MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 64. Luapan Emosi Lyvia


__ADS_3

 


Mama merasa gelisah dirumah, dia memikirkan perasaan menantunya.


'Sudah hampir Magrib, tapi Lyvia belum juga kembali...pasti dia menanyakan sesuatu kepada Prima..' pikir Mama dalam hati.


"Ya Allah... kalau sampai Lyvia tahu tentang kepergian Adrian yang belum jelas, bagaimana aku mempertangung jawabkan hal ini kepada Lyvia dan orang tuanya...?" gumam Mama sendiri.


 


Mama mengambil handphonenya, beliau sudah tidak sabar untuk segera menghubungi Prima.


(Mama : "Hallo Prim...apa Lyvia masih di rumahmu...?") tanya Mama khawatir.


(Prima : "Iya Ma.... Lyvia sudah pulang, baru saja...")


(Mama : "Apa Lyvia menanyakan perihal Adrian...?")


(Prima : "Iya Ma....Prima sudah jelaskan semuanya, saya rasa Lyvia kuat dan ikhlas menghadapinya...")


(Mama : "Subhanallah....tapi sekuat-kuatnya hati perempuan, pasti ada sisi lemahnya Nak...Mama yang melahirkannya saja merasa kecewa dengan kepergiannya..." )


Tangis Mama pecah, Prima hanya bisa terdiam tidak bisa berbuat apa-apa.


(Prima : "Ma....semua belum jelas kebenarannya, sebagai perwira negara, tidak mudah bagi dia melayangkan surat cuti, Adrian harus punya alasan yang kuat untuk mendapatkan itu...dan itu belum prima ketahui, Mama harus tetap kuat supaya Lyvia juga bisa lebih kuat...")


(Mama : "Iya Nak....pasti, itu kelihatannya Lyvia datang, Mama tutup telfonnya ya..")


Mama segera berdiri menyambut kedatangan menantunya, beliau menghapus bekas air mata di pipinya.


 


"Sayang....baru pulang, bagaimana kabar Lia Nak...?"


"Alhamdulillah...sehat Ma, tapi Via tidak ketemu baby Gibran, karena diajak tantenya ke rumah neneknya.."


"Loo....dedek Gibran gak tahu apa kalau Tante Via kangen..." komentar Mama sambil mengelus perut Lyvia.


 


Mata Lyvia berkaca-kaca, ingin rasanya dia membicarakan hal tentang Adrian. Tapi Via takut Mamanya akan shock.


Tanpa sadar, air mata itu jatuh mengalir ke pipinya.


"Via...sayang, kenapa Nak...? kamu capek, sini duduk dulu Nak..."


Mama begitu menyayanginya, beliau memapah Lyvia untuk duduk di sofa.


'Mama paham Nak...kamu sudah benar-benar capek...' bisik Mama dalam hati.


 


"Ma....maafkan Via ya....?" ucapnya sembari duduk bersimpuh di kaki Mama mertuanya.


"Maaf untuk apa sayang.. sudah jangan banyak bicara, Via istirahat dulu ya...." bujuk Mama yang sudah bisa mengira kemana arah pembicaraan Lyvia.


"Maaf....jika Via belum bisa menjadi istri & menantu yang baik untuk Mama..."


 


Mama menarik nafas panjang, beliau membiarkan Lyvia meluapkan emosinya.


"Via jangan bicara begitu, dimata Mama...Via sangat special..." puji Mama menenangkan hatinya.


 

__ADS_1


"Tapi tidak dimata Adrian Ma...nyatanya dia pergi meninggalkan Lyvia..."


 


Mama merengkuh tubuh Lyvia ke dalam pelukannya. Beliau mencium kening dan rambut Lyvia berkali-kali.


Hati Mamapun tak kuasa untuk bicara, bibirnya keluh, tidak tahu apa yang harus beliau lakukan.


 


"Sabar Nak.... Mamapun juga kecewa dengan sikapnya, tapi kita belum tahu betul apa sebenarnya yang terjadi...."


 


Tangis mereka sama-sama pecah. Nafas Lyvia kian tak beraturan.


"Mama mohon...kuatkan hati Via, jangan pergi tinggalkan Mama, cuma Via satu-satunya yang Mama punya sekarang..." ucap beliau memohon.


'Ya Allah.... bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan putraku kepada orang tua Lyvia...apa kata beliau jika tahu Adrian pergi meninggalkannya...' keluh Mama dalam hati.


 


"Via tetap bersabar Ma...dan sampai detik ini Via masih bertahan, Ibu pernah bilang...'Apapun yang terjadi dengan rumah tanggamu, jangan pernah tinggalkan rumahmu tanpa seizin suamimu...' nasehat beliaulah yang membuat Lyvia tetap bungkam dan tidak menceritakan apa yang terjadi kepada beliau sampai saat ini Ma..."


 


Lagi - lagi ucapan Lyvia membuat tangis Mama semakin deras.


"Via sayang Mama...Via akan tetap menjaga Mama, Via tidak akan melangkahkan kaki keluar dari rumah ini, kecuali Adrian yang meminta...."


 


"Tidak Nak....tidak, jangan bicarakan itu lagi, kamu tetap anak Mama...sampai kapanpun kamu tetap anak Mama..."


 


 


"Dulu....Adrian yang meminta Via untuk menjadi pendamping hidupnya, dia yang memboyong Via masuk rumah ini...dan Via hanya menunggu etikat baiknya untuk membersihkan Lyvia jika memang dia sudah tidak menginginkannya lagi..."


"Sudah Lyvia....jangan bicara begitu, Mama yakin bukan itu kemauan Adrian, Mama tahu betapa dia sangat mencintaimu..."


 


Lyvia tidak bisa lagi membendung air matanya, begitupun dengan Mama yang semakin erat memeluknya.


'Tidak Ma... Lyvia tidak bisa membayangkan betapa Adrian menikmati hari-harinya dengan perempuan itu, sakit Ma...sakit...' berontak hati Lyvia


Bibi yang menyaksikan pemandangan itu pun ikut menitikkan air mata. Beliau tak pernah menyangka bayi kecil yang pernah dirawatnya sejak lahir, telah membuat kedua wanita yang mencintainya menangis.


 


"Via.... Lyvia....Lyvia, bangun Nak...bangun, Via... tolong...." Mama menggoyang-goyangkan tubuh Lyvia yang lemas tanpa suara ketika tiba-tiba tangisnya terhenti.


 


Bibi ikut berlari mendekati majikannya.


"Pak To... Pak To....tolong...." panggil Bibi kepada suami sekaligus sopir pribadi majikannya itu.


*****


Lyvia dilarikan ke rumah sakit, dia masih belum sadarkan diri. wajahnya begitu pucat, tangannya dingin, dalam kondisi hamil dia nampak kurus.


 

__ADS_1


"Ibu...mohon tunggu sebentar ya, biar dokter memeriksa kondisi pasien..." kata suster meminta kami untuk tidak masuk ke ruang pemeriksaan.


"Nyah....jangan menangis lagi, doakan Mbak Via bisa melewati hal yang buruk ini..." kata Bibi menenangkan majikannya, yang terduduk lemas di bangku ruang tunggu.


"Apa dosaku Bi... sehingga Allah memberi ku ujian seberat ini..."


"Sudahlah Nyah.... dengan ujian ini menandakan bahwa Allah sayang kepada kita..."


"Bi....tolong hubungi Prima, hanya dia yang bisa aku harapkan untuk menyelesaikan persoalan ini..."


"Baik Nyah..."


 


Kring....kring...kring...


Prima meraih handphonenya di atas nakas.


"Siapa Mas...malam-malam begini telfon...?" Tanya Lia yang sedang menidurkan kembali putranya setelah tadi terbangun untuk menyusu.


 


"Bibi Inah....ada apa malam-malam begini ya...?"


"Angkat Mas...nanti penting..."


 


(Prima : "Assalamu'alaikum Bi....")


(Bibi : "Wa'alaikumsalam Den....maaf, bibi malem-malem mengganggu istirahat Den Prima, ini Mbak Via tiba-tiba pingsan dan dibawa ke rumah sakit...")


( Prima : "Dirumah sakit mana Bi...?")


( Bibi : "Dirumah sakit Medika Den...")


(Prima : "Baik-baik...saya segera kesana..")


 


"Ada apa Mas...?" tanya Lia yang dari tadi sudah merasa penasaran.


"Lyvia pingsan dan dibawa ke rumah sakit"


"Ya Allah....kasian betul kamu Via..."


 


Prima segera berganti pakaian untuk pergi kerumah sakit.


"Mas...aku ikut ya...biar Mbak Ani yang jaga Gibran"


"Iya...."


Lia keluar kamarnya untuk meminta Mbak Ani pengasuh Gibran, menjaga putranya selama ditinggal ke rumah sakit.


"Kami pergi dulu ya Mbak...kalau ada apa-apa segera hubungi saya..." kata Lia berpamitan.


"Iya Bu.... hati-hati dijalan."


Mbak Ani menutup pintu utama setelah kepergian majikannya dan segera kembali ke kamar baby Gibran.


~ -------------------------------------


~ -------------------------------------

__ADS_1


~ -------------------------------------


__ADS_2