MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 40. Marketing Baru


__ADS_3

 


("Mas.... jemput ya, aku pusing banget...")


 


Lyvia mengirimkan pesan singkat kepada suaminya.


 


("Tunggu sebentar, lima menit aku sampai...") jawabnya.


 


Lima menit, memang dimana MasAdrian kok lima menit sudah sampai...?


Uufffff..... perutnya makin mual, pengen muntah tapi tidak ada yang dimuntahkan.


 


"Mbak Via...lebih baik mbak istirahat dulu, atau Mbak Via mau saya antar...?" kata Diana menawarkan.


"Terimakasih Din....aku sudah hubungi Mas Adrian, sebentar lagi juga pasti datang." jawabku.


 


Lyvia merebahkan diri di sofa yang ada di ruangannya. Dia sudah paking semua berkas-berkas pribadinya yang akan dia bawa pulang.


 


"Siang... Mbak Via ada di ruangannya...?" tanya seseorang yang baru saja datang.


"Iya...silahkan Pak..." jawab Santi mempersilakan Adrian masuk ke ruangan Lyvia.


 


Mutia sales cewek baru, yang belum mengenal suami Lyvia dia berdecak kagum dengan penampilan dan ketampanan Adrian.


Dia mendekati Santi dan Mira yang sedang duduk di counter.


"Mbak...itu tadi siapa...?" tanyanya.


Mira dan Santi saling pandang.


"Kamu belum tahu...itu suami Mbak Via..." jawab Mira yang tidak suka dengan gelagat centil gadis ini.


 


"Sayang....." panggil Adrian yang langsung membuka pintu ruangan Lyvia.


"Silahkan Pak... Mbak Via merasa pusing dan mual..." kata Diana yang menunggunya di ruangan itu.


"Iya... terimakasih ya..." jawabnya seraya duduk disamping istrinya.


"Saya permisi dulu Mbak...Pak..."


"Makasih ya Din...." jawab Lyvia.


 


Adrian hanya menganggukkan kepalanya.


 


"Kita langsung ke dokter saja ya....?" pinta Adrian.


"Iya Mas...." jawabnya sambil memijat-mijat ringan pelipis matanya.


"Apa yang harus Mas bawakan...?"


"Itu Mas...sudah Diana paking di box tadi." jawabnya menunjukkan box yang ada di pinggir tembok dekat meja.


 


Diana memang telaten, dia membantu membereskan berkas pribadi Lyvia, dia juga yang membantu memijat-mijat pundak Lyvia.


Karena Lyvia juga gak suka aroma minyak angin, jadi Diana memijatnya dengan tangan kosong.

__ADS_1


 


"Ayo sayang....kamu kuat jalan sendiri...?"


"Iya Mas..." jawabnya sambil berdiri dibantu suaminya.


 


Adrian mengangkat box berisi berkas-berkas pribadi Lyvia, sedangkan Lyvia berjalan disebelahnya dengan tangan memeluk lengan Adrian.


Bukan bermaksud pamer tapi memang karena dia butuh pegangan untuk jalan.


 


"Diana, Mira, Santi.... Mbak pulang dulu ya...?" katanya mendekat dan merekapun saling berpelukan.


"Mbak Via sering-sering kemari ya...kami pasti akan merindukan Mbak Via..." jawabnya.


"Kalian semua...saya pamita dulu ya...semoga sukses semuanya..." katanya sambil melambaikan tangan kepada marketing-marketingnya yang masih duduk di ruang tunggu.


 


Mereka semua membalas dengan lambaian tangan dan ucapan selamat tinggal.


"Bu Lyvia.... perkenalkan, saya Mutia...baru mulai bekerja besok. Hari ini saya datang memenuhi panggilan dari Bapak Hari." katanya yang tiba-tiba nyelonong mendekati Lyvia.


Tapi sebenarnya bukan itu sasarannya, dia hanya cari perhatian dengan laki-laki ganteng di sebelah Lyvia.


 


"Sayang...Mas ke mobil dulu ya..." kata Adrian sambil berlalu.


 


Bukannya segera menyelesaikan apa maksud dan tujuannya, tapi malah matanya ikut jalan kemana Adrian pergi.


 


"Halloo...Mutia..." panggil Lyvia.


"Eh...iya Bu...." jawabnya gugup.


"Belum Bu ... Pak Hari masih keluar sebentar, dan sudah berpesan untuk menunggunya sebentar di ruang tunggu..." belum sempat Mutia menjawabnya, tapi Mira sudah terlebih dahulu memberikan keterangan.


 


Mira memang tidak suka dengan gadis itu. Selain kurang sopan, dia juga bersikap genit dan berani.


 


"Iya Bu...." jawabnya mengiyakan penjelasan Mira.


"Ya sudah....saya tinggal dulu ya, tunggu saja Pak Hari." jawabnya dan segera berjalan menuju mobilnya.


 


Mira dan Diana segera berdiri membantu Lyvia berjalan ke mobilnya.


Adrian menunggunya di dekat pintu mobil. Pandangannya tertuju pada istrinya yang berjalan ke arahnya.


Tapi di sebrang sana ada seseorang yang sedang memperhatikan dan mengagumi ketampanannya.


Hari ini Adrian memang nampak keren. Dengan kemeja ketat warna hitam dan kacamata hitamnya, terlihat begitu sinkron dengan postur tubuh dan kulit putihnya.


 


"Mbak Via...maaf, bilang ke Pak Hari...jangan terima anak itu, gelagatnya kelihatan tidak baik..." kata Mira setengah berbisik.


"Iya Mbak....udah gak sopan, genit lagi..." komentar Diana mengiyakan pernyataan Mira.


"Iya lo Mbak...mana genitnya ke Pak Adrian lagi..." sambung Mira.


"Ahhahahahaha....kalian ini kenapa sih, adek-adek Mbak Via yang imuet...gak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya... biarkan nanti Pak Hari yang menilai ya...?" jawab Lyvia bijak.


"Tapi Mbak....."


"Ssssttttt....kalau niat dia masuk kerja disini sudah tidak baik, pasti hasil yang tidak baik pula yang akan dia dapatkan." kata Lyvia menasehati sebelum Mira melanjutkan komentarnya.

__ADS_1


 


Lyvia disambut suaminya yang telah membukakan pintu mobilnya.


"Terimakasih ya...." kata Adrian kepada kedua pegawai Lyvia.


 


"Ingat ya...kerja baik-baik...daaaa....." kata Lyvia dari dalam mobil yang kacanya terbuka.


"Daaaa.... Mbak Via...." mereka melambaikan tangannya sampai Lyvia menghilang dari pandangan.


 


***


Sepanjang perjalanan Lyvia masih terdiam, dia memikirkan apa yang tadi dikatakan kedua pegawainya.


Adrian memang menawan, pasti menarik perhatian siapapun yang melihatnya.


 


"Kenapa sayang....?" tanya Adrian sambil dielusnya rambut Lyvia.


"Itu anak-anak...tadi ngomong kalau calon sales baru tadi genit sama Mas..." jawab Lyvia acuh.


"Kok ngambeknya ke Mas...?" tanya Adrian.


"Habis Mas juga tebar pesona, bikin cewek pada genit..." gerutunya.


"Hahhahaha.....siapa yang tebar pesona, perasaan Mas biasa saja...?" katanya membela diri.


"Nyatanya tadi ada yang genit-genit sama Mas...."


"Hhllllaaaa....mana Mas tau, tapi tunggu dech....tadi Mas lihat kamu begitu bijak mensehati mereka, kenapa sekarang malah dibahas...padahal Mas gak ngerti loo...." protes Adrian...


"Hhhhhmmmm.....aku tau nich, kamu cemburu ya....?" tanyanya seraya mencubit pipi Lyvia yang memerah.


"Apaan sih mas....ya jelaslah aku cemburu, gimana sih...?" gerutunya sendiri.


 


Hhhhhoooeeeekkk....


 


"Mass...."


 


Adrian menepikan mobilnya, Lyvia keluar dan berusaha memuntahkan isi perutnya yang terasa tidak nyaman.


 


"Udah sayang... istirahat ya, pejamkan matamu jangan suka marah biar gak muntah lagi..." goda Adrian.


 


Lyvia memejamkan mata di sandaran jok mobilnya. Tangannya mencubit pinggang Adrian yang mencoba menggodanya.


Adrian meraih tangan kanan Lyvia dan masih seperti masa-masa pacaran dulu, dia selalu menggenggam erat tangan Lyvia ke dalam pangkuannya.


 


'Tidak akan pernah berpaling pandangan mata ini kepada yang lain...karena di hatiku untuk saat lalu, sekarang dan selamanya hanya akan terukir namamu.' gumamnya dalam hati.


 


Dikecupi punggung tangan Lyvia berkali-kali. Dibandingkan ketakutan Lyvia karena adrian tergoda perempuan lain, lebih takut Adrian yang kehilangan Lyvia karena orang lain.


'jangan khawatir sayang...akan aku jaga hati ini untukmu...' bisiknya dalam hati. Lyvia yang terlihat lelah merasa nyaman tidur di jok sebelahnya.


Adrianpun mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, agar istrinya lebih nyaman tidur di sisihnya.


~ ------------------------------


~ ------------------------------

__ADS_1


~ ------------------------------


__ADS_2