
Malam itu Adrian masih duduk di dalam ruang kerjanya, tangannya masih disibukkan dengan keyboard dalam laptop yang berada di hadapannya .
Sesekali dia tengok istrinya yang masih menidurkan putranya.
"Uuuuaaaaggghhhh....." Adrian menguap berkali-kali, rasa kantuk sudah menggelayuti tubuhnya.
Namun...dia belum berani untuk masuk kamarnya. Hingga akhirnya dia beranikan diri untuk mengintipnya kembali.
Ceklekkk.....
Dia buka pintu kamarnya dengan pelan, diintipnya sedikit penghuni ruangan itu. Terlihat disana, Lyvia sedang tidur memiringkan tubuhnya, menghadap ke sisi kanan, dimana box putranya berada.
Ada ruang kosong di ranjang sebelah kiri, yang beberapa hari yang lalu dia penuhi sendiri.
Dan sofa tempatnya berhari-hari melepas lelah telah tertata rapi kembali, tanpa selimut dan bantal yang biasa dia pakai tidur setiap malam-malam lalu.
Adrian tersenyum melihat pemandangan itu.
'Apa kamu sudah membukakan ruang hatimu lagi untukku Lyvia...??' bisiknya dalam hati.
Lama Dia tertegun disitu, kantuknyapun terasa hilang, sebelum akhirnya dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.
'Ya Allah....jika memang ini Signal yang Engkau berikan untuk kami bisa menyatu kembali, maka atas Ridho-Mu halalkanlah dia untukku...'
Do'a Adrian yang selesai melaksanakan sholat isya' yang dilanjutkan dengan sholat malam.
Do'a itu dia panjatkan bukan tanpa alasan, karena di dalam emosinya Lyvia sering mengucapkan kata pisah.
Adrian masih duduk bersila di atas sajadahnya, tatapan matanya tertuju pada pemilik punggung yang ada di ranjang itu.
'Rasanya...sudah lama aku menunggu saat-saat seperti ini kembali...' bisik hatinya.
Pelan... Adrian mulai menempatkan pantatnya di ranjang yang kosong sebelah itu. Lyvia yang sempat dingin, dia mulai mau berbagi ranjang kembali.
"Via...." bisiknya sembari menyibakkan rambut Lyvia yang menutupi kening dan pipinya.
Suasana masih sunyi, belum ada jawaban atau pergerakan dari pemilik nama yang dia sebut tadi.
Adrian kembali menempatkan tubuhnya pada posisi yang nyaman. Dia peluk erat Lyvia dari belakang. Dingin yang berhari-hari dia rasakan kini sudah mulai menghangat.
Tidak ada perlawanan dari yang bersangkutan. Tidak meninggalkan kesempatan ini, Adrian semakin merapatkan tubuhnya.
Entah berapa lama dia mainkan rambut Lyvia yang selalu wangi. Hingga akhirnya dia tertidur dengan sendirinya.
*****
Ooeeekkk.... oooeekkk....
Terdengar suara baby Al menangis, Lyvia yang masih pada posisi nya semula, segera membuka mata ingin menenangkan putranya.
Namun tubuhnya terasa berat, seperti ada parasit yang menahan tubuhnya untuk bergerak.
"Mas.... Mas...." sia-sia usaha Lyvia untuk bisa membangunkan suaminya dengan sebuah panggilan.
Karena belum bisa bergerak, Lyvia hanya berusaha menenangkan Putranya dengan menggoyang-goyangkan box-nya.
Sementara Al sudah mulai tenang, Lyvia menyingkirkan kaki dan tangan Adrian dengan tenaganya sendiri.
Terasa ada yang mengganggu tidurnya, Adrianpun membuka mata.
__ADS_1
"Kenapa sayang....?" suara Adrian membuatnya terperanjat kaget.
"Gak papa....Al terbangun." jawabnya.
Adrian menongakkan kepalanya melihat keadaan putranya.
"Mana....? dia masih tertidur pulas..."
"Tadi... sekarang sudah tidur lagi.." jawabnya daftar.
Lyvia turun dari ranjang nya, dia pergi ke kamar mandi sekedar menghalau rasa malu terhadap suaminya.
Lyvia yang salah tingkah, membuat Adrian mengembangkan senyumnya.
'Kau masih saja jaim Via...' ungkapnya dalam hati.
Adrian mengikuti langkahnya menuju kamar mandi.
"Aaaaaa....." jeritnya kaget ketika sudah mendapati Adrian di depan pintu kamar mandi.
"Sssstttt....nanti Al bangun..."
"Mas ngapain disini... ngagetin aja..." gerutunya sembari memukul ringan dada Adrian.
Namun dengan sigap Adrian menangkap tangan nakal Lyvia. Dia mencium dan menggenggamnya di dada. Lama sekali mereka saling terdiam.
Pandangan mata Adrian masih betah menikmati pemandangan di depannya. Sedangkan Lyvia gugup, bibirnya terasa keluh tak bisa berkata apa-apa.
"Ma... Mas....biarkan aku...lihat Al dulu..." ucapnya terbata-bata, sambil mengalihkan pandangannya.
Adrian mulai merapatkan tubuhnya. Dia angkat dagu Lyvia, bibirnya yang merah merona meskipun tanpa pemoles kini lebih terlihat menantang.
Adrian mencoba mengecupnya pelan. Sebelum akhirnya dia lanjutkan dengan sedikit lumatan di bibirnya setelah dia rasa tidak ada perlawanan dari istrinya.
Masih sama seperti tadi...Adrian sangat menikmati adegan itu, lama sekali dia menahan rindu. Namun berbeda dengan Lyvia yang masih merasa canggung, dan menahan gemuruh dalam hati nya.
'Rasa ini...aahhh, terasa seperti hari-hari yang lalu ketika masih pengantin baru dan merasakan indahnya malam pertama...' bisik hati Lyvia.
Malam semakin larut, udara pun semakin dingin. Membuat dua insan yang saling meluapkan emosi hatinya, larut dalam adegan demi adegan yang mereka perankan.
Hingga akhirnya....
"Aarrggghhh....Mas...." Lyvia menahan suaminy untuk melakukan adegan terakhir.
"Kenapa....?" tanyanya dengan tatapan heran.
Hampir saja Lyvia menendangnya, membuat Adrian terperanjat menghindar dari tempatnya.
"Aku...belum melakukan KB..." ucapnya lirih sembari membungkam mulutnya sendiri.
"Sekali saja masak jadi..." jawab Adrian sambil melanjutkan adegan terakhir yang belum dia selesaikan.
Lyvia hanya menurut pasrah, sedangkan Adrian melancarkan aksinya tanpa mendengar rintihan istrinya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang....cup..."
Lyvia heran ketika mendengar Adrian mengucapkan terimakasih sembari mencium kening putranya.
"Mas ngapain...jangan bikin Al terbangun." gertak Lyvia yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tidak mungkin aku bangunkan dia sayang...aku hanya mengucapkan terimakasih saja...."
Lyvia mengernyitkan keningnya.
"Terimakasih untuk apa...??" tanyanya semakin heran.
"Terimakasih untuk tetap tidur nyenyak ketika Ayah merindukan Bundanya..." bisiknya di telinga Lyvia.
Perasaan geli menyelimuti hatinya. Jujur saja.... Lyvia juga merindukan saat-saat seperti ini.
Lyvia kembali ke ranjangnya, tanpa menghiraukan bisikan Adrian.
"Jujur sayang....apa kamu tidak merindukanku...?" tanyanya ketika mereka sudah sama-sama kembali di atas ranjangnya.
"Harus aku jawab ya...?" kata Lyvia balik bertanya.
"Iya dong....?" ucapnya penuh antusias.
"Gak cukup dengan perbuatan...?"
"Memangnya kamu berbuat apa...? kamu saja hampir mencelakaiku tadi...?" rengek Adrian yang membuat Lyvia tertawa kecil.
"Ya habis Mas... nyelonong saja, tanpa permisi..." komentarnya.
Adrian kembali terdiam mendengar jawaban Lyvia.
Dia pandangi wajah istrinya yang nampak polos tanpa make up.
"Kamu nampak cantik sayang...dan akan selalu nampak cantik di hatiku..."
"Masih malam...jangan suka ngegombal..." kata Lyvia sembari menyingkirkan wajah Adrian yang terlalu dekat memandangnya.
"Hhhhuuuuufffff....jujur salah, ngegombal makin salah, Al....kenapa sih Bunda kamu sensitif banget..." gerutunya sendiri sambil menatap langit-langit di kamarnya.
"Tidur Mas...." ucapnya yang tiba-tiba memeluk dan meletakkan kepalanya di dada bidang Adrian.
"Sejujurnya....aku juga sangat merindukanmu Mas...." Lyvia semakin mengetatkan pelukannya.
Adrian membalasnya dengan pelukan dan kecupan hangat di kening istrinya. Semoga kedepannya tidak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka. Itulah harapan Lyvia, yang menginginkan hal yang sama dengan kebanyakan orang berumah tangga.
~ -------------------------------------
~ -------------------------------------
__ADS_1
~ -------------------------------------