
("Halloo Prim....ada apa malem-malem begini telfon...?")
("Malem....udah pagi kaleee....!")
Adrian melirik jam beker di nakasnya.
("What's....! udah hampir jam 6. bentar-bentar")
Adrian memutuskan sambungan teleponnya. Waktu subuh sudah hampir habis.
"Yaaaahhhh....dia matiin...." gerutu Prima sendiri.
"Kenapa Mas....?" tanya istrinya heran.
"Tau nich Adrian, belum juga ngomong udah main putus aja..."
"Lagi kebelet kali....?" kelakar istrinya yang membuat Prima jadi tertawa.
*Kriiiingg.... kriiiingg...
"Nich...dia telfon lagi Mas..." kata istrinya, menunjukkan Adrian menghubungi lagi.
("Halloo.....main matiin aja, lagi kebelet ya...?") ledek Prima.
("Hahahaha..... enggak, tadi belum subuh saya....ada apa pagi-pagi telfon...?")
("Hari ini jadwal sidang pernikahanmu jam 9, aku absen hari ini, mau anter istriku cek up kandungan. Berkas-berkas kemaren aku taroh di meja kerjamu.")
("Oke dech...makasih ya Prim...")
("Sama-sama....semoga lancar....")
Adrian segera mandi dan berpakaian rapi. Hari ini dia janji akan sarapan dirumah Lyvia. Karena bibi & Mamanya masih di luar kota. Jadi selain tidak ada yang bikin sarapan, pagi ini juga bangunnya kesiangan.
*Sedangkan di tempat lain...
Lyvia membantu Ibunya menata sarapan di meja makan. Ibu bikin sarapan special untuk calon menantu istimewanya pagi ini.
"Via......"
"Ya Bu....."
"Sudah selesai, biar Ibu bereskan...kamu siap-siap mandi sana, keburu Adrian datang."
"Iya Bu..."
Lyvia segera mandi. Hari ini dia kenakan setelan long dress dipadu dengan blazer serta jilbab yang senada. Make up-nya yang natural, membuat Lyvia nampak sederhana tapi elegant.
"Mas.... sudah lama...??" tanya Lyvia yang mendapati Adrian sudah duduk di ruang tamu memainkan Handphonenya.
"Baru saja...."
"Sarapan dulu yuk...." ajak Lyvia.
Adrian bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Lyvia.
"Nak Adrian...ayo makan yang banyak, jangan malu..."
"Iya Bu... dirumah Juga gak ada yang masak, bibi sedang temani mama ke luar kota."
"Iya, Lyvia sudah cerita.... kalau begitu makan disini saja, gak usah jajan." pinta Ibu. Lyvia yang masih sibuk membuatkan kopi untuk adrian, hanya mendengarkan obrolan mereka.
"Sidang kita nanti jadwalnya jam 9, nanti mampir ke kantor dulu ya... Prima absen dan dia tinggalkan berkasku di meja."
"Iya mas....."
Selesai sarapan mereka berangkat menuju kantor Adrian.
__ADS_1
"Turun dulu yuk...." ajaknya
"Enggak ahh yang...aku malu..." jawab Lyvia.
"Malu sama siapa...?? kan udah biasa kesini, ayo...." paksa Adrian.
"Kan beda sayang.....aku kesininya dalam rangka kerja."
"Udah...ayo, gakpapa... lama-lama juga biasa"
Lyvia menurut apa kata Adrian. Ia mengikuti menuju ruang kerjanya. Banyak staf yang mengenalnya, alhasil... Lyvia di goda habis-habisan.
Apalagi Mbak Dira, gak menyangka sama sekali kalau Lyvia akan jadi bagian dari keluarga Bhayangkara.
"Cie-cie....yang bentar lagi SAH..."
"Apaan sih Mbak..." jawab Lyvia malu-malu.
Selesai dengan urusannya di kantor, Adrian mengajak Lyvia ketempat sidang pra nikah dilaksanakan. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, Via melihat beberapa staf marketingnya sedang prospek konsumen di sebuah galery Mall.
"Mas....."
"Iya....."
"Kira-kira kapan persiapan ini selesai, Aku sudah lama meninggalkan pekerjaanku..."
"Sayang.... semua berkas sudah beres, setelah hari ini kita tinggal menunggu waktu hari H, kamu boleh kembali ketempat kerjamu. Tapi setelah kau SAH menjadi Nyonya Adrian, tugasmu hanya di rumah." jawab Adrian panjang & lebar.
"Maksudnya....aku harus berhenti bekerja...?"
"Ya......"
Lyvia terdiam, memang sudah kewajiban istri berbakti kepada suami. Itupun juga yang selalu dinasehatkan Ibu padanya.
Tak lama,mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Adrian dan Lyvia menunggu giliran. Ada beberapa pasangan yang mengantri juga.
Hingga tiba saat gilirannya. Mereka tak sendiri, tapi bersama 2 pasang calon pengantin yang lain. Beberapa pertanyaan umum dilontarkan untuk pasangan-pasangan calon pengantin. Diantaranya mengenai asal-usul, agama, rencana tinggal dan sebagainya.
Lyvia juga dihadapkan dengan beberapa tugas, hak dan kewajiban seorang istri. Begitupula dengan calon mempelai pria.
Selain pertanyaan juga ada nasehat-nasehat yang diberikan.
***
"Siapa yang mau antar kamu pulang...."
"Hhhaahhh....memangnya aku mau dibawa kemana...?" tanya Lyvia bingung.
Adrian hanya terdiam dan melajukan mobilnya kearah rumahnya.
"Kok pulang kesini Mas...?"
"Memang kenapa...?"
"Gak enak sama tetangga Mas... apalagi Mama gak ada di rumah."
Lagi-lagi Adrian tidak mendengarkan protes Lyvia. Dia sibuk dengan ponsel di tangannya. Lyvia yang merasa di cuekin hanya bisa diam duduk di ruang tengah. Entah apa kesalahannya sehingga Adrian bersikap demikian padanya.
Adrian melirik Lyvia yang terlihat agak kesal. Matanya berkaca-kaca. Sebenarnya dia ingin sekali tertawa, tapi ditahannya. Lyvia yang merasa diperhatikan, menoleh ke arah Adrian dan memberanikan untuk buka suara.
"Mas......"
Belum lagi dia utarakan maksudnya, tapi adrian sudah bangkit dari duduknya. Tangannya diangkat diarahkan kepadanya, tanda untuk diam.
Akhirnya tangis Lyviapun tak terbendung lagi. Dia menumpahkan seluruh kekesalannya dalam buliran air mata. Hampir 2 jam dia dibiarkan dengan ribuan pertanyaan tak terjawab.
Dia ambil tasnya dan berlalu dari ruang tengah. Tapi sampai di ruang tamu betapa kagetnya dia ketika mendapati Adrian, Prima & istrinya juga ada Kania & pacarnya.
"Surprise......!" kata mereka serentak. Bukannya berhenti menangis, tapi tangis Lyvia makin menjadi.
Adrian tidak menyangka Lyvia secengeng itu. Diraihnya tubuh Lyvia kedalam pelukannya.
"Happy birthday sayang..." bisiknya.
"Sudah tau aku BaPeran, kenapa mesti dikerjain sich..." protesnya pada Adrian.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun Lyvia...." kata Prima & istrinya.
"Selamat ulang tahun ya Kak..." kata adiknya bergantian.
"Terimakasih semuanya...maaf, jadi gak bisa diem nangisnya..." jawab Lyvia.
"Sudah-sudah... sekarang waktunya potong kue & makan-makan..." komentar Lia, istri Prima.
Ternyata semua ini ide Lia. Pagi itu waktu sampai rumah Lyvia, Kania buru-buru kedepan menyambut calon kakak iparnya selagi Lyvia masih berdandan dikamar.
*Flash back on
"Kak Adri....bentar dech, ada yang mau Nia omongin..."
"Ada apa Nia...?"
"Kak Adrian tau gak....kalau hari ini Kak Via ulang tahun."
"Oya...kenapa Via diam aja...? tidak menyinggung masalah ini sama sekali" tanya Adrian sedikit heran.
"Kelihatannya Kak Via sendiri lupa, karena sibuk dengan persiapan pernikahan..."
"Lalu...apa rencanamu...?" tanya Adrian.
"Entahlah... mungkin hanya makan-makan di rumah, biar Ibu yang memasak.
Setelah pembicaraan itu, timbulnya ide Adrian untuk menghubungi Prima. Karena memang Primalah selama ini yang banyak ide.
*Flash back off
"Termasuk mendiamkan ku itu ide Prima...?" tanya Lyvia.
"Tidak tidak...itu ide Lia..." sela Prima menjelaskan.
"Maaf...." jawab Lia sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Hhhhmmmmm.... kalau bukan karena DeBay yang ada di perutmu, udah aku kelitiki kamu sampai lemas...." gerutu Lyvia.
Mereka saling tertawa sambil menikmati hidangan yang disiapkan oleh Lia & Kania. Hingga menjelang malam, tamunya pamit sendiri-sendiri.
"Sekarang... tinggal kita berdua..." bisik Adrian lagi.
"Antar aku pulang..."
"Gak...." jawab Adrian. Dipeluknya tubuh Lyvia dari belakang.
"Aku semakin tidak sabar menunggu waktu itu datang"
"Apa mas.... jangan mulai dech...?"
"Gak usah pulang ya... nginap sini aja...?"
"Hhhuuuussss.... jangan ngawur ahh, lagian Mama lagi gak di rumah. sabar ya..."
Lyvia berbalik menghadap Adrian. Dilingkarkannya tangan Lyvia ke leher Adrian. Pinggangnya dikunci oleh tangan kekar kekasihnya itu. Ciuman lembut mendarat di bibir Lyvia.
***
Pernikahan bukanlah suatu yang tertulis di atas kertas, namun menyatukan dua insan & dua hati yang berbeda.
~LYVIA MAHARANI~
~ ----------------------------
~ ----------------------------
~ ----------------------------
__ADS_1