MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 68. Albiansyah Putra Maulana


__ADS_3

 


Hari ini, hari ke empat Lyvia bangun dari tidur panjangnya. Selama itu pula Lyvia belum banyak bicara, bahkan dengan Adrian sekalipun.


 


Dia lebih banyak mengumbar senyum dari pada mengucap kata. Sesekali dia bicara kepada Mama atau Ibunya jika perlu saja.


 


"Selamat pagi...? Ibu Lyvia... bagaimana pagi Ibu hari ini...? sudah enak makan...?" tanya Dokter yang memeriksanya pagi itu.


"Sudah...." itu saja jawabannya.


 


Selebihnya, dia balas dengan senyuman senyuman kecil.


"Alhamdulillah... kondisi Ibu semakin membaik, Insha Allah siang ini sudah boleh pulang..." kata Dokter menjelaskan.


 


"Terimakasih..." hanya satu dua kata saja yang keluar dari bibirnya.


"Bapak Adrian, silahkan membawa ini ke loket administrasi..." kata suster memberikan selembar kertas pengantar.


 


Kebetulan hari itu bukan giliran Ibu yang jaga. Mama dibantu Bi Inah yang membereskan perlengkapan Lyvia selama di rumah sakit.


Sedangkan Adrian bergegas menuju loket untuk menyelesaikan administrasi.


Lyvia yang sudah dua hari ini, belajar menapakkan kembali kakinya dengan bantuan suster, kini dia harus belajar sendiri tanpa bantuan orang lain.


 


"Sayang...kamu tunggu Adrian sebentar di sini ya, Mama mau bantu Bibi bawa tas ini ke mobil..." kata Mama.


 


Lagi-lagi Lyvia hanya menganggukkan kepalanya.


Brruuukkkk....


Dia hampir terjatuh saat turun dari ranjang perawatan.


"Sayang..." panggil Adrian yang dengan sigap ingin memapah istrinya.


Namun tangan itu ditampiknya oleh Lyvia. Dia berusaha sendiri untuk membenahi posisi duduknya.


Meskipun tersiksa hatinya karena didiamkan begitu saja, tapi Adrian menyadari keadaan psikis jiwa Lyvia yang belum bisa menerimanya kembali.


Memang...sejak dia tertidur lama, kakinya terasa ngilu untuk menopang tubuhnya sendiri. Mungkin itu efek dari kakunya otot-otot kaki Lyvia selama tidur panjangnya.


 


"Ibu Lyvia.... silahkan, biar kami bantu untuk menuju ke mobil..."


 


Adrian berjalan terlebih dahulu untuk menyiapkan mobilnya di depan pintu keluar rumah sakit.


 


"Terimakasih Sus..." ucapnya sembari menerima putranya yang tadinya dalam gendongan suster.


"Via...apa kamu sudah persiapkan nama untuk cucu Mama...?" tanya Mama memecah kesunyian dalam perjalanan pulang.


"Belum Ma...."


"Karena sudah terlalu lama, besok Mama mau adakan aqiqah untuk cucu Mama, bagaimana menurutmu...?"

__ADS_1


"Via ikut apa kata Mama saja..." komentarnya lirih.


 


Sesampainya di rumah, Mama membantu untuk menggendong putranya. Sedangkan Lyvia berusaha berjalan sendiri menuju kamarnya.


 


"Ma....apa boleh Via tidur di kamar tamu bawah...?" pintanya dengan alasan karena kondisi dia saat ini, belum berani naik turun tangga.


"Baiklah sayang...biar nanti dibereskan Bibi terlebih dahulu..." jawab Mama yang sebenarnya paham betul, kalau dia akan menghindari Adrian.


 


'Biarlah.... mungkin dia masih butuh waktu untuk bisa menerima suaminya kembali.' bisik Mama dalam hati.


*****


Malam ini, acara aqiqah putranya yang sudah direncanakan Mama jauh-jauh hari.


"Sayang....ini nama putra kita, bagaimana menurutmu...?" kata Adrian meminta pendapat.


°Albiansyah Putra Maulana° : anak laki-laki yang pandai dan bisa melindungi.


'Nama yang bagus, semoga kelak kamu tumbuh dengan sehat dan berhati mulia seperti namamu... Aamiin.' do'a Lyvia dalam hati.


Lyvia hanya menganggukkan kepalanya, sembari mengembalikan kertas yang diberikan Adrian.


Adrian menggendong putranya keluar ketika dilantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan Sholawat Nabi.


Ooeeekkk.... ooeeekk...ooeeekk...


Terdengar tangis Al...saat prosesi potong rambut. Lyvia ikut menitikkan air mata. Sebenarnya dia bahagia, karena putranya masih bisa menikmati gendongan Ayahnya.


Tapi entah kenapa, hati ini masih membeku jika bertemu dengannya. Bayang-bayang penghianatan selalu terlintas di benaknya.


Meskipun begitu, Adrian tidak pernah menyerah untuk mendapatkan kembali hati Lyvia.


 


"Sayang....hari ini jadwalmu dan Al kontrol kan...?" ucapnya pagi itu.


 


Sebenarnya hati Lyvia trenyuh melihat perhatian dan kesabarannya. Bahkan sampai jadwal kontrolnya saja dia ingat betul. Padahal Lyvia sendiri saja tidak ingat, karena dirasa tubuhnya sudah enakan.


 


"Selamat siang Ibu... bagaimana, sudah sehat...?" sapa Suster yang dulu merawat dia sewaktu koma.


"Alhamdulillah.... sudah baikan Sus..."


"Halloo ganteng... siapa namanya Bun...?"


"Albiansyah Sus...."


"Barokalloh.... Sholeh ya Nak, ganteng banget putranya Bun...." sapa Suster yang lainnya lagi.


 


Dalam sekejap, Baby Al jadi pujaan setiap mata yang memandang. Tidak bisa dipungkiri, dia mewarisi kharisma Ayahnya.


Aku memang membiasakan putraku dengan memanggilku Bunda, karena keegoisanku waktu itu ketika Adrian menyapaku dengan sebutan Mama, entah kenapa aku merasa jijik mendengarnya.


Yang terbayang di pikiranku hanya kedekatan dia dengan perempuan itu.


*****


"Ma....hari ini Via mau ajak Al untuk berkunjung ke rumah Ibu..." izin Lyvia kepada Mamanya.


Hari ini, genap 40 hari kelahiran putranya. Kalau orang Jawa bilang waktunya 'Muncul' atau berkunjung keluar rumah untuk dikenalkan kepada saudara dan kerabat yang lain.

__ADS_1


 


"Iya sayang.... Mama izinkan, tapi menunggu Adrian pulang kantor ya..."


"Iya Ma....Via persiapkan keperluan Al dulu ya Ma...."


 


Bagaimana pun dia masih istri sah dari Adrian, jadi kemanapun dia pergi harus tetap atas izin suaminya.


Lagipula, Lyvia harus tetap memperlihatkan kebahagiaannya di depan orang tuanya sendiri. Sebagai istri yang baik, dia harus bisa menutup aib rumah tangganya rapat-rapat.


*****


("Iya Ma...nanti Adrian pulang lebih awal...") katanya kepada Mama melalui telepon selulernya.


Adrian menopang kepalanya di meja kerjanya dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


Prima yang kebetulan lewat di depan ruangannya, melihat tingkah Adrian dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna.


 


"Adrian....."


"Hhhhmmmmm....." jawabnya kaget dengan kedatangannya.


"Apa ada masalah...?"


"Ohh .... tidak..." jawabnya bohong.


"Aku mengenalmu Adrian dan aku tahu kapan kamu jujur dan kapan kamu berbohong..."


"Entahlah Prim....aku bingung dengan sikap Lyvia...sejak aku kembali, sampai saat ini, dia masih menjauhiku..." ucapnya setengah berbisik.


"Kalau itu....aku bisa maklum, namanya juga perempuan, pasti sensitif kalau berhubungan dengan hati..."


"Iya....tapi aku sudah berusaha menjelaskan sejujur-jujurnya, bahkan aku berusaha menunjukkan sikap yang layak untuk dia pertimbangkan, tapi... hasilnya...nihil..." keluhnya lagi.


"Apa kalian belum tidur sekamar sampai hari ini....?"


"Ya belum lah...dideketin aja gak mau, bahkan aku gak tahu dia sudah selesai nifas apa belum..." gerutunya lagi.


"Ahahahaha....jadi ceritanya ada yang lagi puasa panjang nich..."


"Sialan loo...." umpatnya sembari melemparkan remasan kertas ke tubuh Prima.


"Lalu....apa rencanamu...?" tanya Prima.


"Aku sendiri juga belum tahu, yang jelas aku akan tetap berusaha mengejar kembali cinta Lyvia...."


"Baguslah....itu yang sebenarnya ingin aku dengar, sabarlah...karena Lyvia pernah merasakan hal yang lebih sakit dari yang kamu rasakan sekarang..."


"Ya ...aku menyadari akan hal itu..." katanya sambil berdiri membereskan pekerjaannya di meja.


"Kamu mau kemana...?"


"Aku akan antarkan Via dan putraku ke rumah Ibu, hari ini waktunya dia berkunjung..."


"Ohh.... baiklah, aku juga akan keluar sebentar"


 


Prima mengantarkan kepergian Adrian sampai tak terlihat olehnya. Baru kali ini nampak keseriusan di wajahnya.


'Aku akan berusaha untuk membantumu mengembalikan keutuhan rumah tanggamu Adrian...' gumamnya dalam hati.


~ --------------------------------------


~ --------------------------------------


~ --------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2