
Lyvia sudah berada di kamar mandi, ketika Adrian kembali ke kamarnya. Ia berendam di dalam buthtup, matanya terpejam menikmati hangatnya air yang terasa bagaikan memijat tubuhnya.
Tapi entah hanya perasaannya saja atau memang ini sebuah pijatan....? gumamnya dalam hati. Tengkuk dan pundaknya memang terasa dipijat. Lembut dan mengena pada urat-urat lelahnya.
Masih dalam bawah sadarnya, Lyvia menikmati dan berharap ini bukan mimpi. Kini... pijatan itu beralih di dadanya. Ia pun membusungkan dadanya merasakan pernapasannya lebih lega.
Hingga pijatan itu berubah, yang tadinya lembut kini semakin gemas.
"Aaarrggggg....Mas, kapan kamu disitu...?"
"What's....kamu ini tanya apa...?" jawab Adrian heran.
"Maksudku sejak kapan kamu masuk...?"
"Hhhlllaaa....yang dari tadi memijatmu, memangnya siapa...?" jawab Adrian yang tidak kalah bingungnya dengan Lyvia.
"Jadi...tadi beneran ya...? Aku kira mimpi..." jawab Lyvia malu-malu.
"Astagfirullah...jadi kamu tidur Yang..."
Lyvia hanya tersenyum mendengar komentar suaminya.
"Sini berikan punggungmu, biar aku gosok..."
"Habisnya mas cuma nutup pintu aja lama..." protes Lyvia tak mau disalahkan.
"Habis ini...bilas badanmu di shower dan segera keringkan." kata Adrian. Tangannya masih sibuk menggosok punggung Lyvia.
"Mas gak mau gantian aku gosokin..?" kataku menawarkan.
"Gak usah...Mas bisa sendiri, lekas bilas badanmu. Jangan berlama-lama di kamar mandi, gak baik..."
Lyvia menurut dan segera beranjak untuk membilas tubuhnya. Ketika Lyvia sudah meraih handuk dan mengeringkan badan, ganti Adrian yang mandi.
"Sayang... tolong ambilkan handuk untukku..." panggilnya dari dalam kamar mandi.
"Ini Mas....bukannya tadi sudah aku siapin ya...?" jawab Lyvia sambil menyerahkan handuk di tangannya.
"Jatuh ke buthtup..." jawab Adrian seraya menerima handuk dari istrinya.
Hari sudah hampir petang, Adzan Maghribpun sudah terdengar. Seperti biasa, Lyvia dan Adrian tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Disaat ada kesempatan pasti mereka kerjakan berjamaah.
Usai sholat Adrian mengajak Lyvia duduk di teras depan. Ternyata meskipun bukan waktunya liburan, tapi tempat ini tidak pernah sepi dari pengunjung.
Para pedagang makanan berat dan ringan masih menjajakan dagangannya.
"Pak....nasi goreng special dua ya...!"
panggilnya kepada pedagang nasi goreng yang kebetulan lewat disitu.
"Yang...sengaja aku ajak kamu nongkrong di sini, aku menunggu Bapak yang jualan nasi goreng ini lewat." kata Adrian.
"Memang kenapa....?"
__ADS_1
"Hhhhmmmmm....coba dech, nasi gorengnya enak, pasti kamu ketagihan nanti."
"Emang Mas pernah beli nasi goreng di Bapak itu...?" tanya Lyvia.
"Bukan pernah lagi, mas dulu langganan...juga sama ronde yang di pojok sana itu." jawab Adrian sambil menunjuk ke suatu arah.
"Mungkin Bapak ini sudah lupa padaku, tapi kalau dia ingat kebiasaanku, pasti dia akan ingat padaku." kata Adrian lagi.
Nasi goreng pesanannya sudah datang.
"Silahkan Mas... Mbak..." katanya, sambil menyerahkan dua piring nasi goreng.
"Terimakasih Pak..." jawabku.
"Oya Pak...bisa minta tolong dipesankan wedang ronde di sebelah sana...dua porsi saja..." kata Adrian minta tolong kepada Bapak penjual nasi goreng.
"Baik Mas...."
Lyvia menyendok nasi goreng yang ada di hadapannya.
"Hhhhmmmmm....beneran enak Mas.." komentarnya.
"Apa aku bilang...pasti besok mau-mau lagi..." jawabnya.
"Silahkan Mas..." kata Bapak penjual nasi goreng yang sedang meletakkan dua mangkok wedang ronde.
"Terimakasih banyak Pak..."
"Mas...maaf, daripada saya penasaran...lebih baik saya tanyakan..."
"Iya Pak...kenapa...?"
"Maaf...Mas ini apa pelanggan saya yang dulu ya...?? pemilik Villa ini...?"
"Jadi beneran, Mas majikan Pak Amat..." tanyanya lagi memastikan.
"Iya Pak...barusan saya omongin dengan istri saya ...."
"Walah....sudah berkeluarga ya Mas...dulu masih sendiri, maaf... Bapak tidak ingat, maklum sudah tua...."
"Alhamdulillah sudah Pak...ini dalam rangka liburan bulan madu..." jawab Adrian lagi.
"Alhamdulillah... pengantin baru, selamat ya Mas...semoga langgeng..."
"Aamiin...."
"Monggo-monggo dilanjutkan, Bapak tinggal keliling dulu ya..."
"Ohhh...iya Pak....ini uangnya sekalian dengan wedang rondenya.....?"
"Waduh...belum ada kembalian Mbak...gakpapa nanti saja Mas, sekalian balik Bapak ambil, Bapak muter duluan ya..."
"Oya Pak.... jangan lupa mampir lagi ya Pak..." jawabku.
Lyvia berdiri, ia berjalan menuju minimarket di depan Villa.
"Sayang...mau kemana...?"
"Beli air mineral Mas... sekalian tuker uang."
jawabku sambil berlalu.
"Bayar sekalian wedang ronde di pojok itu ya Yang..." teriakan Adrian yang dibalas anggukan oleh Lyvia.
Keluar dari minimarket, Lyvia menuju wedang ronde yang mangkal di pojok dekat pohon beringin. banyak sekali yang beli, sampai penjualnya saja tidak kelihatan.
"Mau minum sini... apa bungkus Mbak...?"
__ADS_1
tanya penjual wedang ronde itu ketika Lyvia mendekat.
"Saya bayar 2 wedang ronde yang tadi dipesan Bapak yang jualan nasi goreng Bu..." jawabku menjelaskan.
"Oohhh.... yang di Villa depan sana ya Mbak...?"
"Iya Bu...."
"Sepuluh ribu mbak...kok buru-buru, nanti juga gakpapa...biasanya diambil Bapak..."
"Iya Bu.... kebetulan saya dari toko sebelah, jadi skalian mampir, nanti mangkoknya biar dibawa Bapak ya Bu...?"
"Iya, gakpapa Mbak....."
***
Semakin malam lalu lalang pengunjung telaga semakin rame. Ada yang menikmati kuliner malam, ada juga yang sekedar menikmati udara malam.
Kebanyakan diantara mereka adalah pasangan muda-mudi. Namun tidak jarang pula terlihat pasangan lanjut yang masih bergandengan tangan dengan mesra.
Sama halnya dengan Adrian dan Lyvia, sudah kenyang dengan menu makan malamnya. Bagi Lyvia ada kebahagiaan tersendiri bisa menikmati sejuknya angin malam berdua dengan orang yang sangat dia cintai ini.
"Sayang...." panggil Adrian pada istrinya yang masih asyik berdiam diri diluar.
"Hhhhmmmm...."
"Masuk yuk...makin malam udara semakin dingin...??" sebenarnya Lyvia sudah merasa ngantuk, tapi sayang melewatkan moment malam yang indah.
"Iya Mas....."
Lyvia mengikuti langkah Adrian. mereka kembali mengurung diri di kamar sesudah mengunci pintu dari dalam.
Tanpa AC pun sudah terasa dingin menusuk persendian. Lyvia yang alergi akan dingin, segara membenamkan diri di dalam bedcover. Adrian yang memperhatikan tingkah istrinya, tergoda untuk ikut meringkuk di dalamnya.
Dia raih istrinya kedalam pelukannya.
"Via.....kamu merinding....?" tanya Adrian yang merasakan lengan istrinya merinding. Entah karena memang kedinginan ataukah karena efek dari sentuhannya.
"He'eh....dingin banget Mas..." jawabnya singkat, dan masih meringkuk di pelukan suaminya.
"Mau aku hangatkan...?" bisiknya pada Lyvia
Lyvia yang tadinya sembunyi di dada adrian, mencoba memandang suaminya. Belum sempat dia menjawab pertanyaan suaminya, bibirnya sudah terasa basah karena ciuman Adrian. Dipeluknya erat tubuh Lyvia yang diam tanpa perlawanan.
Ini kedua kalinya Lyvia mendapatkan perlakuan special dari suaminya. Perlakuan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Angannya melayang, Udara yang tadinya dingin gini terasa hangat. bahkan ngilu yang dia rasakan kini sudah tak terasa lagi. Lyvia menggigit bibirnya sendiri.
"Tidak apa-apa sayang...ini tidak sesakit kalau pertama...." kata Adrian menenangkan istrinya
Tidak ada lagi yang bisa dia katakan, Lyvia hanya mengangguk mengiyakan.
Bagai dinina bobokan, Dia terlelap dalam dinginnya malam.
~ ---------------------------------
~ ---------------------------------
__ADS_1
~ ---------------------------------