MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 6. Perasaan Yang Hilang


__ADS_3

 


"Pagi kakak ku cantik."


"Pagi centil." kucubit gemas dagunya membalas ucapan selamat pagi Kania.


 


"Lyvia...mana mobilmu, semalam kamu pulang naik apa ?" tanya ibu yang melihat mobilku tidak ada di garasi.


"Lagi di bengkel Bu....kemaren mogok, Via pulang nebeng temen." jawabku menjelaskan.


"Terus ini mau berangkat bareng Kania ?"


 


 


sambungnya kembali.


 


"Ehmmm....tidak usah, aku pesan ojek online saja, terlalu pagi kalau bareng Kania."


 


komentarku lagi.


 


"Ya sudah...aku berangkat duluan ya kak...emuachh." pamitnya sambil mencium pipiku.


 


Kania mengucap salam sambil berlalu melajukan motornya. Lyvia masih duduk di teras depan rumahnya, sambil menunggu waktu dia membuka aplikasi ojek online.


Belum sempat dia menekan tombol 'Pesan'.


*Din din....


Lyvia menoleh ke sumber suara.


 


"Mau bareng ?" suara seseorang dari belakang kaca mobilnya.


 


"Adrian ?" gumamnya heran.


 


 


Kulangkahkan kakiku menghampirinya. Sebelumnya berpamitan kepada Ibu untuk berangkat kerja.


 


"Kamu... kebetulan lewat atau ?" belum selesai Lyvia tanya sudah ditimpali oleh Adrian.


"Atau sengaja menjemput mu ?" mereka sama sama tertawa.


 


"Ya...aku sengaja menjemput mu." jelasnya kemudian.


"Aku tau hari ini kamu pasti mau pesan ojek online bukan ?" lanjutnya.


"Iya... pihak bengkel janji siang ini mobilku sudah bisa digunakan, jadi lebih baik berangkat ikut abang ojol."


 


 


Tidak ada jawaban, adrian fokus dengan kemudinya. Lyvia pun terdiam, pandangannya tertuju keluar jendela.


*Kring....kring...kring....


("Halloo....")


("Oya....kapan ?")


("Oke oke.... sebentar lagi saya sampai kantor.")


("Ya...kita bicarakan nanti.")


Entah apa yang mereka bicarakan, hanya suara Adrian yang aku dengar.

__ADS_1


Sebenarnya aku ingin menanyakan perihal 'jingga' yang dia sebut semalam. Tapi kelihatannya situasi tidak memungkinkan.


Adrian kelihatan sibuk dengan telepon yang berdering berkali-kali dari sebrang yang menghubunginya.


Hingga sampai lah mereka di depan dealer tempat kerja Lyvia.


 


"Saya langsung jalan ya."


"Iya, terimakasih sudah diantar." Kuanggukkan kepala sembari melambaikan tangan kearahnya.


 


"Cie-cie....siapa tu ?" ledek teman-teman kerjanya. Karena mereka tidak pernah sama sekali melihatnya diantar laki-laki ketempat kerja.


 


 


Lyvia yang sedikit tertutup dengan kehidupan pribadinya, merasa tidak perlu menjawab pertanyaan mereka.


Hanya kibasan tangannya yang mewakili jawabannya.


Hari ini suasana kantor sedikit sepi. Hanya satu dua orang yang mampir sekedar tanya - tanya tentang produk kami. Setiap devisi sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Para sales juga sudah keluar menjemput bola.


Entah kenapa... perasaan Lyvia sedikit tidak tenang. Dilipatnya kedua tangan ke meja kerjanya. Sesekali dia lihat HPnya yang terdiam tanpa suara.


Dalam hati dia menunggu seseorang menghubunginya. Ada keinginan untuk mengirim pesan terlebih dahulu. Namun niat itu diurungkannya. Gengsinya lebih besar dibanding rasa kangennya.


'Kangen....benarkah ini perasaan kangen ?' Batin Lyvia. Entahlah...yang jelas ada rasa berbeda di hatinya.


*Tuuutt.... tuuutt....tuuutt....


("Halloo.") suara dari sebrang terdengar nyaring.


("Iya, Hallo...Mb Dira...maaf, surat izin saya apa sudah mendapatkan persetujuan ya ?") tanyaku basa - basi.


("Maaf Mb Via...in sebenarnya sudah selesai, cuma belum ada tanda tangan Pak Adrian. Beliau mendadak hari ini ada acara ke luar kota.") jawabnya ("nanti kalau sudah siap saya hubungi.") tambahnya memberi keterangan.


("Baiklah...saya tunggu ya mb, terimakasih sebelumnya.")


Kuletakkan kembali HP di meja kerjaku.


Keluar kota ? acara mendadak ? pantesan tadi terlihat sibuk sekali.


Bisik nya dalam hati.


Aaahhhh.....apa pedulimu ?


Memangnya kamu ini siapa ?


Bisa-bisanya aku memikirkan orang yang belum tentu memikirkan ku ?


***


Lyvia keluar dari ruangannya. Mencari udara segar di luar sana. Berharap dengan begitu dia bisa menghapus pikirannya tentang pria dengan misteri 'jingga' nya.


 


"Kemana Mbak ?" tanya Mira staf administrasi di kantornya.


"Jalan yuk.... waktunya makan siang, kita cari bakso. Aku pengen yang seger-seger."


 


"Boleh." jawabnya menyanggupi ajakanku


 


 


Tidak jauh dari tempat kami bekerja, ada warung bakso yang cukup terkenal. "BAKSO RUDAL" begitulah papan nama yang tercantum di atas warung itu.


Setiap jam makan siang, warung itu tidak akan sepi dari pengunjung. Bahkan jika hari libur, tidak sampai siang, sudah ludes terjual.


 


"Rame banget Mbak... waktunya orang - orang pada istirahat." komentar Mira


"He'em." jawabku singkat


 


"Yuk...di pojokan sana masih ada yang kosong" ditariknya tanganku, seolah-olah berebut takut keduluan orang lain.


"Mau pesen apa Mbak ?" tanya pelayan di situ yang sudah hafal dengan kami.

__ADS_1


"Bakso rudal 2, lemon tea nya 2 ya mas."


 


 


jawabku, menyerahkan daftar menu yang tadi aku pegang.


Tidak hanya bakso rudal, tapi berbagai varian bakso ada disana. Mulai dari bakso biasa, bakso granat yang dalamnya penuh dengan irisan cabe rawit, ada juga bakso kikil dan bakso iga.


Tapi yang paling menjadi Favorit semua pelanggan adalah bakso rudal. Selain porsinya yang besar, bakso rudal juga dilengkapi dengan remahan daging di dalamnya.


Sambil menunggu pesanan, kami ngobrol seputar perkembangan penjualan. Mira juga menyampaikan pendapat juga keluhan pelanggan.


 


"baik Mir....kamu sampaikan itu setiap kita mengadakan meeting pagi." jawab Lyvia menanggapi usulan Mira.


 


ketika sedang asyik mengobrol, Kurasakan Handphone ku di saku bergetar. Kuharap dia menghubungi ku. Tapi ternyata bukan.


("Hallo mb Via....in ada montir dari bengkel mengantar mobil Mb Via.") Terdengar suara Santi, sales counter di dealer kami.


("Oya...habis berapa ? kamu ada pegang uang gak ? atau cash bon dulu ke kasir, nanti aku ganti.")


Dilihatnya secarik kertas nota yang ada di tangannya.


("Iya mb....saya ada, saya bayar dulu ya.")


("Siap... terimakasih.")


Kuletakkan handphone ku, bersamaan dengan datangnya pesanan kami.


"Alhamdulillah....makan yuk."


Kunikmati hidangan di depan ku, kulupakan semua yang tidak seharusnya ku pikirkan.


Meskipun sulit rasanya melupakan hal itu.


Tak berapa lama ketika Lyvia berbalik dari kasir untuk membayar pesanannya, Santi datang bersama Diana.


 


"Hai...kalian baru mau makan ?" tanya Lyvia.


"Iya mbak." jawab Diana.


"Oya San...berapa harus ku bayar tagihan mobilku ?"


 


Santi mengeluarkan secarik kertas yang ada di sakunya.


"235 ribu."


Lyvia mengeluarkan tiga lembar uang ratusan ribu, diserahkan nya kepada Santi karyawannya.


"Saya gak ada kembaliannya mbak ? atau sebentar saya tuker ke kasir dulu ya ?"


 


"Gak usah."


 


kembaliannya ambil saja, buat makan kalian berdua." jawab Lyvia.


"Terimakasih Mbak." jawab mereka berdua hampir bersamaan.


Lyvia kembali ke ruang kerjanya. Dia berusaha untuk menyibukkan diri dengan lembaran-lembaran di atas meja kerjanya. Namun bayangan itu selalu hadir dalam fikirannya.


 


"ada apa denganku ?" gumamnya.


"apakah ini yang namanya jatuh cinta ?"


 


Karena tidak bisa fokus dan konsentrasi, dia lipat kembali pekerjaannya.


Akhirnya Lyvia keluar menuju Showroom untuk sekedar berbincang dengan staf lain, berharap bisa melepas gundah dihatinya.


~ ----------------------------


~ ----------------------------

__ADS_1


~ ----------------------------


__ADS_2