MENGEJAR CINTA LYVIA

MENGEJAR CINTA LYVIA
Extra Part. 04. Menjelang Persalinan Kania (Kania Dani)


__ADS_3

"Kalian mau kemana ?" tanya Ibu yang melihat Kania dan Dani sudah rapi sore itu.


"Nia mau ke rumah Kak Via Bu... Ibu mau ikut ?"


"Gak usah sayang...Ibu capek seharian tadi di rumah sebelah."


Kania maklum, karena memang seharian tadi ibu diminta membantu tetangga sebelah yang sedang mengadakan hajatan.


"Iya Bu...kalau begitu kami berangkat dulu ya Bu ?" ucapnya sembari mencium punggung tangan ibunya.


Tangan yang sudah mulai keriput dimakan usia. Melalui tangan itulah Allah titipkan rezekinya. Melalui tangan itu, kedua putrinya bisa tumbuh dewasa.


"Salam buat Mama dan Kak Via."


"Wa'alaikumsalam...Insha Allah Nia sampaikan."


"Kami pergi dulu Bu, Assalamualaikum..." pamit Dani.


"Wa'alaikumsalam..."


Al sudah menikmati oleh-oleh yang Auntynya bawa. Terkadang dia berlari, bergelayut di pangkuan Ayah atau Om Dani sekedar menunjukkan rasa manjanya.


Tidak jarang juga dia ikut nimbrung pembicaraan kedua orangtuanya. Atau mengelus manja perut Bunda dan Auntynya.


"Aunty mau kemana ?" tanyanya ketika Kania mulai berpamitan kepada Bundanya.


"Sudah malam sayang, Aunty mau pulang dulu."


"Kenapa pulang ? tidur di rumah dek Al saja."


"Iya sayang, lain kali Aunty main lagi."


Wajah imutnya terlihat murung saat kedua orang yang dia harapkan menginap itu sudah berlalu pergi keluar dari halaman rumahnya.


"Kakak Al...bobok dulu yuk, sudah malam." ajak Bundanya.


"Al mau bobok sama ayah." jawabnya lesu.


"Siap...sini ayah gendong, ahh....jagoan ayah sudah semakin besar sekarang."


"Iya... sebentar lagikan Al punya adik."


***


"Mas...kita muter-muter sebentar ya ?"


"Muter kemana ?"


"Kemana saja, Nia pengen jalan-jalan dulu."


"Oke, kita putar-putar di sekitar kota dulu ya."


Masih seperti yang dulu, setiap malam banyak para muda-mudi yang menghabiskan waktunya bertemu di titik kumpul untuk menikmati keindahan malam.


Berbagai macam kuliner di suguhkan pada setiap tenda yang sudah disediakan pemerintah daerah.


"Hhhmmmmm..." gumam Kania.


"Kenapa 'hhmmmm' ?" komentar suaminya heran.


"Kelihatannya asyik ya."


"Hhhhmmmmm...." Dani memperlambat laju kendaraannya.


"Mas."


"Apa ?"


"Nia kepingin makan kupat tahu boleh gak ?"


"Malam-malam begini ?"


"Kan memang kuliner malam." rayunya sembari mengerjabkan kedua matanya.


"Iya dech...paling gak bisa nolak kalau permintaan bumil."

__ADS_1


Dani memarkirkan mobilnya di depan salah satu tenda penjual kupat tahu.


"Silahkan Mbak...mau pesan apa ?" sapa seorang ibu paruh baya yang warungnya ramai di serbu peminat kuliner malam.


"Kupat tahunya masih Bu ?"


"Masih, mau berapa ?"


"Dua saja."


"Makan sini ?"


"Iya."


"Mau minum apa ?"


"Susu coklat hangat 1, sama...." ucapnya terhenti ketika dia belum mendapati suaminya di sebelah.


"Sebentar Bu...nunggu suami dulu." katanya kemudian.


Dani berjalan menghampirinya, dia duduk dan menikmati gorengan yang sudah disediakan di depan mejanya.


"Mas mau minum apa ?"


"Susu jahe"


Minuman hangat yang satu ini memang menjadi kegemaran para pecinta kuliner malam.


"Silahkan..." kata penjual saat menyuguhkan pesanannya.


Sesuai dengan permintaannya, Kania begitu lahap menikmati satu porsi kupat tahu dan segelas susu coklat hangat.


"Susu jahe 2 ya Bu..." kata seorang yang baru datang dan duduk membelakanginya.


"Iya Mas....mau makan apa ?"


"Kupat tahu 1, kamu mau makan apa sayang ?" tanyanya kepada seorang wanita di sebelahnya.


"Sotonya masih Bu ?"


"Masih Mbak, mau soto daging apa ayam ?"


"Silahkan ditunggu sebentar."


Suara itu, rasanya Nia sudah tidak asing dengan suara pria tadi.


"Maaf...apa sambelnya masih dipakai ?" tanyanya kemudian.


"Oh.. tidak, silahkan."


Tanpa sengaja mereka saling menatap.


"Kania." ucapnya lirih.


'Rendra' bisik Kania dalam hati.


Ternyata benar dugaannya, pemilik suara itu adalah Rendra. Seorang pria yang dulu pernah mengejarnya. Namun Kania lebih memilih Dani sebagai pendamping hidupnya. Untuk menjaga perasaan suaminya, Kania hanya menganggukkan kepalanya.


Hendra kembali pada tempat duduknya. Sesekali dia melirik ke arah tempat duduk Kania.


"Aduh....ssshhh," keluh Kania sembari memegang perutnya.


"Kenapa sayang ? perut kamu sakit ?"


"Gak tahu Mas....mules banget."


"Ya sudah, kita pulang ya..."


Kebetulan mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.


"Berapa Bu ?"


"Semua 45 ribu Mas."


Dani memberikan satu lembar uang 50 ribuan.

__ADS_1


"Kembaliannya ambil saja Bu."


"Terimakasih Mas.... istrinya kenapa ? mau melahirkan ya ?"


Dani tidak sempat menjawab pertanyaan Ibu penjual, dia sibuk dengan keluhan istrinya.


"Aku gak kuat Mas.."


Suara Kania semakin tidak terdengar. wajahnya mulai pucat dengan keringat dingin mengucur di keningnya.


Dia cengkeram lengan Dani.


"Mas gendong ya...kita ke rumah sakit."


Kania mengangguk lemas.


"Mas... sebaiknya anda siapkan mobilnya terlebih dahulu, biar kami bantu." kata Rendra menawarkan bantuan.


"Baik, terimakasih."


Rendra membantu Dani menggendong Kania ke dalam mobil. Kekasih Rendra juga yang membantu membukakan pintu mobil.


"Terimakasih banyak." kata Dani dan segera membawa istrinya menuju rumah sakit.


"Mas kenal dengan mereka ?"


tanya kekasih Rendra.


"Mas lupa - lupa ingat, kalau gak salah dia teman SMA Mas dulu."


"Ohh...." komentarnya.


"Ah... sudahlah, semoga persalinannya lancar. Kita kembali duduk yuk."


Sesampainya di rumah sakit, Dani langsung menuju ke UGD. Seorang perawat membantunya mengambilkan brankar dorong rumah sakit.


"Hati-hati Bu....biar kami bantu."


"Terimakasih Sus..."


"Ditunggu sebentar ya...biar dokter periksa terlebih dahulu."


Sekitar 15 menit, seorang perawat memanggil Dani untuk masuk ke ruang dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok ?" tanyanya kepada dokter usai menyampaikan data diri pasien.


"Tidak apa-apa Pak...Ibu Kania cuma mengalami kontraksi."


"Kontraksi....lalu bagaimana Dok ?" tanyanya panik.


"Kontraksi adalah hal yang wajar untuk seorang perempuan yang akan melahirkan. Hasil pemeriksaan sementara, ibu Kania baru mengalami pembukaan 3, jadi masih hatus memunggu terlebih dahulu sampai pembukaan penuh."


Dani menganggukkan kepalanya, meskipun sebenarnya dia tidak begitu mengerti apa yang disampaikan Dokter.


"Semakin lama, sakit yang dirasakan Ibu Kania akan semakin sering. sesuai pembukaan yang beliau alami. jadi untuk sementara biarkan beliau istirahat terlebih dahulu."


Dani menghubungi Lyvia untuk menyampaikan bahwa Kania sedang berada di rumah sakit bersalin saat ini.


Sedangkan Ibu yang dari tadi begitu panik menunggu kedatangan Nia dan Dani, hanya bisa mondar mandir di dalam rumah.


"Kemana ini anak...dari tadi kok belum pulang-pulang ?" gumamnya sendiri.


Tak berapa lama, ibu berlari menuju ruang tamu saat mendengar suara dentuman pintu mobil yang di tutup agak keras.


"Lyvia....ada apa Nak ? Kania dan Dani mana ? tadi pamitnya ke rumahmu, tapi jam segini belum pulang juga."


"Ibu..... tenang dulu, tadi Dani telfon Nia...mereka ada di rumah sakit sekarang. Kania mengalami kontraksi." terang Lyvia yang membuat hati ibu lega.


"Via mau jemput Ibu ?"


"Iya Bu...ayo kita ke rumah sakit, Ibu siapkan keperluan Kania."


Ibu berlari ke kamar Kania, kebetulan Kania sudah menyiapkan segala sesuatu untuk keperluan persalinannya. Karena memang hari perkiraan lahirnya sudah dekat.


~ -----------------------------

__ADS_1


~ -----------------------------


~ -----------------------------


__ADS_2