
Seorang pria tampan keluar dari dalam Honda CRV Hitam yang berhenti di depan Dealer.
Perawakannya yang tinggi, tegap dan menawan, terlihat lebih berkharisma dengan seragam polisi yang masih melekat ditubuhnya.
Meskipun matanya tertutup kaca mata hitam, namun senyumnya manis mengembang.
Derap langkah kakinya membuat dag dig dug hati siapapun yang mendengar.
"OMG... pangeran tampan itu datang lagi..." gumam seorang wanita yang memperhatikan kedatangannya dari balik pintu kaca.
Ya.....Mutia yang sejak tadi memperhatikan pria tampan yang mempesona itu.
'aku harus kelihatan cantik, agar bisa menarik perhatiannya...' bisiknya dalam hati.
Mutia segera merapikan pakaiannya, dia juga membenahi riasan di wajahnya. Dia mempercantik diri sebelum akhirnya menghampiri sasarannya.
Jalannya lenggak-lenggok bagaikan di area cat walk, Dia buka kancing kemeja nya paling atas bermaksud untuk menggoda.
"Selamat siang Mas Adrian...ada yang bisa saya bantu....?" tanyanya buru-buru mendekat setelah pintu kaca terbuka.
Adrian membuka kacamata hitamnya, senyumnya masih tetap manis mengembang. langkahnya terhenti oleh sapaan Mutia.
"Ya....saya mencari Diana" jawabnya sembari melangkah menuju counter.
"Eee....mungkin ada yang bisa saya lakukan untuk Mas Adrian...?" tanyanya sedikit memaksa.
"Oh... tidak, biar saya sendiri saja..." jawabnya acuh.
"Tidak apa-apa...saya dengan senang hati membantu..." katanya masih dengan nada memaksa.
Adrian tetap berjalan menuju counter, tanpa memperhatikan wanita yang mengekornya.
Santi yang ada di counter segera berdiri dan menyapanya.
"Selamat siang Pak Adrian..." sapanya dengan sopan.
"Siang...apa saya bisa bertemu dengan Diana...." jawabnya menyampaikan tujuannya.
"Baik Pak...silahkan ditunggu sebentar, Mbak Diana masih melaksanakan sholat dhuhur." jawab santi mempersilakan Adrian untuk menunggu.
Adrian ingin menunggu dengan duduk di kursi yang ada di depan meja counter. Tapi belum sempat dia menggeser kursi itu, seseorang telah membantu untuk menggesernya
"Silahkan Mas Adrian...." kata mutia.
"Oh... terimakasih...." jawabnya masih dengan sikap tak peduli.
'Hhaaahhh....Mas... benar-benar ni anak, tidak bisa menghormati tamu.' gumam Santi dalam hati.
__ADS_1
Santi yang pura-pura tidak melihat tapi diam-diam memperhatikan gerak-gerik Mutia.
'Sudah tahu kalau Pak Adrian suami Mbak Lyvia, tapi masih saja digoda....' gerutunya lagi dalam hati.
"Atau Mas Adrian ingin menunggunya di ruang tunggu depan, biar saya temani...?" tawarnya dengan nada lebih menggoda.
Diana yang tidak sengaja mendengar pertanyaan Mutia, merasa harus angkat bicara untuk menghentikan aksinya.
"Tidak usah repot-repot Mutia... terimakasih sudah membantu, Pak Adrian ada perlu dengan saya...silahkan kamu kembali ke tempatmu..." kata Diana yang gemas mendengar bujuk rayunya.
Adrian hanya tersenyum mendengar apa yang mereka bicarakan.
Sebenarnya Adrian sangat risih dengan sikap Mutia, tapi dia masih bisa menahan amarahnya saat ini.
Mutiapun segera pergi meninggalkan tempat itu, sambil mulutnya ngoceh seperti burung beo.
"Sialan lo Diana....awas saja nanti..." gerutunya sendiri.
"Silahkan Pak...ini undangan untuk Mbak Lyvia dari kantor pusat." katanya sambil menyerahkan 1 amplop coklat yang tadi sudah sempat dia buka seizin yang bersangkutan.
"Oke, terimakasih...saya langsung balik kantor ya..." kata Adrian berpamitan
"Silahkan... terimakasih banyak, mohon maaf belum sempat mengantar, tapi sudah diambil." jawabnya sopan.
"Tidak apa-apa...."
Namun dia harus mengurungkan aksinya, setelah tahu ada seorang Diana yang mengikuti.
'Ngapain juga tu cewek ngikutin Mas Adrian keluar...dasar cari perhatian.. ' gerutunya kesal kepada Diana.
"Makasih ya Din...." kata Adrian sebelum memasuki mobilnya.
"Ya... terimakasih Pak Adrian, salam buat Mbak Lyvia, semoga sehat selalu..." ucapnya.
Adrian meninggalkan tempat itu, tanpa menoleh sedikitpun kepada Mutia. Mutia yang kesal hanya bisa ngedumel dalam hati.
'Sial....!!! Belagu banget Diana... mentang-mentang sekarang jadi kepercayaan.' bisiknya dalam hati.
("Mbak Via... undangan sudah diambil Pak Adrian..."🥰) pesan yang dikirim Diana untuk Lyvia.
("Iya sayang... terimakasih...😘")
("Sama-sama Mbak..🥰😘)
Dia kirimkan pesan kepada Lyvia sembari berjalan kembali ke counternya.
***
"Mutia....saya peringatkan sekali lagi, tolong jaga sikap, bukan kepada Pak Adrian saja, tapi kepada semua tamu atau konsumen yang datang..." tegas Diana mengingatkan.
__ADS_1
"Dan satu lagi... tolong kancingkan kemejamu dengan benar...jaga sikapmu dan bawa nama baik dealer." tegasnya sekali lagi.
Tanpa mengucap sepatah katapun dia pergi meninggalkan dealer.
"Dasar sok berkuasa...." gerutunya sambil berjalan menuju motornya.
Mutia sempat memainkan gas motornya berkali-kali hingga menimbulkan suara bising.
Puas dengan sikap arogannya memainkan gas motornya, dia langsung melajukan motornya entah kemana.
Dia berhenti di sebuah cafe. Dia pesan satu paket kentang goreng, 1 nasi goreng spesial dan 1 orange juice.
("Hallo....dimana Kak...?") tanyanya pada seseorang yang dia hubungi.
("Masih dikantor...") jawab seorang yang dia panggil Kak.
("Aku kesana ya....") rengeknya
("Jangan...kakak lagi sibuk...") katanya yang langsung menutup sambungan teleponnya.
Dia taroh Handphonenya dengan kasar. Dia Kesal dengan apa yang diperbuat Diana, kini ditambah dengan kakaknya yang tidak memperbolehkan dia ke kantornya.
Mutia seorang anak yang manja dan sempat salah dalam bergaul. Orang yang disebutnya dengan panggilan kakak, adalah abangnya yang juga seorang polisi.
Dia mau mencoba untuk bekerja sebagai marketing lapangan di dealer hanya sekedar iseng. Kebiasaannya pergi hura-hura dan foya-foya dengan teman-temannya.
Makanya, dari awal masuk sampai sekarang belum satupun penjualan yang dia dapatkan.
Sebenarnya Pak Hari sudah memberikan ultimatum dan masa percobaan kerja. Tapi kelihatannya dia tidak pernah mengindahkan peringatan itu.
Banyak keluhan yang masuk mengenai dia. Ada yang bilang bahasanya kasar, ada yang bilang tidak sopan ada juga yang bilang terlalu banyak ambil split penjualan.
Kalau untuk masalah split atau potongan subsidi selama itu masih dalam batas kewajaran, tidak masalah bagi perusahaan.
Kekesalannya dia luapkan pada makanan yang ada di hadapannya. Baru duduk sebentar, dia sudah melahap apa yang dia pesan.
"Berapa mbak....?" tanyanya kepada pegawai cafe.
"Empat puluh lima Mbak..."
Lama dia membolak-balik Tas yang dia gendong, sebelum dia menemukan satu lembar uang lima puluh ribuan.
"Kembaliannya ambil saja..." katanya sambil berlalu dari tempat itu.
"Terimakasih...." jawab pelayan yang merasa heran dengan sikapnya.
Dia pergi meninggalkan cafe. Entah kemana tujuannya, yang jelas dia lajukan motornya lebih kencang dari biasanya.
Pesona Adrian telah membuatnya hilang akal. Apalagi sikap Diana yang membuatnya sakit hati, telah memicu emosinya yang bersifat temperamental.
"Aku harus bisa mengambil hati pria tampan itu...apapun akan aku lakukan untuk itu..." Gumamnya dalam hati.
Dia menghentikan laju kendaraannya yang semakin tak terkontrol. Dia teriak sejadi-jadinya di pinggir pantai untuk melampiaskan kekesalannya.
~ -------------------------------------
~ -------------------------------------
__ADS_1
~ -------------------------------------