MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Extra Part. 05. Arroyyan Dylan Alfarizqi (Kania Dani)


__ADS_3

"Uff... ssshhh...."


Dani merasa merinding mendengar keluhan istrinya.


"Sayang....sabar ya."


Kania menganggukkan kepalanya, keringat dingin mengucur di keningnya. Benar kata orang, perjuangan seorang ibu ketika melahirkan memang berat. Ibarat kata 1001 sakit dirasakan jadi satu.


"Dani... bagaimana keadaan Kania, apa kata dokter." tanya Lyvia yang baru saja datang bersama ibu dan suaminya.


"Kak Via....dokter bilang, Nia baru mengalami kontraksi, tapi rasanya nyeri mendengar keluhannya."


"Gakpapa Nak...itu hal yang wajar, dulu ibu juga mengalami hal yang sama." kata ibu menenangkan.


"Apa kita minta dokter lakukan operasi caesar saja ya kak ?" tanyanya meminta pendapat Lyvia.


"Tidak Mas...aku ingin menikmati perjuangan seorang ibu yang berusaha melahirkan putranya." sela Kania yang mendengar percakapan suami dan keluarganya.


Mereka hanya pasrah dan menunggu apa rencana Allah selanjutnya.


Terlihat seorang perawat mempersiapkan ruang tindakan.


"Dok... bagaimana keadaan istri saya ?" tanya Dani ketika melihat dokter keluar dari ruang rawat inap istrinya.


"Sudah pembukaan penuh, kita akan segera lakukan tindakan."


Tak berapa lama, Kania dibawa ke ruang tindakan.


"Ibu...maafkan Kania, mohon doanya ya Bu ? Mas...temani Kania ya ?"


"Iya Nak....doa ibu selalu bersamamu, kamu pasti bisa"


Hampir 30 menit mereka ada di dalam. Ibu dan Lyvia menunggu dengan harap cemas.


"Ibu minum dulu, biar gak tegang." kata Adrian menyodorkan segelas susu hangat yang dia beli dari kantin.


"Terimakasih Nak."


Ooeeekk....oeekk....


"Alhamdulillah....itu pasti suara anak Kania." komentar Ibu saat mendengar suara tangis seorang bayi.


"Alhamdulillah....cucunya sudah lahir Bu, sehat, cowok seganteng Ayahnya." kata dokter memberikan informasi.


"Alhamdulillah... terimakasih Dok."


Ibu sudah tidak sabar untuk melihat anak dan cucunya dibawa ke ruang rawat inap.


"Ibu." panggil Kania.


"Selamat ya Nak... istirahatlah, kamu pasti lelah."


Kania berusaha memejamkan matanya setelah beberapa jam berjuang melahirkan putranya.


Usai melihat adiknya sehat, Lyviapun kembali ke rumah. Dia juga butuh istirahat, untuk menghimpun tenaga persiapan kelahirannya nanti.

__ADS_1


Dua hari setelah kelahiran putranya, Kania diizinkan untuk pulang karena kondisi tubuhnya sudah membaik.


"Jangan lupa obatnya diminum ya...dan kontrol tiga hari kedepan."


"Iya Dok, terimakasih."


"Sama-sama...sehat ya Nak."


°Arroyyan Dylan Alfarizqi : Anak laki-laki yang selalu membawa rezeki danqa berwawasan luas dengan penuh kekuatan. Putra dari Dani Malik Alfarizqi.


Itulah nama yang diberikan Dani untuk putranya.


"Nama yang indah...semoga menjadi doa yang baik sesuai nama yang diberikan." komentar Lyvia saat mereka merayakan aqiqah untuk putranya.


Acara Aqiqah kali ini tidak di hadiri keluarga besar Dani, karena ayah dan ibu Dani sekarang pindah ke luar jawa. Apalagi ayah Dani sudah sakit-sakitan, jadi tidak bisa bepergian jauh.


***


Hari begitu cepat berlalu, tak terasa sudah hampir satu bulan sejak kelahiran putranya. Dan gini sudah tiba saatnya bagi Dani untuk kembali.


"Mas pamit dulu ya...nanti mas jemput saat Dylan sudah siap untuk diajak terbang."


"Iya Mas, hati-hati di jalan...kabari kami saat kamu tiba di Singapore nanti."


"Pasti sayang... emuachh, Papa berangkat dulu ya Nak, jangan rewel di rumah Eyang sama Mama." kata Dani kepada putranya.


"Ibu, Dani pamit dulu... titip Nia dan Dylan."


"Tentu Nak.... hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan ?"


"Terimakasih Bu..."


"Anak Papa sudah besar."


"Iya Pa...sudah siap terbang nyusulin Papa."


"Sabar ya sayang...nanti pasti Papa jemput."


Sebenarnya...dilema bagi Kania, di lain sisi dia harus ikut kemana suaminya pergi, tapi di sisi lain dia tidak tega meninggalkan ibunya sendiri kembali. Apalagi ibu sangat sayang kepada putranya.


"Assalamu'alaikum..." sapa ibu ketika pulang dari pasar.


"Wa'alaikumsalam..."


"Lihat ini...apa yang Yang Ti belikan untuk Dylan."


Sebuah boneka pesawat dan satu stel baju untuk cucunya.


"Terimakasih Yang Ti...bagus sekali." kata Kania sembari memperlihatkan apa yang dibelikan ibu untuk putranya kepada Dani yang masih online Video Call.


"Terimakasih Yang Ti..." tambah Dani.


"Lo...sedang telfon sama Papa ya ?"


"Ibu apa kabar ?"

__ADS_1


"Alhamdulillah...sehat Nak, kamu sendiri bagaimana ?"


"Alhamdulillah....Dani sehat Bu."


"Syukurlah Nak...kapan kamu bisa pulang ke Indonesia ?"


"Insha Allah bulan depan Bu... sekalian Dani mau jenguk Papa dan Mama di Padang."


"Iya Nak...salam buat beliau kalau kalian sedang komunikasi."


"Iya Bu..."


"Hallo Papa...sudah dulu ya, dedek mau makan dulu...nanti disambung lagi ya ?"


"Iya sayang, daa... Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Ibu kembali termenung, ketika tadi Dani bilang bulan depan akan pulang. Pasti kepulangan Dani juga akan menjemput Kania dan putranya.


Kadang ada perasaan hampa di dalam hidupnya, di masa tuanya...disaat dia membutuhkan teman tapi anak-anak semua pada bubar mengikuti suaminya.


Tapi...itulah konsekuensinya kalau punya anak perempuan. Jika mereka sudah menikah, anak perempuan akan menjadi milik suaminya. Kalau anak laki-laki tetap menjadi milik ibunya.


"Ibu ?" panggil Kania setelah menidurkan putranya setelah kenyang menyusu.


"Ya Nia."


"Jika Nia dan Dylan dijemput Mas Dani bulan depan, apa Ibu mau ikut dengan kami ke Singapore ?" tanya Nia yang merasakan kegundahan hati ibunya.


Beberapa hari yang lalu, Nia sempat mendengar doa ibunya. Ibu berharap kebersamaan dengan anak dan cucunya tidak akan cepat berlalu. Nia menceritakan hal itu kepada Dani suaminya. Dan Danipun berniat untuk membawa serta ibunya ke luar negeri.


"Mana bisa begitu sayang...biar Ibu di rumah saja."


"Bu...ini Mas Dani yang meminta."


"Tapi_"


"Ibu.... nanti Nia akan bicarakan lagi dengan Kak Via, Mas Dani akan membawa serta Ibu bersama kami."


Tanpa sadar, air mata ibu mengalir. Mungkin memang ini kehendak yang Kuasa, Allah mengabulkan doa-doanya untuk tetap bisa berkumpul dengan salah satu putrinya.


"Ibu hanya bisa menurut apa kata kalian saja, dengarkan juga apa nanti saran Kak Via ya ?"


"Iya Bu...Nia akan tetap meminta izin Kak Via."


Nia memeluk Ibunya, baik Lyvia ataupun Kania mereka sama-sama dekat dengan Ibu. Meskipun sebenarnya berat bagi Ibu jika harus meninggalkan salah satu dari mereka, tapi Ibu harus tetap menurut apa yang menjadi keputusan kedua putrinya.


Kania memang berencana meminta izin kepada Kakaknya, untuk membawa serta Ibunya ke Luar Negeri.


"Untuk masalah Ibu, biar nanti Mas yang bilang ke Kak Via dan Mas Adrian." kata Dani waktu itu.


"Iya Mas...Nia yakin, kak Via pasti mengizinkan Ibu ikut bersama kita."


~ ---------------------------

__ADS_1


~ ---------------------------


~ ---------------------------


__ADS_2