MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Extra Part. 10. Satu Point Plus untuk Al


__ADS_3

"Mas.... bagaimana ?"


tanya Lyvia saat suaminya kembali ke ruang rawat inap putranya.


"Sudah...Prima yang simpan." jawabnya.


"Mama... sebaiknya Mama pulang terlebih dahulu, biar Lyvia yang menjaga putranya."


Mama memang terlihat lelah, sejak menerima kabar tentang Al yang terluka.


Beliau menurut apa yang Adrian sarankan. Tubuh tuanya sudah tidak mampu lagi harus berlama-lama terjaga. Mama pulang bersama Adrian yang kebetulan memang harus pulang terlebih dahulu untuk mengambilkan baju ganti dan perlengkapan keperluan Al di rumah sakit.


"Ayah." teriak Maira katika ayah dan Omanya pulang.


"Assalamu'alaikum sayang."


"Wa'alaikumsalam.... Kakak Al mana Yah ?"


"Kakak masih di rawat di rumah sakit Nak, bantu do'a ya....agar Kakak lekas sembuh."


"Iya Yah."


Usai membersihkan diri dan menyiapkan apa yang perlu dibawa, Adrian bergegas kembali ke rumah sakit.


"Maira ?"


"Iya Yah."


"Maira baik-baik sama Oma di rumah ya...Ayah mau kembali ke rumah sakit, nemenin Bunda menunggu Kakak yang sedang di rawat."


"Iya ayah..."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Sesampainya di rumah sakit, tanpa sengaja Adrian mendapati Lyvia sedang menangis di tepi ranjang putranya yang sedang tertidur lelap.


"Sayang."


Suara Adrian mengagetkannya.


"Mas sudah datang."


"Kenapa ?"


"Gakpapa Mas." jawabnya sembari menghapus sisa air mata di pipinya.


"Jangan bohong Lyvia."


Lyvia meluapkan emosi hatinya dengan tumpahan air mata di pelukan suaminya.


"Apa yang kamu tangisi ?"


"Gak tahu Mas....aku merasa gagal mendidik putra kita." ucapnya lirih.


"Ssstttt....gak boleh bicara begitu, kita tidak tahu apa yang terjadi. Kenakalan Al sama seperti kenakalan anak-anak yang menginjak usia remaja pada umumnya."


"Iya Mas....tapi, aku rindu Al yang manis dulu." keluhnya.


"Sayang...biarkan Al mencari jati dirinya, kita sebagai orang tua hanya harus mengamati dan mensupport hal terbaik menurut dia."


Dalam hal mendidik seorang anak laki-laki, Adrian lebih bijaksana. Beda dengan seorang Ibu yang mengutamakan kasih sayang dalam mendidik seorang anak.

__ADS_1


"Bun..."


terdengar lagi suara putranya ditengah diskusi yang sedang mereka lakukan.


"Iya sayang...Al sudah bangun ? Bunda bantu seka dan ganti pakaian ya ?"


Al mengangguk, Lyviapun mulai membersihkan dan membantunya berganti pakaian.


"Selamat sore ?" sapa seorang suster yang membawakan makan sore beserta obat untuk Al.


"Sore Sus."


"Wah...sudah segar Kak, makan yang banyak biar lekas sembuh ya ? ini obatnya Bun, nanti diberikan setelah makan."


"Iya Sus... terimakasih."


Al mulai menerima suapan demi suapan yang diberikan Bundanya. Pandangan matanya menatap ke bawah. Entah apa yang dia lihat, yang jelas dia tidak berani menatap mata ayahnya.


"Minum obatnya dan istirahat ya ?"


Lagi-lagi dia hanya memberikan kode dengan anggukan kepala.


Lyvia mencium kening putranya sebelum tidur.


"Mas..."


"Hhmmmm..."


Lyvia mendekati suaminya yang sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya di ruang tunggu kamar rawat inap putranya.


"Kelihatannya Al takut sama Mas."


"Iya...dari tadi aku amati dia tidak mau melihat ke arahku." jawabnya.


"Tidak juga...bisa jadi rasa bersalah timbul karena sudah mengecewakan kedua orang tuanya."


Apa yang dikatakan Adrian ada benarnya juga. Lagipula selama ini Al tidak pernah berbuat hal yang memalukan keluarga.


"Sudahlah...kita tunggu dia tenang dulu, biar Prima yang tanya dia besok."


"Iya Mas."


"Sudah malam, kamu juga harus istirahat."


"Oya Mas...aku sampai lupa belum telfon Maira."


"Ini sudah lebih dari jam 21.00, mungkin dia sudah tidur. Besok pagi saja, kamu cek sebelum berangkat sekolah."


Lyvia mendekati putranya dan tidur di dipan khusus untuk penunggu pasien yang disediakan pihak rumah sakit.


Dia lantunkan surat-surat pendek penghantar tidur untuk putranya. Meskipun Lyvia sedikit kecewa dengan apa yang telah terjadi, namun baginya Al tetap putranya yang manis dulu.


***


"Semangat pagi Kakak."


sapa Suster yang seperti biasa menjalankan tugasnya memeriksa kondisi kesehatan Al.


Ada sedikit kemajuan, yang tadinya hanya anggukan yang dia berikan, kali ini disertai dengan senyum yang begitu manis.


Pagi ini, selama pemeriksaan dokter...Al ditemani Ayahnya. Lyvia sedang berada di luar ruangan untuk menghubungi orang rumah, mengecek persiapan sekolah Maira.


"Maira.... ingat pesan Bunda ya, jangan pulang sendiri sebelum pak To datang menjemput." pesannya berulang-ulang.

__ADS_1


"Iya Bunda."


"Ya sudah, hati-hati di jalan ya Nak..."


"Assalamu'alaikum...." sapa beberapa siswa berseragam SMP kepada Lyvia.


Mungkin ini teman-teman Al yang akan datang membesuk.


"Wa'alaikumsalam..."


Mereka mendekati Lyvia dan mencium punggung tangan Lyvia satu persatu.


Cowok cewek semua ramah dan sopan. Lyvia berharap putranya melakukan hal yang sama ketika berada di luar rumah.


"Kami teman satu kelas Al... bagaimana keadaan Al Bunda ?" tanya salah seorang dari mereka sebagai kata pembuka.


"Alhamdulillah...Al sudah lebih baik, ayo kalian bisa masuk ke dalam." jawab Via mengantarkan mereka masuk


"Assalamu'alaikum Al." ucapnya hampir bersamaan.


"Wa'alaikumsalam." jawab Al sedikit malu.


Belum pernah dia sakit dan di jenguk temannya seperti ini.


Adrian dan Lyvia meninggalkan mereka di dalam. Lyvia sempat berbincang dengan salah satu teman cewek Al, dia bertanya bagaimana sikap Al di sekolah selama ini.


"Al baik Bun... tidak pernah bicara kasar ataupun berbuat onar, dia juga pintar, makanya kami kaget ketika mendengar Al berkelahi dengan siswa sekolah lain." komentarnya tadi.


Memang selama ini putranya salah satu dari siswa berprestasi. Meskipun kadang dia cuek kalau di rumah tapi dia selalu membuat orang tuanya bangga.


Tidak lama setelah memastikan kalau temannya sudah sehat, mereka segera berpamitan. Karena jadwal besuk tidak boleh lebih dari 30 menit, apalagi dengan rombongan yang banyak.


"Terimakasih sudah menjenguk Al."


"Sama-sama Bunda...semoga Al lekas sembuh dan kembali ke sekolah."


"Aamiin."


Masa-masa SMP adalah masa yang paling indah. Di waktu SMP itu juga dulu Lyvia bertemu dengan Adrian dan tidak pernah mereka sangka kalau itulah jodohnya.


"Al....apa kamu sudah sehat Nak ?" tanya Ayahnya.


"Iya Yah...maafkan Al ya Yah." jawabnya sembari menitikkan air mata.


Adrian tersenyum bangga mendengar ucapan putranya. Itulah kesatria yang sebenarnya, mau meminta maaf dan berani mengakui kesalahannya.


"Gakpapa...anggap saja itu proses menuju masa remaja, tapi satu hal yang ayah mau Al jujur mengenai kejadian kemarin."


"Iya Yah."


"Nanti Om Prima akan ke sini, dan Ayah mau Al jawab semua pertanyaan Om Prima dengan benar."


Dia menganggukkan kepalanya lagi. Lyvia hanya memperhatikan percakapan mereka. Dua orang yang sangat berarti di hatinya.


"Ingat sayang...jujur itu lebih baik daripada berbohong, karena kebohongan hanya akan menjerumuskanmu di kemudian hari."


"Iya Yah."


Al memang selalu manis, saat di berikan nasehat baik Ayah, Bunda atau Omanya...selalu dia perhatikan dengan benar.


~ -----------------------------


~ -----------------------------

__ADS_1


~ -----------------------------


__ADS_2