MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 77. Bersatunya Dua Keluarga "Kania"


__ADS_3

 


Adrian menyerahkan sepenuhnya acara Kania kepada Lyvia istrinya. Mulai dari biaya, pemesan makanan, sampai pakaian apa yang akan dikenakan Kania.


 


Keluarga besar Kania adalah orang yang masih mengutamakan tradisi. Jadi segala sesuatu berdasarkan tradisi yang mereka yakini.


 


"Ini.... untuk apa Bu...?" tanya Lyvia yang melihat bermacam-macam kue tradisional.


"Ini nanti untuk hantaran kalau keluarga besan mau pulang via..."


"Oooo...." komentarnya.


 


Lyvia termasuk generasi milenial, jadi segala sesuatu acara mengenai makanan pasti yang diandalkan cuma pesan katering.


 


"Bu...boleh Via cicipi sedikit....?"


 


Lyvia tergiur dengan makanan tradisional yang mereka sebut dengan nama wajik.


Wajik berasal dari bahan dasar beras ketan. teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis, pasti membuat semua orang ketagihan.


Dia melihat ada berbagai macam warna dan rasa wajik yang orang-orang di dapur bikin.


Ada yang berwarna kuning kecoklatan yang berasal dari warna alami gula Jawa, ada juga yang berwana hijau yang berasal dari daun suji, dan masih banyak lagi.


 


"Via... bukankah Adrian juga suka wajik ...?" tanya Ibu lagi.


"Iya Bu...."


"Sini biar Ibu sisihkan sebagian untuk putra Ibu yang satu itu..."


"Hhhhmmmmm....kalau Lyvia gak boleh ambil nich...?" gerutunya cemburu.


"Ambil sesukamu...." jawab ibu.


 


Lyvia mengambil beberapa potongan sisa wajik yang digunakan untuk membuat parcel hantaran sebagai oleh-oleh untuk keluarga Dani.


 


"Kania...."


 


Via memanggil adiknya yang asyik bermain dengan putranya.


 


"Iya Kak.... kamu sudah tanyakan kepada Dani, apa warna kemejanya yang akan dia pakai besok malam...?" tanya Lyvia yang masih asyik mengunyah wajik di mulutnya.


"Sudah Kak... katanya dia dan keluarganya akan mengenakan kemeja batik warna coklat susu..."


"Oke....kita ke butik langganan Kakak..."


"Sekarang....?"


"Iya lah....masak besok...."


 


Kania segera berganti pakaian dan bersiap untuk berangkat.


"Mbunda....dek Al boleh ikut...?" tanya Albiansyah yang tidak mau ditinggal Bundanya pergi.


 


"Dek Al di rumah saja sama Yang Ti ya.... Bunda cuma pergi sebentar..." kata Ibu menenangkan putranya.


"Iya Ti...tapi Mbunda pelgina jangan lama-lama..."

__ADS_1


"Iya sayang.... Bunda cuma mau antar Aunty sebentar saja..."


"Iya Mbunda...." jawabnya sambil memeluk leher dan mencium bibir Bundanya.


 


*****


Lyvia melajukan kendaraannya ke tempat butik langganan keluarga Adrian.


°HANDY'S COLECTION°


 


"Kak... ngapain kita kesini...? disini koleksi gaun dan batiknya mahal-mahal loo..." kata Kania.


"Harga mahal sepadan dengan kwalitasnya Nia..." jawab Lyvia tenang.


"Iya...tapi kita kan bisa di tempat lain Kak..."


"Sudah....ayo turun..."


 


Lyvia sudah disambut oleh pegawai yang ada di butik itu, karena memang dia sudah ada janji sebelumnya.


 


"Selamat siang Ibu Adrian... silahkan, Pak Hendy sudah menunggu..."


"Ok... terimakasih..."


 


Kania tidak menyangka begitu besar pengaruhnya menjadi istri seorang Adrian, sampai pemilik butik ternama sekaligus perancang busana terkenal di kota ini pun mengenalnya.


 


"Hai hanny....apa kabar sayang, lama sekali tidak ketemu...?" sapa seorang pria metropolis yang ada di dalam ruangan itu.


"Hallo Kak.... Alhamdulillah sehat luar biasa..." jawab Lyvia tak kalah semangat.


"Oya....ini kah bidadari cantik yang hampir sold out itu...?" tanyanya yang melihat Kania di sampingku.


"Ii Waaooo.... tidak kalah cantiknya dengan kakaknya ya..." Pujinya terhadap Kania.


 


'Ooo.... ternyata ini pemilik Handy's Colection


yang terkenal itu...' gumam Kania dalam hati.


"Eeeeemmm....ini beberapa kebaya dengan bahan borklat kombinasi, dengan warna yang elegant... seperti yang kalian mau.."


Kania mencoba beberapa model dengan warna yang sesuai dengan warna batik yang akan dikenakan keluarga besar calon suaminya.


 


"Kak...kalau yang ini bagaimana...?" tanyanya meminta pendapat.


"Bagus...cocok untuk postur tubuhmu, kamu pilih saja yang menurut kamu nyaman."


 


Selesai fitting baju, Kania memilih satu yang menurut dia paling nyaman dipakai.


"Oke....bungkus..." komentar Handy dengan pilihan Kania.


*****


 


"Kania Prastika.... bersedia kah kamu menjadi pendampingku baik dalam suka maupun duka....?"


"Bismillahirrahmanirrahim....atas restu Ibu dan Kakakku, Insha Allah aku bersedia menerimamu menjadi pendamping hidupku baik suka maupun duka..."


 


Itulah ungkapan hati yang terucap dari bibir bahagia mereka berdua. Dani menyematkan cincin pertunangan tanda pengikat diantara keduanya.


Senyum bahagiapun mengembang, tidak hanya kedua orang calon mempelai yang berbahagia, namun juga mereka yang hadir.

__ADS_1


Acara begitu khidmat, sampai usai. Belum ditentukan kapan mereka mau menikah.


 


"Untuk acara pernikahan, nanti kita bicarakan lagi antar keluarga...." begitulah kata dari perwakilan pihak keluarga Dani.


"Via gak nginep saja Nak....?" tanya ibu setelah acara usai.


"Besok saja Bu.... gak enak kalau Mama pulang sendiri..." bisiknya kepada Ibu.


"Sayang... Mama mau pulang dulu ya, itu Pak To sudah jemput..." kata Mama dan Bibi setelah pamit dengan Ibu.


"Lo... Pak To sudah jemput Ma...?"


"Iya...sudah dari tadi, mengikuti acara...kalian menginap di sini dulu saja, kasian Al sudah tidur." pinta Mama Kepada Lyvia.


 


Memang benar kata Mama, mau tidak mau Via harus menginap barang semalam. Karena Al juga sudah tertidur.


Lagi pula, besok Via juga akan bantu-bantu Ibunya untuk membereskan bekas acara hari ini.


 


"Ayo tidur sayang...itu bisa dilanjutkan besok..." ajak Adrian yang melihatku masih membersihkan ruang tamu.


"Iya Mas...."


 


Adrian menggendong paksa Lyvia yang dari tadi masih dengan jawaban yang sama, namun belum beranjak dari tempatnya.


 


"Aaauuuu.... Mas, turunin..."


"Gak....jangan bergerak kalau gak mau kita jatuh bareng..." jawab Adrian.


 


Dia menempati kembali ruangan favoritnya ketika masih muda dulu.


"Apa Al tidak perlu kita pindah ke sini Mas..?"


Al sedang tidur di kamar Ibu, sejak acara belum selesai, dia sudah merasakan kantuk dan tidur di kamar Yang Tinya.


 


"Jangan...biarkan Ibu menikmati rasa kangennya sama Al..."


"Eeehhhmmmm.... Ibu yang menikmati rasa kangennya kepada Al....atau...."


"Atau apa....?" ucap Adrian sebelum Lyvia melanjutkan pertanyaannya.


"Atau Mas yang kangen sama aku ...?" bisiknya lembut di telinga Adrian.


"Geli achhh...." jawabnya sembari membalas dengan menggelitik Lyvia.


"Ssssttttt..... jangan keras-keras ketawanya, jangan sampai membangunkan isi rumah..." Kata Adrian membungkam mulut Lyvia yang tertawa geli karena gelitikan suaminya.


"Habis Mas yang mulai..." gerutunya sendiri.


"Kita nikmati malam pertama yang sempat tertunda di kamar ini...." bisiknya.


 


Ya....Tiga tahun yang lalu, ketika baru melangkah ke gerbang pernikahan, di kamar ini lah mereka akan memulai sesuatu yang baru.


Namun hal itu harus mereka urungkan, dan saat inilah hal itu akan mereka ulangi lagi.


"Mumpung Al ikut Yang Tinya...sudah ada Adrian junior, kita proses Lyvia junior..."


 


"Makin malam makin ngelantur saja...." komentar Lyvia sembari mencubit pinggang dan hidung mancung Adrian.


Adegan selanjutnya hanya mereka dan Tuhan yang tahu.


 


~ ---------------------------------

__ADS_1


~ ---------------------------------


~ ---------------------------------


__ADS_2