MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Bab. 63. Kejujuran yang Menyakitkan


__ADS_3

Klunting....


 


("Mas... Lyvia di rumah, ada hal yang akan dia tanyakan padamu...") ✔️


 


Prima menerima pesan singkat itu dari istrinya. Dia sudah bisa menebak, apa yang akan Lyvia tanyakan kepadanya.


Prima berfikir, bagaimana merangkai kata yang tepat untuk menceritakan hal tentang Adrian kepada istrinya.


Karena kondisi tubuhnya yang sedang berbadan dua, dia takut kalau itu akan berpengaruh terhadap psikisnya.


 


"Ya Allah...tuntun aku, supaya apa yang akan aku sampaikan nanti tidak akan membuatnya sakit hati..." ucapnya lirih.


 


Prima membereskan semua pekerjaannya.


"Bismillah...." ucapnya sembari berdiri mengambil jaket dan kunci mobilnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib, Prima melajukan kendaraannya tergesa dengan perasaan yang memburu.


Sudah terlihat mobil jingga Lyvia, etika dia memasuki halaman rumahnya.


Samar-samar terdengar suara istrinya menasehati Lyvia untuk tenang.


Berat rasanya kaki Prima untuk melangkah memasuki rumahnya. Lagi-lagi dia tidak tau harus mulai lagi dari mana.


 


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam...." jawab mereka hampir bersamaan.


"Lyvia...sudah lama...?" tanyanya basa-basi.


"Lumayan Mas..." jawabku sekenanya.


"Mas....ada hal yang akan Lyvia tanyakan..." kata Lia menyela.


"Tentang apa...?" tanya Prima mencoba untuk tetap tenang.


"Adrian Mas... harusnya Mas tahu posisi Adrian sekarang dimana...?" kata Lia membuka pembicaraan mereka.


"Mas Prima...aku hanya ingin tahu, apa yang dikerjakan Adrian sehingga dia harus pergi ke luar kota....?" tanya Lyvia.


"Dia ada tugas mendadak ke Palembang..."


"Katakan dengan jujur Prima... meskipun kejujuran itu menyakitkan bagiku, aku siap mendengarnya..."


 


Prima menghela nafas panjang. Dia mengumpulkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk bisa menyampaikan sekedar apa yang dia tahu.


 


"Aku tidak yakin Via...karena aku sendiri belum mendapatkan jawaban yang benar-benar akurat...."


"Maksud kamu bagaimana...?" tanya Lyvia penuh harap.


"Bicara yang benar Mas... ceritakan apa yang kamu tahu..." sahut Lia ikutan gemas mendengarnya.


"Sebaiknya kita tunggu Adrian pulang terlebar dahulu saja..."


"Tapi sampai kapan....? aku cuma ingin tahu Prim...apa sebenarnya yang terjadi..." rintih Lyvia memohon.


 

__ADS_1


Prima bingung dibuatnya, dua srikandi ini menuntutnya untuk bercerita. Tapi apa yang dia tahu belum tentu sebuah kebenaran.


Karena dia paham betul bagaimana sifat sahabatnya itu, meskipun Prima sendiri sempat gemas dengan sikapnya yang kekeh dan tidak mau mendengar nasehatnya.


 


"Lyvia...aku hanya bicara sesuai versiku saja, tapi bagaimana sebenarnya hanya Adrian yang tahu....jadi jangan dulu kamu ambil kesimpulan sendiri, sebelum kita ketemu langsung dengan Adrian..."


 


Lyvia mengangguk...Liapun ikut mendengarkan dengan duduk disampingnya.


"Adrian mengambil cuti kurang lebih 1 bulan, untuk ke Palembang mengantarkan Sofia...."


 


"Sofia...." gumam Lia sembari menutup mulutnya. Lia mengenal Sofia karena mereka teman satu angkatan ketika di SMA.


"Siapa Sofia....?" tanya Lyvia.


"Sofia teman Adrian ketika SMA, dulu mereka sempat menjalin hubungan sampai ke bangku kuliah...tapi dia memutuskan untuk menerima pinangan orang lain di kampung halamannya di Palembang..."


"Lalu... bagaimana bisa dia disini...? Bukankah dia sudah menikah...?" pertanyaan Lia mewakili apa yang dipikirkan Lyvia.


"Dia kembali ke kota ini karena ada suatu masalah dengan rumah tangganya, status dia sebagai istri kedua, difitnah dan diusir dari rumah suaminya. Akhirnya dia putuskan untuk kembali ke kota ini, dengan harapan bisa hidup bahagia dengan neneknya, namun sayang...neneknya sakit dan meninggal, sedangkan orang tuanya tidak mau tahu... dan yang membuat Adrian simpati ingin membantunya karena dia dalam keadaan hamil tua tanpa perlindungan siapa-siapa...."


 


Prima menjelaskan inti pokok masalah dengan panjang lebar.


"Jadi.... perempuan yang pernah aku lihat bersama Adrian itu yang telah membuatnya jauh dari keluarga..."


 


"Apa kamu pernah bertemu sebelumnya...?" tanya Lia


"Ya Mbak....aku tidak sengaja bertemu dengannya di baby shop..."


 


 


"Kenapa kamu tidak melarangnya Prim...!" emosinya mulai memuncak.


"Aku sudah menduga kalau ini bakalan terjadi...aku juga sudah mengingatkannya..."


 


Lyvia sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi.


"Dengan kata lain....ini sudah menjadi pilihannya....?" bentak Lyvia.


 


"Via...sabar sayang, kita tunggu Adrian pulang..." ucap Lia mengingatkan.


"Aku harus bagaimana Mbak... bagaimana dengan anak yang aku kandung...?"


"Tidak Via....jangan bicara seperti itu, aku yakin Adrian hanya ingin membantunya menyelesaikan masalahnya..." kata prima.


"Tapi tidak seharusnya dia begini...dia sudah tidak menganggapku lagi, apa dia akan meninggalkanku perlahan..."


"Via....aku tahu kamu emosi, sebagai perempuan aku juga marah mendengar hal ini...tapi Mbak mohon, tetaplah bersabar sampai semua benar-benar ada kejelasan.." nasehat Lia kepadaku.


"Bagaimanapun keadaannya...kamu tetaplah istri sah Adrian, jadi jangan berkecil hati... kita tunggu sampai Adrian kembali..." sambung Prima kemudian.


"Entahlah Mbak.... aku tidak tau harus bagaimana...tapi sebagai istri yang baik, aku akan berusaha bertahan, sampai hatiku tak kuat lagi untuk menahannya..." jawabnya dengan pandangan kosong.


 


Lia memeluk Lyvia, dia pun bisa merasakan apa yang sedang dirasakan perempuan ini.

__ADS_1


"Kalau begitu aku pamit dulu Mbak..."


"Biar kami antar..." kata Lia mengkhawatirkan kepulanganku sendiri.


 


"Tidak usah Mbak....saya bawa mobil sendiri..."


"Iya...tapi dengan keadaan kamu seperti ini, Mbak khawatir kamu kenapa-kenapa..."


"Tidak apa-apa Mbak...Via kuat..." jawabnya sambil tersenyum.


 


'Dia memang kuat, kalau aku yang berada pada posisinya, mungkin sudah lama aku pergi dari rumah ini....' bisik Lia dalam hati.


 


"Kamu yakin tidak mau kami antar...?" tanya Prima memastikan keadaan sahabatnya ini.


"Tidak Prim... terimakasih atas semuanya." jawabnya kekeh, sama seperti suaminya kalau punya pendirian.


 


Prima hanya menganggukkan kepala, dan mereka menghantarkan kepergian Lyvia sampai lepas dari pandangan.


 


"Mas....kalian bertiga sahabat sejak SMP, bagaimana bisa Mas membiarkan Adrian bertindak tidak benar, kasian Lyvia..!!!??" ucap Lia emosi setelah kepergian Lyvia.


"Kok jadi Mas yang diomelin....?"


"Ya iyalah....Lia takut Mas juga tidak bertanggung jawab dan berbuat semena-mena seperti itu....?" ucapnya lirih.


"Apa selama ini ada tampang jahat di wajah Mas...?" tanyanya menyeringai.


"Enggak gitu....tapi...."


 


Prima memeluk dan membungkam bibir istrinya dengan mulutnya, sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.


 


"Sudahlah...jangan berfikir macam-macam, kita sambung do'a...agar persoalan Lyvia segera berakhir..." kata Prima sembari memeluk dan mencium istrinya Kembali.


 


Lia mengangguk kan kepalanya, tak terasa air matanya mengalir.


'Ya Allah.... terimakasih atas karunia-Mu, Engkau berikan aku suami yang berhati mulia...' ucapnya Syukur dalam hati.


 


"Hei....kok malah nangis, mana jagoan Papa...?" tanya Prima menanyakan keberadaan Putranya.


"Dibawa Dinda jalan-jalan kerumah Mama.." jawabnya sambil menghapus air mata di pipinya.


"Assalamu'alaikum....."


"Itu mereka..... Wa'alaikumsalam sayang..." jawab Lia.


"Uuhhhh....jagoan Papa baru pulang jalan - jalan ya....?" sambung Prima, dia gendong putranya. Mereka bercanda bersama, meregangkan sedikit pikirannya tentang Adrian.


 


~ ----------------------------------


~ ----------------------------------


~ ----------------------------------

__ADS_1


__ADS_2