukkan dengan pekerjaannya yang menggunung.
"Mbak Via... belum pulang, sudah sore loo..." kata Diana mengingatkanku.
"Iya Din...bentar lagi selesai, biar besok tinggal Email ke kantor pusat." jawabku, masih dengan kesibukan jariku.
"Baik Mbak...saya pamit dulu ya..." pamitnya.
"Oke, hati-hati Din...."
Hampir pukul 5 sore, segera kurapikan berkas-berkasku. Suasana sudah sepi, tinggal Pak Arif penjaga malam yang baru datang.
"Baru pulang Bu....?" sapanya.
"Eh...Pak Arif, iya Pak....saya tinggal dulu ya.." jawabnya.
Pak Arif membantu Lyvia untuk memberikan aba-aba ketika mau keluar tempat parkir.
"Pak....maaf, ini ada sedikit bonus untuk Bapak..."
Lyvia memberikan amplop berisi tiga lembar ratusan ribu sebagai bonus karena telah menjaga dealer dengan baik.
"Alhamdulillah... terimakasih banyak Bu, semoga berkah, manfaat..." jawabnya sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Aamiin....saya permisi dulu ya Pak.."
Aku harus segera pulang, gak baik kalau Mas Adrian pulang terlebih dahulu.
Sesampainya dirumah, garasi masih kosong. 'Apa Mas Adrian belum pulang...?' gumamnya dalam hati.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam...." jawab Mama yang sedang duduk di meja makan dengan Bibi.
Kujabat tangan beliau.
"Mas Adrian belum pulang Ma...?"
"Belum Nak..."
"Oh...iya Ma, Via mandi dulu Ma..."
Lyvia berbalik kembali ke ranjangnya, Handphonenya berbunyi ketika mau membuka pintu kamar mandi.
("Halloo... Assalamu'alaikum mas...")
("Wa'alaikumsalam sayang.... sudah pulang....?")
("Sudah Mas...ini baru mau mandi...")
("Ya sudah...bentar lagi Mas pulang, habis magrib Mas mau ajak kamu keluar")
Seharian tadi, Lyvia tidak sempat menghubungi suaminya. Semua karena waktunya terkuras untuk pekerjaannya.
Tadinya dia fikir kalau suaminya akan marah karena tidak diperhatikan. Ternyata dia salah, karena jika kita berfikir positif maka kebaikan yang akan selalu kita dapatkan.
Adrian sudah berada di rumah, ketika Lyvia keluar dari kamarnya.
"Sayang... habis magrib nanti kita ketempat Prima, ya..." katanya, terlihat ada raut bahagia di wajahnya.
"Ada acara apa mas...?" tanya Lyvia penasaran.
" Istri Prima baru saja melahirkan..."
"Ohh... Alhamdulillah, Mama mau ikut...?" tawarku pada Mama.
"Pengen ikut, tapi Mama lagi gak enak badan sayang...." kata Mama sambil memijat-mijat tangannya.
"Mama sakit....?" tanya Lyvia diikuti Adrian.
"Enggak sayang....gak tau ini, badan rasanya pegal-pegal..." jawabnya.
"Pijat ya Ma....? Via punya tukang pijat langganan Via..."
"Boleh-boleh....besok kamu undang kesini."
Kata Mama mengiyakan tawaran Lyvia.
Adrian segera membersihkan diri setelah memastikan Mamanya baik-baik saja.
Lyvia sudah menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Meskipun Adrian type orang yang mandiri, namun sudah menjadi kewajibannya untuk menyiapkan semua keperluannya.
Usai magrib, Lyvia dan Adrian berangkat ke rumah Prima.
Mereka tidak berani membangunkan Mama yang kelihatannya sedang istirahat di dalam kamar, dan hanya berpesan kepada Bibi
~ ---------------------------
~ ---------------------------
__ADS_1
~ ---------------------------