
Adrian pulang dari kantor lebih awal, dia berjanji akan mengantarkan Lyvia periksa kandungan.
"Prim...aku pulang dulu ya...?"
"Siap....ada acara kah...?"
"Hari ini jadwalnya Lyvia untuk periksa kandungan..." terangnya kepada Prima.
"Oke, hati-hati di jalan...salam buat Lyvia, semoga bayinya sehat."
"Aamiin...."
Lyvia sudah menunggu kedatangan suaminya. Dia segera menyambutnya keluar ketika mendengar suara mobilnya memasuki halaman rumahnya.
"Kalian mau periksa....?" tanya Mama.
"Iya Ma....tadi Via mau berangkat sendiri, tapi Mas Adrian pengen ikut..."
"Iya...gakpapa, harusnya memang begitu...jadi Adrianpun tahu perkembangan bayinya..." terang Mama.
"Sudah siap sayang.....?" tanya Adrian yang mendapati istrinya sudah rapi sedang berbincang dengan Mamanya.
"Iya Mas...Mas gak ganti pakaian dulu...?"
"Nanti gak keburu...?
"Gakpapa Mas....aku sudah mendaftar secara online, Mas mandi dulu saja...biar seger waktu melihat dedek bayinya...." kata Lyvia.
"Betul kata Lyvia Nak.... masak mau dampingi istrinya kusut begini..." sambung Mamanya.
"Biar kusut tetap tampan Ma..." selorohnya.
"Ganteng lah...anak Mama..."
Hahahahhahahh.....mereka tertawa, di usia sekarang selera humor Mama masih bagus.
"Iya Ma... Adrian mandi dulu ya...." jawabnya sambil berlalu meninggalkan dua srikandi yang dia sayangi.
"Via susul Mas Adrian dulu ya Ma....?"
" Iya sayang....."
Seperti biasa, Lyvia menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.
"Sayang....apa kamu akan belanja perlengkapan bayi sekalian...?" tanya Adrian menawarkan.
"Tidak Mas....kata orang tua pamali belanja perlengkapan bayi sebelum melewati masa tujuh bulan..." jawabnya, mencoba mengingat apa yang pernah Almarhumah Neneknya ceritakan dahulu.
"Masak sih....memang ada peraturan seperti itu...?"
"Bukan peraturan Mas...tapi...apa ya, ya kalau menurut Via sih lebih ke rasa aman saja...secara kalau usia kandungan memasuki tujuh bulan kan sudah kuat...
sudah lepas dari masa rawan keguguran,
berat badan juga sudah stabil,
sudah bisa diketahui juga jenis kelaminnya, jadi...misalkan kita mau belanja kecil resiko mubadjir, Karena sudah diperkirakan sebelumnya..." terang Lyvia panjang lebar.
Adrian mendekati istrinya, dielusnya rambut istrinya. Dia kecup babynya yang masih dalam kandungan.
"Sayang kita harus bersyukur punya Bunda Lyvia, selain cantik...Bunda juga pintar" bisiknya pada perut Lyvia.
Lyvia tertawa geli mendengar pernyataan suaminya.
"Sudah yuk....kita berangkat..."
Lyvia menuruni tangga bersama Adrian. Tangan kirinya menenteng tas dan tangan kanannya erat melekat di lengan Adrian.
__ADS_1
"Mama....kami berangkat dulu..."
"Iya Nak.... hati-hati di jalan...."
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam...." jawab Mama sambil melambaikan tangannya.
Sebelum berangkat, Lyvia sudah mendaftar terlebih dahulu melalui online. Dia mendapatkan nomor antrian ke 12.
Sesampainya di sana, pemeriksaan sudah dimulai. Layar monitor menunjukkan pada nomor antrian ke 9, berarti tinggal 2 orang lagi giliran dia.
"Kita datang tepat waktu sayang... tidak harus menunggu lama, tinggal 2 orang lagi giliran kita...Ayah tidak sabar ingin melihat perkembanganmu..." kata Adrian sambil mengelus perut Lyvia.
"Mas...jangan lebay ahh, malu semua pada ngeliatin kita..." bisik Lyvia.
"Lebay kenapa.... suka-suka Mas lah, kan bukan perut istri orang yang Mas elus..." protesnya.
Lyvia hanya tersenyum geli mendengar pernyataan suaminya.
"Mas beli air mineral dulu ya....?" pamitnya sambil mencubit kecil hidung Lyvia.
"Halloo....boleh duduk disini...?" tanya seorang wanita yang mendekatinya di ruang tunggu.
"Ohh...ya, silahkan...." jawabnya.
"Terimakasih....berapa bulan...?" tanyanya kemudian.
"Lima bulan jalan Mbak..."
"Tadi itu suaminya ya....?" tanyanya kemudian.
"Iya...." jawabnya dengan senyum mengembang.
"Beruntung sekali ya...punya suami yang baik, penyayang, ganteng lagi... jarang lo ada suami seperti itu, yang mau antar istrinya periksa kandungan...." komentarnya.
"Alhamdulillah....." jawabnya singkat.
"Mbak sendirian...?"
"Iya...saya sudah biasa apa-apa sendiri..." jawabnya tertahan, seperti ada hal yang disembunyikan.
"Dapat antrian nomor berapa...?" tanyanya yang dari tadi mendominan percakapan kami.
"Nomor 12 Mbak...."
"Oya.... sebentar lagi dong, ini sudah nomor 11 lo..."
"Iya...." jawabku singkat.
Pandangan mataku berkeliaran mencari di mana Mas Adrian berada.
*Nomor Antrian 12, Nyonya Novel Adrian Maulana
Namanya sudah dipanggil, bersamaan dengan kedatangan Adrian.
"Ayo sayang...." ajak Adrian yang jalan mendahuluiku.
"Mari Mbak....saya duluan..." sapaku kepada seseorang yang belum sempat aku kenal namanya.
"Iya....silahkan...."
Wanita itu memperhatikan kepergian kami.
'Adrian... seandainya wanita itu aku, betapa bahagianya aku saat ini...' tanpa dia sadari air matanya mengalir di pipi.
__ADS_1
"Selamat sore Nyonya Adrian, silahkan..."
"Terimakasih Sus...."
"Silahkan timbang dulu Bu..."
Usai melakukan beberapa cek kesehatan, Lyvia menempati ranjang tempat pemeriksaan. Adrian memperhatikan suster yang mengoleskan gel di perutnya.
Jedukkk.... jedukkk...jedukkk...
"Silahkan Pak Adrian...ini janin yang ada dalam kandungan Ibu Lyvia, bayinya sehat, pertumbuhannya bagus, detak jantungnya juga teratur ya..." kata Dokter menunjukkan layar monitor USG.
"Alhamdulillah....." ucap Adrian bersyukur.
'Alhamdulillah Ya Allah.... Terimakasih atas anugerah yang Engkau berikan kepada kami..' gumamnya dalam hati.
Bersamaan dengan Adrian yang mengucapkan syukur, begitupun dengan Lyvia, hatinya tak henti-hentinya bersyukur.
Suster membersihkan gel yang ada di perut Lyvia. Dia merapikan bajunya dan duduk di depan meja Dokter.
"Silahkan Ibu....ini Vitamin kehamilan, jangan lupa diminum ya...jaga kesehatan dan makan makanan bergizi, buah, sayur, kacang-kacangan, daging semua bagus untuk kesehatan Ibu dan bayi." terangnya.
"Baik Dok.... terimakasih banyak, kami permisi...."
"Silahkan....jangan lupa untuk periksa rutin bulan depan ya....??" kata dokter mengingatkan.
Adrian dan Lyvia meninggalkan ruang dokter menuju ke kasir untuk menyelesaikan administrasi dan pengambilan vitamin dari dokter.
"Sayang....aku siyapkan mobil di depan ya, biar kamu tidak terlalu jauh jalannya."
"Iya Mas...."
Pandangan mata Lyvia tak lepas dari tubuh Adrian yang berjalan menuju tempat parkir.
Tak hanya dirinya, tapi ada sosok lain yang memperhatikan suaminya berjalan.
Lyvia masih menunggu di depan kasir, tak sengaja dia melihat perempuan yang tadi sempat mendekatinya.
Ya.... perempuan itulah yang juga mengarahkan pandangan matanya mengikuti langkah Adrian.
Dia masih mengantri di ruang periksa. Mungkin memang nomor antriannya masih panjang.
'Siapa dia sebenarnya...? apakah dia mengenal kami...?'
"Nyonya Novel Adrian Maulana"
Belum sempat Lyvia berfikir, suara petugas kasir mengagetkannya.
"Iya....."
"Silahkan Ibu....ini resi pembayarannya dan ini vitamin dari dokter." terangnya.
"Baik... terimakasih..."
Lyvia keluar menuju tempat parkir dimana Adrian sedang menunggunya.
"Mari Mbak....saya duluan..." sapanya kepada perempuan itu ketika dia berjalan melewatinya.
"Iya.... silahkan...." jawabnya dan matanya masih terus mengikuti kemana langkah kaki Lyvia berjalan.
Pandangannya begitu tajam, seolah menelanjangi semua yang ada pada dirinya. Lyvia merasakan kalau wanita itu masih menatapnya, sampai akhirnya lepas dari pandangan.
~ ---------------------------------
~ ---------------------------------
__ADS_1
~ ---------------------------------