
Hoekk...hoek...
"Nia...kamu harus tetap makan Nak, jangan sakiti dirimu sendiri, kasihan anak yang ada di perutmu, dia juga perlu nutrisi." nasehat ibu kepada Kania.
"Tapi Nia gak bisa Bu...satu sendok masuk, keluarnya sepiring. Ulu hati Nia makin sakit saat muntah." jawabnya lemas.
Dani yang baru mengalami sekali dalam hidupnya, merasa bingung apa hal yang harus dia lakukan.
"Apa kita perlu bawa Nia ke rumah sakit Bu ?"
"Ibu rasa begitu Nak...sebelum dia benar-benar drop, dia harus mendapatkan asupan gizi."
Tidak menunggu lama, Dani membawanya ke Rumah Sakit bersalin rekomendasi dari kakak iparnya. Rumah sakit itu sudah menjadi langganan keluarga besar Adrian, sejak awal kehamilan Lyvia hingga sekarang saat Lyvia mengandung anak keduanya.
"Bagaimana keadaannya Dan ?" tanya Lyvia yang kebetulan memang berada di rumah sakit yang sama, karena hari ini juga jadwalnya untuk periksa.
"Alhamdulillah....sudah bisa tidur Kak, setelah mendapatkan infus."
"Syukurlah kalau begitu... sebenarnya dia sudah lepas dari tree semester awalkan ya...tapi kok masih mual ya ?"
"Iya kak...tapi memang kata dokter, gejala kehamilan seseorang itu berbeda-beda."
"Iya juga sih...dulu waktu kakak mengandung Al, kakak juga tiap hari merasakan morning sick. Tapi Alhamdulillah, untuk yang kedua ini nyaman-nyaman saja."
Lyvia mengelus-elus kepala adiknya itu dengan penuh rasa sayang.
"Via...kapan datang ?" tanya Ibu yang baru keluar dari kamar kecil.
"Lo...Ibu, Via kira Ibu gak di sini." ucapnya sembari mencium punggung tangan ibunya.
"Kasian dia, sudah berhari-hari gak enak makan...sampai kurus kering badannya.
"Iya Bu...lebih baik Nia bedrest di rumah sakit saja."
Sejak masih remaja, Kania memang tidak bisa merasakan sakit. Baru kena flu sedikit saja, mengeluhnya tidak karuan. Apalagi nikmat sakit karena akibat hamil muda seperti yang sedang dia alami saat ini.
"Mbak Via..." ucapnya lirih setelah dari tadi samar-samar dia dengar percakapan ibu dan kakaknya.
"Kok bangun...suara kakak bising ya ?"
"Enggak kak...badan pegel semua rasanya." jawabnya sembari menekan-nekan bahunya sendiri.
"Mas Dani mana Bu ?"
"Dani ada di luar, sedang terima telepon."
"Ibu, Nia....kakak pamit dulu ya, takutnya kalau Al nyariin. Nanti malam kakak ke sini lagi."
__ADS_1
"Iya Kak....ajak Al ya kak."
"Iya... Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam..."
Lyvia hanya melambaikan tangan kepada adik iparnya yang kelihatannya sedang sibuk menerima telepon.
"Ibu, Nia....ada yang mau Mas sampaikan." kata Dani ketika mendapati istrinya sudah bangun.
Terlihat ada kesedihan yang tersirat pada raut wajahnya.
"Ada apa Mas ?" tanya Nia cemas.
"Nia...barusan Mas dapat telefon dari kantor, banyak hal yang harus Mas selesaikan, pihak kantor meminta mas untuk segera kembali ke Singapore." katanya menerangkan.
Berat rasanya Dani menyampaikan hal ini. Apalagi untuk sementara waktu dia harus jauh dari istrinya. Karena tidak mungkin Dani akan membawa serta Kania dalam keadaan seperti ini.
"Menurutmu bagaimana ? apa yang harus Mas lakukan... karena Mas tidak mungkin membawamu terbang dalam keadaan seperti ini dan Mas juga tidak bisa meninggalkanmu disini." ucapnya lagi.
Kania paham konsekuensi apa yang akan Dani dapatkan jika dia tidak segera kembali ke kantornya. Hal terburuk pasti akan adanya pengangguran yang menimpanya.
Ibu belum memberikan komentarnya. Beliau masih menunggu diskusi apa yang akan mereka selesaikan.
"Mas...Nia sadar, Mas punya tanggung jawab besar terhadap perusahaan dan sebagai istri, Nia hanya bisa berdoa dan mendukung sepenuhnya untuk kesuksesan Mas."
"Jadi.... maksud Nia ?"
"Terimakasih atas pengertiannya sayang, Mas bahagia sekali. Mas akan segera menjemputmu saat anak kita sudah kuat untuk bepergian nanti."
Dani memeluk dan mencium istrinya. Dia juga meraih tangan ibu mertuanya.
"Ibu...maafkan Dani, harus merepotkan Ibu karena harus meninggalkan Kania di rumah."
"Dani...Ibu bangga dengan kalian, memang seharusnya begitu Nak, sebuah keluarga dibangun untuk menyatukan dua perbedaan. Dan kalian harus bisa saling melengkapi satu sama lain. Terutama Kania, apapun yang menjadi tanggungjawab suami, istri harus tetap mendukung dan mendoakan." nasehat Ibu.
"Jadi jangan khawatir tentang Kania, disini juga rumah kalian. Kapanpun kalian kembali Ibu akan selalu senang menerimanya."
"Iya Ibu... terimakasih banyak."
Ada perasaan lega yang terdengar dari ucapan Dani.
"Kapan Mas akan berangkat ?"
"Insha Allah lusa mas berangkat, syukur kalau pas Mas berangkat pas dokter mengizinkanmu pulang."
"Iya Mas..."
__ADS_1
"Yang penting tetap jaga komunikasi, karena itu sangat penting dalam kehidupan berumah tangga." pesan Ibu.
"Iya Bu...Insha Allah Dani akan selalu memberi kabar dan Dani akan selalu mengikuti perkembangan kandungan Kania."
'Alhamdulillah... ternyata Kania yang manja sudah mulai bisa bersikap dewasa, dia rela ditinggalkan suaminya demi karier dan kehidupan keluarganya di masa depan.' ungkapan rasa syukur ibu dalam hati.
"Aunty..." sapa Al yang ikut besuk bersama Ayah dan Bundanya malam itu.
"Albi sayang...sini dekat Aunty."
Al bergelayut manja di samping Tante Kania.
"Al....hati-hati ya, jangan sentuh perut Aunty nanti dedek bayinya menangis." cegah Bundanya.
"Iya Bunda..."
sikap lincah Al membuat ngilu di hati, takut kalau terbentur atau kena perut Kania.
"Mumpung Mas Adrian dan Kak Via ada di sini, Dani sekalian mau bilang...Dani nitip Kania kak...Insha Allah lusa Dani harus kembali ke Singapore."
"Iya Dan... sebaiknya memang Nia istirahat dulu di rumah, biar kandungannya benar-benar kuat." jawab Adrian.
"Tenang saja Dan...serahkan sama Kakak." canda Lyvia.
Adrian dan Lyvia sudah tidak kaget lagi mendengar pernyataan Dani, karena sebelumnya Ibu sudah menyampaikan hal tersebut melalui sambungan telepon.
"Aunty akan tinggal bersama Eyang lagi ya Bun ?"
"Iya Sayang."
"Ye....Al ada temennya lagi dong." celotehnya
***
Dua hari Kania menjalani bedrest di rumah sakit. Dokter mengizinkannya pulang, setelah di rasa kondisi tubuhnya sudah membaik.
Sedikit-sedikit sudah ada asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya. Kania sembuh lebih cepat dari yang dokter perkirakan, mungkin karena rasa semangat yang timbul atas kepergian suaminya.
"Mas berangkat ya... baik-baik di rumah, jaga kesehatan dan nurut sama Ibu." pesan suaminya sebelum berangkat.
"Iya Mas...Mas juga jaga diri dengan baik, jaga kesehatan jangan telat makan dan yang penting jangan lirik kiri kanan." jawabnya setengah bercanda.
Ibu lebih bahagia lagi, karena sekarang ada Kania yang kembali menemani. Meskipun untuk sementara dan pasti akan kembali setelah suaminya menjemput nanti.
Memang resiko mempunyai anak perempuan, harus ikhlas saat mereka dibawa pergi suaminya. Karena meskipun Syurga anak berada di telapak kaki ibu, namun Syurga seorang istri ada pada suaminya.
~ --------------------------
__ADS_1
~ --------------------------
~ --------------------------