MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 62. Risalah Hati Lyvia


__ADS_3

Klunting....


 


("Assalamu'alaikum Lyvia... maafkan Mas sayang, Mas harus pergi ke luar kota...ada hal yang harus Mas selesaikan...")✔️


("Maafkan Mas...karena tidak sempat meminta izin padamu dan Mama...")✔️


("Mas janji...akan kembali sebelum kelahiran anak kita...")✔️


 


Lyvia hanya membaca pesan yang dikirim Adrian siang itu.


Tidak ada yang dia lakukan untuk menjawab pesan WhatsApp darinya.


Ingin rasanya dia berteriak meluapkan emosinya, namun semua itu tidak ada gunanya. Toh dia sudah pergi ...mungkin dengan yang lain yang dia suka.


 


"Astagfirullah....apa yang aku pikirkan...?" celotehnya sendiri.


 


'Ya Allah.... lindungi lah dia, apapun yang dia lakukan saat ini...jika Engkau meridhoi maka lancarkan pekerjaannya, tapi jika Engkau tidak meridhoi maka sadarkan dia kembali untuk pulang....' itulah sekelumit kata dalam hatinya.


Meskipun hatinya sakit, tapi dia tetaplah suaminya, orang yang telah dia pilih sebagai pendamping hidupnya dan mereka telah berkomitmen bersama.


Hampir satu Minggu tidak ada kabar dari Adrian.


Lyvia yang sebelumnya bersikap seolah tidak ada yang terjadi, gini mulai kalut dan khawatir.


Bukan risau tentang keadaan Adrian tapi risau tentang bagaimana kelanjutan hubungan mereka kedepannya.


Selama ini, dia hanya memendam perasaan ini sendiri. Lyvia memang wanita yang tangguh, bahkan dia tidak mau membicarakan tentang Adrian kepada Mamanya.


Takut kalau Mama terlalu banyak pikiran yang akan berdampak terhadap kesehatannya.


Begitupun dengan Ibu... biasanya wanita hebat yang telah mengandung dan melahirkannya itulah tempat dia mengadu.


Tapi tidak untuk kali ini...dia tidak mau membuat Ibunya khawatir tentang kehidupan rumah tangga putri sulungnya.


Prinsip hidupnya, dia harus bisa menutupi kekurangan suami, karena kepergian Adrian adalah aib baginya. Tidak ada yang bisa menolongnya kali ini, kecuali dengan kekuatan do'a.


 


"Lyvia...apa Adrian sudah mengirimkan pesan kepadamu...?" tanya Mama mengagetkan lamunanku.


"Belum Ma....mungkin dia sedang repot..." jawabku asal.


 


'Maafkan Mama Nak... Mama harus menyembunyikan hal ini darimu, Mama tidak tega melihatmu menangis.'


Sebenarnya sebagai perempuan, hati Lyvia juga sama seperti yang lain...rapuh ketika menghadapi risalah hati.


 


"Ma....Via mau keluar sebentar..."


"Kemana sayang..."


"Mau maen ketempat Mbak Lia, kangen sama Baby Gibran..."


"Iya Nak...salam buat Lia ya..."


"Wa'alaikumsalam....Insha Allah nanti Via sampaikan Ma...."


"Via mau naik apa....? apa biar diantar Pak To...?"


"Gak usah Ma...Via pengen bawa mobil sendiri, sudah lama gak dilatih kakinya...takut lupa.." celotehnya sambil berjalan menuju garasi mobilnya.

__ADS_1


 


'Ya Allah... terimakasih atas karunia-Mu, karena hingga saat ini, dia bisa bertahan untuk tetap tersenyum tanpa menanyakan keberadaan Adrian.' gumam Mama dalam hati.


***


Lagi-lagi...ketika dalam keadaan sendiri, dia harus teringat bayang-bayang Adrian. Terkadang kebencian sering menyelimuti hatinya.


'Astaqfirullah....jangan sampai aku membencinya dalam keadaan hamil, aku tidak mau putraku juga ikut membenci ayahnya...' gumamnya sendiri.


Kediaman Prima terlihat sepi, ketika Lyvia memasuki halaman rumahnya.


Tok...tok...tok....


 


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumsalam...." jawab seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu dan mempersilahkan aku untuk masuk.


"Kok sepi Bi....dedek Gibran kemana...?" Tanyaku sembari memasuki rumah yang tergolong istimewa milik keluarga Prima ini.


"Dedek Gibran diajak tantenya jalan-jalan ke rumah Utinya tadi pagi. Kalau Mbak Lia ada di kamarnya, sebentar saya panggilkan.."


 


Lyvia duduk di ruang tamu, menunggu yang punya rumah keluar dari kamarnya. Dia melihat sebuah album foto yang bertuliskan 'Wedding Party'.


Dia buka lembar demi lembar kertas tebal yang dilapisi plastik mika itu satu persatu. Foto pernikahan Prima dan Lia.


Pernikahan adalah sebuah moment yang sangat sakral, penuh dengan proses dan tradisi, saling berbagi dan saling berjanji sehidup semati.


Itulah Pernikahan sesungguhnya yang dialami sahabatnya ini, Prima dengan baik membawa keluarganya ke jalan menuju Syurga, sedangkan dia...


Pernikahannya gini sudah diujung tanduk dan tinggal menunggu hari.


"Silahkan diminum Mbak Via, maaf ditunggu sebentar, Bu Lia masih mandi...tadi baru saja selesai pijat..." kata asisten rumah tangga yang menyuguhkan secangkir teh hangat lengkap dengan cemilannya.


 


Dia kembali berkutat dengan gambar yang ada di depan matanya.


"Adrian..." gumamnya lirih.


 


Dia temukan foto orang yang pernah mengisi hari-harinya itu. Dia begitu tampan diantara teman-temannya.


Tubuhnya yang perfek menjadi incaran setiap wanita. 'Ya Allah....kenapa aku harus mengingatnya lagi...?'


Mereka bertiga bersama sejak duduk di bangku SMP, karena sikapnya yang baik


Lyvia sempat jatuh cinta terlebih dahulu dengan adrian.


Sebelum akhirnya jalinan persahabatan mereka harus berakhir karena harus melanjutkan ke sekolah yang berbeda.


'Dulu...kau yang memohon agar aku menerima cintamu Mas...namun, setelah aku benar-benar jatuh cinta padamu, kenapa kau tega meninggalkan diriku...?'


Air mata Lyvia menetes tak terbendung lagi. Hatinya bergemuruh, dadanya terasa sesak. Dia bungkam mulutnya sendiri agar suara tangisannya tidak sampai terdengar.


 


"Lyvia......"


 


Suara Mbak Lia memanggil namaku. Dia sudah melihatku sebelum sempat kuhapus air mataku.


 


"Mbak Lia...."

__ADS_1


 


Suaraku parau, aku berlari menghambur ke pelukannya.


Kurasakan perutku mengganjal, gerakan aktifnya kurasakan nyeri di perutku.


"Aaaccgggghhhhh...." kupegang perutku yang kesakitan.


 


"Kenapa Lyvia, tenanglah sayang...ayo duduk dulu...." pintanya menggiringku kembali ke sofa.


"Mbak Lia ...apa Mas Prima tidak pernah menceritakan sesuatu padamu...?"


"Cerita apa sayang....?"


"Tentang Adrian...." bibirku terasa keluh setiap mengucapkan namanya.


"Adrian....." ulangnya lirih.


 


Ada perasaan heran tersirat di wajahnya. Mungkin memang dia tidak tau apa-apa.


 


"Ada apa dengan Adrian...?" tanyanya kemudian.


"Adrian telah lama tidak ada kabar Mbak..."


"Maksud kamu bagaimana Lyvia...?"


"Dia pergi tanpa pamit, entah itu tugas atau kemana aku tidak tahu..."


"Apa kamu tidak menanyakannya ke kantor....?"


"Tidak Mbak...tapi Mama sudah ke kantor, dan mereka bilang kalau Adrian sedang tugas sekitar 1 bulan di luar jawa"


"Apa dia tidak mengatakan kemana dia pergi...?"


"Dia hanya mengirimkan Pesan melalui WhatsApp seperti ini...." jawab Lyvia sambil menunjukkan pesan yang pernah ia terima beberapa hari yang lalu dari Adrian.


 


Lia membaca pesan itu dengan seksama. Dia tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Adrian. Ekspresi wajahnya menunjukkan kemarahan.


'Kenapa Mas Prima tidak pernah menceritakan hal ini kepadaku...?' ungkapnya dalam hati.


 


"Apa kamu sudah pernah tanyakan hal ini kepada Mas Prima...?"


"Belum Mbak...."


"Aku juga heran, baru kali ini Mas Prima tidak menceritakan tentang sahabatnya itu..."


 


Lia yang merasa geram, segera mengambil handphonenya untuk menghubungi Prima.


Tapi sambungan itu terputus sebelum diterima oleh yang bersangkutan.


 


("Mas... Lyvia dirumah, ada hal yang akan dia tanyakan padamu...")


 


Pesan singkat yang dikirim Lia kepada suaminya.


~ ------------------------------------

__ADS_1


~ ------------------------------------


~ ------------------------------------


__ADS_2