
Mentari hampir tidak menampakkan sinarnya lagi. Perlahan namun pasti, ia mulai menenggelamkan diri ke ujung barat.
Semilirnya angin senja kala itu, membuat Kania enggan beranjak dari tempat duduknya.
Ada perasaan yang melanda hatinya. Rasa rindu akan kehadiran orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kerinduan seorang istri kepada seorang suami.
Hanya senandung sholawat yang menemaninya saat ini. Dia dengarkan dengan sebelah handset di telinga kanannya dan sebelahnya lagi dia taruh di perutnya.
'Dengarkan sayang...hanya ini yang bisa Mama lakukan untuk mengobati kerinduan Mama kepada Papa yang jauh di sana.' bisik Kania kepada calon bayi di perutnya.
Terlihat dari gelengan kepalanya dan matanya yang terpejam serta bibirnya yang bersenandung lirih.... menandakan bahwa dia benar-benar menikmati kegiatan sorenya itu.
"Nia....Kania...." samar-samar terdengar suara ibu memanggil.
"Iya Bu..." baru dia jawab setelah suara itu semakin lama semakin mendekat.
"Sudah sore Nak, hampir magrib...ayo kita masuk." pinta ibu.
Ibu mengiringi jalannya dari belakang, ada rasa letih yang tertinggal di kursi bekas dia duduk.
Ibu paham... hatinya sedikit gusar, di usia kandungannya yang semakin mendekati hari H. Sama seperti istri yang lain, dia ingin suaminya ada di sampingnya saat kelahiran putranya nanti.
"Nia mau makan dulu ?"
"Nanti saja Bu...Nia mau tunggu sholat Maghrib dulu."
Namun...usai Sholat Maghrib, belum ada apa-apa yang masuk ke dalam perutnya, hanya segelas susu hangat yang mampu membasahi tenggorokannya.
"Nia gak makan ?"
"Nanti saja Bu...Nia sedang gak enak makan."
itu-itu saja jawaban yang dia berikan kepada ibunya.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam...." jawab ibu dan Nia bersamaan.
"Biar ibu yang buka." pinta ibu ketika Kania akan beranjak dari tempatnya.
"Aunty !" teriak Al memanggil tantenya.
"Sayang..." Kania menjatuhi ciuman di pipi kanan kiri Albiansyah. Semakin besar bocah ini semakin menggemaskan.
"Nia sedang apa Bu ?"
"Ada di meja makan, tapi dari tadi siang belum makan, tidak enak makan katanya."
"Ini Via bawakan pem-pek kesukaan Nia"
Terdengar suara langkah kaki Al yang semakin mendekat ke arah Bundanya. Dia sedang menarik tangan Kania, ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan.
"Al...kok tarik-tarik Aunty seperti itu ?"
"Bunda... oleh-oleh buat Aunty mana ? kasihan dedek bayi belum makan." celotehnya.
Lyvia menyerahkan bungkusan yang ada di tangannya.
"Apa ini Kak ?" tanyanya.
"Pem-pem Aunty." kata Al mendahului Bundanya.
Celotehnya membuat semua yang mendengar tertawa. Kehadiran Al merupakan hiburan tersendiri buat Kania. Sesaat dia bisa melupakan rasa rindunya kepada Dani suaminya.
"Pem-pek sayang." kata Lyvia membenarkan.
__ADS_1
"Pem-pek." tirunya.
"Iya, betul." ucapnya memberikan aplaous kepada putranya.
Sudah menjadi kebiasaan Lyvia, selalu memberikan apresiasi untuk Al yang lulus dalam mengucap atau mengerjakan sesuatu.
Hal itu dia lakukan agar putranya lebih semangat dalam belajar. Selain itu juga, sebagai pengajaran agar dia terbiasa menghargai pekerjaan seseorang.
"Ayo kita buka sayang...Kakak Al mau ?" tawar Kania.
"Gak mau." jawabnya sembari menutup mulut dengan kedua tangan mungilnya.
"Hhhmmmm....enak lo..."
"Gak mau....pedas."
"Dikit saja..."
"Gak mau..." bekapan tangan dan gelengan kepalanya semakin kuat.
Lyvia dan Ibunya sedikit lega dengan canda tawa mereka. Kesepian yang melandanya sedikit teratasi dengan kedatangan Al.
"Kak Via...izinkan Al tidur di sini."
"Gakpapa Nia...coba tanya Al, mau tidak dia aku tinggal."
"Mau Bunda." jawabnya sebelum di tanya sama Auntynya.
"Beneran tinggal di rumah Yang Ti ?"
"Iya Bunda."
"Tapi Bunda pulang lo..."
"Biarkan dia tinggal beberapa hari di sini Kak." ucapnya sembari memeluk keponakannya itu.
Tak terasa ada setetes air hangat menyentuh pipinya.
"Kenapa Nia ?"
"Gakpapa Kak..."
"Ungkapkan saja, jangan di pendam."
Ibu membawa Al untuk masuk ke dalam, membiarkan Kania dan Lyvia mencurahkan isi hati.
"Kakak... bagaimana rasanya, saat kita menghadapi HPL tanpa kehadiran suami ?"
"Eehhmmm...Kania, kamu harus bercermin dari apa yang pernah kakak alami, tetap positif thinking sayang...apapun yang Dani kerjakan semua semata-mata untuk masa depan kalian."
"Iya Kak." ucapnya tersedu.
"Senantiasa berdoa sayang... kekuatan do'a mengalahkan segalanya. Allah selalu mendengarkan dan pasti akan mengabulkan do'a-do'a kita. Yakinlah akan kebesaran-Nya."
"Iya Kak, Kania percaya akan kekuatan Do'a."
"Banyak di luar sana suami yang tidak bisa mengikuti perkembangan kandungan istrinya, bahkan tumbuh kembang putra putrinya semua karena tuntutan kerja. Jadi...satu hal yang harus kamu ingat... apapun yang terjadi, tetaplah mendoakan yang terbaik untuk suamimu." nasehatnya panjang lebar.
"Pasti Kak..."
Tangis Kania pecah di pelukan Lyvia.
'Maafkan Kakak Nia... Kakak bisa memberikan nasehat untukmu, tapi Kakak pernah putus asa saat merasakan hal yang paling buruk ketika tidak ada Adrian di samping Kakak.' ungkapan hatinya.
'Keadaan kita beda sayang, Dani tidak bisa pulang karena memang kewajiban dalam tugasnya, tapi Adrian pergi karena rasa empati terhadap orang lain yang sempat membuatku patah semangat.' keluhnya dalam hati.
__ADS_1
"Jangan dibikin masalah ya.... tetaplah tersenyum, karena senyum seorang ibu akan menjadi dampak positif bagi janin yang ada dalam kandunganmu."
Kania menganggukkan kepala, dia mengerti nasehat kakaknya.
"Bunda...Aunty kenapa ?" tanya Al yang melihat Lyvia memeluk Kania.
"Gakpapa sayang...Aunty sayang sama Bunda." jawab Lyvia.
"Al sayang Bunda."
sikapnya yang manja membuatnya enggan melepas pelukannya di leher Lyvia.
"Sayang Aunty tidak ?"
"Al juga sayang Aunty."
Sudah hampir jam 22.00 wib, Lyvia pamit untuk pulang. Dia tinggalkan Al di rumah Ibunya.
***
Adrian memasuki halaman rumahnya, bersamaan dengan kedatangan Lyvia malam itu.
"Sayang....Al mana ?"
"Al tinggal di rumah Ibu Mas."
"Tumben dia mau tinggal ?"
"Iya...Kania yang meminta, kasihan dia merasa kesepian." ucapnya setengah bengong.
"Apa Nia baik-baik saja ?" tanya Adrian yang melihat ada sedikit masalah di raut wajah istrinya.
"Alhamdulillah....Nia baik-baik saja Mas, cuma dia sedikit takut...kalau pas waktunya bersalin Dani belum datang."
Adrian meraih istrinya ke dalam pelukan, dia bisa merasakan apa yang sedang istrinya rasakan. Lyvia pernah mengalami hal yang ditakutkan adiknya.
Kali ini... hal itu tidak akan terulang lagi. Adrian tidak mau melihat air mata mengalir di pipi Lyvia.
"Mas janji... kejadian di masa lalu tidak akan pernah terulang lagi. Mas akan menemanimu saat persalinan anak kita nanti." bisiknya.
"Dan satu pesan Mas, tetaplah tersenyum dan berfikir positif... karena kamu akan tetap cantik saat tersenyum." candanya yang membuat Lyvia benar-benar tersenyum.
Lyvia memeluk erat tubuh suaminya, seakan berkata 'jangan pernah jauh dariku'.
~ --------------------------
~ --------------------------
*بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم*
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
"Selamat Hari Raya Idul Fitri,1 Syawal 1441 H"
تَقَبَّلَ اللّهُ مِنَّا وَمنِْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ,
كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. اَللّهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ العَاءِدِيْنَ وَالفَاءِزِيْنَ وَالمَقْبُوْلِيْنَ.
*Mohon maaf lahir dan batin 🙏
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
~ ---------------------------
~ ---------------------------
__ADS_1