
Adrian terlihat gagah dengan seragam polisinya. Dadanya yang bidang dan postur tubuhnya yang tegap menambah kharismanya.
Sementara itu diruang sebelah, seseorang dari salon sedang merias Lyvia. Tak kalah dengan Adrian, Lyvia terlihat anggun dengan kebaya yang dia kenakan.
"Subhanallah....cantik sekali." kata perias itu memujinya.
Yang di puji hanya tersenyum malu.
Lyvia berdiri menghadap ke kaca dimana terlihat dengan jelas lekuk tubuhnya yang masih padat berisi.
Tanpa disadari ada seseorang yang memperhatikan dari belakang. Senyumnya mengembang disana.
"Rasanya ingin segera aku meminangmu." gumamnya dalam hati. Dihampirinya gadis pujaan hatinya itu.
Dalam perjalanan menuju tempat resepsi, Lyvia hanya terdiam tanpa sepatah katapun.
Adrian membukakan pintu mobilnya.
Lyvia terlihat anggun berjalan bersanding dengannya. Tangan kanannya yang merangkul lengan Adrian, seakan-akan berkata 'ini milikku'
"Mas." bisiknya
"Hheemm." seraya memperlambat langkahnya.
"Aku gugup." memang dari tadi tangan Lyvia terasa dingin.
"Tenang saja...kamu cukup tersenyum dan tetaplah manis disampingku." bisiknya menenangkan.
"Nanti kamu juga akan merasakan sendiri lebih gugup dari ini." tambah Adrian lagi.
Karena ini acara formal, jadi Adrian belum sempat bertegur sapa dengan rekan-rekannya. Mereka masih mengikuti rentetan acara dengan khidmat.
Sesekali pandangan mata mereka tertuju kepada pasangan ini. Selain kedua mempelai, Adrian & Lyvia juga menjadi pusat perhatian.
Selesai acara, mereka kembali ke Villa. Gerah rasanya dan ingin segera melepaskan kepenatan ini dibawah guyuran air.
"Capek ?" tanya Adrian yang ikut duduk di sofa di samping Lyvia.
Lyvia hanya mengangguk. Dirasakan punggung tangannya dikecup oleh Adrian.
Lyvia yang merasa risih, ingin berdiri untuk segera ke kamar mandi. Namun tangannya masih pada genggaman tangan Adrian.
"Aku belum sempat memuji kecantikanmu." jari kiri Adrian menyentuh kening turun ke hidung, bibir dan berhenti di dagu Lyvia.
"Hhhhhhmmmmm......mulai dech." sungutnya sembari mencubit kedua pipi laki-laki di hadapannya itu.
Adrian melepaskan dan membiarkan wanita itu pergi ke kamarnya. Sedangkan dia juga melepaskan seragamnya untuk berganti baju santai. Celana jeans pendek dan kaos ketat, menonjolkan postur tubuhnya yang sixpack.
Hampir satu jam lebih Adrian menunggu, tapi Via tidak kunjung keluar dari kamar.
*Tok tok tok....
__ADS_1
"Via." tidak ada sahutan dari dalam.
Dibukanya pintu kamar Via. Dengan langkah pelan Adrian mendekat, ia terlelap tidur.
Disibaknya lembut rambut Lyvia, pelan ia membuka matanya.
"Mas....maaf, Via ketiduran." jawabnya ketika melihat Adrian berbaring di sampingnya menghadap ke arahnya.
"Kamu sakit." dipegangnya kening Lyvia.
"Enggak...cuma sedikit pusing."
Lyvia yang masih berbaring di atas ranjang, spontan merangkul leher Adrian yang terlihat cemas memandanginya.
"Kamu mau menggodaku." ledeknya.
Lyvia hanya mengerlingkan sebelah matanya.
"apa kamu merasa tergoda ?" tangan Lyvia mulai nakal meraba dada bidang Adrian.
"Jangan membangunkan singa tidur." suara Adrian terdengar serak.
Lyvia tertawa, itu membuat Adrian semakin gemas.
"Aku cuma ingin lihat, sekuat apa singa itu menahan amarahnya." goda Lyvia.
"Jangan sampai aku hilang kontrol ya."
Adrian menghentikan aksinya setelah melihat wajah Lyvia merah merona karena geli.
"Jam berapa sekarang ?" tanya Lyvia.
"Hampir petang."
Lyvia bangkit dari ranjangnya, mereka menuju ruang tengah untuk menunggu adzan Maghrib.
"Sayang....kalau kamu capek, kita tidak usah hadir di pesta pernikahan Bima."
Di sibakkannya rambut Lyvia ke samping. Dipegangnya kedua tangan kekasihnya itu.
Sebenarnya memang Via merasakan badannya kurang vit. Seharian tadi dia berdiri hampir 2 jam untuk mengikuti upacara bataliyon.
Tapi dia tidak mau mengecewakan pria yang dia sayangi ini. Apalagi tadi pagi Adrian belum begitu puas bertemu dengan sahabatnya itu.
"Tidak mas....aku gakpapa kok...ayo bersiap, habis sholat kita kesana." jawabku merajuk.
Malam ini setelan jas hitam dan kemeja warna tosca membalut tubuh atletis Adrian. Lyvia juga terlihat anggun dengan gaun warna senada yang dikenakan.
Pasangan sejoli ini terlihat serasi, membuat iri setiap mata yang memandang. Acara kali ini standing party.
Adrian & Lyvia menuju pelaminan, dimana kedua mempelai dipajang.
__ADS_1
"Bima.... akhirnya sold out juga." goda Adrian disertai gelak tawa.
"Iya dong....kapan nich nyusul." jawabnya sambil melirik perempuan disampingnya.
"Secepatnya." tegasnya lagi.
"Jangan lama-lama, keburu digigit nyamuk." canda Bima setengah meledek.
"Selamat ya." ucapnya kepada pengantin wanita.
"Terimakasih... jangan lupa undangannya juga ya." jawab Nyonya Bima.
Lyvia yang dulu pendiam dan kuper, sekarang sudah menjadi Lyvia yang supel dan mudah bergaul. Jadi sangat mudah bagi dia untuk berinteraksi. Meskipun baru pertama kali bertemu. Tapi mereka sudah begitu akrab.
Adrian memperkenalkan kekasihnya kepada setiap orang yang menyapanya. Tidak sedikit yang bertanya 'kapan dihalalkan ?'
"Waaaahhhh..... sebentar lagi ada yang nyusul nich !" Ledek mereka pada Adrian.
"Do'a kan ya.... semoga lolos seleksi, soalnya susah banget menaklukkan bidadari yang satu ini." jawabnya sambil melirik ke arah Lyvia. Yang di goda hanya tersenyum malu.
Pertemuan mereka bagaikan reuni. Banyak yang baru hadir dari berbagai kota. Acara berlangsung meriah, ditutup dengan lempar buket bunga. Entah memang sudah jodoh atau memang sengaja di lempar ke arahnya. Tanpa sadar buket bunga itu jatuh tepat di dada Lyvia.
***
Sepanjang perjalanan kembali ke Villa Lyvia banyak menguap. Rasa letih menggelayut di tubuhnya.
Adrian menghentikan mobilnya di depan Villa. Dilihat kekasihnya sudah terlelap. Merasa kasihan untuk membangunkan, Adrian menggendong Lyvia ke dalam dan ditidurkannya di ranjang.
Dirasa sudah nyaman, dia tarik selimut hingga sebatas dada. Adrian bangga dengan wanita di sampingnya ini. Kharismanya bisa menghipnotis semua mata yang memandang.
Adrian mengecup kening kekasihnya sebelum akhirnya keluar dari kamar itu.
Lewat tengah malam, Lyvia terbangun dari tidurnya. Dia masih mengenakan gaun pesta tadi sore. Ia beranjak dari ranjang untuk berganti dengan baju tidur.
Lampu ruang tengah masih menyala. Ia Keluar kamar, bermaksud untuk mematikan lampu. Namun, disana ada Adrian yang masih berkutat dengan laptopnya.
Dipeluknya leher Adrian dari belakang. Dia sandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Kenapa bangun ?" tanya Adrian yang terlihat menahan kantuk.
"Kenapa tidak bangunkan aku tadi ?" Lyvia balik bertanya.
"Aku kasihan... kelihatannya kamu capek sekali."
Adrian memutar tubuhnya menghadap Lyvia. Diraihnya kedua pipi gadis itu.
"Ayo tidur....sudah malam." kata Adrian, sambil membereskan pekerjaannya.
"Tapi....aku baru saja terbangun."
"Apa perlu aku temani biar terlelap lagi."
"Tidak tidak....aku bisa bobok sendiri."
Lyvia berlari kecil menuju kamarnya. Adrian hanya tersenyum melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan.
Diapun beranjak menuju kamarnya. Rasa kantuk membuatnya cepat terlelap. Karena besok dia masih harus konsentrasi dijalan menuju pulang.
~ --------------------------------
~ --------------------------------
__ADS_1
~ --------------------------------