MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 30. Malam Pertama


__ADS_3

 


Dan inilah hari yang dia tunggu. Hari dimana dia bisa memboyong istrinya pulang. Selesai sudah acara serah terima secara tradisi dari pihak perempuan ke pihak laki-laki.


 


Semua tamu berpamitan pulang. Termasuk Ibu dan Adik Lyvia.


"Sering-sering mampir kerumah ya Nak...Ibu akan merindukanmu." tangis Ibunya pecah melepaskan putri sulungnya mengarungi bahtera rumah tangga.


Berbeda dengan keluarga Lyvia, semua keluarga besar Adrian menginap di hotel. Dirumahpun bersih dari lalu lalang orang karena semua sudah diurus pihak catering.


Lyvia pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri sebelum berkumpul dengan Mama dan Bibi di ruang tengah.


"Belum ngantuk sayang...?" tanya Mamanya.


"Belum Ma... sebentar nunggu Mas Adrian."


"Lyvia...Adrian masih ada temannya, kamu istirahat dulu kalau lelah." kata Mama sambil mengelus rambutku penuh kasih sayang.


"Iya Ma... sebentar lagi, Via masih ingin disini bersama Mama..."


"Ingat loo...simpan tenagamu, karena Mama akan menagih janjimu..."


Lyvia terbengong mendengar apa yang Mama katakan. Daripada penasaran, akhirnya dia tanyakan.


"Apa Ma....? Via punya janji apa sama Mama...?"


Mama tertawa melihat raut muka bingung menantunya.


"Cucu yang lucu-lucu untuk Mama..."


Bibi pun ikut tertawa geli mendengarnya. Wajah cantik Lyvia merah merona karena malu.


Benar kata Mama....Lyvia punya janji yang belum bisa dia tepati. bukan saja kepada Mama...tapi dia juga punya janji kepada suaminya.


Entah apa yang akan dia rasakan malam ini, bulu kuduknya merinding membayangkan malam pertamanya.


Bibi mulai mengantuk dan pamit untuk tidur, begitupula dengan Mama.


"Sayang....Mama ngantuk, ayo tunggu suamimu di kamar saja... Mama mau tidur."


"Iya Ma ....." Lyvia mengantar Mamanya ke kamar. Ditengoknya suaminya masih asyik berbincang dengan teman-temannya.


Para pemuda kampung teman main Adrian juga sudah berpamitan pulang.Tinggal Prima dan beberapa teman Adrian yang masih asyik dengan obrolan mereka.


"Eehhhh.... kira-kira kalian sudah ada yang mengantuk belum...?" tanya Adrian pada teman-temannya.


"Memang kenapa...?" jawab salah seorang diantaranya.


"Gak sadar apa...? kalau sudah 2 hari ada yang puasa...!" jawabnya sambil melirik pengantin baru yang belum menikmati malam pengantinnya.


Semua tertawa mendengarnya. Puas dengan canda dan ledekannya, akhirnya prima dan teman-temannya berpamitan untuk pulang.


"Jangan lupa pesanku...pelan-pelan..." ledek Prima lagi.

__ADS_1


"Hhuuuu....dasar otak mesum..."


***


Adrian mengunci pintunya. Mama yang tadi masih berbincang dengan Bibi & istrinya di ruang tengah, kini sudah terlelap di kamarnya.


Lyvia masih duduk di sofa membaca novel di aplikasi TOON NOVEL yang belum ia tuntaskan...tapi lelah dan rasa kantuk sudah tidak bisa dibohongi lagi, tanpa sadar dia tertidur di sofa karena menunggu suaminya.


Adrian belum menyadari hal itu. Dia langsung menuju kamar mandi. Ketika keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati istrinya di ranjang, barulah dia sadar kalau Lyvia tertidur di sofa.


 


"Mas....." panggilnya setengah tersadar ketika merasa ada yang menggendongnya.


"Kenapa tidur di sofa...?" tanya Adrian sambil meletakkan tubuh istrinya di ranjang.


"Maaf...aku tadi tertidur karena nungguin Mas...apa mereka sudah pulang...?"


 


Adrian hanya mengangguk. Matanya menatap wajah Lyvia yang kelihatan letih. Adrian yang berada disamping Lyvia merasa gemas dengan bidadari di hadapannya itu. Di elusnya rambut Lyvia.


 


"Bolehkah aku melakukannya sekarang...?" Tanya Adrian setengah berbisik. Lyvia hanya mengangguk dalam kegelapan.


Adrian mendekati istrinya, tapi ketika wajahnya sudah hampir mendekat, Lyvia tiba-tiba menahannya.


"Mas.....?"


"Apa sayang....?" tanyanya heran


Adrian mendahului istrinya untuk pergi mengambil air wudhu, sedangkan Lyvia menyiapkan tempat untuk mereka berjamaah, sebelum menyusul suaminya mengambil air wudhu.


Memang....kami diajarkan untuk mengawali sesuatu sesuai sunnah yang diajarkan Rasulullah.


Dua rekaat sudah mereka laksanakan. Di akhir salam, Adrian menuntun Lyvia dalam do'a-do'a. Lyvia mengamini semua do'a yang terucap dari bibir suaminya.


Tak terasa air mata berlinang di pipinya.


'Terimakasih Ya Allah...Kau telah memberikan Anugerah terindah kepada kami.' ucap Lyvia dalam hati.


Malam semakin larut. Adrian kembali ke ranjang bersama Lyvia yang sudah terlebih dahulu di sana.


 "Sayang....apa kamu sudah siap...?"


"Iya Mas...." jawab Lyvia yang diiringi anggukan tanda setuju.


 "Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa".


Aamiin.....


Tanpa menunggu lama lagi, Adrian mulai melancarkan aksinya. Dikecupnya kening Lyvia, kedua matanya, pipi dan turun di bibir Lyvia.


Inilah hal pertama yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Didalam hati Lyvia mengucap Sholawat. Ada rasa takut yang tak tersampaikan.

__ADS_1


Lyvia tidak dapat berkata apa-apa. Dinginnya malam terasa hangat baginya.


'Sesempurna inikah nikmat yang Allah berikan.' bisiknya dalam hati.


Entah siapa yang memulai duluan, dua insan yang gini telah polos tanpa selembar benang itupun mulai berpacu di tengah heningnya malam.


Mereka sama-sama tidak bisa menahan hasratnya, hasrat untuk saling memiliki. Adrian melakukannya dengan pelan namun pasti.


"Mas...sakit..." rintihan Lyvia hampir tak terdengar. Satu gol kepuasan telah menembus dindin pertahanan Lyvia.


 


Dipeluknya tubuh Lyvia ke dalam dekapannya. Hingga akhirnya sama terlelap dalam mimpi.


***


Suara adzan subuh terdengar. Lyvia membangunkan suaminya yang masih lelap mendekapnya.


 


"Sayang....bangun, sudah subuh..."


"Ehhh....iya, selamat pagi sayang..." Lyvia mbalasnya dengan kecupan mesra di kening suaminya.


"Aku mandi dulu ya...?"


"He'em...." Adrian melepaskan pelukannya.


"Aarrrkkkk.... sssssshhhh..."


"Kenapa sayang...?" Adrian buru-buru bangun dan memastikan kalau istrinya baik-baik saja .


"Gakpapa Mas...tapi rasanya sakit sekali..." Adrian tersenyum dan menggendong tubuh istrinya untuk sama-sama melakukan mandi besar.


 


Usai mandi mereka melaksanakan Sholat subuh berjamaah. Lyvia mengamini do'¢££ yang dilafalkan suaminya. Dia bersyukur atas karunia yang Allah berikan kepadanya. Suami yang penyayang, bertanggung jawab & Sholeh. Semoga kelak ia mendapatkan keturunan yang Sholeh & Sholehah.


Adrian berbalik menghadap istrinya. Lyvia mencium tangan Adrian dan Adrian membalas dengan mencium kening istrinya.


Sejenak mereka saling pandang, saling mengagumi satu sama lain, saling mengucap syukur kepada Sang Pencipta atas kesempurnaan Ciptaan-Nya.


"Lyvia...."


Adrian bergeser mendekati istrinya. Diraihnya tangan Lyvia dalam genggamannya.


"Terimakasih telah hadir dalam hidupku... tidak mudah mengejar Cintamu Lyvia dan sekarang Allah kabulkan do'a-do'aku...aku akan jaga amanah ini sampai akhir hayatku.."


"Aamiin.... tidak ada wanita yang paling bahagia di dunia ini, kecuali aku yang telah mendapatkan suami sepertimu Mas..."


 


Senyum mengembang di bibir keduanya. Kebahagiaan selalu tercurah untuk hambanya yang senantiasa bersyukur. Mulai saat itu dan seterusnya tidak ada lagi kata dua, semua satu. karena mulai malam itu mereka telah bersatu. menciptakan dunianya sendiri menggapai masa depan yang lebih baik.


~ ---------------------------

__ADS_1


~ ---------------------------


~ ---------------------------


__ADS_2