
"Ibu.... Mas Adrian ada rencana kita mau liburan ke luar kota, Ibu sama Kania mau diajak juga..." katanya di sela-sela kesibukannya membantu Ibu membereskan bekas acara semalam.
"Liburan kemana....?"
"Belum tau Bu....kalau Via sih sukanya kita ke Villa Mas Adrian saja yang ada di Sarangan atau Tawangmangu..."
"Ooo....iya, kalau kesana Ibu mau...?"
"Pasti yang Ibu cari wisata belanja sayur dan buahnya..." kata Kania yang ikutan nimbrung.
"Bukan begitu Nia... disana udaranya lebih sejuk, bersih, terbebas dari bau kenalpot..." komentar ibu.
"Iya juga sih...memang kapan rencananya Kak....?" kata Kania tak kalah antusias.
"Eeehhhmmmm... mungkin minggu depan..."
"Waduh.....Nia gak bisa ikut dong..."
"Memangnya kenapa...? bukannya wisudamu masih bulan depan...?"
"Iya Kak....tapi, Nia harus ke kampus minggu depan dan lagi Nia dapat tawaran kerja di perusahaan garmen kak..." jelasnya.
"Garmen....? di bagian apa...?"
"Bagian export impor..."
"Bagus itu Nia...belum lagi kamu wisuda, tapi sudah dapat tawaran kerja, jangan sia-siakan, mumpung masih muda..." komentarnya ikut bangga dengan pencapaian adiknya.
"Alhamdulillah....semua berkat do'a Ibu dan support dari Kak Via dan Kak Adrian juga..." ucapnya lirih yang membuat matanya berkaca-kaca.
"Apaan nih....kok bawa-bawa nama Kak Adrian juga...?" tanya Adrian yang baru masuk rumah, sepulang jalan-jalan dengan Al.
"Gakpapa Mas....bikin GR saja..." kata Lyvia.
"Yeeee....siapa yang GR, tapi memang Mas gakpapa kok...udah biasa dibicarakan para gadis, kalau Mas tampan..." godanya pada Lyvia.
"Tu kan.... ngelantur lagi ngomongnya..."
"Ahahahahh....enggak Kak, ini lo...Nia kan dapat tawaran kerja di perusahaan garmen, di bagian ekspor impor, semua juga berkat support Mas Adrian ..."
"Emang kapan Mas support Nia...?" tanya Lyvia.
"Eehhhmmmm....iya ya...kapan Nia...?" kata Adrian bertanya balik kepada Kania.
"Hahahhahah...Kak Adrian ada-ada saja, bukankah setiap bulan Kakak support Nia dengan kasih Nia uang jajan dan biaya kuliah."
Lyvia dan Adrian saling pandang, mereka malah tertawa mendengar penjelasan Kania.
"Itu sudah menjadi kewajiban Kakak Nia."
'Alhamdulillah Ya Allah.... Engkau telah karuniakan anak-anak yang Sholeh dan Sholehah kepada hamba...' ucap syukur Ibu dalam hati.
Lyvia memang wanita hebat, dia tidak pernah meninggalkan Amanah yang ayahnya berikan. Dan wanita hebat itu telah diberikan jodoh yang hebat pula.
Adrian.... meskipun dia hanya kakak ipar, tapi tidak pernah perhitungan dalam hal apapun.
"Apapun kebutuhan Kania yang menjadi tanggung jawab Lyvia, akan menjadi tanggung jawab Adrian juga, sampai ada laki-laki yang mempersuntingnya." Itulah yang dia katakan untuk meyakinkan Ibu waktu itu.
*****
Lyvia membereskan tempat tidurnya, usai kembali dari rumah Ibu. Dia ganti semua sprei yang terpasang disitu. Baru ditinggal 2 hari tidak ditempati saja rasanya sudah tidak nyaman.
Mumpung Al sedang bermain dengan Omanya, dan masih punya banyak waktu sampai suaminya kembali dari tempat kerja.
"Mbak Via....sini biar Bibi bantu bereskan...?" kata Bibi yang masuk membawakan pengharum ruangan.
"Sudah Bi ...sudah hampir selesai ini..."
__ADS_1
"O ya....biar Bibi tunggu sekalian untuk dibawa ke bawah..."
"Terimakasih Bi...." jawabnya sembari menyerahkan satu keranjang sprei kotor untuk dibawa ke ruang Loudry.
Rasa penat merasuki tubuhnya, dia buka jendela kamarnya lebar-lebar, agar udara yang di dalamnya berganti lebih sejuk.
Kring...kring...kring....
"Kania...." gumamnya setelah dia lihat nama kontak yang ada di layar panggilan.
("Hallo, Assalamu'alaikum Nia....?")
("Hallo kak, Wa'alaikumsalam....maaf Nia tidak sempat mampir untuk berpamitan ke rumah Kakak...")
("Iya , gakpapa Nia...kamu berangkat hari ini...?")
("Iya Kak...ini sudah mau berangkat...")
("Naik apa sayang....?")
("Nia bareng sama Mas Dani kak...")
("Ya sudah...hati - hati di jalan ya dek....kabari Kakak nanti kalau sudah sampai...")
("Siap Kak.... Assalamu'alaikum...")
("Wa'alaikumsalam...")
Acara Kania sudah usai, beres-beres rumah Ibu juga sudah selesai. Hari ini menjadi jadwalnya untuk beberes kamarnya sendiri yang juga baru saja selesai.
"Ahh....semua sudah selesai, tinggal capeknya..." gumamnya sendiri.
Dia jatuhkan tubuhnya di sofa yang menghadap ke arah jendela. Semilirnya udara sore itu, membuat Lyvia terlena dalam kantuk.
"Mas....kenapa kau selalu ulangi kesalahan yang sama...? Aku sudah mencoba untuk menerimamu apa adanya, tapi apa balasanmu...!"
"Maaf Via.... Mas lebih memilihnya, jadi biarkan Mas pergi...."
"Tidak...! lalu bagaimana dengan anak kita...?"
"Aku akan tetap bertanggung jawab atas dirinya... selamat tinggal Via...."
"Tidak....! Mas....!"
"Mas.....!"
"Via....sayang bangun, Via...."
"Mas Adrian....."
Lyvia membuka matanya, sudah ada Adrian di hadapannya. Dia masih mengenakan seragam kerjanya. Mungkin dia baru pulang.
Dia menangis dan memeluk erat suaminya.
"Jangan pergi lagi Mas....aku takut..."
"Kamu kenapa...? Mas aja baru pulang kok jangan pergi...?"
"Astagfirullah....aku mimpi buruk Mas..."
Adrian menghapus air mata di pipi istrinya.
"Mimpi apa....? mimpi itu bunga tidur...dan tidak bagus untuk kesehatan tidur di jam segini..." ucapnya menenangkan istrinya.
__ADS_1
Lyvia menganggukkan kepalanya. Tubuhnya basah dengan keringat dingin.
"Memangnya kamu mimpi apa...?" tanya Adrian penasaran.
"Aku ....aku mimpi Mas pergi lagi meninggalkanku ..." jawabnya yang membuat Adrian tertawa geli.
"Ahahahhahahah....ada-ada saja, tapi kali ini dengan siapa aku pergi....?" ledeknya kepada Lyvia.
"Entahlah Mas.... tidak terlihat di dalam mimpiku ...." keluhnya lagi.
"Serius amat jawabnya...."
"Iya lah Mas...aku trauma tau...!" gerutunya lagi.
"Wwaaahhhh.... sepertinya kamu benar-benar butuh refreshing ini....." komentar Adrian.
"Terserah Mas saja....yang jelas, aku perlu waktu intensif untuk berdua dengan Mas..." pinta Lyvia.
"Beneran nich....?" goda Adrian lagi.
"Udah ach...mandi sana, bau tau...." komentarnya malu-malu.
Adrian beranjak dari tempat duduknya, melepas seragam kerjanya. Lyvia memperhatikan, pandangan matanya tak lepas dari tubuh sixpack suaminya.
"Kenapa....? kok bengong gitu lihatnya..?"
kata Adrian mendekat.
"Gak papa...ihh, lagian siapa yang bengong, GR amat...!"
"Ahahahha.....pasti kamu terpesona dengan ketampananku..." godanya lagi.
"Apaan sih mas, genit.....!"
"Lagian kamu bengong saja...ini baru atas lo yang dibuka, apalagi kalau udah kebuka yang bawah..." ledeknya bertubi-tubi.
"Udah sana mandi, keburu magrib...."
"Emang kamu sudah mandi...?" tanyanya balik.
"Belum....eheheheh..." jawabnya cengengesan.
"Ya udah yuk...." ajak Adrian.
"Ya lekas... Mas duluan habis itu Via mandi"
"Bareng yuk...."
"Gak...."
"Ayo...."
"Gak..."
"Bikin gemes saja...."
Pasti ada perdebatan kecil jika keduanya tidak pada kemauan yang sama.
Adrian yang gak sabar, segera mendekat dan mengangkat tubuh istrinya.
"Mas....lepasin ..."
"Iya, bentar lagi Mas lepasin..."
Seperti biasa, Lyvia tidak bisa berbuat apa-apa kalau Adrian sudah berkehendak.
Dan....tau sendiri kan, apa yang terjadi selanjutnya...🤭
~ ----------------------------------------------------
~ ----------------------------------------------------
~ ----------------------------------------------------
__ADS_1