
Hari ini hari pertama Lyvia dengan keluarga barunya. Setelah selesai sholat subuh, Lyvia pergi ke dapur. Disana sudah ada Bibi yang menyiapkan sarapan.
"Sudah Mbak Via...biar Bibi yang kerjakan." pintanya pada Nyonya barunya itu.
"Gakpapa Bi....Via sudah biasa, jadi biarkan Via membntu ya...sambil nunggu cucian beres di mesin cuci."
"Looooo....kenapa Mbak Via yang mencuci, itukan juga tugas Bibi..." protesnya pada Lyvia.
Lyvia tersenyum...
"Bibi...mulai hari ini, Via akan membantu meringankan tugas Bibi. Jika Via tidak ada kerepotan lain, biarkan Via urus pakaian Mas Adrian, kalau perlu punya Mama juga biar Via yang kerjakan, jadi...Bibi cukup mengerjakan yang lain." terangnya panjang lebar.
Bibi merasa canggung dengan permintaan Lyvia. 'Mana bisa dia diperlakukan istimewa seperti itu, bagaikan makan gaji buta.' gumamnya dalam hati.
Lyvia membantu bibi menata menu di atas meja makan. Mama masih belum kelihatan keluar dari kamarnya.
"Mama di mana Bi...?" tanya Lyvia.
"Tadi habis dari dapur Mbak... mungkin sedang mandi."
Mungkin, karena terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi Mamanya.
Lyvia kembali menengok cuciannya. Selesai menjemur pakaian dia ke taman belakang untuk mencari suaminya.
Via mendapatkan Suaminya sedang duduk di taman belakang.
"Mas...mau aku buatkan kopi...?"
"Iya...boleh..."
Tak berapa lama aku bawakan secangkir kopi dan cemilan untuk pendamping paginya.
"Terimakasih sayang...."
"Sama-sama..." jawabnya sambil berlalu ke dalam rumah.
"Ehh.....mau kemana...?" tanya Adrian sembari meletakkan kembali kopinya.
Lyvia berbalik dan menjawab pertanyaan Adrian.
"Mau mandi mas....." katanya.
"Sini dulu...ada yang mau aku sampaikan..."
Lyvia Kembali duduk di samping suaminya.
"Via...aku mendapatkan cuti menikah selama 1 Minggu, apakah kamu ingin pergi ke suatu tempat...?" tanya Adrian menawarkan.
Lyvia masih terdiam, entah kemana yang dia inginkan.
"Lyvia ikut aja apa kata Mas..."
Ibu yang dari tadi mendengar pembicara mereka, jadi ikut memberikan usul.
"Ambil Nak.....jangan sia-siakan waktu, selagi kita bisa...kenapa enggak...?"
Ibu duduk bergabung di taman belakang dan mendengarkan putranya berunding.
"Kamu mau kemana sayang...apa kamu ingin ke Bali...?" kata adrian memberi ide.
"Enggak Mas...kita ke Villa yang di Sarangan saja...." jawabnya.
__ADS_1
Adrian mengangkat dahinya hingga berkerut. Dia heran kepada istrinya. Disaat yang lain merengek minta pergi honeymoon ke Bali, tapi wanita ini malah menolaknya.
"Di Villa cuacanya lebih bagus, udaranya lebih bersih tidak bising seperti di Bali." jawab Lyvia memberikan pendapat.
"Ibu rasa istrimu benar Nak... disamping itu dilihat dari jarak tempuhnya, kalian bisa lebih lama bulan madunya. Kalau di Bali habis waktu di jalan. Kapan Mama dibikinkan cucu...." kata Mama mengiyakan pendapat Lyvia.
"Ok...kita berangkat nanti siang..." kata Adrian sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Mas....kok buru-buru, gak besok saja..."
"Mau menurut atau saya hukum..." jawabnya, seraya usil nabok pantat Lyvia.
"Bukan Adrian namanya kalau punya kemauan harus dituruti..." sela Mama.
Mama & Lyvia segera bangkit mengikuti Adrian menuju meja makan.
"Mama mau ikut kita liburan....?" tanya Lyvia setelah berada di tempat duduknya.
Adrian yang sedang minum tersedak mendengar tawaran Lyvia kepada Mamanya. Mamapun tertawa melihat hal tersebut.
"Sayang...kalian mau bulan madu kok ngajak Mama....?" komentar Mamanya.
"Kadang aneh juga nich anak..." Adrian yang gemas, mulai mengacak-acak rambut Lyvia.
"Aaaahhhhhkkkk....Ma....Mas Adri Ma..." Lyvia pun merengek minta perlindungan Mamanya.
"Adrian....ayo selesaikan sarapan kalian, terus kemas-kemas apa yang mau kalian bawa." pinta Mama.
Siang itu Lyvia sudah siap dengan barang bawaannya. Mereka tidak membawa barang ataupun pakaian terlalu banyak. Karena pakaian Adrian masih banyak yang disimpan di Villa. Dulu Adrian sering ke tempat itu, sekedar untuk menghilangkan rasa penat.
"Ini saja yang kalian bawa....?" tanya Mama yang heran dengan bawaan Lyvia.
Pergi hampir satu Minggu tapi cukup dengan satu travel bag saja. Itupun kebanyakan perlengkapan Lyvia.
"Iya Ma....baju Adrian masih banyak yang ada di sana." jawab Adrian.
"Ya sudah....hati-hati ya Nak, jangan lupa oleh-oleh untuk Mama..."
"Mama mau dibawain apa....?" tanya Lyvia.
"Oleh-oleh special buat Mama...Cucu yang lucu..." Lyvia tersenyum mendengar permintaan Mamanya.
"Siap Ma...." jawab Adrian antusias.
Perjalanan lancar hari ini. Karena bukan hari libur atau bukan waktunya liburan. Cuma memakan waktu 5 jam perjalanan mereka sudah sampai ditempat tujuan. Waktu itupun sudah terpotong untuk mampir-mampir kesana kemari.
Pak Amat sudah menjemput mereka di depan. Sebelumnya Adrian sudah menghubungi beliau.
"Wahhh.... pengantin baru, Selamat Mas...Mbak Via, semoga langgeng...maaf, bapak tidak bisa hadir...maklum tidak ada yang antar..." jelasnya kepada kami.
__ADS_1
"Aamiin...terimakasih do'anya Pak Amat, gakpapa Pak... yang penting diberikan kesehatan semua..." jawabku sembari menjabat tangan Pak Amat.
"Oya Pak...ini sedikit oleh-oleh..." Kuserahkan satu paper bag yang berisi macam-macam jajanan khas. Mas Adrian juga menyisipkan satu amplop berisi uang 500 ribu bonus buat Pak Amat.
"Ini apa Mas....gaji saya bulan ini kan sudah saya terima...?"
"Gakpapa Pak...rasa terimakasih dari kami sekeluarga, anggap saja bonus buat Bapak." jawab Mas Adrian.
"Alhamdulillah.... terimakasih banyak Mas, semoga berkah manfaat....." do'a Pak Amat untuk kami.
"Aamiin...." jawab kami hampir bersamaan.
Pak Amat membantu membawakan travel bag yang di keluarkan Adrian dari bagasi.
Lyvia masuk terlebih dahulu, dia menuju sofa. Diselonjorkan kakinya yang terasa kram, mungkin karena kelamaan duduk.
Pak Amat pamit setelah selesai membantu Adrian memasukkan kopernya ke dalam.
"Mas...Mbak...maaf saya tinggal dulu, selamat istirahat..."
"Iya Pak... terimakasih, maaf ini kaki saya agak kram..." jawab Lyvia.
"Iya Mbak.... istirahat dulu saja..."
Adrian menghampiri istrinya yang sibuk memijat kakinya.
"Kenapa sayang....?" tanyanya sambil meraih kaki Lyvia di pangkuannya.
"Gak tau yang... tiba-tiba seperti kram..."
Adrian mengurut pelan otot-otot Lyvia yang kaku. Terdengar suara mengaduh ketika Adrian mengurut bagian yang sakit. Adrian mengurutnya berulang-ulang, sampai otot betis Lyvia terasa lemas.
"Sudah enakan....?" tanya Adrian. Tangannya menepuk-nepuk betis Lyvia yang tadi terasa kaku sekarang sudah lemas kembali.
"Iya sayang....dari mana kamu bisa ilmu pijat....?" tanya Lyvia menggoda. Tangannya merangkul lengan Adrian, dagunya disandarkan di bahu kanan suaminya itu.
Adrian mengernyitkan dahinya.
"Dari Mata turun ke betis...." jawabnya setengah meledek.
"Mas....." panggilnya manja.
"Hhhhhmmmmm...."
"Mandi yuk...." bisik Lyvia.
Adrian tidak menjawab. dia angkat tubuh istrinya ke kamar.
"Mas....."
"Apalagi...."
"Pintu depan belum di tutup...." kata Lyvia yang membuat Adrian tertawa.
Dia bergegas menutup dan mengunci pintu utama. Sedangkan Lyvia menyiapkan air hangat untuk mereka berendam di bathtub.
~ -----------------------------
~ -----------------------------
__ADS_1
~ -----------------------------