MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 58. Siapa Perempuan itu....??


__ADS_3

Tok...tok... tok...


 


"Via....kamu ada di dalam...?"


 


Lyvia segera menghapus air matanya sebelum Mamanya mengetahui.


 


"Iya Ma...." jawabnya sambil membuka pintu kamarnya.


"Kenapa sayang....kamu menangis...?" tanya Mama yang melihat mataku sembab.


"Ehehehhe....iya Ma, biasa korban sinetron...." jawabnya asal.


 


Mama melirik ke arah televisi yang menyala, disana acaranya wisata kuliner. Mana mungkin dia menangis ketika nonton acara makan-makan.


 


"Apa Adrian pulang sore hari ini...?"


"Tidak Ma.... Mas Adrian pulang terlambat, karena ada pekerjaan yang harus dia selesaikan..."


"Kalau begitu...baiknya kita belanja keperluan pokok dulu untuk baby kalian, kali ini Mama yang belanjakan khusus untuk cucu kesayangan Oma..."


 


Mama mencoba menghibur menantunya, sebagai seorang Ibu, Mama paham betul apa yang sedang terjadi. Tapi Mama tidak mau ikut campur privasi mereka.


 


"Iya Ma....kalau begitu Via mandi dulu dan bersiap-siap."


"Iya sayang.... Mama tunggu di bawah ya..."


 


***


Sehabis magrib mereka berangkat belanja, Pak To yang mengantarkan.


"Via...kita ke supermarket dulu ya...buat beli isi kulkas habis, baru setelah itu kita puas-puasin di toko perlengkapan bayi..."


 


"Iya Ma.... Lyvia turut kata Mama saja..." jawab Lyvia yang masih bergelayut di lengan Mamanya.


 


Sepanjang memasuki supermarket, Lyvia hanya mengekor Mamanya sambil mendorong troli belanja.


Dia tidak bersemangat sama sekali. Seharusnya suaminya yang mengantarkan dia belanja keperluan bayi hari ini.


 


"Sudah sayang....kita ke kasir yuk...."


"Iya Ma...."


"Via capek...? biar Pak To yang bantu Mama, Via Kembali ke mobil saja..."


"Gakpapa Ma....Via masih kuat kok..."


 


Lyvia tidak mau membuat Mamanya khawatir. Dia selalu ingin menyenangkan Mamanya. Karena hanya Mama saat ini yang mengerti hatinya.


Selesai memindahkan barang belanjaan dari troli ke bagasi, mereka kembali menuju toko perlengkapan bayi.


Mama membeli bermacam-macam peralatan untuk keperluan bayinya.


"Sayang....kamu gak mau pilih baju-baju yang lucu untuk cucu Oma...?"


 


"Iya Ma...."

__ADS_1


"Pilih yang bagus... sesukamu, semua Mama yang bayar..."


 


Lyvia tersenyum dan beralih ke bagian baju-baju bayi.


Dia pilih beberapa pakaian dan popok untuk babynya. Lyvia memegang box bayi, ingin sekali dia beli nanti dengan suaminya.


Sedangkan Mama asyik sendiri di bagian lain. Entah apa yang Mama hadiahkan untuk calon cucunya nanti.


Lyvia melihat sepasang suami istri yang sedang berjalan menuju kasir. Si perempuan berjalan disebelahnya dengan berpegangan pada lengan suaminya. Mereka kelihatan begitu mesra.


Seandainya Adrian masih bersikap sama seperti hari-hari kemarin, mungkin dia juga merasakan hal yang sama.


 


"Makasih ya Mas....aku senang sekali hari ini...." ucap perempuan itu.


 


Laki-laki yang dia ajak bicara hanya terdiam tanpa menjawab ucapan perempuannya.


Entah kenapa Lyvia seperti mengenal pria itu. Dari belakang... laki-laki itu mirip dengan Mas Adrian.


'ach...mungkin cuma mirip saja, Mas Adrian kan masih lembur, dia juga memakai seragam... sedangkan laki-laki itu tidak...'


Lyvia kembali memanjakan matanya dengan berbagai pakaian lucu anak-anak.


 


"Berapa semua Mbak....?"


 


'Suara itu....? Mas Adrian...? Benarkah dia Mas Adrian...?


Lyvia mendekatkan tubuhnya, untuk memperjelas pandangan matanya. Tapi tubuh pria itu membelakanginya.


Pria itu berlalu dari meja kasir dengan membawa belanjaan penuh di tangan kanan dan kirinya.


 


"Mas Adrian....tunggu sebentar..." panggil perempuan itu, yang membuat si pria menoleh ke belakang.


 


Air mata Lyvia membendung di pelupuk matanya. Dia masih terdiam menahan suaranya.


Pria itu...dia membantu perempuan itu berjalan, siapa dia....? dia dalam keadaan hamil...apa hubungannya dengan Mas Adrian...? tega sekali kamu Mas ...


 


"Sayang....mana belanjaanmu...? bawa sini, kita ke kasir...." panggil Mama mengagetkannya.


 


Lyvia menoleh ke arah Mamanya.


'Ya Allah...jangan sampai Mama melihatnya..' Lyvia terlihat gugup.


 


"Iya Ma.... sebentar lagi..."


 


Dan ketika dia menoleh ke arah pintu keluar, mereka sudah tidak terlihat lagi.


Lyvia mendekati Mamanya. Dia serahkan beberapa potong baju yang tadi belum sempat dia pilih dengan benar.


 


"Via....kok cuma ini...?"


"Eh....iya Ma, semua bagus-bagus... Via jadi bingung memilihnya, nanti saja Via belanja lagi sama Mas Adrian...."


"Ya sudah, tidak apa-apa..." Mama merasakan kegundahan dalam hati Lyvia.


"Mama.... Mama beli box ini juga..."


"Iya sayang....itu hadiah untuk cucu Oma nanti..."

__ADS_1


"Makasih Oma...."


 


Lyvia memeluk Mamanya erat.


'Mama tau kamu ingin sekali membelinya Lyvia...' bisiknya dalam hati.


Sebenarnya Mama memperhatikan sikap Lyvia dari tadi. Dan setiap benda yang Lyvia sentuh, Mama membelinya.


'Atau.... jangan-jangan Mama juga melihat ada Mas Adrian tadi disini...?'


'Tidak...jangan sampai itu terjadi, aku tidak mau wanita berhati malaikat ini merasa kecewa dengan sikap putranya...' perdebatan dalam hati Lyvia.


'Dan mungkin dia hanya salah lihat tadi...' gumamnya menghibur diri.


Sepanjang perjalanan pulang, Lyvia hanya terdiam memandang keluar jendela. Begitupun dengan Mama yang juga membiarkan menantunya menikmati hiruk pikuk di jalan.


 


"Via...biarkan Pak To yang bawa masuk belanjaannya, besok saja kita bereskan..."


"Iya Ma....kaki Via pegal, Via ke atas dulu ya Ma...?"


"Iya sayang...."


 


Bibi membantu Mama dan Pak To menurunkan belanjaannya.


"Adrian belum pulang Bi....?"


"Belum Nyah...."


Mamapun segera memasuki kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Tapi Mas Adrian belum kembali.


Jika memang orang tadi adalah dia, lalu...apa yang dia kerjakan sekarang.


'Ya Allah....disaat aku membutuhkan dia disisihku, kenapa dia Kau jauhkan dariku...'


Lyvia tidak bisa memejamkan mata, air matanya kembali tumpah. Lebih deras dari biasanya.


Bahkan sudah lewat dari tengah malam, tapi belum ada tanda-tanda kepulangan Adrian.


Tak berapa lama, samar-samar bibi membukakan pintu untuk seseorang.


"Baru pulang Mas....?" tanya Bibi yang kudengar.


 


"Iya Bi...."


 


Adrian mungkin sempat berhenti di ruang tengah ketika dia melihat belanjaan Mama untuk calon bayinya.


 


"Bibi....siapa yang belanja ini semua...?"


"Tadi Mama sama mbak Lyvia yang belanja Mas...."


 


Hanya itu yang kudengar sebelum dia langkahkan kakinya menaiki anak tangga.


'Ya Allah....baby shop Mam & Kids, bukankah aku tadi juga kesana mengantar Sofia... jangan-jangan mereka mengetahui keberadaanku...' bisiknya dalam hati.


Rasa takut menghantui hati Adrian.


'Aku terlalu ceroboh memperlihatkan diri kepada publik....' gerutunya dalam hati.


Ceklekkk....


Dia membuka pintu kamar dan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.


Kaos kuning berkerah yang dia kenakan....kaos yang sama dengan yang Lyvia lihat di baby shop tadi.


Ingin rasanya Lyvia teriak, sebagai wujud pemberontakan hatinya. Tapi dia masih sabar, semoga ini hanya mimpi dan akan segera hilang setelah dia membuka mata nanti.


~ -------------------------------

__ADS_1


~ -------------------------------


~ -------------------------------


__ADS_2