
Lyvia terbangun ketika terdengar deru motor. Maklum....Villa yang mereka tempati dekat dengan perkampungan dan jalan. Baru jam 03.30, hampir masuk waktu subuh. Lyvia turun dari ranjangnya, dia ingin membersihkan diri terlebih dahulu.
Adrian yang merasakan istrinya turun dari ranjang, segera menarik tangan Lyvia.
"Mas....aku mau ke kamar mandi..." kata Lyvia berbisik. Sebenarnya Adrian sudah bangun. Sebelum Lyvia terbangun, Adrian sudah terlebih dahulu ke kamar mandi. Tapi karena masih terlalu malam, dia kembali lagi ke ranjangnya.
"Mas.... sudah hampir subuh..." katanya lagi.
"Baru jam 3, pergilah... tapi segera kembali, aku masih ingin bermalas-malasan disini.
Lyvia menurut apa kata suaminya. Mereka hanya berdiam diri di ranjang menunggu datangnya subuh. Udara dingin di kaki Gunung Lawu ini memang membuat orang malas untuk beraktivitas. Pernyataan Ini hanya untuk pengantin baru.
Namun tidak untuk penduduk sekitar, yang selalu aktif pergi beraktivitas sebelum subuh tiba.
Adzan subuh sudah terdengar, Dia bergegas ke kamar mandi.
Selesai sholat subuh, Lyvia inggih sekali menghirup udara segar di luar sana.
"Mas....kita jalan-jalan yuk..." ajaknya setengah memaksa.
Adrian yang kembali ke kamarnya usai sholat subuh, membuat Lyvia harus merayunya lagi.
"Mas...ayolah, kita jalan-jalan sebentar..." rengeknya.
"Masih dingin sayang..."
"Kalau kita keluar gak dingin Mas..."
Bibirnya manyun, mukanya ditekuk, mulutnya juga terdengar menggerutu. Adrian tertawa melihat ekspresi istrinya.
"Sini....mau jalan sendiri apa di gendong..?" Tanya Adrian yang senang melihat istrinya kalau lagi merajuk.
"Jalan sendiri saja...tapi jangan lepaskan genggaman tanganku..." pintanya, yang gegirangan karena keinginannya terpenuhi.
Sepanjang jalan mereka bergandengan tangan. Sesekali mata mereka saling memandang. Serasa dunia milik berdua. Mereka berkeliling di sekitar telaga dan memutar di jalan kecil yang dikelilingi kebun buah dan sayur.
Rasanya tak jenuh mata memandang. Lyvia mendekati petani sayur, hendak menanyakan sesuatu.
"Eittsss....mau keman...?" tanya Adrian, ketika Lyvia menarik tangannya, namun Adrian menariknya kembali.
"Ada jeruk baby sayang.... seger-seger baru panen..." jawab Lyvia menunjukkan panen para petani.
"Siapa tadi yang bilang, jangan lepaskan genggaman tanganku...?" tanya adrian menirukan perkataan Lyvia.
Lyvia tersenyum menyeringai dan Adrianpun belum melepaskan genggamannya.
"Sayang...kalau begitu antar aku kesana." rengeknya memohon.
Adrian senang menggoda istrinya, apalagi kalau sampai dia merajuk.
"Ya sudah...sana, beli sesukamu..." Adrian melepaskannya. Lyvia segera berlari turun menuju dimana petani sedang memanen jeruk baby.
Dia beli beberapa kilo jeruk baby dan paket sayuran seperti brokoli, wortel dan lain-lain.
Adrian memperhatikan istrinya yang berjalan ke arahnya. Tangannya penuh dengan keranjang sayur dan buah.
"Kenapa Mas.... senyum-senyum gitu..."
"Sudah dapat yang kamu mau...?"
__ADS_1
"Sudah...hehehhehe..." jawab Lyvia sambil menunjukkan yang dia tenteng.
"Beli sayur sebanyak itu buat apa sayang...?"
"Mas...kita kan gak cuma sehari disini, boros kalau harus jajan terus. Biar aku masak ya...lagian di dapur ada perlengkapan buat apa gak digunakan...?"
"Sayang....aku membawamu kesini untuk fokus menikmati hari-hari kita, bukan untuk sibuk di dapur..." bisik Adrian pada istrinya.
"Hhhhmmm...gakpapa, biar nanti Via masukkan kulkas, bisa buat oleh-oleh nanti kalau pulang." jawabnya. Kalau suami sudah berkehendak apapun gak boleh dibantah.
Melihat istrinya terdiam, Adrian jadi merasa kasihan. Maksud dia cuma ingin bercanda tapi Lyvia benar-benar mematuhi kata-katanya.
"Sini sayang....biar Mas yang bawa..."
Lyvia menyerahkan barang bawaannya pada sang suami.
"Ahh...masih manyun saja...." godanya. Adrian mendorongd-dorong tubuh Lyvia dengan lengannya.
"Mass.....apaan sih..."
"Apa....senyum dulu, cantik-cantik suka ngambek..."
"Hhhhmmmmm...."
Sampainya di villa, Lyviapun membersihkan buah dan sayur nya untuk disimpan di kulkas.
"Mas mau sarapan apa pagi ini....?"
"Hahhahahah....akhirnya ngomong juga..." jawabnya sambil menarik tangan Lyvia hingga jatuh di pangkuannya.
"Memang tadi aku bilang, ada yang marah...?" jawab Adrian. Dipencetnya hidung Lyvia.
"Udah ahh....Mas mau sarapan apa...?"
"Kalau Mas maunya sarapan ini boleh gak...?" tanyanya sambil mengelus perut Lyvia. Pipi Lyvia terlihat merah merona karena malu.
"Mas....Via laper, Mas mau sarapan apa...?" tanyanya lagi, masih jual mahal.
"Hahhahahah.... sebentar lagi Pak Amat datang bawa sarapan." jawab Adrian.
"Kok Pak Amat....?"
"Iya, tadi Pak Amat telfon waktu kamu sibuk panen buah dan sayur, katanya istrinya masak besar, beliau minta Mas untuk tidak beli sarapan dulu..."
Tak berapa lama, yang dibicarakan sudah datang. Lyvia yang mengenali suara langkah itu, segera turun dari pangkuan suaminya.
"Assalamu'alaikum....." sapa Pak Amat.
"Wa'alaikumsalam...."
"Maaf Mas.... Mbak Via, lama menunggu..." Kata Pak Amat yang memberikan 1 rengkot rantang kepada Lyvia.
"Alhamdulillah.... terimakasih banyak Pak, semoga berkah..." jawab Lyvia.
"Ngomong-ngomong ada acara apa ini Pak...?" tanya Adrian.
"Gakpapa Mas...cuma pengen masak saja buat Mbak Lyvia..."
Memang...Mas Adrian pernah cerita, kalau istri Pak Amat jago masak. Dan beliau juga pernah bilang kalau suatu hari nanti akan dibikinkan masakan khusus untuk Mbak Lyvia.
"Terimakasih Pak... sebentar saya gantinya dulu...." jawab Lyvia
"Tidak usah Mbak...biar disini dulu, saya mau langsung ke kebun." jawab Pak Amat yang langsung berpamitan.
__ADS_1
"Pak Amat mau ke kebon...?" tanya Lyvia.
Pak Amat membalikkan badannya.
"Iya Mbak...ada yang bisa Bapak bantu...?"
tanya Pak Amat menunggu, siapa tahu ada yang dibutuhkan oleh majikannya itu.
"Kenapa sayang....?" tanya Adrian yang juga heran dengan pertanyaan istrinya.
"Gakpapa Mas....mau tanya saja sama Pak Amat, hehehehe......"
Adrian mengernyitkan dahinya dan memperhatikan apa yang akan Lyvia tanyakan pada Pak Amat.
"Bapak tau bunga Edelweis....?"
"Tau Mbak....apa Mbak Via menginginkannya...?" tanya Pak Amat lagi.
"Memangnya ada Pak...?"
"Coba nanti saya carikan ya...?"
"Terimakasih banyak Pak..."
Lyvia kembali ke dalam dan menyiapkan sarapan yang di kirim oleh Pak Amat. Ada pecel komplit dengan gorengan, ayam kampung goreng dan balado telur. tidak lupa rempeyek udangnya.
Itu semua memang menu favorit Lyvia. Pak Amat juga hapal betul kalau Adrian juga menyukai menu tersebut. Karena dulu, hampir setiap hari Adrian minta Pak Amat untuk membelikannya nasi pecel.
"Mas mau aku bikinkan juice jeruk baby..?"
tawar Lyvia yang juga minum perasan jeruk baby.
"Sayang.... bukannya Mas sudah belikan kamu susu, kenapa pagi-pagi minum juice..?"
"Eneg Mas.... masak makan kenyang minumnya susu." jawab Lyvia masih menikmati sarapannya tanpa menoleh ke arah suara.
"Mulai besok, setiap pagi...aku yang akan buatkan susu untukmu." tegasnya.
"Siap Ndan...." jawabnya cengengesan.
"Via.... apa yang akan kita kerjakan hari ini...?" tanya Adrian.
"Gak ada....."
"Kamu gak pengen kemana-mana....?"
"Enggak... memang mau kemana...?"
"Gak kemana-mana...aku cuma mau fokus menikmati liburan kita saja..." jawab Adrian seraya merapatkan lengannya ke lengan Lyvia.
"Hhhhmmmmm.... mulai dech..."
~ ---------------------------------------
~ ---------------------------------------
~ ---------------------------------------
__ADS_1