
Dia menutup pintu ruangannya kembali dan terlonjak kaget ketika berbalik badan mendapati sahabatnya sudah berdiri berkacak pinggang di belakangnya.
"Apa....? apa lagi yang sedang kau mainkan Adrian...?" tanya Prima kesal.
Adrian tidak menjawab pertanyaan Prima, tapi segera berlari mencari sesuatu.
"Rian...aku bicara sebagai sahabat dan saudaramu...tolong jelaskan padaku, apa yang barusan aku lihat...!" suara Prima parau dan ada nada penegasan disana.
"Sebentar Prim...aku mencari handphoneku..." jawabnya masih dengan sikap kebingungan.
"Handphone.... bukannya ini handphone kamu...?" kata Prima menunjukkan sebuah HP yang ada di meja kerjanya.
"Bukan, bukan...handphone yang satunya..."
Prima diam tanpa komentar, dia mencerna kata-kata Sofia dan dihubungkan dengan kebingungan Adrian kali ini.
Apa sepenting itu Sofia dimata Adrian saat ini, sampai dia menyediakan handphone khusus untuknya.
"Jadi...sudah sejauh itu hubungan kalian...?" tanya Prima kecewa.
"Prim....jangan salah paham dulu, sebenarnya aku ingin ceritakan ini padamu. tapi, belum sempat aku ceritakan..."
Dia memotong ucapan Prima, sebelum ada kesalah pahaman diantara mereka. Adrian yakin, kalau sahabatnya itu sedang marah besar padanya.
Adrian menghentikan bicaranya.
"Apa...kenapa diam...?"
"Lyvia Prim....jangan-jangan handphoneku tertinggal di rumah, dan ketika Sofia menghubungiku, dia yang mengangkatnya.." terangnya cemas.
"Gila-gila....! kamu benar-benar gila Rian...! apa yang kamu lakukan...." komentarnya geram.
"Apa kamu tidak memikirkan kondisi istrimu, dia sedang hamil Rian...."
Prima mengacak rambutnya sendiri.
Tidak bisa dia bayangkan apa yang akan terjadi jika sampai Lyvia mencium gelagat Adrian.
"Prim... tolong hubungi nomor handphone itu, tanyakan kepada Lyvia Prim... bilang kalau itu HP kantor...."
"Apa kamu masih menganggapku sebagai temanmu....?"
"Prim....kamu ini ngomong apa...? bahkan kamu sudah seperti saudaraku sendiri..."
"Kalau begitu... tinggalkan perempuan itu, dia hanya akan membawa petaka untukmu Rian..."
"Iya... sekarang tolong hubungi Lyvia dulu..."
Demi keutuhan rumah tangga sahabatnya, Prima rela melakukan hal tersebut.
Dan benar saja, Lyvia mengangkat ketika ada nomor kantor yang masuk ke handphone tak bertuan itu.
Prima. : "Lo....kok Lyvia yang angkat, Adrian
mana...? apa dia tidak ke kantor...?"
katanya basa-basi.
Lyvia. : "Mas Prima...ini handphonenya
__ADS_1
tertinggal di rumah, Mas Adrian
tadi ke kantor..."
Prima. : "Oya... kebiasaan Adrian itu, karena
kami para staf biasanya
berkomunikasi memakai
handphone kantor, coba aku ke
ruangannya, mungkin dia di sana
atau biar saya hubungi nomor
pribadinya.
Lyvia. : "Iya Mas...."
ucapku mengakhiri sambungan teleponnya. Adrian bernafas lega, namun Prima meletakkan gagang telepon dengan kasar.
"Puas kamu....!"
"Prim.....aku bisa jelaskan..." ucap Adrian, berharap sahabatnya mau mendengarkan penjelasannya kali ini.
Prima meletakkan pantatnya kembali di sofa, dia ingin mendengarkan penjelasan sahabatnya.
"Ayo... sekarang apa yang akan kau jelaskan....?" tanyanya antusias.
"Sebenarnya aku hanya kasihan padanya, dia sebatang kara disini dan dia dalam kondisi hamil... " Adrian menghela nafas untuk melonggarkan dadanya.
"Dia terjebak dalam pernikahan poligami, Dia hanya dijadikan istri kedua... dia bilang istri pertama menjebaknya seolah dia berselingkuh dengan orang lain dan suaminya percaya... makanya dia kembali ke sini, tapi sialnya ketika dia baru beberapa hari bersama neneknya, beliau sudah meninggal karena sakit menahun, sedangkan orang tuanyapun tidak peduli lagi padanya..." lanjutnya kemudian.
"Dan kamu percaya begitu saja....?"
"Itu bukan urusanmu Adrian...."
"Itu menjadi urusanku, karena dia meminta tolong kepadaku... awalnya dia akan gadaikan sertifikat rumahnya dan aku berjanji akan membantunya untuk biaya persalinan..."
"Apa kamu masih mencintainya....?"
Adrian tidak menjawab pertanyaan Prima, dia hanya menundukkan kepalanya sambil menggeleng.
"Aku sudah menguburnya dalam-dalam Prim...." ucapnya lirih.
"Munafik...." maki Prima.
"Kamu cari penyakit Adrian....sampai kapan kamu akan membantunya...! apa yang akan kamu lakukan...! apa kamu tidak pikirkan perasaan istrimu...!"
nada suara Prima terdengar meninggi.
"Maaf Prim.... sepanjang kamu diam, Lyviapun tidak akan tahu..." pintanya.
"Tapi apa yang kamu lakukan itu sudah dibatas kewajaran, sampai-sampai kamu bikinkan handphone khusus untuk dia bisa menghubungimu...." komentarnya kesal.
"Tapi aku lakukan itu untuk menjaga perasaannya Prima...." katanya masih membela diri.
"Oke...oke...aku diam, aku tidak akan ikut campur urusanmu ....tapi ingat sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga....dan disaat itu terjadi, jangan pernah hubungi aku untuk membantu menyelesaikannya...." kata Prima menyudahi obrolannya kali ini.
"Prim...." Adrian berdiri mencegah kepergian prima dari ruangannya.
Tapi Prima menampik tangan Adrian.
__ADS_1
"Dan satu hal lagi....kalian berdua sudah seperti saudara kandungku, jika sampai kau menyakiti saudariku...aku tidak akan pernah mengenalmu lagi..." tegas Prima memberikan ancaman.
Prima meninggalkan tempat itu dengan keadaan marah. Dia menutup pintu ruangan itu dengan sedikit membantingnya.
Adrianpun terduduk lemas di sofa ruangannya.
'Ya Allah....apa yang sudah aku lakukan, kenapa aku tidak bisa mengendalikan sikapku sendiri....' ucapnya dalam hati.
Adrian meraih handphone pribadinya, dia kirimkan pesan kepada Sofia.
("Sof...jangan hubungi nomor yang aku berikan khusus untukmu, karena handphone itu tertinggal di rumah dan sekarang ada pada Lyvia istriku...")
("Iya mas....tapi Mas jadi kan belikan
Sofia perlengkapan bayi hari ini...?")
("Iya ...nanti aku jemput sepulang kantor")
Adrian melemparkan handphonenya ke sofa, pikirannya kalut, wajahnya nampak kusut.
Semua sudah terlanjur basah, Adrianpun terlanjur masuk dalam permainan kehidupan Sofia.
"Maafkan aku sayang...aku hanya ingin membantunya sampai dia mendapatkan kebahagiaannya kembali..." ucapnya lirih sembari memandangi foto pernikahan mereka yang dipajang di meja kerjanya.
Dia ambil kembali handphonenya. Rasa bersalahnya menggerakkan hatinya untuk menghubungi istrinya.
Tut....Tut...Tut....
Lyvia. : "Assalamu'alaikum...."
Prima : "Wa'alaikumsalam sayang...."
Lyvia. : "Ada apa Mas....?"
Prima : "Lagi ngapain sayang....sudah makan
belum...?"
Lyvia. : "Belum..."
Prima. : "Makan sayang...jangan biarkan
putraku kelaparan..."
Lyvia terdiam sebelum menjawab salam penutup dari Adrian.
'Apakah ini caramu menutupi kebohongan Mas....? dengan bersikap romantis seolah tidak ada apa-apa yang terjadi...'
***
Sore itu Lyvia masih tertegun mengingat kembali saat menerima panggilan Prima dari handphone misterius itu.
"Prima ...kenapa kamu juga ikutan berbohong padaku...?" gumamnya sendiri
Lyvia menyadari kalau memang ada yang mereka sembunyikan.
'Kalau memang itu handphone khusus staf kantor, seharusnya ada tersimpan nomor-nomor yang biasa menghubungi...tapi ini tidak, dan perempuan itu...dia dengan fasih menyebut nama Adrian....' fikir Lyvia.
Lagi-lagi dia harus mengeluarkan air matanya. Untuk apa aku menangis....?
Mas Adrian....aku hanya butuh kejujuranmu...
Klunting.....
Satu pesan masuk di handphone Lyvia.
("Sayang.... Mas pulang agak telat hari ini, ada beberapa hal yang harus Mas selesaikan...")
Lyvia hanya membaca pesan itu, tanpa berminat untuk membalasnya.
~ ------------------------------
~ ------------------------------
~ ------------------------------
__ADS_1